Eyes Of Curses

Eyes Of Curses
Part 31



"Reyhan," gumam Dira lirih, air matanya mulai menganak di pelupuk matanya.


Atan yang ditatap langsung salah tingkah, ia merasa bersalah sekaligus kebingungan.


"Apa? Ada apa? Kenapa dia menatapku seperti itu?" tanya Atan ketakutan. Dia takut saat melihat tatapan Dira yang terbilang sangat merindukannya.


Tapi kemudian gadis itu membuang wajahnya ke arah lain, menyadari bahwa pria itu bukanlah Reyhan.


"Kak, ada apa?" tanya Alna.


"Terimakasih," kata Dira.


"Umm?" Alna bingung.


"Terimakasih untuk semuanya, kalian mau menyelamatkanku dan merawatku." ucap Dira matanya sayu penuh kesedihan, ia mulai mau berbicara.


"Apakah kalian akan pergi setelah ini?" tanya Dira, ia takut di tinggalkan. Dalam hatinya ia tidak ingin sendirian lagi.


"Kalau kakak mau ikut dengan kami, tidak apa Alna malah senang banget," kata Alna riang. Dira tersenyum tipis.


"Terimakasih," kata Dira tertunduk dalam, ia tidak menyangka masih ada orang baik di dunia ini.


"Kakak, ada apa? Jika kakak tidak keberatan apakah kakak ingin berbagi cerita denganku?" pinta Alna pada Dira.


"Aku kehilangan seseorang yang begitu berharga bagiku," kata Dira menatap Alna.


"Tapi untuk saat ini, aku tidak bisa menjelaskannya. Aku takut," kata Dira jujur, ia tidak bisa mengatakan masalahnya sepenuhnya.


Apa yang akan terjadi bila orang-orang tahu dia memiliki hubungan dengan seorang curses.


"Kenapa kakak takut, apa ini ada hubungannya dengan seseorang yang bernama Rey... Han," kata Alna mengingat nama Reyhan. Dira hanya tersenyum dan tidak mengatakan apa-apa.


"Maaf kalau aku sudah merepotkan kalian," kata Dira ia mendudukan diri.


"Sudahlah kak, aku senang sudah menolong kakak, kalau boleh tahu siapa nama kakak?" tanya Alna.


"Namaku Nadira, kamu bisa memanggilku Dira," kata Dira memperkenalkan diri.


"Kalau begitu kita bisa meneruskan perjalanan kita," kata Atan menghentikan pembicaraan Alna dan Dira. Dira hanya menatap bingung.


"Kak, kita akan bertualang untuk menambah ilmu dan suatu saat akan berhadapan dengan Demon Sriver dan mengalahkannya." jelas Alna.


"Begitu ya, apa boleh aku ikut bersama kalian?" tanya Dira.


"Tentu saja boleh kak, memang apa tujuan kakak berhadapan dengannya?" tanya Alna.


"Aku ingin bertemu dengan seseorang disana, tapi jika disana adalah akhir bagiku. Aku akan mati dengan bahagia," kata Dira.


"Sebisa mungkin kita tidak akan mati," ungkap Atan.


"Walaupun memang tidak ada jaminan untuk kita pulang dengan selamat," kata Atan menjelaskan.


"Tak apa," kata Dira kemudian gadis itu berdiri.


"Kalau begitu kapan kita bisa berangkat?" tanya Dira.


"Sekarang," kata Atan mantap gadis itu hanya mengangguk paham, sedangkan Alna ia menyimpan banyak pertanyaan dibenaknya. Bertanya-tanya siapa orang yang tidak bisa dijelaskan oleh Dira. Dira yang baru saja pulih tidak memperdulikan keadaannya dan tetap ikut berkelana bersama Alna dan Atan.


"Alna apa tujuan kalian menghadapi Demon Sriver?" tanya Dira.


"Kami adalah salah satu dari banyaknya golongan penyihir yang diramalkan untuk menghadapi Demon Sriver sekaligus antek-anteknya, hingga ia terkalahkan. Entah ramalan itu benar atau tidak, demi menyelamatkan Arzahitonia kami siap untuk menghadapinya, meskipun mempertaruhkan nyawa kami. Karena makhluk jahat itu aku pernah kehilangan orang-orang yang aku sayang, aku tidak ingin melihat orang lain menderita sepertiku juga. Hal itu hanya akan menimbulkan kebencian semakin kuat." jelas Alna pada Dira, gadis itu hanya bisa tertunduk memikirkan sesuatu, ia tidak percaya ada orang yang lebih menderita ketimbang dirinya namun bisa memghadapi semuanya dengan semangat.


"Kakak ada apa?" gadis itu hanya diam tidak menjawab.


.


.


.


Diperjalanan,


"Sebisa mungkin aku tidak akan menghambat perjalanan dan tidak akan merepotkanmu," kata Dira tidak kalah datarnya.


Aku baru pertamakali ini bertemu orang seperti kak Dira ia tidak tertarik sama sekali dengan kak Atan, mereka berdua sama-sama memiliki ekspresi yang tidak bisa di baca. Batin Alna.


Tapi perbedaannya kak Atan punya aura yang cerah dan kak Dira ia memiliki aura yang suram, apa auranya memang seperti itu atau hanya itu bagian dari kesedihannya, tampaknya ia begitu terpukul. Batin Alna lagi.


"Hei, kalian berdua tampaknya kalian itu memiliki kesamaan, dan mungkin bisa menjalin sebuah hubungan," kata Alna menggoda dan sontak membuat Atan memasang ekspresi tidak senang.


"Tidak akan," kata Atan.


Sedangkan Dira ia tidak perduli sama sekali ucapan itu, tidak ada ekpresi yang di tampilkannya.


Alna menatapnya bingung, Dira dia satu-satunya wanita yang tidak tersipu saat di goda tentang Atan oleh Alna. Bahkan Alna sekalipun bisa tersipu atas perilaku Atan.


"Tidak ada waktu untuk memikirkan perasaan sekarang, saat perasaan itu terkubur di dalam jiwamu. Sangat sulit untuk membuatnya kembali terlihat, perasaanku telah hilang bersamaan dengan munculnya kegelapan." kata Dira, tetap tidak menampilkan ekspresinya sama sekali.


Alna berusaha mengartikan ucapan Dira. Ia hanya paham dengan kata yang menjelaskan ia sudah tidak memiliki perasaan lagi, hal itu karena ditelan oleh kegelapan. Tapi ia tidak tahu kegelapan apa yang Dira maksud.


"Kak apa kakak bisa menceritakannya padaku?" tanya Alna penasaran.


"Ada hal yang tidak bisa orang ungkapkan atau cerita kepada orang lain meskipun dia sangat menginginkannya, mungkin hanya waktulah yang akan menjawabkannya." ucap Dira tersenyum lalu mengacak rambut Alna gemas.


"Suatu saat kau akan tahu dengan sendirinya, agar kamu paham kenapa aku tidak bisa cerita." jelas Dira.


"Semoga saat itu terjadi, kamu tidak memendam kebencian padaku. Aku memang tidak jahat. Tapi aku ini, bisa membuat semua orang dalam bahaya," jelas Dira.


"Alna jauhi gadis itu," kata Atan salah paham dan bersiap menyerang Dira.


"Meskipun aku mati disini tidak ada hal yang akan berubah," kata Dira ia sudah tidak takut mati.


"Tapi aku juga punya tujuan untuk bisa menghadapi Demon sriver," kata Dira.


"Stop kak, hentikan!" Alna melindungi Dira.


"Kakak, dia bukan orang jahat. Harusnya kakak menyimpulkan kata-katanya terlebih dahulu. Seandainya dia jahat dia pasti sudah menyerang kita dari awal." jelas Alna.


"Sebaiknya kita tinggalkan saja dia, tidak ada jaminannya dia orang baik," kata Atan dan Alna menggeleng.


"Tidak kak, kita tidak bisa meninggalkannya dia tidak punya tempat tujuan." Alna bersikeras tidak mau meninggalkan Dira.


Akhirnya Atan mau mengalah dengan Alna setelah perdebatan panjang, yang Dira tidak perdulikan sama sekali. Atan mau mengalah karena tahu firasat Alna itu tidak pernah salah.


Dira sebenarnya bersyukur mereka masih mau membawanya, ucapannya barusan hanya bermaksud menjelaskan pada mereka agar suatu saat jika ia menjelaskan hal sesungguhnya mereka tidak begitu terkejut.


Dan hal ini juga uji cobanya. Bisakah ia memercayai orang yang baru saja ia kenal itu.


.


.


.


Tiba-tiba di tengah hutan nan gelap itu muncul seekor makhluk bersayap, ia tampak seperti kelelawar matanya merah, ternyata ia adalah siluman.


Ketiga orang itupun bersiap menghadapi makhluk itu. Alna berdiri di samping Dira berniat melindunginya.


Sedangkan Atan berdiri di depan Alna dan Dira, ia akan menjadi orang yang akan melindungi kedua orang itu, sekaligus menjadi laki-laki satu-satunya diregu itu.


Pertarungan pun dimulai...


.


.


.


Bersambung...