Eyes Of Curses

Eyes Of Curses
Part 6



"Permisi!" Dira berteriak dari luar berharap ada yang menghampirinya di rumah besar itu, karena sangat tidak sopan bagi Dira jika dirinya main masuk-masuk saja.


Dira begitu bersyukur ternyata yang pertamakali muncul adalah bundanya Reyhan.


"Maaf tante boleh saya minta izin mengambil barang saya yang ketinggalan di kamar putra anda?" tanya Dira langsung.


"Oh kebetulan kamu datang lagi," kata Rosa.


"Memang ada apa tante?" Tanya Dira.


"Sebenarnya tante ingin menawari kamu pekerjaan tetap di rumah ini untuk menjaga putra tante," kata Rosa langsung tanpa basa-basi dan membuat Dira bingung karena kemarin ia di tawari kerja cuma sehari walaupun sebenarnya di hati kecilnya ia merasa senang karena dapat pekerjaan tetap di rumah itu.


"Tapi tante akukan harus kuliah dan bekerja di tempat lain," kata Dira menjelaskan.


"Dira kamu gak akan merasa rugi karena telah bekerja di rumah ini karena kamu akan dapat tempat tinggal di rumah ini dan biaya kuliahmu akan tante tanggung, kamu juga bakalan dapat uang saku dari tante." jelas Rosa lembut ia begitu senang akhirnya putranya setidaknya mulai membuka diri dengan seseorang dan membuat Dira langsung menelan ludah bagaimana ia bisa menolak sebuah pekerjaan yang menjamin masa depannya.


"Tapi tante apa itu gak berlebihan?" tanya Dira.


"Ya enggalah, Dira itu gak seberapa bagi tante terutama kamu yang menjaga putra semata wayang tante, mulai sekarang anggap saja ini rumahmu dan tante bundamu juga," kata Rosa dan membuat Dira merasa terharu.


Selama ini Dira jauh dari orangtuanya, ia tidak tinggal bersama orangtuanya karena kuliah di kota dan tinggal bersama paman dan bibinya.


Di kota ini ia bekerja paruh waktu sambil kuliah untuk membiayai dirinya dan mengirimi orangtuanya jika ada kelebihan dari gajinya.


Walaupun Dira tinggal di rumah paman dan bibinya tetapi ia tidak ingin merepotkan kedua orang itu, ia sudah bersyukur di beri tempat tinggal gratis oleh mereka. Dan membiayai hidup sendiri adalah tanggung jawabnya walaupun paman dan bibinya tidak pernah merasa terbebani dengan kehadiran gadis itu di rumah mereka.


"Bagaimana apa kamu mau?" tanya Rosa dan Dira mengangguk.


"Mulai besok kamu akan tinggal di sini," kata Rosa sambil tersenyum ramah kemudian Dira pamit permisi untuk mengambil novelnya itu karena ia tidak terima novelnya itu berada di tangan orang lain.


Cklek!


Pintu kamar terbuka dan memperlihatkan Reyhan yang sedang berdiri di depan jendela sambil memegang sebuah novel.


"Bos bisa kembalikan novel itu." Dira menghampiri Reyhan dan meminta novelnya kembali.


"Kamu mau ini, ambil lah." Reyhan menjahilinya dan mengangkat tangannya ke atas agar Dira tidak bisa menggapainya.


Dira yang tinggi badannya hanya sebahu Reyhan harus melompat-lompat meraih novel itu.


"Bos berikan novel saya." pinta Dira.


"Tapi ada syaratnya," kata Reyhan.


"Apa?" tanya Dira masih sambil melompat.


"Kau besok harus kesini lagi," kata Reyhan sambil tersenyum.


Blush!


Muka Dira memerah karena malu dan ia pun berhasil menggapai novel itu tetapi karena ceroboh kaki Dira terpelecok, tubuhnya oleng lalu terjatuh menimpa Reyhan dan sekarang mereka berdua terdiam sejenak.


Saat ini Dira berada di atas tubuh Reyhan mukanya sekarang tambah merah dan dadanya berdebar begitu pula dengan Reyhan.


Dira pun langsung buru-buru bangun dari posisinya itu dan buru-buru pergi ia sungguh malu saat ini.


Reyhan bangun dari posisinya dan memegang dadanya yang juga berdebar.


"Perasaan apa ini?" tanya Reyhan pada dirinya sendiri karena bingung mengapa dadanya berdebar begitu kencang. Tapi dalam ketidaktahuannya itu ia merasa senang. Dan hari itupun berlalu.


.


.


.


.


.


Keesokan harinya Dira pun datang lagi ke rumah itu membawa barang-barangnya, ia di sambut baik oleh Rosa dan keluarganya. Kemudian ditunjukan kamar yang akan ia tempati.


Ia terkejut dengan kamar yang ia tempati tidak jauh berbeda dari kamar Reyhan namun kamar itu agak kecil, menurut Dira itu sudah lebih dari cukup dan kamar itu tepat berada di samping kamar Reyhan.


Setelah semua orang kembali ke aktivitasnya masing-masing Dira pun memasuki kamar Reyhan siapa tahu ada yang dibutuhkan pria itu.


Ketika Dira ingin berada di tempat biasanya ia berdiam, Reyhan menegurnya.


"Kau duduk di kursi di sampingku, tolong perhatikan tulisanku bila ada yang salah," kata Reyhan dan Dira menurutinya saat ini ia begitu takjub dengan Reyhan pria itu tidak melihat namun hafal ketikan sepuluh jari dan pandai memainkan microsoft word sedangkan ia normal tetapi ia tidak seperti Reyhan.


"Mulai sekarang kamu boleh duduk di sofa kamar ini dan boleh menginjak karpet asal jangan kamu sentuh barang-barangku takutnya nanti aku kebingungan mencarinya soalnya semua barang di tempat ini sudah aku atur semuanya." jelas Reyhan memberikan alasan kenapa ia tidak ingin barang-barangnya di sentuh.


"Baiklah bos." Dira mengangguk dan akhirnya paham dengan alasan pria itu melarang ia memegang benda-bendanya, meskipun sebelumnya ia sudah menduga hal itu.


"Kamu juga gak usah berbicara terlalu formal sama aku anggap saja aku temanmu." jelas Reyhan.


"Dan satu lagi jangan naik di kasur kamarku takutnya akan terjadi sesuatu hal yang tidak mengenakkan," kata Reyhan sebenarnya menggoda Dira.


Dira awalnya tidak paham dan terus mengangguk sambil mengiyakan kemudian ia baru menyadari sesuatu dengan perkataan Reyhan barusan.


"Apa?!" Dira berucap kaget sedangkan Reyhan sekarang tertawa mengejek kelambatan renspon Dira mencerna kata-kata Reyhan.


"Dasar otak mesum!" wajah Dira memerah karena malu sekaligus kesal kemudian menjitak kepala Reyhan emosi.


"Lagi pula aku tidak akan berada di sana," kata Dira membalas Reyhan.


"Hei aku hanya bercanda," kata Reyhan memegang kepalanya yang di jitak Dira tetapi ia senang karena gadis itu bisa sedikit akrab dengannya.


Dan Dira tidak mengubris perkataan Reyhan karena kesal, Reyhan hanya tersenyum dan melanjutkan acara mengetiknya sedangkan Dira ia tidak memerhatikan Reyhan dan memilih membaca novel kesayangannya itu.


"Dira bisa koreksi tulisanku sekarang, kau mengerti microsoft word kan?" tanya Reyhan.


"Tentu saja bos, apa gunanya aku kuliah jika tidak bisa main komputer." Ucap Dira akhirnya menghentikan acara membacanya walaupun ia awalnya tidak terlalu senang di suruh untuk membaca yang lain selain cerita novel favoritnya itu, ia tidak terlalu perduli dengan ejekan Reyhan barusan.


Ketika membaca tulisan Reyhan Dira menatap kaget ternyata sang penulis novel favoritnya itu adalah Reyhan sendiri.


Saat ini ia langsung terkagum-kagum karena novel favoritnya akan ada lanjutannya.


Dira juga begitu semangat membacanya ia terfokus dengan cerita itu, ia terlarut dengan cerita itu sekaligus kagum pada Reyhan karena ketikkannya nyaris tidak ada yang salah.


Saat itu Reyhan sedang berbicara di sampingnya tetapi dia tidak mendengarkan sama sekali perkataan pria itu karena asik sekali membaca dan pada akhirnya Reyhan berteriak di kuping Dira karena kesal gadis itu tidak mendengarkannya.


"Wah! Bos jadi kamu yang menulis novel. Novel ini bos." Dira saat ini takjub bukan main di buat Reyhan tidak perduli dengan kemarahan Reyhan barusan karena tidak dipedulikannya.


"Aku bahkan pengen banget ketemu sama penulisnya, jadi penulisnya bosku sendiri. Wah senangnya!" Dira benar-benar takjub sekaligus heboh sekarang.


"Bos cepatin lanjutin lagi ceritanya...  Seru banget bos, ketikan bos juga hampir gak ada yang salah dan tadi juga ketika ada yang salah sudah aku perbaiki yang salahnya," kata Dira ia kegirangan dan Reyhan menyadari perkataan bundanya kemarin sore.


Jadi ini yang dimaksud kebetulan oleh bunda. Batin Reyhan.


Reyhan hanya tersenyum menanggapi Dira yang begitu kesenangan ia tidak menyangka gadis itu tergila-gila dengan karyanya.


"Bos boleh aku minta tanda tangan bos, bos disini bos di novelku." pinta Dira menyodorkan novel beserta pulpen di tangan Reyhan, entah darimana ia dapat pulpen itu sepertinya ia selalu membawanya di dalam tasnya.


"Aku tidak memberikan tanda tanganku pada orang lain," kata Reyhan dingin sekaligus membalas perbuatan Dira yang tidak memperdulikannya barusan dan membuat Dira kecewa berat ia meraju dan sekarang pergi ke pojokan kamar Reyhan dan meringkuk di situ.


Saat ini ia merasa malu ia pikir bosnya akan mau memberikan tanda tangannya tetapi ternyata tidak, Dira bahkan merasa menyesal telah menggilai novel bosnya itu karena kesal.


Reyhan kebingungan kemana gadis itu pergi ia tidak menyadari keberadaan gadis itu sama sekali karena sekarang Dira lebih memilih diam.


"Oke! Oke! Kamu gak perlu meraju begitu kayak anak kecil tau gak, aku tadi cuma becanda. Sini mana novelmu biar aku kasih tanda tangan," kata Reyhan akhirnya mengalah.


"Ini." Dira tiba-tiba muncul menyodorkan novelnya dan membuat Reyhan terkejut.


Secepat itukah rensponnya, segitu sukanyakah dia sama cerita buatanku. Batin Reyhan heran dengan Dira ia tidak menyangka jika ceritanya memiliki seorang fans, sebenarnya Reyhan merasa bahagia dibuatnya ternyata ia memiliki seorang penggemar setia.


"Maaf bos kamu kaget yah," kata Dira merasa bersalah karena membuat bosnya terkejut Reyhan hanya bisa mengangguk kepada gadis itu.


Setelah mendapatkan tanda tangan Reyhan Dira membuang jauh-jauh kata menyesal menyukai novel itu dan sekarang ia sedang guling-gulingan di karpet kamar Reyhan kesenangan karena sudah mengetahui lanjutan novel itu sedangkan Reyhan ia lebih memilih untuk menulis lagi.


Dira begitu senang sudah mendapat tanda tangan penulis novel favoritnya sekaligus juga menjadi editor novel itu jika ada kesalahan ketikan dalam novel itu dan itu membuat Dira benar-benar bahagia dan merasa begitu beruntung, ia benar-benar menyukai cerita bergenre fantasi-romantis milik Reyhan itu.


Tiba-tiba ada seorang  gadis yang masuk ke kamar itu tanpa permisi dan langsung memeluk Reyhan sedangkan Dira ia hanya menatap heran gadis itu dan Reyhan nampak terkejut dibuatnya.


"Ilsa," kata Reyhan mengenali gadis yang sedang memeluknya itu.


Bersambung...