Eyes Of Curses

Eyes Of Curses
Part 19



Pria itu terus menyerang makhluk-makhluk itu dan ternyata ada salah satu makhluk yang berhasil menjerat Dira dalam jaringnya, Dira sudah tidak dapat bergerak ia sudah tidak sanggup untuk berteriak ia terlalu syok sekarang.


Srat!


Laba-laba yang menjerat Dira dengan jaringnya tertebas saat ini Dira terjatuh di pangkuan pria itu.


Pria itu juga sudah mulai terluka akibat serangan laba-laba raksasa itu yang tampaknya memiliki racun. Walaupun racun itu tidak memiliki arti yang pasti karena pria itu memiliki kemampuan memulihkan diri, tapi hal itu memiliki waktu untuk dilakukan. Salah-salah ia akan tetap mati jika, seluruh makhluk itu mengeroyoknya terlebih ia harus melindungi seorang wanita.


"Kau berhenti bertarung dan larilah sekarang. Cukup sudah kau menolongku, aku bukan siapa-siapa dirimu, pergi. Tinggalkan aku disini." ucap Dira ia tidak tega melihat pria itu kelelahan karena melindungi dirinya. Karena dengan mengorbankan dirinya, pria itu akan selamat dan tidak akan terluka.


"Aku disini bukan karena melindungi dirimu, aku juga tidak bisa lari." ucapnya beralasan kemudian melanjutkan pertarungannya ia kali ini tidak bertarung jauh-jauh dari Dira dan Dira hanya tersenyum ia masih tidak bisa bergerak, jujur saja jika ia membuat Dira menjadi umpan dengan kemampuan yang ia miliki pria itu pasti bisa lari meninggalkan tempat itu.


"Terimakasih, tapi kalau kau meninggalkanku di sini kau akan selamat," kata Dira walaupun pria itu tidak mengatakan hal yang sesungguhnya tetapi ia tetap merasa kalau pria itu melindunginya. Walaupun ia tidak mengakuinya.


Ketika ada jaring laba-laba yang akan memerangkap Dira dengan sigap pria itu menghadang dan merusaknya.


"Ck," hanya umpatan itu yang bisa di lontarkannya ia terus bertarung, sekarang mereka berdua terkepung oleh ratusan laba-laba itu. Pria itu merasa sangat tidak suka jika ada yang ingin melukai gadis itu dalam pertarungannya sebenarnya ia bertanya siapa gadis itu. Kenapa ia melakukan hak itu. Kenapa ia masih repot-repot mau melindunginya seperti ini.


"Maaf aku menyusahkanmu, tapi sebaiknya kau pergi dari tempat ini lagipula aku, sudah tidak kuat lagi mungkin aku akan mati disini." ucap Dira ke arah pria itu yang sekarang menatapnya ia tersenyum namun matanya berkaca-kaca, pandangan Dira pun mulai memburam. Tubuhnya sudah terlalu lemas mungkin akibat luka-luka dan racun yang telah menyerang dirinya.


"Kau... Dimana? Maafkan aku, jika tidak bisa menepati janji, aku sudah tidak kuat, rasanya sakit." ucapnya di setengah kesadarannya yang tersisa, air mata Dira menetes. Ia sebenarnya menyesal jika ia menyerah sekarang, tapi Dira sudah tidak tahan lagi akan rasa sakit yang ia alami.


"Reyhan." gumamnya sebelum benar-benar hilang kesadaran, akhirnya ia pun tersungkur kesadarannya sepenuhnya menghilang. Pria itu menatap Dira dalam.


Kemudian pria itu memandang makhluk siluman itu geram sekaligus marah cengkramannya pada pedang semakin kuat kemudian ia menyerang makhluk-makhluk itu secara brutal.


Matanya berkilat marah ketika ada salah satu makhluk yang ingin mendekati Dira tiba-tiba saja, ada aura yang menguar dari tubuh pria itu dan dalam sekejap seluruh makhluk siluman di tempat itu menjadi debu.


Kemudian ia mendatangi Dira yang tidak sadarkan diri itu, pedang yang pria itu pegang terlepas dari tangannya dan menghilang kemudian ia terduduk lemas.


Lalu ia memandangi wajah Dira yang penuh luka, lalu memeluk gadis itu erat.


"Dira, aku merindukanmu." air matanya mengucur deras ia menangis, pria itu menangis. Ia tidak percaya ternyata gadis itu masih hidup sampai sekarang dan tengah berada di hadapannya.


"Maafkan aku, tidak mengenalimu. Dira harusnya aku yang mengobatimu bukannya melukaimu, harusnya aku sadar bukan sebaliknya." gumamnya terisak ia teringat saat ia menebas pipi Dira yang ia kira adalah seorang sriver, dan ternyata pria itu adalah Reyhan.


"Diraaaa!!" teriaknya.


"Rey, kau dimana?" Dira mengigau tampaknya ia tidak apa-apa, gadis itu hanya kelelahan akibat luka-luka yang diterimannya.


"Dira, aku disini dihadapanmu." ucap Reyhan memegang pipi Dira lembut tetapi Dira tidak mengubrisnya karena ia masih belum sadarkan diri.


Kemudian Reyhan membawanya ke suatu tempat, ternyata tempat itu adalah tempat berobat di dunia itu.


Seorang sriver mengobati Dira, Reyhan terus berada di sampingnya dan menjaganya.


"Gadis ini tidak apa-apa, racun yang masuk ditubuhnya hanya akan membuat dia lumpuh untuk beberapa waktu, hanya saja karena lukanya dia pingsan, dia gadis yang kuat seandainya saja dia lemah mungkin keadaannya akan sedikit lebih buruk karena racun sekaligus luka-luka yang diterimanya." jelas sriver yang mengobati Dira pada Reyhan, Reyhan menatap Dira dengan tatapan kosong.


"Tapi tuan untuk apa kau menolongnya. Dia itu manusia sangat lezat untuk di makan," kata sriver itu dan tiba-tiba karena ucapannya barusan seluruh barang-barang yang berada di pondok pengobatan itu bergetar bahkan ada satu tempat yang pecah.


"Kau jangan berani-berani berkata seperti itu," kata Reyhan terkesan datar dan dingin tiba-tiba saja ia sudah berada di depan sriver itu dengan pedang yang telah berada dilehernya.


"Curses," kata sriver itu bergetar ketika menatap mata Reyhan.


"Maafkan aku! Maafkan aku! Aku tidak bermaksud." ucap sriver itu memohon ampunan, kemudian Reyhan langsung menggendong Dira pergi dari situ lalu ia berlalu pergi membuat makhluk itu merasa lega sriver itu langsung meringsut lemas, ia merasa beruntung nyawanya masih di ampuni.


Selama ini para sriver sangat takut dengan curses karena kekejamannya yang terkenal tanpa ampunan pada para sriver maupun siluman. Ia tidak segan-segan membasmi para sriver yang menghalanginya bahkan yang tidak bersalah sekalipun ia juga akan menghabisinya.


Sehingga para sriver beranggapan mustahil terlepas dari keganasan curses sebab para sriver yang menantangnya tidak akan pernah kembali hidup-hidup.


Entah mengapa sekarang curses itu tidak ada niatan membunuh sama sekali. Ia bertanya siapa manusia yang sudah membuat seorang curses seperti itu.


Reyhan saat ini dirinya sangat kacau dipikirannya sekarang hanyalah berpikir Dira harus sembuh dan tidak ada pikiran lain selain hal itu.


Pertemuan pertamannya setelah sekian lama menjadi sangat tragis, padahal yang Reyhan inginkan saat melihat gadis itu untuk pertamakalinya adalah melihatnya tengah tersenyum bahagia, bukan melihatnya dalam keadaan terluka parah. Bagi Reyhan itu sangatlah menyakitkan.


Kemudian ia berhenti di sebuah tempat dan melindungi tempat itu dengan kekuatannya. Agar tidak ada makhluk-makhluk negeri itu yang menyadari keberadaan mereka.


Bersambung...