Eyes Of Curses

Eyes Of Curses
Part 25



Reyhan, Dira serta binatang yang mereka tolong saat ini sedang melakukan perjalanan mencari jalan untuk kembali ke dunia mereka.


Dira tampak sudah kelelahan karena tenaganya belum sepenuhnya pulih tetapi ia bersikeras untuk berjalan sendiri tanpa ingin di bantu karena kesal pada Reyhan, ujung-ujungnya pria itu hanya akan menggodanya.


"Dira kamu yakin mau jalan sendiri," kata Reyhan prihatin.


"Yah," kata Dira ngos-ngosan, Reyhan menarik nafas pasrah.


"Tapi Dira kalau kamu kayak gini kapan sampainya," kata Reyhan.


"Gak papa," kata Dira.


"Yah tapi Dira kita yang lelah," kata Reyhan akhirnya duduk dan si berang-berang tergeletak bosan, Dira tidak perduli.


"Dira kamu tidak kasihan sama kita, hm?" tanya Reyhan.


Akhirnya Dira kehabisan tenaga.


"Dira biar aku gendong, kamu tau gak kita ini baru jalan kurang lebih setengah kilo," kata Reyhan.


"Tapi sudah satu jam,"


"Dira kamu bisa ngebunuh kita berdua tahu." Reyhan mengoceh, Dira sudah tidak memiliki tenaga untuk berbicara.


"Karena bosan," kata Reyhan melanjutkan dan hewan yang mengikuti mereka seolah-olah mengerti kata-kata Reyhan kemudian ia berbunyi dengan suara khasnya mengiyakan ucapan Reyhan.


Kemudian tanpa aba-aba dari siapa pun Reyhan membopong Dira, Dira ingin berontak, apa daya tenaganya telah habis terkuras. Setelah itu ia hanya pasrah menunggu Reyhan yang pasti hanya akan menggodanya.


Mereka pun melakukan perjalanan, Dira terus berada di punggung Reyhan tidak terasa perjalanan mereka sudah dua jam.


Reyhan kemudian mengoceh menghilangkan kebosanan, yah dia mulai menggoda Dira tetapi gadis itu tidak bergeming sama sekali. Lebih tepatnya Reyhan mengoceh sendirian


Grok!


Ternyata gadis itu tengah tertidur di bahu Reyhan lengkap dengan ilernya yang telah memulau di bahu Reyhan sedangkan pria itu baru menyadari hal itu.


"Dira, Dira bangun!" Reyhan menguncang-guncang Dira agar bangun.


Tapi gadis itu malah tambah tertidur lelap dan dengkurannya sedikit tambah nyaring, perempatan mucul disudut dahi Reyhan.


Ia kesal tetapi tidak bisa marah pada gadis yang ia sayangi itu, kemudian ia membenarkan posisi Dira yang sudah tidak benar itu, Dira hanya mengeluarkan suara kecil sedikit merasa terganggu.


Wajah Dira begitu dekat dengan wajah Reyhan sekarang, Reyhan mulai ingin mengerjai Dira.


"Dira, kalau kamu gak mau bangun, aku bakalan kecup pipimu." ucap Reyhan lembut tepat di kuping Dira seketika tubuh Dira merasa merinding, matanya terbelalak kaget.


Langsung bangun. Reyhan juga kaget dengan refleks yang Dira berikan terhadap kata-katanya.


"Gyaa!!!" teriaknya melepaskan pelukannya pada leher Reyhan dan akhirnya terjungkal jatuh dengan kepala mendahului menyentuh tanah.


"Dira kamu gak papa." khawatir Reyhan mengangkat Dira.


"Aduh!!" keluh Dira mengelus kepalanya.


"Dira," Reyhan tidak puas dengan kata-kata Dira.


"Gak papa tapi sakit," kata Dira memegang puncak kepalanya.


Kerena tidak tahu harus berbuat apa Reyhan mencium puncak kepala Dira seolah-olah memberikan obat untuk mengurangi rasa sakitnya.


"Kyaa!!" histeris Dira.


"Kau menjauh dariku!" bentak Dira menjauh dari Reyhan.


"Dira," kata Reyhan wajahnya memerah tadi ia lepas kendali sangking khawatirnya.


"Menjauh!" tekan Dira.


"Kamu jangan berbuat yang aneh-aneh, aku tidak apa-apa." ucap Dira mengoceh wajahnya juga memerah menahan malu tapi Reyhan malah tersenyum.


"Kalau begitu kamu jangan sampai terluka," kata Reyhan dengan seringaiannya yang membuat Dira merinding seketika.


"Kalau kamu terluka aku tidak tahu hal apa yang aku lakukan untuk menyembuhkanmu," kata Reyhan masih tersenyum jahil.


"Oke, kalau begitu aku bakalan buat diriku luka," kata Dira tidak mau kalah dan ingin menggores tubuhnya padahal hanya main-main, ia tidak mungkin tega membuat dirinya terluka.


"Jangan!" Reyhan tiba-tiba ada di hadapan Dira dan mencekal tangan Dira.


Dira yang kaget hanya mengerjapkan matanya bingung.


"Kalau kamu melukai dirimu sendiri sama saja kamu membunuhku, Dira." mata Reyhan menyendu membuat Dira merasa bersalah.


"Tentu saja aku tidak akan pernah melakukan hal bodoh yang merugikan diriku sendiri," kata Dira membuang muka ke arah lain.


"Lagipula aku hanya bercanda. Maaf," kata Dira merasa bersalah.


Grep!


Reyhan memeluk Dira erat.


"Cukup sudah kamu terluka sebelumnya, bahkan aku masih merasa bersalah telah menggores wajahmu waktu itu harusnya aku melukai diriku sendiri," kata Reyhan sambil memegang pipi Dira yang masih memiliki luka kering bekas goresan akibat ulah Reyhan.


"Sudahlah, yang lalu biarlah berlalu, lagipula aku baik-baik sajakan. Kamu tidak perlu merasa bersalah seperti itu," kata Dira menggengam erat tangan Reyhan, mereka saling mengalirkan kehangatan.


Mereka yang habis ribut mulai baikan, Dira juga tetap di sisi Reyhan tidak menjauh seperti yang di mintanya barusan mereka berdua itu diibaratkan seperti makhluk hidup dan udara jika tidak ada salah satunya tidak ada kehidupan dan hanya kehampaan yang menguasai.


"Dira," panggil Reyhan.


"Hmm," jawab Dira.


"Lihat," Reyhan memperlihatkan jubahnya yang di penuhi oleh pulau lendir.


Wajah Dira memerah malu. Tentu saja, ia saat ini merasa begitu jorok.


Kemudian ia merampas jubah milik Reyhan dan mencari sumber air terdekat.


Berang-berang yang mengikuti mereka langsung menceburkan dirinya ke dalam air dan berenang ria di sana sedangkan Dira sedang sibuk membersihkan jubah Reyhan.


Dan Reyhan sendiri duduk di samping Dira sambil memerhatikan gadis itu dengan tampang datar sedangkan Dira wajahnya memerah menahan malu.


"Kamu gak usah melihatku sampai segitunya kali," kata Dira tertawa hambar menahan malu.


Reyhan masih memandanginya, Dira berbalik.


"Dira kok kamu berbalik sih," protes Reyhan.


"Suka-suka aku dong," kata Dira masih terus membersihkan jubah Reyhan.


Tidak ingin menyerah Reyhan berpindah posisi di hadapan Dira dan membuat Dira akhirnya mengalah.


"Dira kamu masih ingat dengan kata-kataku dulu. Seandainya aku bisa melihatmu aku akan memandangi wajahmu lama," kata Reyhan sebenarnya membuat wajah Dira yang memerah itu tertunduk.


"A-aku malu." ucap Dira keceplosan.


Aish, kenapa aku malah ngomong kayak gitu sih, gawat. Batin Dira panik.


"Kamu malu?" tanya Reyhan dengan nada manja yang di buat-buat Dira tambah menundukkan kepalanya.


"Untuk apa malu aku saja sudah tidak malu bersamamu," kata Reyhan melanjutkan.


"Memang kenyataannya kamu itu memalukan," kata Dira.


"Yah tapi cuma sama kamu," kata Reyhan, sebenarnya Reyhan bahkan tidak pernah menampilkan ekspresinya sama sekali pada orang-orang sedangkan untuk Dira, ekspresi Reyhan sudah bukan hal yang langka lagi.


Dira melemparkan jubah Reyhan yang telah di cucinya tepat di depan wajah Reyhan sehingga membuat wajah tampan yang polos itu, menjadi basah.


"Dira kok kamu tega banget sih sama aku," kata Reyhan dengan nada kesal yang di buat-buat membuat Dira merasa geli.


"Habisnya kamu itu MENYEBALKAN!!" kata Dira penuh penekanan lalu pergi.


"Tapi menyebalkan kayak gini kamu sayang juga," kata Reyhan mengintili Dira.


"Terserah," kata Dira pasrah kenyataannya memang begitu, hatinya sudah di kunci Reyhan hanya pria itu yang berhasil membuat Dira bisa salah tingkah dibuatnya.


"Rey, bisa gak sehari aja kamu gak bikin aku frustasi, kalau aku mati muda gimana?" kali ini Dira berucap ngawur.


"Aku gak bisa, lagi pula kamu gak mungkin mati cuma gara-gara rayuan mautku," jawab Reyhan.


"Tapi jantungku rasanya mau lompat," kata Dira jujur.


"Oh ya? Kalau gitu sama dong." kata Reyhan.


"Dira kamu tau gak bedanya kamu sama kompa," kata Reyhan dan Dira tidak mengubrisnya.


"Kalau kompa untuk memompa ban kalo kamu memompa hatiku," gombal Reyhan.


"Dira, detak jantung kita berdenyut sama kan berdebar-debar tidak karuan, sebenarnya menurutku itu juga merupakan salah satu tanda kasih sayang yang kita miliki." kata Reyhan yang satu ini menyentuh Dira.


Ma!! Hari ini aku bisa kena serangan jantung. Batin Dira memegang dadanya sambil tersipu.


Bersambung...