Eyes Of Curses

Eyes Of Curses
Part 35



"Apa ini?" tanya Reyhan. Ia langsung melindungi Dira.


"Curses," kata seorang wanita muncul dari balik pohon. Dan muncul lah dua orang temannya dari atas pohon.


"Akhirnya, kita bertemu lagi." kata salah satu dari mereka.


Atan, Alna dan Reyhan bersiap-siap menyerang.


"Sriver!" ucap mereka bertiga serempak.


"Stop!!! Tunggu dulu!" kata Dira melerai dan berdiri di tengah-tengah.


"Dira, hati-hati!" Reyhan panik.


"Tak apa," kata Dira.


"Bukankah, kalian bertiga orang yang waktu itu kan?" tanya Dira.


"Kau masih ingat," kata seorang sriver wanita.


"Kami bertiga hanya membutuhkan curses itu," kata wanita di balik jubah.


"Stop! Curs-cures-curses atau apalah itu," kata Dira.


"Pria ini punya nama," kata Dira berjalan ke sebelah Reyhan.


"Namanya Reyhan, berhenti memanggilnya kures atau apalah itu. Kami berdua ini hanya korban Demon Sriver." Dira menjelaskan.


"Kami tidak bisa percaya," kata salah satu dari mereka.


"Aku jaminannya, Dira orang baik." ucap Dira. Dan ketiga sriver itu mendengar ucapan Dira. Mereka pun menurunkan senjata mereka.


"Apa buktinya?" tanya mereka.


"Dia memang sempat lepas kendali tapi sekarang dia sudah sadar. Karena Dira, wanita ini." Alna menjelaskan.


.


.


.


Mendengar perjelasan Alna dan Dira dan mengerti, mereka semuanya pun akhirnya berkumpul.


"Kami bertiga adalah sriver dari golongan putih yang terpilih sebagai pahlawan dari ramalan Arzahitonia," kata salah satu sriver itu.


"Namaku Luna," kata Luna memperkenalkan diri. Gadis yang terlihat seperti manusia tapi memiliki mata merah dan rambut kecoklatan.


"Namaku Argo," kata sriver pria yang bernama Argo memperkenalkan diri. Pria dengan mata berwarna biru dengan rambut yang berwarna abu-abu.


"Namaku Drako," kata Drako memperkenalkan diri. Pria dengan mata biru dengan rambut berwarna  kuning.


"Namaku Nadira, panggil saja Dira. Salam kenal," kata Dira.


"Namaku Alna," kata Alna tersenyum ramah.


"Aku Atan," kata Atan datar.


"Reyhan," kata Reyhan singkat, ia memperkenalkan diri karena Dira menyikutnya.


Mereka bertiga masih memandang Reyhan dingin, tapi pria itu tidak perduli. Intinya bagi Reyhan selama Dira ada di dekatnya dan aman itu sudah cukup, meskipun orang-orang tidak mengakui kehadirannya sekalipun.


"Jadi sekarang kita hanya menunggu seorang peri?" tanya Luna.


"Ya begitulah, tapi benarkah mereka masih ada?" Alna malah bertanya baik.


"Oh iya perbedaan peri dengan kalian itu seperti apa?" tanya Dira.


"Mereka memiliki telinga panjang dan pupil mata seperti kucing," jelas Atan. Biarpun Reyhan sudah lama di dunia itu, tapi ia tidak pernah sekalipun bertemu seorang peri.


"Aku rasa aku pernah bertemu dengan orang seperti yang kalian jelaskan," kata Dira mengingat-ingat dimana ia pernah bertemu dengan orang itu.


"Dimana?" ucap beberapa dari mereka serempak.


"Sebentar aku ingat-ingat dulu," kata Dira.


"Bagaimana kamu bisa bertemu dengannya?" tanya Reyhan.


"Dia menyelamatkanku dari serangan Sriver jahat yang ingin membunuhku, tapi sayangnya aku tetap terjatuh ke dalam jurang dan berakhir di tempat ini." jelas Dira.


"Tapi aku bersyukur, Reyhanlah orang pertama yang menemukanku." ucap Dira menatap Reyhan.


"Bagaimana Sriver itu bisa ada di dunia manusia?" tanya Reyhan.


"Aku di serang oleh Sriver jahat. Ia ingin membunuhku. Dengan alasan aku tahu rahasia besar dunia mereka, hal itulah yang sebenarnya menuntunku datang ke dunia ini dalam keadaan babak belur." jelas Dira.


"Kenapa kamu tidak pernah cerita," kata Reyhan khawatir ia tidak tahu jika saat itu keselamatan Dira terancam di dunia nyata.


"Kamu gak pernah nanya, lagipula yang aku pikirkan selama ini adalah rasa bahagiaku karena sudah bertemu denganmu. Aku bahkan hampir lupa dengan kejadian itu," kata Dira.


"Model Sriver apa yang berani-beraninya hampir mencelakakanmu, aku tidak akan pernah memaafkannya." ucap Reyhan.


"Maafkan aku Dira, aku membuatmu terlibat dalam masalah yang seharusnya adalah masalahku," kata Reyhan.


"Kamu tidak perlu minta maaf Rey, seandainya tidak ada kejadian semua ini aku dan kamu tidak akan pernah bertemu dan jujur saja aku senang bisa selalu bersamamu selama ini," kata Dira semua orang yang mendengarkan ucapan Dira bisa merasakan ketulusan dari kalimat gadis itu.


"Rey, makhluk itu ternyata adalah Ilsa," kata Dira.


"Apa?!" kaget Reyhan.


"Siapa itu Ilsa?" tanya Alna.


"Dia mantannya Reyhan yang pertama," kata Dira cemberut.


"Apa itu mantan?" mereka tidak mengerti dengan bahas manusia sepenuhnya.


"Bekas kekasih," kata Dira menjelaskan.


"Sebenarnya wanita itu mantan yang bisa di bilang tidak benar-benar aku cintai, intinya dia yang mendekatiku, dia yang menyatakan perasaannya duluan padaku dan akhirnya dia pula yang mengakhiri hubunganku dengannya." jelas Reyhan.


"Aku tidak tahu jika dia itu monster," kata Reyhan melanjutkan.


"Seandainya tahu, aku tidak akan pernah berhubungan dengannya. Cuma Dira kekasihku," kata Reyhan membuat Dira membuang muka ke lain arah salah tingkah.


"Kau pasti tertipu," kata Argo. Reyhan hanya diam menanggapi perkataan ini.


"Dira, apa dia masih hidup?" tanya Reyhan pada Dira.


"Tidak Rey, dia sudah mati di hancurkan oleh peri." jawab Dira.


"Aku yakin yang mengantarmu kemari adalah dia," kata Drako.


"Bagaimana bisa?" tanya Dira.


"Itulah sebabnya mereka menjadi langka, mereka dimanfaatkan untuk membuka portal untuk dua dunia." jelas Drako yang merupakan seorang sriver beruntungnya ia dari golongan sriver baik.


"Biasanya Sriver memegang pintu seperti segel berbentuk bintang dan kuncinya atau portalnya di buat oleh peri. Begitu cara manusia untuk sampai ke dunia ini. Dan jika ingin pulang kalian harus bisa menemukan peri untuk membukakan portal pulang untuk kalian." Atan menjelaskan secara detail.


"Tapi saat aku di culik ke dunia ini, mereka bisa membuka portal tanpa peri." ucap Reyhan.


"Memang di antara para sriver ada yang memiliki kemampuan itu, mereka membunuh seorang peri dan mengambil jiwa serta kemampuan mereka." ucap Atan menjelaskan.


"Mungkin inilah sebabnya di dalam ramalan kita di kumpulkan selengkap-lengkapnya untuk menghadapi sriver." kata Luna.


"Maksudnya seperti ini dari bangsa manusia di utus dua orang manusia yang satu seorang curses dan satunya lagi orang yang bisa mengembalikan kesadaran curses yang sebenarnya orang baik-baik dan pada akhirnya berhasil membelot pada Demon Sriver itu sendiri."


"Dua penyihir sebagai penguasa situasi ataupun tim medis."


"Tiga Curses sebagai petarung utama dalam menghadapi antek-antek Demon Sriver."


"Satu penyihir sebagai pembuka gerbang dan mengantarkan manusia ini pulang," kata Luna.


"Dan kita semua bersatu untuk bisa mengalahkan Demon Sriver dan mengembalikan ketentraman dunia ini." kata luna mengira-ngira.


"Bukankah kaum peri pemilik mutiara putih yang berkekuatan besar itu, berarti ia adalah calon pemimpin negeri ini," kata Atan.


"Mutiara putih?" tanya Reyhan tampaknya ia tahu sesuatu tentang benda itu.


Bersambung...