
Saat ini Reyhan dan Dira sudah memasuki halaman rumah Reyhan, setelah kejadian yang tiba-tiba saja merubah mood Reyhan mereka pun memilih untuk pulang.
"Bos tadi kenapa?" tanya Dira memberanikan diri, tentu saja setelah melihat wajah bosnya yang sekarang tidak seserius tadi yang membuatnya berani untuk bertanya.
"Tidak ada apa-apa," jawab Reyhan datar.
"Bos kalau kamu ada apa-apa, cerita aja gak usah di pendam. Tapi gak papa lah aku juga gak berhak buat ikut campur urusan bos." ucap Dira sekenanya memang sebenarnya Dira tidak terlalu perduli dengan urusan orang lain tetapi entah mengapa urusan Reyhan membuatnya penasaran.
"Entahlah Dira aku juga gak ngerti, aku hanya merasa ada sesuatu hal yang membuatku gak nyaman di tempat itu, misalnya kayak sejenis aura jahat." jelas Reyhan akhirnya mau bercerita tapi ia masih kebingungan.
Dira tidak bisa berucap apa-apa, ia tidak tahu apa-apa tentang masalah itu.
"Bos, apa bos gak pernah cerita sama sekali sama orang-orang terdekat bos tentang masalah bos?" tanya Dira dan Reyhan menggeleng.
"Kenapa?" tanya Dira minta penjelasan.
"Meskipun aku sudah menjelaskannya tetap tidak ada yang percaya padaku." jelas Reyhan.
"Bos kalau kamu mau cerita, aku siap dengerin ceritanya bos meskipun sedikit gak masuk akal dan aku juga bakalan usahain percaya dengan kata-kata bos." Dira menawarkan diri menjadi tempat Reyhan untuk mencurahkan seluruh isi hatinya meskipun saat ini Dira sedang mengeluarkan keringat dingin sangking malunya.
"Mungkin nanti aku bakalan cerita sama kamu, saat ini aku belum siap, aku merasa kamu akan ada dalam bahaya jika tahu." ucap Reyhan serius namun sambil tersenyum kemudian mengacak rambut Dira lalu masuk ke dalam rumahnya dan Dira memegang rambutnya yang habis di acak oleh Reyhan sambil merona. Entah mengapa tidak ada rasa takut di dalam dirinya bahkan jika ia tahu masalah Reyhan sebenarnya.
"Bos, apa bos mau minum?" Dira bertanya, Reyhan yang saat ini menaiki anak tangga ke kamarnya menghentikan langkahnya.
"Buatkan aku segelas susu hangat," kata Reyhan kemudian meneruskan langkahnya.
"Oke bos," kata Dira semangat dan langsung menuju dapur.
.
.
.
Tidak terasa waktu berjalan begitu cepat, saat ini Dira baru pulang kuliah dan ini pertamakali Reyhan tidak ikut dengannya, ia bilang dia sedang tidak enak badan.
Awalnya Dira ingin tidak masuk kuliah di hari itu demi menjaga Reyhan tetapi Reyhan melarangnya dan menyuruhnya untuk tetap berkuliah.
Hal itu membuat Dira tidak fokus dalam menyimak mata kuliahnya.
Setelah jam kuliah berakhir ia langsung buru-buru pulang untuk menemui Reyhan.
Ketika di perjalanan pulang Dira hampir di tabrak oleh pengendara sepeda motor untung Dira termasuk dalam jajaran gadis tomboi dan membuat ia mampu untuk menghindarinya.
Tetapi ada satu hal dalam kejadian itu yang begitu janggal menurut Dira, ia hampir di tabrak oleh pengendara itu di trotoar dan ketika melihat ke arah pengendara motor yang sekarang terjatuh itu, ia melihat sebuah bayangan hitam keluar dari badan motor itu.
Dira hanya mampu termundur melihat kejadian itu kemudian membantu pria yang mengendarai motor itu berdiri, untung pengendara motor itu hanya mengalami luka ringan dan bisa mengendarai motornya lagi.
Sebelum pergi ia sempat meminta maaf pada Dira dan Dira pun memaafkannya dan Dira langsung pulang dengan terburu-buru pikirannya sekarang di penuhi oleh berbagai macam pertanyaan mengenai masalah itu dan ternyata lagi-lagi makhluk berjubah terlihat sedang mengamati Dira dari kejauhan.
Cklek!
Suara pintu kamar terbuka perlahan, pertamakali Dira memasukan kepalanya melihat-lihat keadaan sekitar ia takut saat ini Reyhan sedang melakukan hal yang aneh-aneh menyambut kedatangan dirinya.
Pernah Reyhan membuat Dira benar-benar terkejut dan kapok karena pergi ke supermarket terdekat tanpa seizin dirinya dan menghilang begitu saja.
Reyhan saat itu menggunakan pakaian bagai malaikat maut dan dengan raut wajah yang menakutkan, tentu saja hal itu membuat Dira kaget bukan main seperti biasa dalam kelemasan Dira, Reyhan menyeretnya masuk ke kamar dan langsung menyeramahi dirinya.
Oleh sebab itu, Dira dan Reyhan selalu bersama tidak pernah terpisah lagi dan ini untuk pertamakalinya mereka berdua tidak bersama karena Reyhan sakit.
Ternyata sekarang Dira mendapati Reyhan sedang tertidur nyenyak, tidak ingin mengganggu Dira duduk di kursi di samping ranjang Reyhan kemudian menyandarkan diri sambil membaca novel kesayangannya itu.
.
.
.
Kemudian ia pergi berlari mencari jalan keluar dari hutan itu namun yang ia dapati bukanlah jalan keluar melainkan sebuah makhluk hitam besar bertanduk matanya merah menyala, memiliki sayap, kukunya tanjam dan runcing tampaknya ia seekor naga hitam.
"Hai bocah!" ucapnya menggelegar sambil menyeringai dan bocah kecil itu hanya menggetar ketakutan.
"Ja-jangan makan aku," katanya polos ketakutan.
"Hahahahaha! Aku tidak akan memakanmu bocah hanya saja aku akan memberikanmu sebuah hadiah, kau akan menjaga kekuatanku ini sampai waktunya tiba, aku akan mengambilnya kembali," kata makhluk itu kemudian melepaskan sebuah mutiara awalnya mutiara itu berwarna putih bersih tetapi kemudian berubah menjadi hitam.
"Aku tidak mau hadiah darimu!" teriaknya melawan dan makhluk itu menyeringai seram.
"Sayangnya kau tidak bisa menolak, dia memilihmu," kata makluk itu dan mutiara itu berubah menjadi asap hitam kemudian memasuki kedua bola mata bocah itu.
Bocah itu berteriak kesakitan sebelum seluruh kesadarannya menghilang ia mendengar makhluk itu berucap.
"Kau akan menjadi pemilik mata terkutuk," ucap makhluk itu dan bocah itu pun akhirnya pingsan.
.
.
.
Dira saat ini kalang kabut melihat Reyhan yang sedang menggeleng-geleng sambil mengeluarkan keringat yang cukup deras.
"Bos! Bos! Bangun." Dira mengguncang-guncang tubuh Reyhan panik ia tidak berpikir untuk meminta pertolongan pada orang-orang di rumah itu sangking paniknya.
Tiba-tiba saja sebuah aura hitam keluar dari tubuh Reyhan dan menghempaskan Dira, awalnya Dira kaget dengan hal yang terjadi karena aura itu sama dengan aura yang hampir mencelakakan dirinya dan merasa takut tetapi ia teringat kata-katanya sendiri bahwa ia akan menjaga Reyhan dan membantu kekurangannya.
Kemudian Dira bangkit lalu dengan berani **** tubuh Reyhan yang saat ini terus mengeluarkan aura hitam dan ia terus memaksa Reyhan bangun seluruh barang di kamar itu menjadi berantakkan tetapi Dira tidak perduli dengan hal itu yang ia pikirkan sekarang ini bosnya itu bangun.
.
.
.
Reyhan merasa berada di sebuah tempat yang ramai awalnya ia merasa tenang dan bisa tertawa disana ada ayah dan ibunya, teman-teman bahkan orang yang ia sayang.
Tiba-tiba semua menjadi gelap, semua orang yang ada disisinya, satu persatu dari mereka pergi dan menyisakan dirinya sendirian dalam kegelapan.
Ia hanya mendengar orang-orang yang pura-pura bersimpati pada dirinya namun sebenarnya di belakangnya menghina dan mencaci-maki dirinya yang tidak sempurna, Reyhan merasa kesal dan marah.
Sambil menikmati dunianya yang sunyi Reyhan seperti membuat sebuah tembok tebal yang seolah-olah tidak bisa di tembus oleh siapapun.
Tapi tiba-tiba tembok itu retak dan ia mendengar sebuah suara gadis yang begitu asing di telinganya menyebut namanya.
"Reyhan, sadarlah kamu jangan kalah dari kegelapan. Sebab kegelapan hanya akan menanamkan sebuah kebencian, Reyhan aku akan menjagamu dan membantumu dalam kekuranganmu, jangan kalah dengan hal seperti ini." kata gadis itu perlahan-lahan tembok tebal yang melindungi Reyhan dalam kegelapan retak dan memuculkan setitik cahaya lalu tembok itu pun akhirnya hancur dan cahaya menerangi tempat itu.
Kemudian sebuah tangan mungil muncul untuk meraihnya, Reyhan tidak tahu siapa gadis itu tetapi ia merasa gadis itu memberi sebuah kehangatan didadanya yang ia rasa sudah lama mati dan beku.
Dengan ragu-ragu ia menggapai tangan gadis itu ia melihat gadis itu tersenyum begitu tulus, rambutnya sedada tetapi Reyhan tidak melihat wajahnya begitu jelas yang hanya ia lihat jelas ialah senyum tulus gadis itu dan bisa merasakan ketulusannya.
Dan tangan itu akhirnya diraih oleh Reyhan, tiba-tiba semuanya menjadi terang sangat terang.
.
.
.
"Bos! Bos Reyhan bangun!!!" Dira berteriak kencang kepada Reyhan dan sekarang Dira memeluknya.
Reyhan terbangun kaget dan merasa tubuhnya berat seperti ada yang menindihnya, nafasnya juga tersenggal-senggal perlahan-lahan aura hitam yang menyelimuti Reyhan menghilang.
Bersambung...