Eyes Of Curses

Eyes Of Curses
Part 37



Saat menemukan markas Demon Sriver mereka tidak ragu lagi, penyerangan besar-besaran tujuh orang melawan ratusan anak buah Demon Sriver terjadi di hari itu.


Dengan di pimpin sang peri, ke enam yang lainnya gagah berani menghadapi musuh dan memusnahkan mereka, jika ada yang terluka Alna dan Dira siap membantu mengobati mereka.


Dengan adanya mutiara putih di tangan mereka kemungkinan mereka untuk menang sangatlah besar meskipun lawan mereka berjumlah ratusan. Karena di tangan Gravin kekuatan mereka semua meningkat.


Alna juga bertugas sebagai pelacak, apakah ada aura hitam di tempat yang mereka lalui atau tidak.


Satu jam lagi waktu mereka sebelum bulan sepenuhnya menghilang dan pada akhirnya mereka tepat waktu untuk berhadapan dengan Demon Sriver. Mereka menemukam markas utamanya.


Pertarungan sengit selama satu jam, satu lawan tujuh orang.


Peri melemahkan kekuatan hitam sang Demon Sriver.


Penyihir dan Sriver golongan putih bekerja sama melumpuhkan sang Demon Sriver walaupun awalnya mereka kewalahan. Karena perlawanan Demon sriver yang begitu kuat terlebih sebelumnya mereka harus menghabisi bawahan-bawahan Demon sriver, tapi dengan perjuangan mereka akhirnya mereka berhasil menghadapinya.


Dan terakhir di waktu yang tinggal beberapa detik lagi Dira dan Reyhan mereka bekerja sama untuk memusnahkan Demon sriver yang telah di lumpuhkan. Dira menusuk kepala Demon Sriver dan Reyhan jantungnya. Organ vital yang tentu saja jelas membunuh makhluk itu.


Demon Sriver akhirnya pun lenyap selama-lamanya, hawa hitam yang tersebar di seluruh penjuru Arzhahitonia perlahan-lahan menghilang.


Mereka semua terkapar. Kemudian Gravin menggunakan kekuatan mutiara putih untuk mengembalikan suasana Arzahitonia yang kacau menjadi damai kembali.


Pertarungan pun akhirnya berakhir dengan kemenangan dipihak baik.


.


.


.


Beberapa hari setelah kejadian itu.


"Kau tau Dirakan?" kata Drako.


"Dia tipe gadis yang setia," kata Drako tidak sopan kepada Gravin tapi Gravin hanya diam saja, ia telah di nobatkan menjadi seorang pemimpin dunia itu sekarang.


"Kau tahu ketika aku mendekatinya dia bahkan tidak pernah menatap mataku sama sekali, aku benar-benar ia cueki."


"Kau jangan coba-coba mendekatinya." ucap Reyhan tiba-tiba muncul.


"Tenang saja aku tidak akan mendekatinya lagi." ucap Drako.


"Tapi seandainya waktu itu berhasil pasti aku akan merebutnya darimu." kata Drako lagi yang membuat Reyhan mulai kesal.


"Tenang. Aku hanya bercanda, jangan memasang tampang seperti itu seolah-olah akan menerkamku." kata Drako ketakutan.


"Gadis itu akan selamanya ada disisimu hanya saja bagaimana kau akan menghadapinya nanti, bagaimana kalau kau tertarik dengan yang lain." ucap Drako.


"Kau tidak perlu khawatir ia akan kulindungi dengan segenap jiwa dan ragaku," kata Reyhan.


"Jika kau melukainya pasti hanya akan ada penyesalan nantinya," kata Atan tiba-tiba muncul sekarang ia bersama Alna.


"Lebih baik aku mati, daripada melihatnya menangis karenaku," kata Reyhan.


"Dia milikku dan aku miliknya, aku sangat menyayanginya." ucap Reyhan tanpa ragu-ragu.


"Tidak ada yang boleh memilikinya selain diriku, aku akan pastikan dia menjadi milikku selamanya." ucap Reyhan lagi membuat orang-orang di tempat itu terbengong dengan ucapan pasti dari Reyhan.


"Kau berlebihan, apa dia mau?" tanya Atan.


"Kalau dia tidak mau untuk apa dia bersusah payah ikut menyelamatkanku, aku mempercayainya seperti dia mempercayaiku," kata Reyhan ia melihat Dira sedang berjalan sendirian.


"Dira!!!" teriak Reyhan, gadis itu berbalik dengan senyuman manisnya wajah Reyhan memerah.


Gadis itu berlari ke arah kumpulan teman-temannya itu.


"Apa sudah selesai, apa sekarang sudah boleh pulang?" tanya Dira semangat tapi ia hanya berbicara ke arah Reyhan seolah-olah tidak ada orang lain disana.


"Hhhh, apa kakak melupakan kami. Kami masih ada disini tau," kata Alna.


"Maaf, tapi aku benar-benar bahagia sekarang, akhirnya aku dan Reyhan bisa pulang." ucap Dira tersenyum.


"Apa sekarang sudah boleh pulang?" tanya Dira lagi.


"Yah." Gravin mengangguk.


"Apa kamu tidak sedih karena harus meninggalkan kami?" tanya Alna.


"Sebenarnya aku sangat sedih tapi mau bagaimana pun ini bukanlah tempat tinggal dan dunia kami. Disana banyak orng yang menanti kepulangan kami." jelas Dira.


"Kakak!" Alna memeluk erat Dira. Dira ingin menangis saat berpelukan dengan Alna ada perasaan sedih juga saat mereka harus berpisah.


"Bolehkah aku juga melakukan pelukan perpisahan," kata Drako menghilangkan suasana haru, Reyhan memandanginya dengan tatapan membunuh.


"Oke-oke, tidak jadi kalau begitu." ucap Drako. Semua orang tertawa dibuatnya termasuk Dira. Dira menyalami semua orang di situ salam perpisahan darinya.


"Atan terimakasih saat aku terluka kamu telah menyelamatkanku dan membiarkan aku ikut bersamamu dan menjagaku dari makhluk jahat saat aku tidak bersama Reyhan. Aku benar-benar berterimakasih padamu. Kamu benar-benar temanku di dunia ini." ucap Dira tersenyum ke arah Atan sambil menyalaminya.


"Kamu tidak perlu berterimakasih sampai seperti itu Dira, aku juga pernah di tolong olehmu. Cukup dengan kamu tidak melupakan kami semua di tempat ini saja itu sudah membuatku senang." ucap Atan ia membalas senyuman Dira, Atan yang jarang tersenyum akhirnya tersenyum ke arah Dira.


"Ekhm!!" kata Reyhan memergoki mereka yang bertatapan lebih tepatnya Atan yang terus menatap Dira. Dira berpindah kepada Luna, Argo, dan Drako.


"Terimakasih karena kalian bertiga sudah mempercayai aku dan Reyhan yang asli adalah orang asing untuk kalian." ucap Dira.


"Sudahlah kamu tidak perlu berterimakasih. Aku minta maaf karena sudah sempat salah paham denganmu." ucap Luna.


"Sudahlah kau tidak perlu memikirkan hal itu, lagipula sekarang kita teman." ucap Argo yang merupakan pria yang jarang berbicara itu.


"Dira, kamu gadis yang menarik!" kata Drako. Reyhan terus memplototi Drako.


"Dan Gravin aku berterimakasih padamu karena sudah mengantarkanku pada Reyhan," kata Dira.


"Itu hanyalah sebuah kebetulan Dira." ucap Gravin.


Kemudian Dira melompat memeluk Reyhan erat pria itu terhuyung akibat terjangan gadis itu.


"Akanku pastikan saat pulang nanti kamu akan menjadi milikku." ucap Reyhan dan wajah gadis itu memerah seketika.


Pelukan pun terlepas, Reyhan dengan senyum penuh kemenangan dan Dira dengan wajah yang memerah.


Reyhan menggenggam tangan Dira erat dan Dira membalasnya.


"Rey, jaga dia baik-baik. Aku tidak akan memaafkanmu jika kamu menyakitinya" Bisik Atan di telinga Reyhan saat melaluinya.


"Tentu saja." ucap Reyhan sangat yakin.


"Aku akan membuatkan kalian portal untuk kembali ke dunia kalian jadi bersiap-siaplah." ucap Gravin.


Salam perpisahan yang mengharukan pun terjadi. Dira berlinang air mata saat akan meninggalkan semua orang di dunia itu, Reyhan masih dengan tampang coolnya sebenarnya ia tidak pernah menyangka akan pulang dengan selamat. Ternyata diam-diam ia juga sebenarnya tersentuh dengan perpisahan itu.


Alna menangis haru mengantarkan kepergian mereka, Atan meratapi dirinya yang tidak bisa membuat Dira jatuh cinta padanya tapi kemudian ia menyadari ada orang yang lebih ia sayangi ketimbang Dira yaitu Alna.


Argo dan Luna yang sedang duduk bersama. Serta Drako yang sedang berkacak pinggang di samping Gravin menatap kepergian Reyhan dan Dira.


"Aku akan merindukan kalian semua," kata Dira air matanya tidak bisa di bendung ia menangis.


Sebuah portal terbentuk.


"Terimakasih untuk semuanya, selamat tinggal semoga kita berjumpa lagi." ucap Dira melambai. Semuanya pun membalas lambaian Dira. Reyhan memeluk Dira erat.


"Sekarang kau tenang saja Rey, aku akan selalu untukmu selamanya," kata Dira kepada Reyhan membuat pria itu semakin erat memeluknya.


"Tentu saja, akan dan harus seperti itu." ucap Reyhan memastikan.


Portal itu mengirimnya kembali ke dunia mereka.


.


.


.


Reyhan dan Dira kembali di tempat terpisah. Reyhan muncul di depan rumahnya dan begitu juga Dira ia muncul di tanah kelahirannya kampung halamannya.


Semua orang menyambut kepulangan Reyhan di rumahnya, meskipun penampilan pria itu berubah bundanya tentu saja masih mengenalinya pertemuan mengharukan terjadi semua orang begitu bahagia bahkan orangtua Reyhan akan mengadakan upacara penyambutan kepulangan Reyhan kembali. Ia menatap langit.


Dira saat ini menatap langit, orang tuanya di kampung halamannya juga memeluknya erat menyambut ke pulangnya hal itu mengembalikan kebahagiaan orang tuanya. Semua orang bahagia.


Kemudian Reyhan dan Dira yang sama-sama menatap langit itu berpikir meskipun mereka dipisahkan oleh jarak, tempat, dan waktu yang berbeda mereka berdua terlihat tetap tengah tersenyum.


Karena asalkan mereka masih menatap langit yang sama mereka pasti akan bertemu.


Meskipun mereka tidak tahu apakah orang yang mereka sayang pulang dengan selamat atau tidak, tapi hati mereka mengatakan bahwa orang yang mereka sayang baik-baik saja dan berada di tempat yang seharusnya entah mengapa mereka merasakan hal seperti itu bahkan tanpa keraguan sedikitpun.


~Fin~