
Reyhan terbangun kaget dan merasa tubuhnya berat seperti ada yang **** nafasnya juga tersenggal-senggal perlahan-lahan aura hitam yang menyelimuti Reyhan menghilang.
"Bos, bos Reyhan sadarlah." Dira bergumam lirih tepat di samping kuping Reyhan terlihat Dira juga kelelahan, akhirnya Reyhan tahu siapa yang menindihnya.
Dira saat ini belum menyadari bosnya itu telah bangun dan terus memeluknya, sedangkan Reyhan tampaknya terus menikmati kehangatan yang tulus dari gadis itu.
Dira saat ini begitu khawatir pada Reyhan dan akhirnya ia menyadari sesuatu, nafas Reyhan sudah tidak memburu seperti tadi.
Sekarang wajahnya memerah sempurna ia sadar kalau Reyhan telah bangun dan sekarang sepertinya tengah tersenyum dan malah membalas pelukan Dira.
"Kyaa!!" pekik Dira langsung melepaskan pelukannya kaget sendiri dan teriakannya tepat di kuping Reyhan refleks Reyhan memegang kupingnya yang berdengung akibat teriakan Dira.
"Kamu itu aneh, kamu yang meluk kamu yang heboh," kata Reyhan protes.
"Ma-maaf bos aku kurang sopan dan lancang, habisnya bos, bos... " ucap Dira tidak bisa menyelesaikan kata-katanya malu karena ia juga tidak punya alasan yang jelas, ia juga tidak sanggup menjelaskan semuanya pada Reyhan tentang kejadian yang sesungguhnya belum lagi saat ini kamar Reyhan berantakan seperti kapal pecah akibat aura hitam yang di keluarkan oleh Reyhan.
Dira hanya mampu menunduk dan tidak mampu melanjutkan kata-katanya lagi.
Grep! Kali ini Reyhan memeluk Dira, Dira kaget tetapi tidak melawan.
"Dira aku senang kamu selalu ada di sampingku," kata Reyhan Dira saat ini diam membeku tidak dapat berkata apa-apa jantungnya berdebar kencang.
"Terimakasih telah menyelamatkanku dari kegelapan hatiku dan mau khawatir padaku." ucap Reyhan mengeratkan pelukannya.
"Bo-bos," kata Dira.
"Apa?" tanya Reyhan.
"Sesak, aku gak bisa nafas." ucap Dira begitu saja karena nafasnya sesak akibat pelukan Reyhan di tambah lagi detak jantungnya tidak berdebar dengan normal.
Reyhan saat ini malah menggendong Dira naik ke atas ranjangnya dan duduk berduaan di situ.
"Bos kamu mau apa?" tanya Dira.
"Bagaimana kalau kita firts kiss disini," kata Reyhan tanpa basa-basi sedangkan Dira wajahnya telah merah sampai ke ubun-ubun sebenarnya itu bercampur kesal juga.
"Ghh! Dasar bos mesum! Cabul! Aku gak mau!" umpat Dira menjambak rambut Reyhan kesal sedangkan Reyhan hanya dapat mengaduh minta lepas.
Setelah puas menjambak rambut Reyhan, Dira berdiri dari tempat itu ingin pergi ia sudah tidak sanggup dekat-dekat dengan Reyhan bisa-bisa ia kena serangan jantung.
"Dira," panggil Reyhan, Dira tidak menyahut ia kesal pada Reyhan, pria itu dengan seenak jidatnya meminta ciuman Dira yang begitu berharga bagi Dira.
"Aku menyayangimu," kata Reyhan malu-malu sedangkan Dira melotot kaget jantungnya sekarang tambah berdetak kencang, kaki langsung lemas dan langsung terduduk di ranjang Reyhan karena ia masih berada di sekitar ranjang Reyhan jadinya ia terjatuh di situ bukan di lantai, tampaknya Dira syok.
Ia benar-benar bahagia sampai-sampai tidak bisa berdiri, berkata pun tidak sanggup.
"Maukah kamu, berada disisiku selamanya," kata Reyhan, Dira tidak mengerti dengan kata-kata Reyhan yang ini, pria itu sedang melamarnya atau mengajaknya menjalin hubungan ia tidak tahu bahkan ia tidak sanggup bertanya.
"Aaaaa.." Dira berusaha bersuara tetapi ia tidak bisa berkata sama sekali.
Greb! Reyhan memeluk Dira lagi.
"Aku tau, kamu gak bakalan menolakku," kata Reyhan sambil memeluk Dira dan tidak disangka Dira membalasnya.
"Hiks! Hiks!" Dira menangis terharu.
"Kenapa kamu menangis?" tanya Reyhan.
"Aku berterimakasih sama bos hiks! Selama ini aku gak pernah merasakan yang namanya cinta, bos orang pertama yang tulus mau mencintaiku, hiks!!" Reyhan bingung harus berbuat apa. Ia tidak pernah mendapati wanita seperti Dira.
"Dira sudah cukup nangisnya," kata Reyhan meminta Dira berhenti menangis sekarang Reyhan menangkupkan kedua tangannya di pipi Dira sambil mengelap air mata Dira.
Dira masih saja menangis. Karena sudah tidak tahu apa yang harus di lakukan untuk menghentikan tangisan Dira akhirnya Reyhan mencium kening Dira lembut, Dira terdiam sejenak.
"Apa yang bos lakukan?" tanya Dira langsung melompat berdiri menjauh dari Reyhan dan saat ini muka Dira memerah, ia juga langsung berhenti menangis.
"Ha-habisnya aku gak tau cara buat berentiin kamu nangis. Ja-jadinya aku cium kening kamu, so-soalnya setahuku mencium kening itu dapat menenangkan seseorang." Panik Reyhan memberi alasan.
"Hei! Kamu sudah berhenti nangis?" tanya Reyhan langsung tersenyum walaupun awalnya gugup.
"Memangnya salah? Lagi pula sekarangkan aku kekasihmu," kata Reyhan mantap, Dira pun tersipu kemudian berteriak gemas.
"Menyebalkannyaaaa!" teriak Dira gemas Reyhan hanya tersenyum menanggapinya sedangkan Dira menempelkan jidatnya di tembok, setelah melihat senyum Reyhan dirinya serasa ingin terbang ia benar-benar merasa jatuh cinta sekarang belum lagi ada rasa tidak puas di diri Dira.
Dira kendalikan dirimu. Batin Dira seandainya ia tidak bisa mengendalikan diri mungkin sekarang ia akan rela bercumbu mesra bersama Reyhan di kamar itu.
.
.
.
"Bo-bos!" panggil Dira menghentikan kecanggungannya dengan Reyhan dan Reyhan tahu kalau Dira memanggilnya bukan karena masalah romansanya tetapi gara-gara masalah lain.
"Apa? Kamu mau ngomong apa?" tanya Reyhan.
"Bos, nanti kamu ceritain semua masalah yang kamu rahasiain sama aku yah." pinta Dira ragu-ragu.
"Ada apa kenapa kamu tiba-tiba penasaran?" tanya Reyhan.
"Gi-gini bos masa pas kamu ngigau tadi kamu ngeluarin aura hitam gitu, aku juga sempat terpental karenanya... " ucapan Dira terpotong Reyhan langsung menghampirinya.
"Kamu gak papa. Maafin aku, gara-gara aku kamu hampir celaka," kata Reyhan memegang bahu Dira.
"Apa gara-gara hal ini kamu jadi takut sama aku," kata Reyhan berucap tertunduk takut Dira akan menjauhinya.
"Awalnya aku memang terkejut dan takut bos, tapi aku tidak ingin jauh dan pergi meninggalkan kamu sendiri. Meskipun berat aku akan tetap selalu ada di sampingmu bos," Dira berucap tulus sambil tersenyum. Reyhan mendongak dan tersenyum senang, karena gadis itu tidak akan pernah menjauhinya seperti apapun kisahnya.
"Dan aku gak papa bos, gak usah ngerasa bersalah kayak gitu, lagi pula aku kelemparnya tadi di atas ranjang bos juga." jelas Dira.
"Tapi yang jadi masalahnya," Dira tidak berani melanjutkan kata-katanya.
Prak!!
Sebuah kotak jatuh ke lantai dan Dira mengernyitkan matanya.
"Apa itu?" tanya Reyhan mendengar ada benda yang jatuh.
"Kamarnya bos berantakan kayak kapal pecah," kata Dira melanjutkan kata-katanya sambil tersenyum ngeri.
"Apa?!" Reyhan syok dengan pernyataan Dira.
"Tapi kamu gak kenapa-napa kan?" tanya Reyhan lagi pada Dira takut gadis itu terluka.
"Iya bos, aku gak papa." ucap Dira.
"Syukurlah. Kamu bisa kasih penjelasan apa-apa saja barang yang terhambur," kata Reyhan dan Dira melihat sekitar.
"Jam beker bos jatuh kacanya pecah, vas bunga bos juga sama, sama foto keluarganya bos tapi gak pecah kok , buku berantakan berserakan, komputernya bos keyboardnya tergantung, kursinya bos terjungkal, kayaknya lampu kamarnya bos putus, lemari bos yang gak di kunci kebuka semua, barang-barang yang di taroh di atas lemari juga jatuhan dan masih banyak lagi," kata Dira sedikit tidak tega menjelaskannya.
Sedangkan Reyhan mengusap wajahnya kasar.
"Apa yang sudah kulakukan?" tanya Reyhan pada dirinya sendiri, Dira saat ini ia hanya menatap bingung betapa hancurnya kamar Reyhan. Yang menjadi pertanyaan Dira kenapa Reyhan memiliki aura yang sama dengan aura yang hampir mencelakakannya. Tapi Dira tidak ambil pusing karena mana mungkin Reyhan tega melukainya, pasti ada orang lain.
"Masalahnya ini bukan kejadian biasa, apa bos mengetahui sesuatu?" Tanya Dira penasaran.
"Mungkin ini ada hubungannya dengan penyebab aku menjadi seperti sekarang. Aku akan menjelaskannya nanti." Jelas Reyhan. Menyadari Reyhan ingin membereskan kekacauan yang ada di kamarnya dengan semangat Dira berkata.
"Tenang bos nanti aku beresin," kata Dira semangat dan mulai merapikan barang-barang yang berserakan karena memang tugasnya merapikan kamar Reyhan yang selalu rapi itu tetapi hari ini kamar itu menjadi berantakan.
"Aku juga bakalan bantu, ini bukan kesalahanmu," kata Reyhan menawarkan diri.
"Gak usah bos, bos cukup duduk manis aja di sofa." ucap Dira tetapi Reyhan menolaknya dan lebih memilih tidak memperdulikan Dira sambil meraba-raba ia mengambil barang-barang yang berserakan dan mulai merapikannya, Dira ia hanya mendengus pasrah dengan kelakuan bos sekaligus kekasihnya itu.
"Dira sebaiknya kita cepat-cepat merapikan tempat ini, soalnya bunda hari ini pulang dan pasti langsung kesini." karena ucapan Reyhan barusan Dira yang awalnya bekerja santai menjadi bekerja secepat mungkin karena kalau sampai di lihat oleh bunda Reyhan mereka tidak tahu apa yang akan terjadi ke depannya dan tidak tahu bagaimana menjelaskannya.
Bersambung...