
Gagal sudah rencana Dira menikmati pagi di hari itu, ia saat ini memandang ke luar jendela mobil tetapi kacanya tidak ia buka sambil menatap cemberut ke luar jendela.
Ia memikirkan apa yang terjadi bila teman-teman satu fakultasnya melihat ia berangkat di antar oleh seorang pria, pasti ia akan diserang oleh berbagai macam pertanyaan oleh temannya.
Belum lagi masalah tersebut adalah masalah seorang pria sedangkan Dira ia tidak pernah dekat dengan pria manapun sebelumnya dan sekarang ia malah di antar seorang pria.
Pasti ia akan menjadi bahan perbincangan hangat teman-temannya dan sekarang ia hanya menarik nafas pasrah.
Sedangkan Reyhan saat ini menikmati dinginnya angin pagi yang menerpa wajah tampannya jendela mobil ia biarkan terbuka.
Selama dua tahun ini ia tidak pernah pergi keluar rumah dan ini untuk pertamakalinya ia memijakkan kakinya di dunia luar lagi.
Dira tidak sengaja melirik ke arah Reyhan ia terpesona dengan diri Reyhan, pria itu tampak begitu tenang.
Di mata Dira Reyhan itu tidak pernah mengeluh pada kekurangannya dan tampak menikmatinya serta menjalaninya saja.
Walaupun Dira masih bertanya-tanya mengapa orang tua Reyhan begitu antusias kalau Reyhan ikut keluar bersama dirinya. Ia teringat saat Reyhan minta izin untuk ikut mengantar Dira.
.
.
.
"Ayah, bunda. Reyhan mau minta izin ikut mengantar Dira," kata Reyhan dan saat itu kedua orangtua Reyhan menatap senang ke arah putranya.
"Baiklah sayang bunda izinkan tapi hati-hati," kata bunda Reyhan mengizinkan.
"Dira kamu jaga yah putra tante, kami percaya sama kamu," kata Rosa ke arah Dira dan Dira ingin menolak waktu itu.
"Om percayakan Reyhan sama kamu." kali ini ayah Reyhan yang bersuara dan mau tidak mau Dira akhirnya mengiyakan ia tidak bisa menolak karena Dira melihat wajah orangtua Reyhan yang begitu menginginkan Dira untuk menemani putranya keluar dari rumah itu seolah-olah Reyhan memang tidak pernah ke luar rumah dan itu untuk pertamakalinya ia keluar rumah.
.
.
.
Apa jangan-jangan bos gak pernah keluar rumah sama sekali. Batin Dira menebak.
"Anu maaf bos sebelumnya, aku pengen tanya sama bos, apa bos gak pernah keluar rumah sama sekali sebelumnya?" Dira akhirnya bertanya karena begitu penasarannya.
"Hm," jawab Reyhan sekenanya.
"Maksudnya 'hm' itu apa bos?" Dira tidak puas dengan jawaban Reyhan.
"Iya," kata Reyhan datar.
"Kenapa?" gumam Dira ia tidak menyangka ternyata bosnya itu mengurung dirinya dari dunia luar.
"Aku gak PD." jawabnya ternyata Reyhan menjawab gumaman Dira.
"Bos kamu seharusnya gak perlu kayak gitu, menurutku bos itu sempurna," kata Dira begitu saja.
"Hm, aku baru menyadarinya. Kekuranganku ini gak selamanya buruk, itu berkat kamu. Walaupun sebenarnya aku tau gak semua orang bisa berpikiran seperti kamu, kamu itu benar-benar menghormati orang lain entah seperti apapun orangnya," kata Reyhan dan membuat Dira salah tingkah dibuatnya.
"Ta-tapi bos aku gak pernah melakukan apa-apa, lagi pula aku hanya menjalankan tugasku." ucap Dira gugup karena ucapan Reyhan barusan yang menurutnya tidak benar saat ini ia tertunduk malu.
"Kau hanya tidak menyadarinya, seandainya semua orang di dunia ini memiliki sikap sepertimu orang-orang sepertiku pasti gak akan pernah merasa di pojokkan." jelas Reyhan.
"Bos," gumam Dira ia terharu.
Dira dia adalah seorang gadis yang mudah terharu oleh sebuah perasaan bahkan ia tidak akan segan-segan menangis bila itu merupakan hal-hal yang membuatnya sedih dan membuatnya terharu tetapi sebenarnya dia adalah seorang gadis yang kuat.
Akhirnya sampailah Dira di depan Universitasnya.
"Bos sekarang kamu mau kemana?" tanya Dira.
"Menunggumu." jawab Reyhan dan Dira hanya menatapnya heran.
"Tentu saja aku tidak akan berdiam di mobil ini terus aku juga akan berjalan-jalan." jelas Reyhan melanjutkan.
"Begitu yah bos, nanti kalau sudah selesai kuliah aku akan langsung mencari bos," kata Dira sambil tersenyum kemudian berlalu pergi.
Saat ini Reyhan sedang duduk di kursi taman dekat Universitas Dira dengan di kawal oleh supirnya sendiri.
Sedangkan Dira saat ini fokus pada mata kuliah yang sedang diterangkan oleh dosennya.
Kemudian Reyhan pun berjalan-jalan lagi di sekitar taman itu di pandu oleh supirnya.
"Pak Yon, apa disekitar sini ada warung penjual nasi goreng?" tanya Reyhan hidungnya menangkap aroma nasi goreng.
"Ah iya Den tepat di depan kita," jawab sang supir yang bernama pak Yon itu.
"Aku ingin mampir kesana," Reyhan mengajak pak Yon.
"Tapi Den, apa di sana makanannya sehat?" tanya pak Yon tidak setuju tuannya makan di sembarang tempat terutama itu di pinggir jalan.
"Udahlah pak Yon gak papa," Reyhan bersikeras tidak mau dibantah dan akhirnya pak Yon pun menuruti kemauan tuannya itu.
Pesanan mereka berdua pun akhirnya datang, saat ini Reyhan makan dengan lahap.
Reyhan bernostalgia pada masanya saat SMA dulu ia senang sekali bersama teman-temannya makan di warung-warung di pinggir jalan menikmati nasi goreng seperti ini.
Reyhan memang anak orang kaya tetapi kalau soal makan ia bisa makan-makanan dimana saja Reyhan bukan orang yang pemilih soal makanan.
Sebenarnya Reyhan dulu adalah anak yang baik tetapi setelah ia tidak bisa melihat lagi, ia mulai menutup diri dan bahkan menghilang dari dunia luar.
Di tambah lagi teman-temannya tidak ada lagi yang ingin berteman dengannya karena dia buta dan hal itu lah yang menambah keterpurukannya.
Sampai ia bertemu dengan Dira gadis yang bahkan tidak memperdulikan kekurangan Reyhan dan bahkan tidak pernah menghinanya dan mengurusi dirinya begitu tulus.
Semua itu seperti semangat baru untuk Reyhan bangkit kembali di kehidupannya dan meninggalkan masa lalunya yang di penuhi oleh kesendirian.
.
.
.
Prank!
Suara piring pecah. Dan terlihat dua orang preman memalak penjual nasi goreng itu.
"Hei pak tua, lo harus bayar uang pajak jualan di sini," kata seorang preman jalanan memegang kerah baju si penjual sambil menodongkan pisau.
Dan mau tidak mau si penjual memberikan uangnya.
Tetapi tidak merasa puas mereka yang saat ini tampaknya berdua mendatangi Reyhan dan pak Yon.
Pak Yon pun melindungi Reyhan sedangkan Reyhan sedang konsentrasi mendengar pergerakan preman yang sekarang menuju ke arahnya dan kemudian Reyhan tersenyum sinis.
"Kalian pak tua dan orang buta serahkan semua uang kalian," kata salah satu orang preman dan membuat Reyhan menggeram kesal karena di katai buta dan sekarang Reyhan juga sedang berdiri di belakang pak Yon.
"Kami tidak ingin sama sekali memberikan uang kami sepeser pun pada kalian," kata Reyhan tampaknya menantang kedua preman itu.
Akhirnya kedua preman itu menyerang pak Yon dan Reyhan, pak Yon yang sudah tua itu ternyata memiliki keahlian bela diri yang hebat salah satu preman sudah hampir ia pojokkan.
Sedangkan preman yang satunya menyerang Reyhan ketika ingin meninju wajah Reyhan tangan preman itu dengan sigap di tangkap oleh Reyhan.
Buk!
Bunyi tinju Reyhan mengenai perut sang preman.
Jdak!
Reyhan menendang kaki sang preman sehingga sang preman jatuh tersungkur.
Reyhan pikir preman itu telah menyerah tetapi perkiraannya salah dan dengan sigap sang preman berhasil meninju wajah Reyhan dan membuat Reyhan terpental serta membuat sudut bibirnya berdarah.
"Den!" teriak pak Yon pada Reyhan karena sekarang ia akan di tikam oleh salah satu preman itu.
Pak Yon tidak bisa membantu Reyhan karena ia juga sedang menghadapi preman yang satunya lagi.
"Cih! Mana mungkin aku di kalahkan oleh orang buta," kata preman itu sombong sedangkan Reyhan ia tidak bergeming sedikit pun tampaknya ia menahan sakit.
"Hyaa! Matilah kau!" teriak preman itu mengarahkan pisaunya ke dada Reyhan yang sudah tidak berdaya.
"Den!" pak Yon hanya mampu berteriak karena ia juga sedang di pojokkan oleh salah satu dari preman itu.
Bersambung...