
"Hyaa!! Matilah kau!" teriak preman itu mengarahkan pisaunya ke dada Reyhan yang sudah tidak berdaya.
"Den!!" pak Yon hanya mampu berteriak karena ia juga sedang di pojokkan oleh salah satu preman itu.
Buk!
Suara hantaman keras mengenai leher bagian belakang preman itu sehingga sang preman langsung tersungkur di samping Reyhan tampaknya sekarang preman itu hampir pingsan akibat pukulan telak di belakang lehernya.
"Beraninya kau ingin melukai bosku!" ucap seorang gadis yang ternyata adalah Dira kemudian ia menendang selangkangan sang preman dengan begitu keras tanpa ampun saat ini kemarahan Dira memuncak karena sang preman tampakanya masih sadar dan ingin menyerang Reyhan lagi.
"Argghh! Juniorku hancur sudah!" rintih preman itu memegang daerah selangkangannya.
Semua orang meringis melihatnya, Reyhan yang hanya mendengar pun tahu apa yang sedang Dira lakukan pada preman itu sehingga membuatnya bergidik ngeri.
"Rasakan itu! Kalau perlu akan kuhancurkan juniormu itu." Dira berteriak kesal dan sang preman akhirnya pingsan akibat tendangan Dira pada daerah selangkangan yang begitu keras ditambah lagi tabokan Dira dengan tasnya yang penuh dengan isi buku tebal di leher sang preman.
Sedangkan preman yang satunya lagi meneguk ludah pahit karena takut Dira akan melakukan hal yang sama pada dirinya seperti temannya dan saat ada kesempatan preman yang satunya pun lari.
"Bos kamu gak papa?" tanya Dira membantu bosnya berdiri dan Reyhan menggeleng Dira masih tidak melihat luka di sudut bibir Reyhan.
Polisi lalu lintas pun akhirnya datang ke lokasi kejadian ternyata sang penjual pergi melaporkan kejadian itu saat Reyhan dan pak Yon bertarung, akhirnya mengamankan preman yang pingsan itu.
Saat menatap wajah Reyhan yang tertunduk Dira menyadari suatu hal bosnya itu tidak sedang baik-baik saja. Dira memasang ekspresi terkejut.
.
.
.
"Bos apanya yang gak papa, muka bos lebam kayak gini," kata Dira matanya berkaca-kaca ia ingin menangis karena merasa bersalah sambil mengobati Reyhan di dalam mobil.
"Shhht!" ringis Reyhan dan membuat Dira tambah merasa bersalah.
Seandainya ia tahu akan ada kejadian itu ia akan bersikeras tidak membawa Reyhan bersamanya.
"Bos maaf, aku membuatmu dalam bahaya," kata Dira suaranya bergetar menahan tangis ia merasa semua kejadian itu adalah kesalahannya.
"Ya ampun Dira, kamu gak usah sampai segitu merasa bersalahnya lagipula tadi itu bukan kesalahanmu sama sekali," kata Reyhan menenangkan Dira.
"Tapi bos seandainya aku telat sedikit saja datang pasti tadi kamu bakalan celaka," kata Dira dengan suara bergetar masih merasa bersalah dan membuat Reyhan mendengus pasrah.
"Terimakasih," ucap Reyhan pada Dira.
"Untuk apa bos?" Dira masih merasa kalau dirinya tidak berbuat apa-apa.
"Terimakasih kamu sudah menolongku, entah apa yang ingin dilakukan preman tadi karena aku tidak melihatnya tapi sepertinya sangat berbahaya terimakasih kamu telah menolongku," kata Reyhan tulus Dira masih mengatakan kalau dia tidak berbuat apa-apa.
Kemudian Reyhan menangkup wajah Dira dengan kedua tangannya dan membuat Dira kaget sedangkan pak Yon langsung pergi keluar dari dalam mobil itu sambil bersiul seolah-olah tidak terjadi hal apa-apa membuat mereka berdua salah tingkah dan menghentikan adegan itu.
"Dira kamu tidak bersalah sama sekali oke, aku sungguh berterimakasih padamu karena telah menyelamatkanku aku tidak tahu apa yang akan terjadi padaku kalau kamu tidak datang tadi, kamu adalah penolongku jadi berhentilah menyalahkan dirimu sendiri, kamu sepenuhnya tidak ada sangkut pautnya dan satu lagi lihat aku tidak apa-apakan, jadi berhentilah bersikap seperti itu dan lupakan saja kejadian tadi kalau perlu," kata Reyhan menjelaskan ke Dira dengan senyumannya yang langsung meluluhkan Dira dan membuat Dira mengerti.
Akhirnya Dira menitikan air matanya haru.
"Kenapa menangis," Reyhan kebingungan saat ini kenapa gadis itu malah menangis.
Grep! Reyhan memeluk Dira erat.
"Jangan menangis lagi." pinta Reyhan mereka pun terdiam sejenak merasakan kehangatan yang sedang mengalir.
"Bo-bos lepas," pinta Dira sambil meronta saat ini Dira merasa jantungnya akan copot ini pertamakalinya ia di peluk oleh pria dan Reyhan melepaskan pelukannya.
Parahnya Dira merasa senang serta merasa tidak ingin di lepaskan dari pelukan itu tetapi Dira masih sadar diri dan bisa mengendalikan dirinya.
Akhirnya kecanggungan muncul di antara keduanya, Dira ia tidak sanggup menatap Reyhan dengan wajah memerahnya itu sedangkan Reyhan ia menggaruk lehernya yang tidak gatal sambil tersenyum aneh ke arah jendela mobil.
Karena keringat yang membasahi wajah mereka berdua mereka berniat untuk mengambil tisu yang sekarang berada di tengah-tengah mereka namun saat meraba-raba tangan mereka malah saling menggenggam.
Dira langsung cepat-cepat menjauhkan tangan mereka yang bersentuhan itu.
Dan langsung membantu bosnya mengambilkan tisu dan tentu saja saat ini mukanya masih memerah.
"Bos ini tisunya," kata Dira menyerahkan tisu ke tangan bosnya dan Reyhan pun mengambilnya kemudian mengelap wajahnya yang di penuhi oleh keringat begitu pula dengan Dira.
Seandainya Reyhan melihat wajah Dira yang memerah sekarang ini mungkin ia tidak akan berhenti menggoda Dira.
Pak Yon akhirnya memasuki mobil lagi.
"Gimana apa masih mau jalan-jalan?" tanya pak Yon.
"Kita pulang pak," kata Reyhan memberi perintah.
Dan pak Yon pun menghidupkan mesin mobil dan menjalankannya.
"Dira aku selalu penasaran kenapa kamu selalu gugup jika terlalu dekat denganku?" tanya Reyhan yang sebenarnya menghilangkan kecanggungan tetapi tampaknya malah menambah kecanggungan, Dira menatap bingung wajah Reyhan ia malu sekaligus kagum bosnya itu mengetahui isi hatinya.
"Aku hanya ingin tahu kamu kenapa begitu, gak bermaksud apa-apa karena ini masalah ke profesionalan dalam bekerja." alasan Reyhan padahal kenyataannya ia begitu penasaran dan mau tidak mau Dira menjelaskan kebenarannya.
"Gini bos sebenarnya ini tuh pekerjaan pertamaku mengurus seorang pria dan sebelumnya aku gak pernah dekat dengan pria manapun makanya aku gugup." jelas Dira ia malu mengungkapkannya tetapi mau dia apakan lagi, bosnya itu sudah bertanya.
Dan penjelasan Dira menjawab seluruh pertanyaan yang membuat dirinya penasaran dengan gadis itu selama ini.
"Mulai sekarang kamu harus terbiasa dengan semua yang kamu kerjakan," kata Reyhan padahal hanya sekedar alasan karena ia tidak suka Dira menjauhinya makanya ia berkata begitu di tambah lagi ada perasaan senang di diri Reyhan karena mengetahui gadis itu tidak pernah dekat dengan pria selain dirinya seorang dan tidak pernah dengan yang lain.
"Siap!" ucap Dira yang kenyataanya selalu menuruti perintah atasannya itu, menyanggupi permintaan Reyhan dan Reyhan tersenyum puas di buatnya.
Ketika sampai di rumah Reyhan, Dira mengantar Reyhan ke kamar tampaknya pria itu ingin mandi dan Dira pun sibuk menyiapkan pakaian yang akan di kenakan Reyhan.
Reyhan saat ini berdiam diri di bawah shower kamar mandinya mengingat kejadian saat ia duduk di taman.
Kenapa tadi aku merasa ada yang mengawasiku tapi aku merasa hal itu bukanlah sesuatu yang baik. Batin Reyhan.
Apa ada hubungannya dengan mata ini. Batin Reyhan kemudian memegang matanya yang tertutup itu.
"Bos! Makanan bos sudah siap tuh, cepat selesaiin mandinya." teriak Dira dari luar kamar mandi.
Tidak lama kemudian Reyhan keluar dari dalam kamar mandi dengan hanya ada lilitan handuk di pinggangnya Dira hanya menarik nafas pasrah pasalnya ia bahkan belum terbiasa melihat Reyhan yang bertelanjang dada.
Bersambung...