
"Ukh!" rintih Dira tersadar di ruangan serba putih dengan bau obat-obatan sekujur tubuhnya terasa kaku.
Dahi dan tangannya di perban selang infus menempel di tangannya. Ia tidak pernah terbayang akhirnya masuk rumah sakit karena sebenarnya ia tidak suka dengan bau obat-obatan di rumah sakit, ia benci rumah sakit dan sekarang akibat kejadian itu ia malah jatuh sakit. Meskipun saat ini tubuhnya lemas ia ingin segera pulang, ia tidak tahan. Dira ingin mendudukan diri
"Dira kamu sudah sadar? Jangan memaksakan diri nak, kamu baru pulih dari koma," kata seseorang yang ternyata ibu Dira.
"Mama," gumam Dira lirih.
"Aku mau pulang," kata Dira langsung tapi tidak di gubris, mana mungkin dengan luka Dira yang cukup parah itu orang tuanya mengizinkannya pulang.
Dokter langsung masuk dan mulai memeriksa keadaan Dira, yang masih terbilang lemah. Setelah dokter menyatakan keadaan Dira telah membaik dan bisa di kunjungi semua pengunjung akhirnya memasuki ruang rawat Dira.
"Dira," seseorang menyebut namanya sedih.
"Tante Rosa, ada apa?" tanya Dira.
"Reyhan menghilang," kata Rosa, Dira ia terdiam.
Ia benar-benar kaget ketika mendengar Reyhan telah menghilang dan kemudian mengingat kejadian itu.
Ia tahu Reyhan di bawa oleh orang-orang berjubah yang menyerangnya.
"Apa kamu tahu siapa pelakunya?" tanya Rosa matanya berkaca-kaca.
"Tante, dia mungkin di bawa oleh makhluk berjubah yang menyerang rumah tante, meskipun tante mencarinya ke ujung dunia sekalipun ia tidak akan di temukan meskipun jasadnya." jelas Dira mengetahui makhluk itu bukanlah manusia karena memiliki kekuatan aneh,.
"Orang yang membawanya bukanlah orang biasa tetapi memiliki kekuatan spiritual bahkan mungkin bisa jadi mereka bukanlah manusia, maaf tante Dira gak bisa jaga Reyhan," kata Dira lemah sedangkan Rosa hanya dapat menangis saat ini, semua kesaksian Dira sama dengan para pelayan yang selamat walaupun sedikit tidak bisa dipercaya. Beruntung penjelasan Dira masih jelas, sedangkan mereka yang selamat selain Dira atas kejadian itu ada yang mengalami stres dan ketakutan ketika di tanya hal itu dan hanya ada yang menjelaskannya dengan raut ketakutan tapi tidak dengan keterangan yang jelas, karena sebagian besar orang akibat kejadian itu banyak yang mati.
"Tante bagaimana, dengan orang-orang di rumah tante?" Tanya Dira.
"Maaf Dira dengan keadaanmu sekarang, tante tidak bisa menjelaskan." Ucap Rosa tersenyum sambil mengelus kepala Dira lembut. Dira pun memilih diam ia tidak ingin mengingat kejadian itu, jelas saja banyak orang yang mati atas insiden itu, ia hanya salah satu yang beruntung setelah dari lantai dua di lempar sekeras itu ia masih selamat sebenarnya itu sudah sebuah keajaiban. Tapi yang Dira ingat pasti ketika ia dihempaskan walaupun tidak jelas saat itu ada seseorang yang menyambutnya dan orang itu adalah Reyhan sendiri. Dira ia masih tidak mengerti apa sebenarnya yang menyambutnya.
Rosa, ia teringat cerita Reyhan kecil yang tersesat di tengah hutan. Rosa menyesal karena tidak mempercayai Reyhan saat itu.
"Bu, maafkan saya gara-gara masalah yang menimpa keluarga saya harus terimbas ke anak ibu," Rosa meminta maaf pada Ibu Dira.
"Sudahlah bu, ini bukanlah kecelakaan yang mereka inginkan. Lagipula sekarang Dira sudah sadar," kata ibu Dira.
Seorang suster masuk ke dalam kamar Dira dan menyuruh kedua wanita itu keluar karena Dira harus beristirahat dulu.
"Tante, apa tante pernah gak percaya sama perkataan Reyhan ketika dia tersesat di hutan, tante kejadian itu sebuah kenyataan." jelas Dira dan Rosa hanya dapat menyesal karena tidak pernah percaya cerita Reyhan kecil. Tapi jika percaya hal apa yang saat itu bisa dilakukannya, mungkin ia tidak akan pernah menyesal.
.
.
.
"Bunda Reyhan takut bunda, makhluk hitam besar merasuki Reyhan, hiks!!" kata Reyhan kecil yang tidak tahu apa-apa itu menangis.
"Reyhan itu semua hanya mimpimu sayang," kata bunda Reyhan menenangkan Reyhan.
"Nggak bunda itu kenyataan," kata Reyhan.
"Kamu sehat Reyhan gak ada yang terluka dan tidak ada kejadian apa-apa itu semua cuma mimpi Reyhan," kata Rosa, Reyhan merasa ucapannya tidak ada yang percaya akhirnya ia memilih bungkam.
.
"Rey, kamu kenapa?" Rosa bertanya.
"Gak papa bun, mungkin Reyhan cuma kecapeaan deh," kata Reyhan memegang kedua matanya yang terasa berdenyut lalu pergi kekamarnya.
.
.
.
"Rey, maafin bunda karena gak percaya sama ucapanmu dulu, tapi jika percaya apa yang harus bunda lakukan untuk menyelamatkan dirimu." gumam Rosa air matanya berlinang kemudian pamit pergi dari tempat itu.
Kesedihan yang mendalam di rasakan oleh keluarga Reyhan yang merupakan putra tunggal di keluarga itu, begitu pula dengan Dira ia merasa terpukul dengan kejadian yang di alaminya perpisahan yang dipaksakan karena makhluk-makhluk jahat itu.
Dira pun akhirnya berusaha membuat dirinya beristirahat karena ia sudah tidak sadarkan diri selama seminggu, ia sebenarnya sangat sedih karena telah kehilangan Reyhan. Dalam hidupnya ia baru pertamakali merasakan yang namanya cinta.
Dan saat ia benar-benar mencintai orang itu ia pergi dan tidak tahu bagaimana keadaannya sekarang apakah ia masih hidup atau tidak, Dira tidak tahu.
Yang ia yakini sekarang mereka berdua harus menepati janji mereka untuk hidup meskipun mereka tidak bisa lagi bersama saat ini dan berharap suatu saat mereka bisa bertemu lagi.
Dira saat ini benar-benar merasakan yang namanya di tinggalkan seseorang yang amat sangat di sayangnya.
Seperti inikah rasanya sakit. Batin Dira merasakan sesak yang di dadanya.
.
.
.
Hari-hari pun berlalu Dira menjalani kehidupannya seperti biasa melanjutkan kuliahnya, seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa.
Meskipun setiap saat ia merasa begitu sedih dan merasa kehilangan arah dalam hidupnya, tapi janjinya pada Reyhan selalu memotivasinya ia harus tetap hidup.
Dira tidak pernah terbuka dengan orang lain sejak saat itu ia menjadi pribadi tertutup.
Walaupun seperti itu, ia sebenarnya melakukan hal itu hanya tidak ingin mengingat kejadian yang sangat memilukan di hidupnya, tapi ia benar-benar tidak berkutik seolah-olah masalalu terus menjebaknya dan mengekangnya.
Bahkan belum ada seorangpun yang bisa menggantikan Reyhan di hatinya pria itu tetap nomor satu di hatinya.
Setiap saat ia selalu berharap agar ia bisa bertemu lagi dengan Reyhan walaupun mungkin harapannya itu mustahil.
Tapi setiap ia melihat tanda berlambang bintang yang ada di tangannya, ia merasa masih ada harapan baginya untuk bertemu dengan Reyhan lagi.
"Reyhan kamu dimana?" tanya Dira pada dirinya sendiri kemudian ia menangis karena hanya hal itu yang dapat ia lakukan sekarang. Hanya dengan menangis akan membuatnya sedikit lebih tenang. Dira saat ini mendudukkan dirinya di sebuah kursi taman sendirian sambil merenung.
.
.
.
Terlihat seorang pria yang tengah bersandar di sebuah pohon besar di dalam hutan dengan tubuh yang di tutupi oleh jubah.
Bersambung...