
.
.
.
"Argh!!" makhluk berjubah itu menggeram, tampaknya ada hal yang mempengaruhi dirinya.
Reyhan menyadari jika dirinya lagi-lagi hampir saja melukai Dira bahkan saat ini sangat parah ia hampir membunuhnya sehingga kesadarannya yang asli mampu mengendalikan dirinya dan memelesetkan kekuatan yang ingin menyerang Dira. Saat ini ia berusaha melawan sisi gelap dirinya.
"Reyhan," Dira bergumam menggantungkan sedikit harapan berharap pria itu sadar, ia senang ternyata apa yang di katakan oleh Demon Sriver itu tidak benar Reyhan masih hidup di dalam dirinya sendiri.
"Reyhan sadarlah!" Dira berteriak mendekati Reyhan. Namun Reyhan sedikit menjauh dari Dira. Kekuatan gelap Demon sriver ingin mempengaruhi Reyhan lagi. Namun tampaknya sudah tidak mempan.
"Tidak! Ini tidak mungkin!" kata Demon Sriver tidak percaya.
"Para sriver cepat habisi gadis itu!" perintah Demon sriver untuk menghabisi Dira, sriver bawahannya itu tiba-tiba saja muncul entah darimana dan langsung mengeluarkan kekuatan mereka untuk menyerang Dira.
"Dira," Reyhan bergumam mulai mengembalikan kesadarannya.
Atan ingin menolong Dira tapi sudah terlambat ia juga di halangi oleh para siluman-siluman lainnya.
Dira yang sudah pasrah hanya terduduk diam. Tiba-tiba ia merasa seperti terbang.
Apa aku sudah mati. Batinnya.
Tapi ia menyadari sesuatu ia berada di dalam dekapan seseorang.
Hangat. Dan ia merasakan dadanya berdebar. Dan orang yang bisa membuat Dira berdebar seperti itu hanya satu orang. Yaitu Reyhan.
Gadis itu menatap wajah pria itu. Kemudian memeluknya erat. Tidak ingin melepaskan.
"Berani-beraninya kalian ingin menyakitinya!!!" Reyhan berteriak marah.
"Terimalah pembalasanku!" kekuatan Dira dan Reyhan tampaknya bersatu, cahaya yang terang benerang langsung meluluh lantahkan siluman-siluman itu. Sedangkan Demon sriver dan antek-anteknya para sriver berhasil melarikan diri.
Pertarungan itu berakhir dengan kembalinya kesadaran Reyhan. Dira terus memeluk Reyhan dan menenggelamkan wajahnya di dada bidang Reyhan tanpa menyadari pertarungan sudah berakhir. Reyhan tidak mempermasalahkan hal itu malahan ia senang dan senyum-senyum sendiri di balik jubah hitamnya mencuri kesempatan, jarang-jarang Dira mau memeluknya lama.
"Hei, kalian berdua. Sudah cukup acara peluk-pelukannya pertarungan telah berakhir tau!" kata Atan, entah karena apa ia berkata ketus.
Dira terbelalak kaget dan melepaskan pelukannya. Atan dan Alna kebingungan melihat wajah Dira yang begitu merah seperti kepiting rebus menahan malu. Alna tertawa melihat wajah Dira sedangkan Atan ia hanya menatap datar, gadis itu tidak pernah seperti itu sebelumnya. Mungkin dia cemburu.
"Cih! Mengganggu," kata Reyhan menatap mata Atan tajam, tampaknya pria itu juga cemburu dengan pria itu.
Mungkin Dira benar-benar tidak ingin menjauhi Reyhan saat ini, entah mengapa ia seperti menjadi bersikap manja pada Reyhan dan menyembunyikan wajah merahnya di lengan pria itu.
Tidak lama kemudian tubuh gadis itu bergetar dan cengkramannya pada tangan Reyhan semakin mengencang.
"Dira ada apa?" tanya Reyhan menyuruhnya menghadap dirinya.
"Dira kau kenapa, apa kau terluka?" tanya Reyhan khawatir.
"Huwa!!! Hiks!!" Dira tiba-tiba menangis sejadi-jadinya seperti anak kecil dengan wajah merah dan mata sembab. Reyhan panik bukan main.
Atan dan Alna hanya kebingungan menatapi kejadian itu. Reyhan mendudukan Dira yang menangis sesegukan.
"Dira tenanglah!" Reyhan panik, sambil memegang bahu Dira kemudian ia mengelus kepalanya lembut.
"Bagaimana aku akan tenang, jikalau nanti kau akan meninggalkanku lagi. Hiks," kata Dira sambil terus menangis. Atan dan Alna hanya mendengarkan perbicangan mereka.
Alna tampaknya sangat bahagia menonton kebersamaan Dira dan Reyhan.
"Dira, mulai sekarang aku akan selalu ada disisimu." Reyhan mengusap air mata Dira, Dira begitu bahagia akhirnya orang yang selalu mengusap air matanya, sumber keberaniannya, serta kebahagiaannya kembali kepelukannya.
Reyhan mengacak rambut Dira gemas sambil tertawa, "Berhentilah menangis, apa perlu aku harus menggodamu seperti biasa agar kau berhenti menagis," kata Reyhan. Dira tersenyum menanggapi Reyhan, senyuman tulus yang tidak pernah ia berikan pada siapapun kecuali Reyhan.
Perlahan namun pasti wajah Reyhan memerah melihat senyuman Dira yang menurutnya begitu manis.
Melihat senyuman itu Reyhan menutupi wajah Dira dengan tubuhnya agar pria lain maksudnya Atan tidak melihat senyuman itu.
"Ck," umpat Atan.
"Eh, ada apa kak? Apa kakak cemburu?" tanya Alna menatap wajah Atan.
"Tidak," ucapnya datar membuang wajah ke arah lain. Dan membuat Alna merasa kasihan pada kakaknya yang salah jatuh cinta pada orang yang sudah memiliki kekasih.
.
.
.
Dira mendudukan diri di samping Reyhan memikirkan sesuatu.
Alna dan Atan mereka sedang menyiapkan barang-barang untuk pertualangan mereka.
"Dira, apa yang sedang kamu pikirkan?" tanya Reyhan.
"Entahlah, aku hanya teringat cerita novelmu yang tidak tamat-tamat itu." jawab Dira.
"Bisakah kau menceritakannya sekarang," pinta Dira.
"Tentu saja, RA-HA-SIA." ucap Reyhan membuat Dira menggembungkan pipinya.
"Baiklah akan aku tunggu," kata Dira.
.
.
"Alna aku masih belum bisa mempercayai bahwa curses itu baik," kata Atan.
"Sudahlah kak, aku tidak merasakan ada aura hitam pada pria itu. Ia tidak memiliki niatan membunuh." jelas Alna yang memiliki perasaan merasakan aura.
Itulah yang membuat mereka mempercayai Reyhan orang baik, walaupun Atan masih was-was.
"Kan di dalam ramalan dua orang dari dunia lain maksudnya mungkin itu adalah manusia akan ada yang ikut bertarung dalam mengalahkan Demon Sriver,"
"Mungkin saja mereka berdua orangnya, mungkin saja kita hanya tidak tahu jika manusia itu adalah curses dan kekasihnya." jelas Alna.
Atan tertunduk sejauh ini ia tidak pernah bertemu manusia yang bisa menghadapi kekuatan kegelapan selain Dira dan Reyhan.
"Kalau begitu, kita hanya tinggal menunggu Sriver dari golongan putih dan seorang peri sebagai pemandu kita," kata Atan.
"Hanya seorang peri yang bisa membukakan gerbang untuk mengantarkan kedua orang manusia itu pulang." ucap Atan.
"Tapi kak, aku rasa keberadaan para peri di dunia ini hampir tidak ada, bahkan mungkin sudah punah. Apakah benar mereka masih ada." kata Alna yang benar-benar tidak merasakan keberadaan peri pada pertualangannya.
.
.
.
Reyhan mengelus-elus kepala Dira sayang, gadis itu tampaknya tertidur di pangkuan pria itu. Reyhan hanya melamun kemudian ia menyenderkan kepalanya ke batang pohon di belakangnya dan menutup matanya ikut tertidur karena hari sudah malam.
Atan memperhatikan wajah Dira yang begitu damainya tertidur di pangkuan Reyhan dari atas pohon. Ia menyadari gadis yang membuatnya tertarik itu, benar-benar tulus mencintai curses itu bahkan ia tidak takut sama sekali dan malah merasa terlindungi bersama pria itu.
Dan Atan menyadari hal itu, sebenarnya ia merasa cemburu ingin rasanya ia yang berada di posisi Reyhan, tapi kenyataannya bukanlah seperti itu. Ia tidak mungkin juga memaksakan perasaannya pada Dira dan cukup ia pendam sendiri.
Ternyata hal itu cukup untuk Atan mempercayai Reyhan sebagai orang baik meskipun ia tahu Reyhan adalah curses.
.
.
.
Keesokan paginya mereka melanjutkan perjalanan mereka untuk mencari rekan mereka dan tentu saja mencari markas utama Demon Sriver.
Reyhan selalu berada di samping Dira dimana pun ia berada, begitu juga Dira sekarang ia tidak lagi mempermasalahkan hal itu. Walaupun terkadang Dira di buat kesal oleh Reyhan karena terkadang Reyhan menggodanya.
Dira juga akrab dalam berbicara dengan Alna, begitu juga dengan Atan tapi belum dua menit berbicara Reyhan selalu tiba-tiba muncul di sampingnya.
Dira memang terlihat tidak terlalu perduli dengan kehadiran Reyhan di sampingnya tetapi Reyhan tahu jika gadis itu senang jika dirinya terus ada di sampingnya.
Awalnya Atan tidak senang dengan kehadiran Reyhan yang bisa di bilang selalu menempel pada Dira, tapi lama kelamaan ia pun akhirnya terbiasa. Walaupun tetap saja mereka berdua tidak terlalu akur.
"Kalian berdua, kapan akhirnya kalian berteman?" tanya Dira memainkan ranting pohon, ia bertanya saat mereka semua beristirahat.
"Betul! Kapan?" tanya Alna tiba-tiba muncul.
"Sampai aku merasa pria itu tidak membahayakan," kata Atan berucap dingin.
"Sampai kapan pun jika kutukan itu masih melekat didiri Reyhan, Reyhan pasti akan kamu anggap berbahaya Tan," kata Dira seadanya.
"Masa kamu gak bisa sedikit terbuka, bukankah katanya Alna seharusnya kamu itu bencinya sama wanita yang berarti itu adalah aku," kata Dira dan membuat Atan tertohok.
"Reyhan juga, kenapa tidak berusaha mengakrabkan diri dengan Atan?" tanya Dira.
Reyhan tidak mengubris ucapan Dira, ia tidak suka gadisnya itu dekat-dekat dengan Atan. Reyhan tahu bahwa pria itu ada rasa dengan Dira dan hal itulah yang membuat Reyhan tidak mau mengakrabkan diri pada Atan.
Masalah dia di bilang orang jahat atau monster pun ia tidak mempermasalahkan hal itu tapi karena merasa cemburu ia jadi tidak ingin dekat-dekat dengan Atan, ia tidak ingin memiliki seorang teman yang menusuk dari belakang atau menikung kekasih temannya.
Srat!
Tiba-tiba sebuah panah hampir menembus kepala Reyhan jika ia tidak menghindar.
.
.
.
Bersambung...