
"Rey, kamu lapar? Sebaiknya kamu makanlah, gak usah kamu kasih bagianmu ke aku, aku sudah kenyang." ucap Dira tersenyum memang kenyataannya ia sudah kenyang ia berkata lapar karena hanya ingin menyudahi pelukan Reyhan.
"Katanya kamu lapar," kata Reyhan.
"Umm itu," kata Dira ingin memulai penjelasan .
"Aku berbohong, habisnya kalau kayak gitu kamu gak bakalan nyudahin pelukanmu." Dira berkata jujur wajahnya merona Reyhan tersenyum simpul.
"Jadi kamu gak suka dipeluk," kata Reyhan pura-pura meraju.
"Bu-bukan begitu," Dira merasa bersalah atas ucapannya.
"Hahahahaha, meskipun kamu gak suka pasti akan aku buat kamu suka akan hal itu, tapi ternyata kamu senang." tawa Reyhan pecah dan Dira hanya bisa menggembungkan pipinya entah karena apa.
"Rey lagipula kalau kamu terluka aku juga terluka," gumam Dira membuang mukanya ke lain arah sedangkan Reyhan terbengong dibuatnya.
"Dira," gumam Reyhan kemudian ia tersenyum.
Setelah itu tidak ada kata-kata yang mereka lontarkan lagi dan lebih memilih menikmati makan malam mereka.
Reyhan tiba-tiba merasakan sesuatu ada yang mendekat ke arah mereka.
"Rey, ada apa?" tanya Dira.
"Ada yang mendekat," kata Reyhan was-was.
Tidak lama kemudiam muncul seekor siluman ular berkepala tiga.
"Bagaimana kau bisa menembus penghalangku?" tanya Reyhan berdiri dihadapan Dira, sekarang dengan pedang yang tiba-tiba muncul ditangannya.
"Kau tidak usah banyak bertanya, curses kau lupa siapa yang kau bawa, dia manusia. Baunya begitu harum sampai kami tidak bisa memalingkan diri meskipun ia bersama denganmu dan penghalang seperti ini bukan apa-apa untukku." jelas siluman itu.
"Jangan pernah berharap kau bisa menyentuhnya sebelum melangkahi mayatku," kata Reyhan berdiri dihadapan Dira.
"Wah tampaknya seorang curses yang terkenal kejam telah melembek hanya karena seorang manusia." ejek siluman itu membuat Reyhan menggeram kesal.
Pertarungan pun terjadi. " Rey hati-hati!!" teriak Dira.
Hantaman demi hantaman terjadi sampailah Reyhan melengah dan ia berhasil dililit oleh ular raksasa itu.
"Reyhan!!" khawatir Dira.
"Dira menjauhlah, arggh!!" suruh Reyhan tetapi Dira tidak perduli dan malah mendekat, akhirnya Dira terhempas oleh serangan ular siluman itu.
Ia tidak pingsan tetapi tangannya terluka akibat terkena ranting pohon.
"Hmm, bau darahnya begitu harum. Sampai-sampai aku tidak sabar ingin memangsa dirimu manusia," kata siluman itu, ia tidak sadar bahwa ada aura hitam yang telah keluar dari tubuh Reyhan.
Tak lama kemudian siluman itu merasakan tubuhnya memanas.
"Ada apa ini?" tanya bingung.
Reyhan terlepas dari cengkramnnya.
"Kau telah melukainya dan sekarang kau harus membayarnya." ucap Reyhan terkesan dingin dan datar.
"Ba-bagaimana bisa?" bingung siluman itu, ia baru menyadari kekuatan Reyhan sesungguhnya.
Ia mulai ketakutan, "Ampuni aku curses!!" mohonnya ketakutan.
"Tidak ada ampun bagi makhluk sepertimu yang bahkan tidak menggunakan hatimu sama sekali untuk merasa iba pada sesama makhluk hidup," kata Reyhan.
Zrash!!
Pedang menebas makhluk itu memotongnya menjadi beberapa bagian, kemudian makhluk itu melenyap menjadi debu seketika.
Reyhan menghampiri Dira, "Kau jangan berani nekat seperti itu lagi, Dira aku tidak suka melihatmu terluka seperti ini." kata Reyhan.
"Suatu saat aku bisa lepas kendali hanya karena melihatmu terluka," kata Reyhan melihat pergelangan tangan Dira.
"Maaf Reyhan tapi kalau tidak seperti itu, kau akan..."
"Aku bisa merasakan hanya karena berada didekatmu," kata Reyhan Dira tertunduk dalam, tubuhnya mulai bergetar.
"Kamu salah besar Rey jika kamu beranggapan seperti itu," kata Dira.
"Di dunia kita semua orang menunggu kepulanganmu, mereka menunggumu Rey. Kamu tahu aku juga salah satu dari mereka orang yang menunggumu pulang, kau tidak bisa menyebut dirimu monster tak berperasaan, aku yakin kamu juga sangat merindukan semua orang di dunia kita." ucap Dira.
"Bagiku hidupku tidak berarti jika kamu tidak ada, kau paham! Bukan hanya kau yang merasakannya, rasa kesepian. Aku juga, aku juga Reyhan, aku juga!" ungkap Dira ia mulai menangis.
"Maafkan aku Dira aku egois, tapi kau adalah orang yang harus aku lindungi bahkan dengan nyawaku sekalipun, rasanya sakit jika kau terluka aku tidak sanggup melihatnya." kata Reyhan memeluk Dira merasa bersalah telah membentak gadis itu.
Reyhan memegang pedangnya. "Rey kau mau apa?" tanya Dira.
Srat!
Reyhan melukai telapak tangannya sehingga darah mengucur.
"Rey, apa yang kamu lakukan?" tanya Dira lagi, khawatir.
"Maaf Dira mungkin ini sedikit perih tapi, aku akan melakukannya." ucap Reyhan Dira masih bingung.
Reyhan memegang tangan Dira yang terluka dengan telapak tangannya yang terluka sehingga darah mereka menyatu.
Dira mulai meringis dan dari penyatuan darah mereka terbentuklah sebuah gelang berwarna merah.
"Apa ini Rey?" tanya Dira.
"Ini gelang yang akan menjagamu, ia bisa berubah menjadi senjata yang kamu pikirkan dan menjadi pertahananmu," jelas Reyhan.
"Uhuk!" Reyhan terbatuk tampaknya ia melemah ia tersungkur.
"Rey kau tidak apa-apa?" Dira khawatir membantu Reyhan bangun.
"Maafkan aku Rey," matanya mulai berkaca-kaca.
"Dira jangan menangis," kata Reyhan.
Tapi Dira tetap tidak bisa tahan dan akhirnya ia menagis sesegukan.
"Hiks! Hiks!" sambil mengobati luka Reyhan ia terus menangis, Reyhan tidak sanggup melihat gadis itu terus menangis.
"Dira berhentilah menangis, aku tidak apa-apa," kata Reyhan tapi Dira menyadari wajah pria itu tampak menjadi pucat, namun Dira tidak berani bertanya.
Apa yang kau lakukan untuk diriku Rey, sampai-sampai kau benar-benar terlihat begitu lemah bahkan untuk berpura-pura kuat pun kau sudah tidak sanggup. Batin Dira air matanya terus mengucur.
Aku akan melakukan semuanya demi kamu Dira termasuk sebagian kekuatan putih yang menyangga kesadaranku rela kubagikan untuk dirimu meski besar kemungkinan aku akan lepas kendali, tapi demi dirimu semua akan kulakukan meskipun harus dibayar dengan nyawaku sekalipun karena aku tahu kaulah kekuatanku yang sesungguhnya. Batin Reyhan kemudian ia tersenyum tidak menyesali perbuatannya.
"Dira aku lelah," kata Reyhan pada akhirnya.
"Istirahatlah." satu kata yang keluar dari mulut Dira terasa berat, karena saat ini ia ingin menangis sejadi-jadinya tapi ia tidak ingin merepotkan Reyhan lagi dan lebih memilih menahannya.
Reyhan tidur dipangkuan Dira, pria itu tampak seperti menahan sesuatu dan keringat dingin keluar dari pelipisnya.
Tidak ada yang bisa banyak Dira lakukan untuk Reyhan, kemudian Dira memeluk pria itu dalam dekapannya, perlahan namun pasti pria itu sedikit demi sedikit akhirnya menenang.
.
.
.
.
.
"Akhirnya saat yang kutunggu sebentar lagi tiba, kaki tanganku akhirnya akan kembali padaku." ucap seekor naga hitam dengan mata merah menyala dialah 'Demon Sriver' dengan tawanya yang menyeramkan, beberapa anak buahnya yang berada di bawah singgasananya ikut tersenyum.
"Tuan, kami akan membantu tuan dalam mengembalikan curses tuan dan tentu saja akan menghancurkan para pengganggu." ucap salah seorang anak buahnya.
Bersambung...