Eyes Of Curses

Eyes Of Curses
Part 21



"Kenapa? Kenapa kau begitu berusaha keras padahal kau sebenarnya masih tidak sanggup," kata Reyhan berbicara di belakangnya, Dira tersenyum menanggapinya tapi ia tetap tidak menoleh ke arah pria itu.


"Aku harus kuat demi bertemu seseorang, seseorang yang memberiku semangat sampai sekarang, karena dia aku bisa bertahan sampai sekarang dan bisa mempertahankan prinsipku karena aku hidup aku harus bertahan hidup apapun caranya." Dira berucap tersenyum kemudian ia tertunduk. Ia menyadari mulai sekarang untuk bisa bertemu dengan kekasihnya entah bagaimana ia harus menjadi gadis yang kuat, di dunia tempat tinggalnya sekarang ia harus berjuang keras untuk bisa bertahan hidup dan ia meyakini di suatu tempat pasti di dunia ini pasti ada Reyhan.


"Meskipun sakit aku tidak akan menyerah pada ini semua," kata Dira ia tersenyum tegar.


"Hiks! Aku merasa begitu lemah aku terus bertahan meskipun rasanya aku sudah tidak sanggup dan sekarang malah menyusahkan dirimu, maaf." ucap Dira sambil menangis mengusap air matanya yang tiba-tiba mengalir.


"Apa yang kulakukan tidak sepadan dengan apa yang kau berikan pada diriku," ucap pria berjubah itu membuka tudung jubahnya kemudian merobek kain jubahnya menjadi sebuah helaian dan mengikatnya di matanya.


"Maksudmu?" tanya Dira bingung memang apa yang dia lakukan selama ini bahkan ia tidak melakukan hal apapun pada pria itu.


"Dira,"


Dira tersentak kaget mendengar namanya di sebut pria itu, ia ingat kalau dia bahkan belum memperkenalkan diri sama sekali pada pria itu.


Dira menoleh kebelakangnya karena mendengar pria itu mengucap namanya.


"Bagaimana kau bisa... Reyhan," kata Dira memandangi pria yang sekarang matanya di tutupi itu, air matanya mulai mengalir membasahi wajahnya. Dalam sekejap ia langsung menyadari bahwa pria yang ada di hadapannya itu adalah Reyhan.


Dira berdiri dari duduknya dengan tubuh yang lemas itu ia berbalik dan ingin berlari.


Bruk!


Dira terjatuh Reyhan melepas penutup matanya dan berlari ke arah Dira dan mengangkatnya bangun.


"Hiks! Hiks! Hiks!" Dira menangis.


"Dira seharusnya kau tidak memaksakan diri seperti ini," kata Reyhan mendudukan Dira, gadis itu tetap menangis.


"Kau jahat, kenapa kau tidak mengaku dari awal, aku marah padamu." jelas Dira tertunduk marah Reyhan tidak memperkenalkan dirinya, Dira marah sambil mencengkram jubah Reyhan kuat sampai-sampai Reyhan tahu betapa marah dan kecewanya gadis itu.


Reyhan memeluk erat Dira yang tengah terisak.


"Maafkan aku, telah membuatmu kecewa aku tidak bermaksud demikian. Aku pikir akan lebih baik kalau kau tidak tau," kata Reyhan.


"Kau tidak tau apa yang kau lakukan itu menyakitiku, aku bahkan hampir berputus asa dengan ini semua demi dirimu aku rela menanggung rasa sakit ini tapi kau... Hiks," Dira terus terisak kecewa, bahagia semuanya bercampur aduk.


"Aku sudah lama menantikan saat ini, setiap saat aku selalu berharap bisa bertemu denganmu lagi, tapi kamu begitu kejam. Aku benar-benar kesal padamu Reyhan." ucap Dira marah-marah tapi tetap membalas pelukan Reyhan, ia tidak bisa mempungkiri bahwa ia sangat merindukan pria itu.


"Maafkan aku, aku tidak tahu kalau itu membuatmu menderita, maafkan aku yang egois kau jangan lagi berputus asa aku selalu ada di sini disisimu sekarang jangan bersedih air matamu itu mahal bagiku, aku tidak tahu apa yang akan terjadi denganku bila kau meninggalkanku, maafkan aku Dira." jelas Reyhan dan Dira meremas baju Reyhan memeluk pria itu erat sambil terus terisak ia begitu merindukan pria itu.


"Kau jangan menangis lagi aku disini dihadapanmu sekarang," kata Reyhan memegang dagu Dira melihat wajah yang sembab karena menangis, wajah mereka sekarang semakin dekat.


Dira mengerjap-ngerjapkan matanya mengembalikan kesadarannya wajah mereka semakin lama semakin mendekat hanya tinggal beberapa senti lagi mereka akan berciuman.


Sebuah tamparan mendarat di wajah dingin Reyhan.


"Kyaa! Kau mau apa, jangan berani macam-macam." ucap Dira emosi gadis itu sama sekali tidak berubah, tidak tersentuh itulah Dira.


Reyhan memegang wajahnya perih itu yang ia rasakan, ia kaget gadis itu padahal sakit tetapi tamparannya tetap terasa di wajah Reyhan bagaimana kalau seandainya tangan kanannya tidak cidera dan dia tidak sakit bisa-bisa wajah pria itu akan babak belur dibuat Dira.


"Dira kau tidak berubah," kata Reyhan memegang pipinya wajah Dira memerah sempurna.


"Kau juga tidak berubah, dasar pria mesum!" Dira berucap emosi hampir saja ciuman pertamanya melayang karena Reyhan.


"Yah tapi aku ini kekasihmu, dan walaupun seperti itu aku tetap mencintaimu," kata Reyhan dengan tampang bodoh, hanya Diralah yang bisa membuat Reyhan berekspresi seperti itu.


"Ia, tapi gak usah kelewatan juga kali." ketus Dira.


"Lain kali aku akan merebut ciuman pertamamu itu," kata Reyhan berbisik di kuping Dira dan membuat gadis itu merinding seketika.


"Ya, kalau kau bisa." geram Dira.


"Sebenarnya kalau aku mau sekarang pun bisa," kata Reyhan percaya diri, kemudian Dira yang kesal pun akhirnya menjambak rambut Reyhan.


"Ampun Dira, sakit tau. Aww! Teganya kamu terhadap kekasihmu," rintih Reyhan tetapi Dira tidak perduli.


Kemudian muncul seorang wanita dan dua orang pria di tempat itu, Reyhan ingin menyembunyikan tampang bodohnya tetapi tetap saja tidak bisa karena Dira terus menarik rambutnya dan akhirnya ia berbalik arah dan mengelus-elus kepalanya yang berdenyut akibat perlakuan Dira.


"Kalian siapa?" tanya Dira pada ketiga orang itu baik-baik.


"Seharusnya kami yang bertanya kalian siapa, ini wilayah kami." ucap wanita itu dan menghunuskan pedangnya di depan wajah Dira sedangkan gadis itu hanya menatapnya kaget sekaligus heran ia bingung orang-orang itu jahat atau baik. Takut, sepertinya sekarang ia mulai terbiasa dengan keadaan dunia itu yang masih menggunakan hukum rimba siapa yang kuat dia yang berkuasa. Bagi Dira hal seperti itu tidak perlu di takuti lagi.


Selama ada Reyhan di samping ia tidak akan pernah takut dan tetap merasa aman.


Tring!


Suara hantaman pedang beradu pedang yang terhunus di depan wajah Dira seketika terlempar karena ulah Reyhan. Ia tidak akan pernah membiarkan seorang pun menyakiti gadis itu lagi, tidak akan pernah.


"Kalian jangan pernah macam-macam dengannya, dan jangan pernah berani-berani menodongkan pedang kalian dihadapannya jika tidak ingin aku menyakiti kalian." geram Reyhan seketika pria itu menjadi menyeramkan karena gadisnya terancam.


"Curses," kata mereka bertiga serempak. Dan mengambil ancang-ancang bersiap menyerang. Mereka semua ingin bertarung


Curses (kutukan). Batin Dira bingung kenapa Reyhan disebut 'kutukan' kemudian ia berpikir sejenak sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia tidak mengerti tentang dunia itu dan perlu penjelasan.


Bersambung...