
.
.
.
.
"Reyhan, kemarilah..." ucap sebuah suara entah tidak sadar atau penasaran Reyhan kecil mencari sumber suara di senja hari itu dan akhirnya tersesat, kemudian kejadian itu terjadi. Asap hitam yang berasal dari sebuah mutiara hitam memasuki matanya dan ia pun di temukan pingsan keesokan harinya di tengah hutan. Ketika itu Reyhan hanya diam ketakutan mengingat kejadian itu ia bahkan tidak berani membuka mulut dan ketika berani untuk menceritakan semuanya ia malah tidak di percaya dan orang-orang mengatakan semua itu adalah mimpi buruknya saja padahal itu adalah kenyataan yang bahkan Reyhan tidak dapat melupakannya sama sekali, kejadian yang begitu jelas terjadi dihidupnya.
.
.
.
.
"Sejak saat itu aku, gak pernah lagi menceritakannya pada siapapun dan menganggap itu semua memang hanya sebuah mimpi tetapi saat aku beranjak dewasa mataku sering tiba-tiba berdenyut sakit, awalnya aku diamkan saja tapi makin lama dan tepat ketika aku berusia delapan belas tahun semua itu benar-benar menyakitkan aku pernah tidak sadarkan diri selama seharian penuh gara-gara berniat untuk melihat. Aku akan memaklumi kalau kamu juga gak percaya sama ceritaku memang semuanya tidak masuk akal tapi,--" ucapan Reyhan terpotong.
"Aku percaya. Aku percaya dengan apa yang kamu katakan. Kemarin aku juga hampir tertabrak oleh pengendara sepeda motor untungnya aku tidak apa-apa dan yang menjadikan hal ganjil pada kejadian itu adalah dari sepeda motor itu aku melihat kepulan asap hitam keluar dari sana" Dira menjelaskan.
"Apa?! Kamu gak papa kan?" Reyhan terkejut dan benar-benar merasa khawatir terhadap Dira ia baru mengetahui Dira hampir tertabrak gara-gara ulah makhluk jahat itu.
"Sudahlah bos aku gak apa-apa," kata Dira memegang bahu Reyhan pria itu tampaknya marah dan geram.
"Kenapa gak pernah cerita?" Tanya Reyhan khawatir.
"Aku pikir aku hanya salah lihat dan itu hanya kecelakaan biasa," kata Dira.
"Dan lagi di kamarmu, pas aku membangunkanmu kamu juga mengeluarkan hal yang sama, awalnya aku takut tapi aku memberanikan diri demi dirimu," kata Dira tersipu dengan kata-katanya sendiri.
"Dan hal itulah yang membuat aku mengerti, apa yang aku lihat dan apa yang terjadi itu bukanlah sesuatu yang biasa dan berhubungan dengan dunia supranatural," kata Dira.
"Aku tidak akan memaafkan makhluk itu bila terjadi apa-apa pada dirimu dan bahkan diriku sendiri kalau itu menyakitimu," kata Reyhan dingin Dira terus berusaha menenangkan Reyhan entah mengapa saat Reyhan marah aura di tempat itu menjadi sedikit suram.
"Rey cukup, aku tidak apa-apa. Berhenti Rey tampaknya ada kekuatan yang di tanamkan di dalam dirimu hawanya menguar Reyhan," jelas Dira menggenggam tangan Reyhan dan pria itu berhenti menggeram.
"Maafkan aku Dira, gara-gara aku kamu ikut terlibat dan hampir terluka," kata Reyhan merasa bersalah.
"Shhhtt! Gak papa karena aku rela berkorban demi dirimu, aku menyayangimu." ucapan Dira membuat Reyhan tersentak kaget hatinya begitu bahagia di buat Dira karena hari sudah sore mereka pun masuk ke dalam rumah sambil bergandengan tangan. Dan melanjutkan obrolan mereka di dalam kamar Reyhan.
"Kau tidak perlu berkorban untukku Dira seharusnya aku yang berkorban untuk dirimu," kata Reyhan dan Dira menundukkan kepalanya.
"Dira," kata Reyhan.
"Kalau terjadi sesuatu padaku, kau harus berjanji untuk bertahan hidup apapun caranya kau harus pergi menjauh sejauh-jauhnya jangan sampai terlibat, kau harus berjanji demi diriku." ucap Reyhan dan Dira menghentikan langkahnya.
"Reyhan," gumam Dira.
"Reyhan a-aku kurang yakin, maafkan aku," kata Dira.
"Jawab iya Dira," Reyhan mengancam Dira untuk berjanji sekarang tubuhnya telah menempel di dinding dengan cekalan Reyhan ia tidak dapat bergerak.
"Ba-baiklah Rey, aku berjanji. Tapi, kamu juga harus berjanji hal yang sama," kata Dira memeluk tubuh Reyhan ia tidak marah ketika Reyhan melakukan hal itu karena ia tahu pria itu hanya khawatir pada dirinya.
"Baiklah aku berjanji akan berusaha menghilangkan kutukan ini dan hidup bahagia bersamamu selamanya," kata Reyhan membalas pelukan Dira.
.
.
.
Prang!!
Suara barang pecah dari luar kamar.
"Apa itu?" Dira bertanya, Reyhan langsung was-was dan menyembunyikan Dira di belakang tubuhnya karena ia merasakan hawa yang tidak baik.
Pintu kamar Reyhan tiba-tiba terbuka akibat di hantam sesuatu dan ternyata itu adalah salah satu pelayan di rumah Reyhan saat ini ia sudah di penuhi oleh darah Dira histeris dan langsung menangis melihat kejadian itu.
"Hiks, hiks!!" tangis Dira.
"Ada apa Dira?" tanya Reyhan karena ia tidak melibat, ia hanya mencium bau darah yang menyengat saat ini.
"Ada mayat di depan pintu hiks!" Dira menangis tubuhnya lemas tetapi ia tidak bisa pingsan dan tiga orang berjubah muncul secara tiba-tiba.
"Oh jadi ini orangnya," kata seorang pria berjubah wajahnya tidak terlihat.
"Arrgh!" rintih Dira tiba-tiba saja ia merasa tercekik dan sekarang terbang menempel di dinding kemudian ia di hempaskan, kepalanya berdarah.
"Pengganggu harus mati," kata seorang wanita berjubah ia yang tampaknya mengendalikan asap hitam yang menyerang Dira.
"Apa yang kalian lakukan?" geram Reyhan aura hitam menguar dari tubuhnya dan mengalahkan aura hitam yang menyerang Dira.
"Kau marah bocah? Baiklah, itu sangat baik sebaiknya aku buat kau tambah marah bocah," kata seseorang pria berjubah hitam dan langsung melemparkan tubuh Dira yang sudah bersimbah darah.
"Reyhan, aku akan berusaha bertahan demi dirimu, kau harus baik-baik saja." gumam Dira saat tubuhnya yang melayang melewati Reyhan, Reyhan yang pendengarannya tajam pun sudah pasti mendengar kata-kata terakhir dari Dira.
"Dira!!!" teriak Reyhan marah dan sebuah bayangan hitam menghentikan tubuh Dira yang melayang jadi ia terjatuh dari lantai dua tidak begitu keras walaupun mungkin masih ada bagian tubuhnya yang terkilir tetapi hal itu tidak di sadari oleh ketiga makhluk berjubah itu. Mereka pikir gadis itu telah mati.
"Gadis itu sudah mati," kata salah satu orang yang berjubah itu, ia kira Dira telah mati karena sudah terlempar dari lantai dua rumah itu cukup keras. Mereka tidak menyadari kekuatan yang di miliki Reyhan telah melindunginya.
Reyhan yang mendengar hal itu sangat begitu terpukul, tapi tidak ada hal yang bisa ia lakukan. Ia adalah orang yang sangat tidak percaya bahwa Dira telah mati. Dan ia tidak menyadari bahwa kekuatan yang ia miliki telah menyelamatkannya.
Dira kamu harus menepati janjimu, kamu tidak boleh mati. Batin Reyhan ia merasa begitu putus asa, sekarang hanya ada kebencian di dalam hatinya.
Tiba-tiba di tangan Dira yang terluka terbentuk lambang bintang sebenarnya tidak hanya di tangan Dira tetapi seluruh pelayan yang mati ataupun yang selamat karena ulah tiga makhluk misterius itu.
Sebuah portal terbuka dan membawa mereka berempat menghilang. Reyhan yang tidak bisa melawan di bawa paksa oleh makhluk-makhluk itu.
Dira kau harus selamat. Batin Reyhan masih berharap Dira tidak mati kemudian ia menghilang.
"Reyhan jangan pergi," gumam Dira air matanya keluar dalam akhir kesadarannya kemudian air matanya menetes dan kesadarannya sepenuhnya menghilang.
Polisi akhirnya karena satpam yang berjaga diluar berhasil melaporkan kejadian itu ke kantor polisi, walaupun terlambat. Aparat kepolisian memasuki kediaman itu pertama-tama mereka memeriksa setiap korban beberapa di antaranya masih selamat termasuk Dira.
Mereka juga dibingungkan dengan setiap lambang bintang yang muncul di tangan setiap korban. Dalam penyelidikan mereka, mereka tidak bisa menemukan titik jelas bagaimana kejadian itu terjadi dan siapa pelakunya. Terlebih para saksi yang terlibat mengaku tidak ingat pasti dengan kejadian itu, karena kejadian itu benar-benar terjadi dalam sekejap mata.
.
.
.
.
.
Bersambung...