
Beberapa tahun setelah kejadian itu.
.
.
.
Terlihat sebuah buku novel yang di letakkan di meja samping ranjang sebuah kamar.
"Pah!!" teriak seorang wanita kepada suaminya yang sedang asyik bersantai membaca koran.
"Kenapa mah?" masih melanjutkan acara membacanya.
"Rendy mana pah?" istrinya berdiri di hadapan suaminya.
"Loh bukannya tadi sama mamah," berhenti membaca koran.
"Iya pah tadi sama mamah, tapi dia tiba-tiba hilang." raut wajahnya terlihat khawatir.
"Mah! Pah!" teriak seorang bocah kecil berusia sekitar lima tahunan berlari ke arah orang tuanya, ke khawatiran orang tuanya mereda.
"Darimana kamu nak?" tanya mamanya.
"Rendy tadi dari gudang trus dapat kotak yang isinya foto papah," kata Rendy.
"Kamu jangan main jauh-jauh ya nak, mamah kamu khawatir banget tuh." ucap papahnya mengusap kepala anaknya lembut dan bocah itu mengangguk patuh.
"Anak pintar," kata papahnya.
"Mah Rendy kok mirip papa?" tanya Rendy sambil menatap sebuah foto masa kecil milik papahnya walaupun mata pria di foto itu tidak terlihat jelas karena pengambilan gambar yang cukup jauh dan usangnya foto itu.
Saat ini mereka bertiga sedang duduk bersama dengan Rendy yang berada di pangkuan mamahnya dan suaminya merangkul istrinya.
"Ya karena kamu anak papah," kata mamanya.
"Tadi Rendy pikir ini foto Rendy," kata Rendy menunjukkan foto papahnya ketika masih kecil. Mamahnya hanya memperhatikan putranya itu sambil tersenyum. Ayah anak itu mengambil kopi yang di buatkan istrinya dan memulai meminumnya.
"Rendy gak harus semuanyakan harus mirip papa, bisa jadi matanya Rendy itu mirip sama mama," kata mamanya memberi penjelasan.
"Ah, kalau gitu Rendy lebih baik mirip sama mama aja sekalian," kata Rendy lagi.
"Oh gak bisa gitu dong sayang, karena kamukan anaknya mama dan papa, makanya kamu punya kemiripan sama kami berdua," kata mamanya.
"Oh iya ya, yey! Rendy anak mama sama papa!" teriaknya girang masuk ke dalam kamarnya mungkin mau menyimpan foto itu di kotak mainannya karena Rendy itu suka mengoleksi sesuatu apalagi jika itu berupa kenangan.
"Sifat anak itu mirip banget sama kamu ya mah, dia terlihat tidak perduli tapi sebenarnya sangat menyayangi kita berdua." ucap suaminya.
"Dia juga mirip kamu pah, terutama wajahnya." ucap istrinya.
"Mah gimana yah kalau anak kita sampai tau tentang pertualangan kita?" tanya papah Rendy yang tidak lain adalah Reyhan. Ia menarik mamah Rendy kepangkuannya dan wanita yang dipangkunya itu tidak lain adalah Dira.
"Entahlah pah, mungkin dia tidak percaya dengan cerita kita. Soalnya kejadian itu seperti sebuah mimpi tapi bukanlah mimpi." jawab Dira. Mereka berduapun mengenang kejadian itu. Kejadian dalam hidup mereka yang mereka tidak sangka pada akhirnya akan berakhir bahagia.
"Mungkin jika tidak ada kejadian itu kita tidak akan pernah bertemu sekarang." ucap Dira.
"Mungkin jika tidak bertemu, pasti aku akan menemukan cara lain untuk bertemu denganmu. Karena kamulah takdirku," kata Reyhan memeluk pinggul Dira erat sambil menenggelamkan wajahnya di bahu Dira merasakan kehangatan pada wanita yang sangat dicintainya itu. Dira tersenyum dibuatnya.
Kemudian Dira mengelus-elus rambut Reyhan sayang lalu mencium puncak kepala pria itu sambil tersenyum ia bahagia.
"Oh iya mah, gimana kalau kita buatkan adik lagi untuk Rendy?" tanya Reyhan dengan di balas tatapan kaget dari Dira.
"Eh?!" Kaget Dira.
.
.
.
.
~Tamat~