
Dira yang melihat Reyhan yang di peluk oleh gadis yang bernama Ilsa itu merasa ada sesuatu yang mengganjal di dadanya ia merasa tidak suka dengan hal itu.
Perasaan apa ini, kenapa rasanya sesak begini, apa aku cemburu, oh tidak-tidak ini tidak boleh terjadi Reyhan itu bosku. Batin Dira.
"Lepaskan aku!" Reyhan mendorong kasar tubuh Ilsa sehingga pelukan gadis itu terlepas.
"Rey, maafkan aku." ucap Ilsa dengan suara pelan.
Dira hanya menonton kejadian itu ia tidak tahu apa-apa tentang masalah kedua orang itu.
"Cih! Kamu mau minta maaf sekarang, kemana kamu selama dua tahun ini hah?! Saat aku butuh kamu di sampingku kamu malah menghilang," kata Reyhan marah pada Ilsa.
"Rey, aku gak bermaksud ninggalin kamu," kata Ilsa pelan dan membuat Dira merasa iba dengan perkataannya barusan.
"Dasar munafik! Kamu pikir dengan berakting seperti itu dapat membodohiku, aku bisa mendengar detak jantungmu itu tidak sesuai dengan perkataanmu." jelas Reyhan dengan nada emosi, Reyhan tahu Ilsa tidak ikhlas memohon maaf dan Dira akhirnya menatap ke arah Ilsa yang Dira kira gadis baik.
"Sekarang aku memang gak bisa melihat, tapi bukan berarti aku menjadi bodoh, aku tau mana orang yang iklas bersamaku dan mana yang tidak. Lagipula sekarang aku sudah tidak mencintaimu lagi," kata Reyhan, Ilsa yang mendengar ucapan itu tersenyum miris sedangkan Dira ia langsung menutup wajahnya dengan novel yang ia baca mukanya saat ini terasa memanas akibat perkataan Reyhan barusan entah mengapa rasanya saat ini Reyhan menjelaskan semuanya pada Dira yang hampir salah paham.
"Hei kamu babu sebaiknya kamu keluar dari kamar ini jangan ganggu urusan kami berdua." Ilsa berucap sedikit kasar pada Dira dan hal itu jelas membongkar topeng kebusukannya.
Dira saat ini menahan amarahnya yang sedikit lagi memuncak ia menggenggam erat tangannya jengkel.
"Seharusnya yang keluar dari kamar ini tuh kamu," kata Reyhan menggeram saat ini dia benar-benar marah.
"Bos." gumam Dira melihat bosnya yang bergetar karena marah.
"Hei, kamu cepat keluar." Ilsa tidak memperdulikan kata-kata Reyhan dan malah mengusir Dira.
"Dengarkan aku yah, apa kamu itu gak punya malu hah?! Yang di suruh keluar itu tuh kamu! Stop, kamu merintah aku yang bisa memerintah aku itu cuma bos Reyhan selama tidak ada perintah dari dia yang menyuruhku keluar dari kamar ini. Aku gak akan keluar dari kamar ini." Dira berucap marah sekarang ia sudah berdiri menatap Ilsa ia tidak terima dirinya di hina, Reyhan saja yang merupakan bosnya tidak pernah mengatai dirinya kasar walaupun Reyhan memang sedikit menyebalkan tapi tetap saja berbeda dengan sikap Ilsa.
"Apa kamu sudah berani sama aku hah?! Dasar gadis jalang." Ilsa ingin menggampar Dira tetapi Dira tidak melawan dan tampaknya malah menantang ia tidak takut dengan gertakan Ilsa.
Saat tangan Ilsa hampir menyentuh wajah Dira tangan itu sudah di tangkap oleh Reyhan.
"Kau, keluar dari kamarku sekarang sebelum aku berbuat kasar. Dengarkan aku jangan pernah datang lagi ke rumah ini, kau mengatai Dira jalangkan? Asal kau tahu kau itu yang jalang bukan Dira!" Reyhan berteriak tepat di samping telinga Ilsa dan membuat gadis itu menciut serta meringis akibat cengkraman Reyhan yang cukup kuat dan hal itu jelas membalaskan kata-kata kasar Ilsa yang di lontarkan ke Dira.
Kemudian Reyhan menghempaskan tangan itu kasar.
"Dira cepat panggil satpam dan seret dia keluar dari rumah ini jangan biarkan dia datang lagi." Dira yang mendengar perintah dari Reyhan langsung menuruti Reyhan tanpa bertanya dan tidak lama kemudian satpam datang kemudian menyeret gadis itu keluar dengan paksa karena gadis itu meronta tidak ingin pergi.
Saat berpapasan dengan Dira mereka saling bertatap mata, sorot mata gadis itu menatap Dira benci sampai cahaya pun tidak ada di matanya dan Dira hanya menatap heran.
Mengapa sorot kebencian itu begitu kuat. Batin Dira melihat kepergian Ilsa yang menjauh kemudian memasuki kamar Reyhan lagi.
"Argh!!" saat ini Reyhan berteriak kesakitan sambil memegang matanya yang sakit dengan sebelah tangannya sedangkan tangan yang satunya berpegangan pada meja menompang berat tubuhnya agar tidak terjatuh.
Dira langsung berlari menghampiri Reyhan khawatir.
"Bos kamu gak papa?" kemudian Dira membopong tubuh Reyhan ke kasurnya dan mendudukan Reyhan di kasur itu.
"Bos aku panggilkan pelayan yah, buat panggil dokter." Dira ingin beranjak dari kamar itu tetapi Reyhan menarik tangannya lalu menggeleng.
"Ba-baik bos." Dira gugup di buat Reyhan kemudian mengambilkan Reyhan segelas air putih yang sudah tersedia di atas meja di samping ranjang Reyhan dan Dira juga membantu Reyhan meminum air itu saat ini konsentrasi Reyhan pada sekitarnya menjadi kacau akibat marah.
Dira tidak berani bertanya masalah Reyhan ia hanya diam memandangi Reyhan yang saat ini terdiam sambil menatap lurus.
Bos apa pun yang terjadi aku akan menjagamu dan membantumu menghilangkan kekurangan yang kamu miliki sampai akhirnya kamu bahagia dengan seseorang walau bukan diriku. Dira berjanji untuk menjaga Reyhan sampai ia mendapat tambatan hatinya walaupun bukan dirinya ia akan ikhlas melepasnya demi kebahagian pria itu dan sekarang Dira menyadari ia menyukai pria itu, untuk pertamakalinya Dira menyadari ia sedang jatuh cinta tapi ia cukup sadar diri bahwa dirinya mungkin saja bukanlah tipe pria itu.
"Dira kamu jangan kemana-mana tetap disini," kata Reyhan dengan nada yang begitu datar dan dingin, terdengar dari nada suaranya ia begitu kesepian.
"Tenang bos aku ada di sini kok dan akan menjagamu," kata Dira sambil tersenyum walaupun tidak di lihat oleh Reyhan. Reyhan menyadari gadis itu berucap tulus dan ia juga ikut tersenyum.
Ketika Dira melihat senyum Reyhan untuk peramakalinya wajahnya pun langsung memerah seketika.
Gadis berambut hitam sedada, memiliki mata berwarna hitam dan memiliki kulit yang cukup putih. Saat ini salah tingkah dadanya berdebar tidak karuan dan ia pun tahu kalau Reyhan menyadarinya, perasaannya saat ini menjadi campur aduk tidak karuan.
"Terpesona hm?" Reyhan menggoda Dira dengan senyum paling manisnya dan sontak saja saat ini Dira wajahnya tambah merah.
"Ap-apa sih maksud bos." hanya kata itu yang dapat terlontar dari mulut Dira maksudnya ia ingin bosnya itu menyudahi perbuatannya itu.
"Apanya yang apa?" tanya Reyhan masih menggoda Dira.
Saat ini Dira sudah malu bukan main tangannya pun sudah refleks menutupi wajahnya yang memerah padahal ia tahu kalau Reyhan tidak mungkin melihat wajahnya yang merah.
Seharusnya yang ia lakukan saat ini adalah menghentikan detak jantungnya yang berdegub kencang itu, karena tidak bisa ia memilih menutup wajahnya.
Dira yang saat ini duduk di sudut kasur bosnya itu ingin beranjak pergi tetapi ternyata saat akan pergi tangannya di tarik oleh Reyhan sehingga ia terhempas dan sekarang berada di pangkuan Reyhan, Reyhan lagi-lagi tersenyum ke arah Dira.
"Aku ingin tetap seperti ini," kata Reyhan sepertinya merasa nyaman.
"Aaaa! Bos mesum," Dira akhirnya berteriak tidak tahan lagi.
Buk!
Bantal mendarat di wajah Reyhan karena ulah Dira dan Dira langsung berlari kepojokan dan meringkuk di sana ia tidak pernah berpikir akan ada kejadian seperti itu pada akhirnya.
Reyhan bangun dari posisinya dan bermaksud ingin melanjutkan tulisannya.
"Padahal aku tidak berbuat apa-apa," kata Reyhan santai.
"Tidak berbuat apa-apa muka bos, aku bahkan gak pernah sedekat itu dengan pria." Dira berucap pelan di akhir kalimatnya.
"Apa?" Reyhan penasaran dengan kalimat akhir Dira yang tidak di dengarnya karena sangat pelan.
"Bukan apa-apa." Jawab Dira sambil menelan ludah panik.
Apa yang akan dilakukan dengan bos kalau sampai dia denger ucapanku yang tadi, apa dia akan menertawaiku. Batin Dira tapi kemudian dia mengkhayal yang tidak-tidak dan membuatnya panik sendiri.
Bersambung...