
Seseorang bisa menjadi sangat kuat ketika ada orang yang ingin mereka lindungi...
.
.
.
Pertarungan sengit saat ini tengah, terjadi. Tampak Atan tengah kewalahan menghadapi monster yang sedang berada di depannya itu, beberapa anggota tubuhnya tengah terluka akibat cakaran makhluk yang begitu cepat.
Melihat Atan yang tidak berdaya makhluk itu ingin menerkam Atan tetapi Alna saat itu melindungi Atan dengan kemampuannya, walaupun ia tidak terlalu ahli dalam bertarung.
Tetapi akibat bantuan Alna, Atan terselamatkan. Mereka bertiga pun berkumpul.
Makhluk itu ingin menyerang, bertubi-tubi bola api ia terbangkan kepada ketiga orang yang tengah kewalahan itu. Tetapi Atan masih memiliki cukup kekuatan untuk melawan makhluk itu.
"Kalian berdua cepat pergi menjauh dari sini, jangan khawatirkan aku. Aku masih bisa menghadapinya," kata Atan terengah-engah.
Dira menatap kedua orang itu datar, sedangkan Alna saat ini matanya tengah berkaca-kaca. Ia tidak ingin meninggalkan Atan.
Dira bersiap bertarung, keberaniannnya memuncak melihat kedua orang yang saling menyayangi itu tengah kesusahan. Ia tidak ingin melihat Alna seperti dirinya yang sudah kehilangan orang yang ia sayang.
"Kak-kakak mau apa?" Alna berucap khawatir sedangkan Dira ia hanya menatap Alna sambil tersenyum.
"Kau, ingin apa? Jangan mengorbankan nyawamu untuk hal seperti ini," kata Atan sudah hampir kehabisan tenaga. Para sriver hitam menjadi sedikit lebih kuat dari biasa akibat kekuatan hitam dari curses yang sudah menyebar keseluruh penjuru Arzahitonia.
"Aku hanya ingin membantu dengan apa yang aku bisa, meskipun aku tidak terlalu hebat dalam bertarung. Biar bagaimanapun aku masih tetap berhutang budi pada kalian berdua, setidaknya aku bisa menjadi orang yang sedikit berguna bagi kalian," kata Dira menatap Atan mantap.
Kemudian dari gelang yang ia gunakan berubah menjadi sebuah pedang, yang berbalutkan api. Api itu terbentuk oleh keberanian dan keinginan Dira melindungi kedua orang itu. Makhluk itu berteriak kesakitan tatkala cahaya mengenai matanya. Makhluk itu tidak tahan dengan cahaya yang di pancarkan oleh pedang Dira.
Makhluk itu mengamuk dan menyerang ke segala arah. Ada beberapa serangan yang tertuju ke arah Dira tetapi pedang di tangan Dira tampak berubah menjadi sebuah tameng sehingga serangan itu tidak bereaksi apa-apa.
Alna dan Atan terpukau oleh kemampuan gadis yang baru saja mereka selamatkan, Atan sempat berpikir gadis itu hanyalah seorang gadis lemah dan hanya akan menyusahkan tapi ternyata dia salah dalam menilai.
Sedangkan Alna ia akhirnya menyadari sesuatu hal apa yang ia pikirkan ternyata tidak salah, gadis itu bukanlah gadis yang lemah.
Dengan berlari, Dira menyerang makhluk itu, menebasnya hingga terbelah dua dan menjadi debu.
Sedikit ledakan terjadi di tempat itu. Tetapi tidak menyebabkan hal yang fatal. Pedang yang dipegang Dira perlahan kehilangan cahayanya. Dan kembali kebentuknya semula.
Dira tampak kelelahan.
"Kak-kakak sungguh keren!" teriak Alna berlari kearah Dira gadis itu hanya tersenyum menanggapinya.
Sedangkan Atan berjalan gontai ke arah Dira, tenaganya hampir terkuras habis dan ia juga terluka.
"Terimakasih telah melindungi kami," Atan berkata setengah gengsi. Dira tidak berucap apa-apa. Karena saat itu ia langsung jatuh pingsan. Ia jatuh pingsan dipangkuan Atan.
.
.
.
Untuk pertamakalinya Atan terpungkau oleh wajah gadis yang tengah tertidur damai dipangkuannya. Wajah Atan pelahan-lahan memanas ia tampak salah tingkah, Alna yang menyadarinya mulai menggoda Atan. Pria itu masih tidak paham dengan apa yang dirasakannya.
Untuk kedua kalinya setelah Alna, Atan merasakan tidak semua wanita itu bersifat seburuk yang ia pikirkan. Tidak semua orang itu memiliki sifat yang jahat dan keji. Tidak semua orang itu bersifat seolah-olah tidak punya hati.
.
.
.
Atan terus memandangi wajah Dira yang tertidur, gadis itu masih berbaring dipangkuan Atan. Sedangkan Alna ia sibuk mengobati luka-luka Atan. Dan mengalirkan tenaga dalamnya untuk memulihkan Dira.
.
.
.
.
Di suatu tempat yang sunyi nan lembab, Dira berdiri mematung. Ia tidak tahu sekarang ia berada dimana.
Kemudian ia memaling-malingkan pandangannya ke segala arah mengenali tempat-tempat itu tetapi nihil, ia tidak kenal dengan tempat itu.
Namun di tengah-tengah ia mencari jalan pulang, ia melihat seorang pria yang membelakanginya. Pria yang sangat tidak asing baginya, pria yang sangat penting baginya dan tentu saja pria yang sangat ia rindukan dan mengharapkan kehadirannya.
"Reyhan!!" Dira berteriak sambil berlari mendekati pria itu.
Tapi bukannya berbalik ataupun mendengar, pria itu malah melangkahkan kakinya ke depan meninggalkan Dira tanpa menoleh sedikitpun. Pria itu tampak tidak tentu arah, Dira terus mengejarnya tapi sia-sia usaha Dira berlari. Bukannya tambah dekat, pria itu malah semakin menjauh dan menjauh sampai akhirnya di telan oleh kegelapan.
Dira tersungkur lemas, ia merasa tidak bisa berbuat apa-apa. Ia menangis.
"Reyhan, kenapa kau tidak mendengarku, aku disini. Kumohon berbaliklah," Dira berkata sesegukan.
Tidak ada lagi pria yang mengusap air matanya ketika ia menangis, tidak ada lagi pria yang selalu menggodanya dengan rayuan yang melelehkan hatinya dan tentu saja tidak ada lagi pria yang telah memiliki hatinya.
Ia sendirian diselimuti kegelapan, berharap ada seseorang yang mendengarnya. Dira hanya duduk sambil memeluk lututnya dan menenggelamkan kepalanya.
Tiba-tiba ada sebuah suara yang sontak mengejutkannya.
"Dira aku disini menunggumu, berharap kau datang seperti biasa dan menjemputku," suara itu adalah milik Reyhan suara yang sangat dikenalnya.
"Meskipun mata ini tidak melihat, meskipun diri ini tidak berada di sampingmu. Tapi, hati ini tetap milikmu dan terus mengingat namamu dimanapun aku berada," Dira mendongakkan kepalanya mencari asal suara. Tapi tetap tidak ada siapa-siapa di sana. Dira berdiri.
"Meskipun di dalam kegelapan hanya ada setitik cahaya, tapi itu bisa saja adalah sebuah harapan yang bisa menuntunmu kembali menuju cahaya dan memberikan kehangatan yang kau inginkan," kata Dira menatap ke atas dengan semangatnya, ia semangat karena suara hati Reyhan dapat ia dengar.
Ia menemukan cahaya. "Reyhan, aku akan berusaha dengan sekuat tenagaku untuk membuatmu kembali kesisiku, karena ada keinginan kita berdua yang belum tersampaikan. Meskipun harapan ini tak sebesar dan serumit masalah yang kita hadapi, tapi setidaknya aku bisa berjuang untuk dirimu," kata Dira sambil merasakan sebuah kehangatan dari cahaya yang membuat dirinya seolah-olah hidup kembali.
"Kau dan aku tidak akan terpisahkan. Ada kamu, ada aku dan ada aku, ada kamu." Dira tersenyum mengingat ucapan Reyhan yang satu ini.
"Rey, tunggu aku. Aku akan datang untuk dirimu. Dan setelah itu, bersama kita berjuang untuk mencapai harapan yang kita inginkan."
"Kuharap kau bisa menungguku dan tidak menyerah pada kegelapan,"
Dan seketika cahaya yang menghujani Dira memakan dirinya dan mengembalikannya ke alam sadarnya.
.
.
.
...
Bersambung...