Eyes Of Curses

Eyes Of Curses
Part 5



"Bos kamu ngapain masuk kamar lagi sudah masuk jam makan siang tau bos," kata Dira sambil membuka pintu kamar Reyhan.


"Kenapa kamu gak langsung kesini dari tadi?" Reyhan bertanya pada Dira.


"Maaf bos tadi saya membersihkan baju saya yang penuh dengan darah," jawab Dira jujur padahal sekalian tadi ia menetralkan jantungnya yang berdetak kencang akibat perlakuan Reyhan. Reyhan tidak berkata apa-apa setelah mendengar penjelasan Dira.


Kemudian ia berlalu begitu saja di hadapan Dira menuju meja makan dan Dira hanya membuntutinya.


Ketika sampai di meja makan Dira membantu Reyhan mengambil makanannya Dira hanya memerhatikan Reyhan yang tampak kesulitan saat menyendok makanannya dan hal itu menimbulkan rasa iba di diri Dira.


"Bos apakah mau saya bantu?" tanya Dira namun Reyhan hanya diam tidak menjawab dan Dira menganggap Reyhan mengiyakannya.


Kemudian Dira membantu Reyhan agar makanannya mudah di suap oleh Reyhan ia menaruhkannya di sendok Reyhan kemudian Reyhan menyuapnya sendiri.


Saat ini Dira maupun Reyhan tidak berharap sama sekali ada adegan suap-suapan di ruang makan itu.


"Apa kamu tidak mau makan?" tanya Reyhan.


"Bos makan saja duluan." jawab Dira masih membantu menyendokkan Reyhan.


Kruyuuk!


Tampaknya cacing di perut Dira mulai berdemo dan seketika membuat Dira tertunduk malu memang suara perut Dira yang kelaparan nyaris tidak terdengar tetapi berbeda dengan pendengaran Reyhan, Dira menyadari kalau pria itu pasti mendengarnya.


"Kamu lapar? Kalau begitu makan lah dulu, kamu gak usah khawatir aku bisa sendiri." Reyhan menawarkan Dira untuk makan bersamanya.


"Ta-tapi bos." Dira ingin menolak.


"Kamu itu kebanyakan ngomong tapi tau, makan saja ini perintah." ucap Reyhan dan tentu saja Dira menurutinya karena itu perintah.


Selama ini bila Dira bekerja ia akan menuruti seluruh perintah atasannya selagi itu hal yang masuk akal dan tentu saja orang yang mempekerjakan Dira tidak pernah mau memecatnya karena rasa hormatnya yang tinggi pada atasan namun kebanyakan dari pekerjaannya Diralah yang mengundurkan diri karena sudah merasa tidak nyaman.


Saat ini Dira pun ikut makan bersama Reyhan namun di tengah-tengah makan bila melihat Reyhan kesulitan Dira pun membantunya.


Sedangkan Reyhan ia merasa bingung dengan sikapnya biasanya ia tidak akan pernah perduli pada pengasuh-pengasuh yang pernah melayaninya.


Bahkan Dira adalah pengasuh pertama yang pernah di ajaknya makan bersama, ia juga merasa nyaman saat bersama dengan Dira seperti gadis itu adalah bundanya padahal baru sehari ia bersama dengan gadis itu tetapi ia merasakan gadis itu tulus membantu kekurangannya.


Sedangkan Dira ia yang pertamanya merasa sehari saja tidak akan betah bekerja di tempat itu mulai merasa nyaman dengan pekerjaannya dan mulai menikmatinya bahkan ingin menarik kata-katanya sendiri yang berkata ingin segera pulang.


Setelah selesai makan Reyhan pun mengajak Dira ke halaman belakang rumahnya ketika sampai di sana Dira di buat takjub oleh hal itu karena di sana banyak di tanam berbagai macam bunga dengan tatanan yang rapi sedangkan di sebelahnya terdapat kolam renang yang cukup besar.


"Woah! Indah sekali," kata Dira takjub melihat taman itu dan Reyhan hanya tersenyum mendengarnya.


Mendengar gadis itu takjub Reyhan merasa seperti melihat sesuatu yang indah saat ini ia merasa melihat melalui mata gadis itu.


"Apakah sungguh indah?" Reyhan bertanya.


"Hmm, sungguh indah. Apa bos belum pernah melihatnya?" Dira bertanya begitu saja karena sangking kagumnya pada taman itu.


"Belum. Saat itu taman ini mungkin tidak seperti ini, dulu bahkan tidak indah menurutku," Reyhan menjelaskan dengan nada sedih di kalimatnya.


"Sejak kapan bos tidak bisa melihat?" Dira bertanya.


"Dua tahun lalu." jawab Reyhan dan kali ini Dira yang menatapnya sedih.


"Nama saya Nadira, panggil saja Dira" ucap Dira semangat dan Reyhan hanya mengangguk menanggapinya.


Keduanya merasa bingung dengan diri mereka masing-masing, Reyhan merasa bingung mengapa ia bisa begitu akrab dengan pengasuhnya yang bahkan bekerja dengannya belum genap satu hari.


Sedangkan Dira ia kebingungan mengapa ia bisa begitu akrab dengan Reyhan ia bahkan tidak pernah bisa akrab dengan pria yang baru dikenalnya sebelumnya.


"Bos sudah sore kamu harus masuk," Dira mengajak Reyhan masuk ke rumahnya dan Reyhan mengangguk mengiyakan.


Kemudian Reyhan duduk di ruang tamu rumahnya, sedangkan Dira ia membuatkan Reyhan teh hangat.


Tepat setelah Dira memberikan teh hangat pada Reyhan bunda Reyhan pun pulang.


"Tante," ucap Dira kaget.


"Hmm, bunda sudah pulang?" Reyhan bertanya karena ia tidak menyadari kedatangan bundanya.


"Iya sayang," bunda Reyhan mengacak surai hitam yang cukup panjang itu dan membuat Reyhan protes karena malu dilihat Dira sedangkan Dira ia hanya tersenyum menanggapinya.


"Oh ya tante tugas saya sudah selesai saya harus pulang," kata Dira dan Rosa mengangguk mengiyakan.


Setelah mengambil barang-barangnya Dira berpamitan pada Rosa dan langsung menerima gajinya hari itu juga dan pergi, Reyhan yang bingung kemudian bertanya.


"Bunda, kenapa dia pulang bukankah dia yang akan mengurusiku?" tanya Reyhan.


"Enggak sayang mulai sekarang bunda akan menyuruh orang-orang yang berbeda tiap harinya untuk mengurus kamu agar kamu gak merasa bosan dan tidak menjahili mereka lagi." jelas Rosa dan membuat raut kecewa di wajah Reyhan, Rosa menyadari perubahan sikap putranya itu.


Reyhan langsung pergi menaiki tangga, memasuki kamarnya dan mendudukan dirinya di atas ranjangnya, Rosa menghampirinya.


"Reyhan, kamu kenapa?" tanya Rosa.


"Bun, Reyhan merasa nyaman dengan gadis itu dia gadis baik, Reyhan ngerasa dari semua orang yang mengurus Reyhan cuma dia yang ngehargain peraturan Reyhan." jelas Reyhan dan Rosa tersenyum.


"Terus?" tanya Rosa.


"Reyhan minta agar dia mau di sisi Reyhan terus untuk mengurus Reyhan," kata Reyhan kali ini dia yang memintanya tidak seperti biasanya Reyhan hanya meminta bundanya yang menjaganya dan tidak ingin orang lain yang mengurusnya.


"Baiklah sayang bunda akan mendatangi gadis itu lagi," kata Rosa mengiyakan permintaan putranya itu kemudian ingin berlalu pergi.


"Rey, ini novel siapa?" tanya Rosa memegang sebuah novel yang tidak asing baginya, dan tentu saja ia bertanya untuk apa Reyhan membaca novel ia kan tidak melihat.


"Bunda. Sepertinya bunda gak perlu repot-repot datangin dia, nanti dia yang akan datang ke rumah ini sendiri karena sekarang novel yang paling di sayangnya itu ketinggalan." jelas Reyhan dan Rosa menatap novel itu sambil tersenyum.


"Kebetulan sekali." gumam Rosa sambil memerhatikan novel itu membuka dan melihat isinya sambil tersenyum.


"Apa yang kebetulan bunda?" tanya Reyhan bingung.


"Nanti kamu tau sendiri," kata Rosa dan meletakkan novel itu di tangan Reyhan berlalu pergi, Reyhan hanya meraba novel itu bingung.


Ada apa memangnya dengan benda ini. Batin Reyhan penasaran dengan novel yang di pegangnya.


Bersambung...