Eyes Of Curses

Eyes Of Curses
Part 11



Sebulan sudah lamanya Dira bekerja di rumah Reyhan dan Dira mulai terbiasa dengan sekitarnya.


Saat ini ia sedang sibuk merapikan kamar Reyhan sedangkan Reyhan ia hanya mendudukan dirinya di ranjangnya yang berukuran king size itu sambil mendengarkan musik di kupingnya.


Reyhan dan Dira sebenarnya saat ini ada rasa saling tertarik di antara mereka tetapi di antara mereka masih tidak ada yang mau mengakuinya.


Hal itu sudah terlihat dari kelakuan mereka berdua, Reyhan yang selalu ada di dekat Dira dan Dira yang selalu ada di dekat Reyhan.


Reyhan selalu ikut mengantar Dira bila ia pergi kuliah dan rela saja menunggu Dira.


Dira juga begitu bila di rumah, kemana pun pria itu pergi ia akan membuntutinya meskipun hanya berkeliling-keliling di rumah yang luas itu bukan hanya sekedar karena ia bekerja di rumah itu.


Orangtua Reyhan hanya memaklumi kedua insan yang sedang kasmaran itu dan menyetujui saja hubungan keduanya.


Kedua orangtua Reyhan tidak ada di rumah selama beberapa minggu ini karena urusan pekerjaan dan mempercayakan seluruh keperluan Reyhan pada Dira.


"Dira hari ini aku pengen jalan-jalan ke taman, kamu temenin aku yah," kata Reyhan menghentikan kegiatannya.


"Hm, baiklah bos." ucap Dira masih terus melanjutkan kegiatannya merapikan lemari Reyhan.


Sebenarnya selama sebulan Dira bekerja di rumah Reyhan ia sama sekali tidak pernah jalan-jalan kemanapun mereka berdua keluar hanya ketika Dira kuliah selebihnya mereka menghabiskan waktu di rumah.


Reyhan yang sekarang bukanlah yang dulu, ia sudah tidak malu lagi dengan kekurangannya Dira sering berkata pada Reyhan "Kekurangan seseorang bukanlah sebuah kelemahan melainkan sebuah kelebihan yang patut untuk di syukuri" Kata-kata itu sering Dira ucapkan bila melihat Reyhan bersedih akan kekurangannya.


Dan itu tentu saja membuat Reyhan mengerti ia memang tidak melihat tetapi ia bisa merasakan dan tahu gerak-gerik seseorang tanpa melihatnya, Reyhan memiliki indra yang tajam dan juga ia bisa merasakan baik atau buruknya niat seseorang padanya.


Setelah selesai bersiap-siap mereka berdua pun berangkat, Reyhan yang pastinya tidak mungkin tahu jalan itu menggenggam erat lengan Dira dan yang di genggam saat ini sedang gugup, mukanya pun memerah.


Reyhan tahu akan hal itu dan malah mengeratkan genggamannya.


Tanpa sepengetahuan Dira yang sibuk dengan perasaannya sendiri, Reyhan tersenyum tipis.


Dira memandu Reyhan dengan sabar orang-orang yang berlalu lalang juga memerhatikan dirinya dan Reyhan.


Dira malu bukan main, ia malu bukan karena menggandeng Reyhan yang buta tetapi malu karena dirinya yang menggandeng pria.


"Dira apa kamu malu menjadi pemanduku?" Reyhan bertanya begitu saja menyadari gelagat Dira.


"Enggak bos," jawab Dira wajah memerah ia takut bosnya minta penjelasan.


"Terus kenapa kamu gugup?" tanya Reyhan akhirnya meminta penjelasan.


"Aku malu gara-gara sebelumya aku gak pernah jalan sama pria manapun." jelas Dira keringat dingin mengucur deras di pelipisnya menahan malu.


"Kalau begitu mulai sekarang kamu harus terbiasa," kata Reyhan kemudian tangannya yang tadi memegang lengan Dira berpindah menjadi menggenggam jari jemari Dira yang dingin.


Awalnya Dira langsung tegang ia bahkan sempat berpikir akan membalas genggaman Reyhan atau tidak tetapi ia pun membalasnya, awalnya ia merasa malu tetapi karena hatinya merasa senang ia pun hanya menjalaninya sambil tersenyum.


Reyhan saat ini merasa senang, gadis itu membalas dirinya kemudian mereka berdua duduk di kursi taman, tangan mereka masih berpegangan entah mengapa mereka berdua tidak ada yang ingin melepaskannya.


Kemudian penjual es krim lewat di hadapan mereka Reyhan dengan sigap walaupun ia tidak melihat langsung meminta penjual es krim itu membuatkan dua es krim untuknya kemudian setelah selesai memesan Dira membayarnya mereka berdua melakukan semuanya bersama-sama.


Setelah itu Reyhan menerima pesanannya kemudian mereka berdua pun duduk kembali di kursi taman itu sambil menikmati es krim yang mereka beli.


Sambil memakan es krimnya Dira memerhatikan Reyhan yang makan es krim, bagi Dira ia seperti anak kecil.


"Bos wajahmu belepotan tuh, bos makannya kayak anak kecil," kata Dira sambil tertawa kecil dan mengambilkan tisu dari tas yang ia bawa dan kemudian membersihkan mulut Reyhan yang belepotan pria itu tidak menolak dan malah terdiam layaknya patung jantungnya berdebar kencang sekarang.


Saat ini wajah Reyhan yang putih itu memerah karena malu seharusnya ia lah yang membersihkan wajah Dira yang belepotan gara-gara makan es krim tetapi malah menjadi sebaliknya.


Dira yang melihat wajah Reyhan yang memerah ikut-ikutan wajahnya juga memerah dan jadilah saat ini wajah keduanya sama-sama memerah.


"Dira." panggil Reyhan.


"Ya, Bos." jawab Dira.


"Seandainya aku bisa menggunakan mataku lagi, orang pertama yang ingin kulihat jelas dan kupandangi lama adalah dirimu," kata Reyhan begitu saja.


Dira saat ini ingin rasanya ia terbang dan berteriak kegirangan sambil jingkrak-jingkrak karena sangking bahagianya tetapi semua itu hanya khayalannya sematanya, nyatanya saat ini dirinya sedang membeku tidak bisa berbuat apa-apa.


"Haha, i-iya bos." tanggapan tidak jelas dari Dira sambil tertawa canggung dan malah membuat malu dirinya sendiri dan berpikir seharusnya ia tidak usah menjawab sama sekali.


"Kamu setuju?" tanya Reyhan dan Dira kehabisan kata-kata.


"Jawab Dira,"


"Ng, anu... Itu... Hhhh!!" Dira tidak bisa berkata apa-apa.


"Ku anggap jawabanmu iya," kata Reyhan sambil mengacak rambut Dira gemas dan memberikan senyumannya.


"Bos berhenti tersenyum seperti itu, nanti orang di sekitarmu bakalan pingsan," kata Dira menggembungkan pipi mencari alasan ia tidak sanggup melihat senyuman Reyhan yang menurutnya sangat mempesona itu.


"Biar saja orang pingsan, apa jangan-jangan kamu cemburu?" tanya Reyhan dan Dira membuang muka ke arah lain.


"Gak tuh," jawab Dira ketus.


"Oh aku tau, jangan-jangan orang yang bakalan pingsan ngeliat senyumku itu kamu sendiri, soalnya aku ngerasa gak ada orang di sekitar sini." Reyhan berucap dan wajah Dira memerah sempurna sekarang.


"Stop bos, udah cukup ngocehnya," kata Dira sambil memegang mulut Reyhan karena sudah tidak sanggup lagi dengan kata-kata yang Reyhan lontarkan.


"Dira apa-apaan sih, suka-sukaku dong orang mulutku juga." ucap Reyhan.


"Bos tau, menurutku mulut bos itu kayak cewek tau gak, banyak omong." ucap Dira gemas.


"Biarin orang sama kamu aja, aku gak bakalan malu, wekk!!" bahkan sekarang Reyhan mengejek Dira berbeda jauh dari pertama ia bertemu dengan Reyhan dulu pria itu begitu dingin dan kejam bagi Dira.


Sedangkan Dira sekarang ia lebih memilih memegang kedua kupingnya dengan telapak tangannya agar tidak mendengar ocehan Reyhan.


"Aku gak denger, wekk!!" kali ini Dira yang mengejek Reyhan.


Kemudian dengan jahilnya Reyhan mencoba melepaskan tangan Dira yang berada di kupingnya.


"Ih bos, apaan sih lepasin tangan bos gak." Dira meronta tidak mau melepas tangannya dari kupingnya.


Tiba-tiba Reyhan menghentikan kegiatannya Dira juga menyadari perubahan mood Reyhan yang secara tiba-tiba, tidak ada suara ocehan yang dikeluarkan oleh bosnya itu lagi dan Dira pun menghentikan kegiatannya juga.


"Bos kenapa?" Dira bertanya.


"Dira, ayo pulang." ajak Reyhan langsung pada Dira tetapi raut wajahnya menjadi datar tidak seperti tadi.


"Emm!" Dira mengangguk tidak membantah permintaan bosnya itu kemudian Dira mengulurkan tangannya.


"Ayo bos!" ajak Dira dan Reyhan pun meraih tangan Dira mereka pun pulang tanpa berucap sepatah kata apapun tentunya sambil bergandengan tangan.


Saat ini Reyhan sedang was-was dengan sesuatu hal. Tampaknya ada hal yang mengganggunya, Dira menyadari hal itu terlihat dari ekspresi Reyhan yang sedang berkonsentrasi Dira tahu pria itu merasa bahwa ada sesuatu hal yang tidak baik dan Dira juga tidak berani bertanya langsung pada Reyhan untuk saat ini.


Kemudian Dira mempercepat langkahnya pergi meninggalkan tempat itu dan tentu saja Reyhan mengikutinya.


Dan ternyata ada seseorang yang mengawasinya dari atas pohon, wajah orang itu tidak terlihat karena menggunakan jubah yang menutupi seluruh tubuhnya kemudian tiba-tiba saja lenyap menjadi asap hitam dan menghilang.


Bersambung...