Eyes Of Curses

Eyes Of Curses
Part 28



Dira dan Reyhan saat ini tengah berada di sebuah tempat yang cukup indah, perjalanan mereka masih panjang.


Untuk bisa pulang dengan selamat Reyhan dan Dira harus mengalahkan Demon Sriver, untuk bisa menghilangkan kutukan yang ada di diri Reyhan dan agar bisa mengantar Dira pulang dengan selamat.


Tapi mereka tidak tahu apakah rencana mereka akan berhasil atau tidak.


Mereka berdua terhanyut dalam pemikiran mereka masing-masing, saat ini Reyhan dan Dira saling duduk berdampingan dengan tubuh Dira yang bersandar pada Reyhan sedangkan pria itu tengah tertidur lelap.


Entah sampai kapan Reyhan dan Dira bisa merasakan kebersamaan seperti itu mereka tidak tahu, kemungkinan untuk bertahan hidup pun sangat kecil.


Mengingat mereka adalah incaran bagi seluruh makhluk di dunia itu.


.


.


.


"Dira," panggil Reyhan.


"Umm," Dira menyahut sambil menatap wajah Reyhan.


"Kenapa kau memasang wajah seperti itu, kau membuatku gemas tau gak." kata Reyhan sambil mencubit pipi Dira gemas.


"Aaa! Rey lepas." Dira meronta sambil memukul-mukul tangan Reyhan.


"Hahahaha," tawa Reyhan melihat ke arah Dira gadis itu mengelus-elus pipinya yang terasa melebar.


"Kau sungguh cantik," kata Reyhan tersenyum Dira langsung salah tingkah dan memalingkan wajahnya dari Reyhan.


"Memang ada apa Rey?" tanya Dira malu-malu, ia tahu ada yang ingin di katakan pria itu.


"Ayo kita berlatih, mengendalikan kampuanmu. Apa yang kamu bisa buat dari gelang itu." kata Reyhan mengajak Dira.


Dira memerhatikan gelang yang ia kenakan.


"Bagaimana cara menggunakannya?" bingung Dira.


"Kamu pikirkan apa yang ingin kau buat." jelas Reyhan kemudian Dira memejamkan matanya konsentrasi.


Dan beberapa saat kemudian gelang itu menjadi sebuah pedang karena itulah yang ada dipikiran Dira.


"Kamu yakin benda itu yang kamu buat?" tanya Reyhan.


"Mau apalagi, cuma ini yang aku pikirkan," kata Dira melihat kearah pedangnya, selama ini alat yang pernah Dira lihat di dunia ini hanyalah pedang tidak ada yang lain.


"Kalau begitu ayo kita latihan," ajak Reyhan.


"Hah?!" heboh Dira terkejut, ia tidak memyangka ia harus berlatih bertarung juga.


.


.


.


"Hyaaa!!" teriak Dira sambil menebas sebuah pohon tetapi malah pedangnya yang terpental.


Kemudian Dira menyerang pohon itu lagi dan kali ini malah dia yang terjatuh. Dira tidak bisa berbuat apa-apa dia merasakan pedang itu benar-benar tumpul sangking tumpulnya untuk melukai kulitpun tidak akan bisa.


"Hosh-hosh!!" Dira terengah-engah.


"Dira kau kurang konsentrasi dan kurang menyatu dengan pedangmu, pikirkan lah pedang itu untuk menjadi tajam." Jelas Reyhan, terus mengarahkan penjelasannya kepada Dira.


"Hhhh, aku bingung Rey bagaimana caranya agar pedang ini bisa mengeluarkan kekuatannya." kata Dira melihat ke arah pedangnya yang terasa benar-benar tumpul itu, dirinya yang baru saja pulih terasa benar-benar cepat merasa kelelahan.


Srak! Srak!


Suara berasal dari arah semak-semak. Reyhan langsung waspada ia merasakan ada hawa siluman yang mendekat. Begitu juga Dira ia juga mendengar suara dari arah semak-semak itu.


Siluman itu langsung begitu saja menyerang Reyhan brutal terjadi pertarungan sengit, Reyhan yang belum terlalu bersiapa dalam perlawanannya dipertarungan itu akhirnya terpental menghantam pohon.


"Reyhan!!" teriak Dira khawatir.


"Heh!" Reyhan tersenyum menyeringai aura hitam menguar dari tubuh Reyhan, aura hitam itu sepertinya semakin sering keluar dari tubuh Reyhan. Dira membelalak kaget melihat hak itu, ia menyadari biasanya tidak secepat itu Reyhan lepas kendali.


Aura apa itu, ini bukan aura yang baik. Batin Dira merasakan aura jahat bahkan lebih gelapa dari sebelum-sebelumnya.


"Rey berhenti!!" teriak Dira berlari ke arah Reyhan dan mengambil alih pertarungan itu.


Siluman itu ingin menerjang Reyhan tetapi Dira langsung mendapatkan kekuatan dan menebas kelelawar itu, pedang yang di pegang Dira mengeluarkan api begitu juga dengan mata pedang yang semulanya tumpul itu berubah menjadi tajam.


"Aarrrgghh!!!" rintih siluman itu sebelum akhirnya lenyap.


Dira yang ngos-ngosan dan mukai kehabisan tenaga itu mengembalikan pedangnya kebentuk semula dan menerjang Reyhan yang mulai lepas kendalu, ia tidak ingin melihat kekasihnya itu di kuasai oleh kekuatan jahat.


"Rey apa yang terjadi?" tanya Dira bingung memegang pundak Reyhan erat sambil mengguncangnya.


"Kau jangan lepas kendali, aku takut." ucap Dira pria itu pun tersadar, mata yang semulanya mulai kehilangan cahayanya kembali seperti semula.


"Maafkan aku, telah membuatmu takut." ucap Reyhan mulai menenang dan mendudukkan diri dengan benar begitu juga Dira.


"Rey sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Dira.


"Kau tidak perlu mengetahuinya, selama kamu disisiku tidak ada yang perlu dikhawatirkan, Dira." ucap Reyhan tersenyum ke arah Dira, gadis itu hanya menunduk menanggapi Reyhan.


"Ayo!!" ajak Reyhan mengulurkan tangannya mengajak Dira pergi, Dira menerimanya.


Apa yang kau sembunyikan Rey, kenapa kau menjadi mudah lepas kendali. Batin Dira tidak mengerti. Ia masih belum mengerti mengapa Reyhan menjadi seperti itu.


Sedangkan Reyhan tampak puas dengan hal itu, mulai sekarang meskipun ia tidak ada disisi Dira tapi setidaknya gadis itu sudah bisa melindungi dirinya sendiri. Karena ia tidak tahu sampai kapan Demon sriver akan membiarkan ia bebas.


"Dira, kamu yang sekarang sudah bisa mengedalikan pedangmu," kata Reyhan.


"Yang benar?" tanya Dira.


"Umm," Reyhan mengangguk.


"Mungkin itu hanya kebetulan," kata Dira.


"Tidak Dira, kamu sungguh mengagumkan, pedang dengan kekuatan api. Kamu gadis yang pemberani." ucap Reyhan memaknai maksud api dari kekuatan pedang Dira.


"Entah mengapa berada di sampingmu aku tidak merasakan yang namanya takut, kau sungguh berarti untukku," kata Dira tersenyum penuh arti pria di sampingnya juga ikut tersenyum.


"Kalau begitu ayo kita berjuang untuk bisa pulang ke dunia kita lagi, menjalani kehidupan bersama dan berbahagia bersama sampai akhir hayat," ajak Reyhan.


Gadis di sampingnya tertunduk malu.


"Boleh, kalau begitu ayo berjuang. Aku akan selalu ada di sampingmu menemanimu Rey," kata Dira pada Reyhan.


"Tentu saja aku akan melakukan hal yang sama untukmu," balas Reyhan.


.


.


.


Dengan tekad yang kuat mereka akan melakukan perjuangan bersama demi mencapai kebahagiaan yang mereka inginkan. Menuju ke arah matahari terbit mereka tersenyum gembira melupakan segala sesuatu yang menjadi beban pikiran mereka.


Di pikiran mereka hanya ada sebuah kebahagiaan yang menyelimuti dengan semangat yang berkobar mendorong mereka agar tidak berputus asa menghadapi kenyataan dan membuat mereka terus berjuang untuk bisa mencapai tujuan mereka meskipun kemungkinan yang di dapat adalah kecil bagi mereka tidak ada salahnya untuk mencoba.


Dira dan Reyhan mereka seperti satu orang yang sama, mereka saling melengkapi kekurangan di masing-masing pihak sehingga kekurangan yang ada tidak terlihat. Walau banyak rintangan mereka dapat mengatasinya bersama.


Bersambung...