
Dira dan Reyhan mereka saat ini tengah berada di sebuah padang bunga yang cukup indah.
Hewan yang mengikuti mereka telah pergi setelah menemukan teman-temannya mereka berdua pun melanjutkan perjalanan.
Perjalanan mereka terus berlanjut dan mereka memilih beristirahat di tempat ini, Dira menikmati angin yang sedang berhembus menerpa wajahnya, rambut dengan gaya yang di ikat ponytail itu sekarang ini tengah berkibar-kibar di terpa angin.
Sambil bersandar di sebuah pohon, ia memangku kepala Reyhan yang tengah tertidur di pangkuannya.
Wajah Reyhan tampak begitu damai, Dira tersipu dibuatnya wajahnya merona merah, pria itu begitu tampan.
Ia tidak menolak Reyhan berbaring di pangkuannya, jarang-jarang Dira mau melakukan hal itu pada Reyhan bahkan tidak pernah sama sekali.
Ia kasihan dengan Reyhan awalnya ia menolak Reyhan tidur di pangkuannya, namun karena melihat pria itu bahkan tidak bisa beristirahat dan tampak ada yang membuatnya gelisah akhirnya Dira mau memangku Reyhan dan sekarang pria itu tertidur dengan damainya.
Apakah ini pertamakalinya dirinya tertidur nyenyak seperti ini, wajahnya tampak begitu kelahan. Batin Dira menatap sendu Reyhan wajahnya memang damai saat tertidur tetapi tidak menghilangkan raut kelelahan di wajahnya.
"Reyhan," lirih Dira kasihan pada Reyhan pria itu mungkin saja lelah telah membopong Dira sampai ke tempat ini.
Reyhan yang bahkan tidak melepasnya sama sekali dari punggungnya meskipun Dira memberontak turun dan pada akhirnya ia pun memilih tidur di punggung Reyhan.
Ia mengelus kepala Reyhan dengan raut kerinduan mengingat dirinya dulu tidak lebih hanya sebagai seorang bos dan pengasuh Reyhan, ia terkadang merindukan masa-masa itu.
Reyhan memang menyebalkan dari awal. Batin Dira kemudian ia tersenyum masih terus mengelus kepala Reyhan, tampak dalam tidurnya pria itu tersenyum.
"Hangat, itulah yang kurasakan aku sudah lama tidak merasakan kehangatan ini, kehangatan yang kurindukan.
Rasanya begitu damai, kegelapan dan kesendirian yang menyelimutiku bahkan sudah tidak terasa lagi.
Penuh ketenangan,kasih sayang dan ketulusan yang jarang kurasakan terasa begitu memabukkan, aku benar-benar terlena.
Dira terimakasih...."
Reyhan mengerjapkan matanya, ia terbangun tangan Dira yang masih berada di kepala Reyhan benar-benar membuat Reyhan tenang sedangkan gadis itu sedang tertidur pulas lagi.
Tenaga Dira belum sepenuhnya kembali ia masih cepat kelelahan, Reyhan bangun dari pangkuan gadis itu tanpa mengganggu tidur pulas Dira.
Kemudian ia menatap lekat wajah Dira yang tertidur pulas bahkan itu adalah tontonan yang menarik bagi Reyhan ia terhanyut menatap wajah Dira.
Kemudian wajah Reyhan semakin lama semakin mendekat di wajah Dira, Dira merasakan sesuatu hal yang berbeda kenapa udara di sekitar wajahnya menghangat.
Ia pun membuka matanya perlahan betapa terkejutnya ia ketika melihat wajah Reyhan yang bahkan kurang dari lima senti dihadapannya.
Dira langsung menahan wajah Reyhan yang sudah benar-benar dekat dengan dirinya.
"Dasar pria mesum tidak sopan, kamu mau apa?!" teriak Dira kesal wajahnya memerah sempurna marah sekaligus malu, ia masih tidak terima jika Reyhan menciumnya ia masih sayang dengan ciuman pertamanya, walaupun ia tetap berharap Reyhanlah yang merebut ciuman pertama itu, tapi saat ini belum saatnya.
"Kau terlalu menggemaskan," kata Reyhan membuat wajah Dira tambah merah sampai keubun-ubun.
"Aaaa!!! Kenapa aku harus terjebak dengan pria mesum sepertinya," teriak Dira frustasi sambil mengacak rambutnya sendiri gemas.
"Pria mesum ini, pria yang kau cintai," kata Reyhan berkata dengan percaya dirinya.
"Gh! Terserah," kata Dira meraju.
"Hei Dira kau mau kemana?" tanya Reyhan gadis itu tiba-tiba pergi.
"Bukan urusanmu," kata Dira masih kesal.
"Kau tidak lupakan dengan kata-kata ini, ada aku, ada kamu dan ada kamu, ada aku." Reyhan menyusul Dira.
Kata-kata itu adalah perjanjian Dira dan Reyhan saat ia bekerja menjadi pengasuh Reyhan dulu tetapi kata-kata itu seolah-olah membuat Dira tidak berkutik mungkin karena perasaan Dira yang begitu dalam terhadap Reyhan.
"Hufh! Aku mau cari sumber mata air," kata Dira menarik nafas pasrah.
Mereka pun melakukan perjalanan lagi, hari sudah semakin gelap mereka pun mencari tempat istirahat.
Setelah melindungi tempat istirahat mereka, Reyhan mendudukan dirinya di samping Dira yang tengah memanggang ikan untuk makan malam mereka.
Reyhan mulai menatap Dira tanpa berkedip, Dira yang ditatap merasa risih malu wajahnya perlahan-lahan mulai memerah lagi.
"Rey, kamu kalau lapar gak usah natap aku juga kali," kata Dira masih sibuk mengurusi makan malam mereka.
Reyhan tersenyum "Ya aku lapar, tapi pengennya makan kamu," kata Reyhan spontan.
Ctak!!
Dira menjitak kepala Reyhan sehingga membuat pria itu mengelus-ngelus kepala.
"Jangan pernah harap yang enggak-enggak," kata Dira kesal dengan wajah yang memerah.
"Dasar pria mesum kurang kerjaan," kata Dira, Reyhan ingin melawan kata-kata Dira.
Hap!
Sebelum pria itu sempat mengucapkan kata-katanya Dira menyumpalkan ikan bakar yang Dira bakar ke mulut Reyhan.
Mmmmppfhhh!!
Reyhan berkata tidak jelas.
"Makan tuh ikan, biar kenyang kayaknya kamu itu sedang mabuk karena lapar," kata Dira kejam.
"Panas!" kata Reyhan mengibas-ngibas mulutnya yang terasa panas.
"Kamu lebay banget deh Rey," kata Dira memberikan air ia sebenarnya khawatir karena perbuatannya pria itu ke panasan dibuatnya tapi hanya gengsi untuk meminta maaf karena kalau sampai seperti itu bisa-bisa Reyhan akan mengganggunya terus.
"Ciyee, khawatir." goda Reyhan.
Tuhkah. Batin Dira jengkel merasa menyesal telah khawatir tapi mau di apa hatinya berkata lain, sehingga refleks untuk khawatir.
"Rey, minum ini sekarang sebelum air ini tumpah di wajahmu atau ikan ini bakalan kusumpalkan lagi di mulutmu," geram Dira kesal pria di sampingnya itu tidak henti-hentinya menggoda dirinya.
"Oke-oke, nanti kalau aku kenapa-napa aku yakin kamu juga yang repot," kata Reyhan cepat-cepat meminum air.
Dira langsung memakan ikan bakarnya rakus kalah dengan ucapan Reyhan, yang kenyataanya memang benar adanya.
"Dira pelan-pelan makannya," kata Reyhan khawatir melihat Dira yang makan seperti itu.
"Bukan urusanmu," kata Dira masih terus mengunyah ikan bakar itu tanpa memperdulikan ia akan tersedak tulang.
"Dira aku akan berhenti menggodamu, pelan-pelan makannya, ikannyakan banyak tulang." kata Reyhan panik.
"Uhuk! Uhuk!" Dira benar-benar tersedak sekarang, Reyhan heboh.
"Dira sudah kubilang makannya pelan-pelan bla bla bla~~" berbagai macam ocehan Reyhan yang bahkan sudah tidak Dira dengar.
Sambil menepuk-nepuk leher Dira pelan Reyhan menyodorkan air kepada Dira.
"Minumlah!" suruh Reyhan.
Dira pun meminumnya kemudian ia merasa baikan.
"Fyuhh!!!" Reyhan merasa lega.
"Dira kau hampir membunuhku," Reyhan tergeletak seketika merasa begitu lega, ia begitu khawatir pada Dira.
Dira mengerjap-ngerjapkan matanya tidak lama kemudian wajahnya memerah lalu ia tertunduk.
"Maaf," kata Dira.
"Untuk apa?" tanya Reyhan.
"Maaf, karena membuatmu khawatir." ucap Dira malu-malu Reyhan langsung bangun dari posisinya.
"Aku," kata Dira terputus.
Grep!! Reyhan memeluk Dira.
"Rey, cukup." kata Dira membenamkan wajahnya ke dada bidang Reyhan.
Hangat. Batin Dira merasa nyaman.
"Kalau seperti ini terus kapan makannya, aku lapar." Dira mencari alasan agar Reyhan melepas pelukannya.
"Kau lapar, kalau begitu ambil bagianku," kata Reyhan menyodorkan bagiannya Dira merasa lega karena alasannya membuat Reyhan melepas pelukannya.
"Tidak usah!" tolak Dira.
"Dira kau tahu kalau kau terluka atau sakit yang terluka atau sakit itu juga diriku," kata Reyhan masih bersikukuh memberikan bagiannya pada Dira sedangkan Dira ia seolah-olah habis kata-kata ia tidak ada pilihan lain selain menerimannya karena kebetulan ikan bagiannya sudah hampir habis.
Kruyuk!!
Perut Reyhan berbunyi nyaring bahkan Dira pun bisa mendengarkannya, menandakan ia kelaparan.
Bersambung...