
Dira sekarang tengah tergeletak di karpet kamar Reyhan karena kelelahan membersihkan kamar Reyhan yang bagaikan kapal pecah itu.
"Huh! Selesai juga." leganya sambil mengelap keringatnya, tiba-tiba saja Reyhan ikut berbaring disebelahnya.
"Bos, kamu ngapain baring di sini?" tanya Dira.
"Nemenin kamu." ucapnya datar.
"Bos, kamu baringan di ranjang sana." suruh Dira mendorong-dorong Reyhan agar bangun.
"Aku mau baring di sana asal kamu temenin, lagi pula ternyata baring disini enak juga." ucap Reyhan malah menghadap Dira sekarang.
"Kemauan," kata Dira kesal, pria di sampingnya itu tidak henti-hentinya menggoda dirinya.
"Dira mulai sekarang cukup panggil aku dengan namaku, tidak perlu bos lagi. Sekarang kan kamu kekasihku, kan agak aneh kalo manggilnya masih bos. Jadi berhentilah bersikap formal." Ucap Reyhan.
"Baiklah bo- maksudku Reyhan," kata Dira masih belum terbiasa.
Cklek!
"Reyhan sayang, bunda sudah pulang, nih bunda bawain kamu sesuatu." Rosa langsung masuk begitu saja membuat Dira kaget dan langsung bangun dari posisinya sedangkan Reyhan masih setia berbaring di karpet itu.
"Loh kok kalian malah baringan di lantai?" tanya Rosa mendatangi Dira dan Reyhan.
Rosa tahu kalau Dira juga habis berbaring dari gaya rambutnya yang sekarang tampil acak-acakan.
Dira tidak berkata apa-apa ia hanya diam membiarkan ibu dan anak itu berbicara.
"Gak papa bun, ternyata enak baringan disini." jawab Reyhan kemudian bangun dari posisinya.
Rosa kemudian juga ikut mendudukan dirinya di situ.
"Kalian itu keenakan baring disini atau keenakan berduaan sih," kata Rosa dan wajah kedua orang itu langsung memerah karena malu.
"Haha, tante ada-ada aja." Dira tertawa garing sambil merapikan rambutnya.
"Sebenarnya dua-duanya sih bun," kata Reyhan dan membuat jantung Dira ingin meledak saat ini juga karena malu sedangkan Rosa hanya tersenyum menanggapinya.
"Sekarang kalian berdua jadi akrab yah," kata Rosa.
"Bahkan lebih akrab bun, dia sekarang kekasih Reyhan." ucap Reyhan tidak ingin menutupi hubungannya dengan Dira sedangkan gadis itu sekarang berbalik arah malu berat tetapi tidak bisa berkata apa-apa, ia tidak memprotes karena memang kenyataanya seperti itu.
"Haha, begitu yah. Kalau begitu kapan kalian menikah?" tanya Rosa ternyata menyetujui hubungan mereka berdua sekarang Dira meringkuk terbaring di lantai karena terkejut belum genap sehari mereka jadian malah di tanya kapan nikah.
"Dira kamu kenapa?" tanya Rosa bingung melihat Dira yang salah tingkah sedangkan yang ditanya hanya menggeleng menutup wajahnya malu.
"Bun, kenapa bunda menyetujui hubungan Reyhan dan Dira begitu saja?" tanya Reyhan belum yakin dengan persetujuan Rosa sedangkan Dira sekarang mengkhayal sedang melaksanakan resepsi pernikahan bersama Reyhan.
"Kamu pikir, hubunganmu begitu saja disetujui. Gak Reyhan ayah dan ibu sudah memerhatikan kalian sejak lama dan sekarang bunda percaya sama Dira karena selama kami berdua pergi dia selalu menjagamu, sekarang bunda mendengar kalian berdua berhubungan bunda seneng banget tau gak, bunda harus kasih tau ayah." ucap Rosa semangat dan mendengar ucapan Rosa Dira langsung menghentikan khayalannya mungkin sekarang khayalan itu akan menjadi kenyataan.
"Kalau begitu bunda keluar yah, hadiah buat Dira juga ada kalian buka bareng-bareng," kata Rosa kemudian berlalu pergi.
"Tante aku ikut keluar," kata Dira ingin ikut keluar berniat menjauhi Reyhan.
"Hei, Dira kamu kemana? Mulai sekarang ada kamu, ada aku dan ada aku, ada kamu." ucap Reyhan pada Dira kesal kenapa gadis itu menjauhi dirinya.
"A-aku ma-mau ke toilet." Dira mencari alasan.
"Mulai sekarang kamu gak papa pake toiletku." ucap Reyhan dan Dira kehabisan kata-kata, kalah itulah yang melambangkan dirinya sekarang.
Kemudian Dira mendudukan dirinya lagi di samping Reyhan ia agak canggung sekarang.
"Gak jadi ke toilet?" tanya Reyhan.
"Gak." jawab Dira ketus.
"Ketus amat, makanya jangan kebanyakan alasan,"
"Terserah," kata Dira mengakhiri perdebatan mereka.
"Buka hadiahmu!" perintah Reyhan ketika ingin mengambil hadiahnya tangan mereka saling bersentuhan wajah Dira dan Reyhan saat ini memerah tampaknya mereka sama-sama gugup.
Setelah mendapatkan hadiah masing-masing mereka pun melanjutkan kegiatan masing-masing dan hari itu berakhir dengan mereka berdua yang selalu bersama.
Zzzzz....
Dira tidur begitu nyenyak di kamarnya jam menunjukkan pukul 6 pagi.
Tiba-tiba ada yang menarik selimutnya.
"Mmm," gumamnya kemudian menarik selimutnya lagi dan lagi-lagi ada yang menariknya lagi kemudian ia langsung membelalakan mata kaget.
"Kyaa! Kamu ngapain ada di sini!" teriak Dira langsung melemparkan bantal ke wajah Reyhan yang duduk di sisi ranjangnya.
"Kamu bisa gak, gak teriak-teriak kayak gitu," Reyhan mengorek-ngorek kupingnya yang berdengung.
"Lagian kamu kenapa juga masuk-masuk kamar orang pagi-pagi gak sopan tau gak," kata Dira kesal.
"Kamu juga sama," kata Reyhan datar dan tampaknya menusuk langsung karena itu memang benar adanya.
"Lagiankan itu memang kewajibanku aku pengasuhmu jadi wajar kayak gitu lah, bla bla bla~~" ocehan Dira tidak Reyhan dengarkan.
"Cepat mandi sana, temanin aku jogging pagi." ucap Reyhan mendorong Dira menyuruhnya mandi.
Dira mau tidak mau menuruti permintaan Reyhan dengan langkah malas Dira masuk ke kamar mandi.
Setelah bersiap-siap mereka pun akhirnya pergi, pagi itu Dira menuntun Reyhan untuk berjalan seperti biasanya tetapi saat ini di raut wajah mereka berdua ada sebuah kebahagiaan yang besar.
Siangnya mereka makan siang bersama kali ini ada yang berbeda.
"Dira," panggil Reyhan.
"Mmm," gumam Dira.
"Suapin aku, a... " pinta Reyhan membuka mulut kemudian Dira menyuapkan sesendok nasi pada Reyhan tetapi tidak ada lauknya.
"Dira, kenapa gak ada lauknya?" tanya Reyhan.
"Habisnya kamu manja betul, nyebelin tau gak." sebenarnya Dira hanya gemas pada sikap Reyhan.
"Tapi kamu senangkan? Bahagiakan?" ucap Reyhan membuat Dira hanya menarik nafas pasrah memang benar adanya.
"Suapin aku lagi tapi ini yang bener," kata Reyhan tetapi sekarang Dira benar-benar menyuapi Reyhan ternyata ayah dan bunda Reyhan mengintipi mereka begitu juga dengan pelayan-pelayan di rumah itu Dira menyadari hal itu dan melihat mereka satu-persatu tetapi mereka kemudian membuat kegiatan seolah-olah tidak melihat apa-apa Dira hanya menarik nafas pasrah, biar bagaimanapun ia juga sayang dengan Reyhan.
Seluruh anggota rumah itu menyetujui hubungan Reyhan dan Dira karena datangnya Dira ke rumah Reyhan merubah sikap Reyhan yang dingin dan tertutup menjadi sedikit terbuka pada sekitarnya ia juga mulai bisa tersenyum pada pelayan-pelayan yang menyapanya di rumah itu.
Sore itu saat semua orang sedang sibuk dengan kegiatannya masing-masing orangtua Reyhan sudah pergi meninggalkan rumah karena ada tugas di luar kota.
Reyhan dan Dira duduk berdampingan di belakang rumahnya seperti biasa Dira awalnya tidak mau dekat-dekat Reyhan karena masih malu tetapi Reyhan sukanya memaksa jadinya sekarang Dira duduk di samping Reyhan dengan wajah memerah sempurna.
"Dira aku ingin seperti ini dan terus bersamamu selamanya, jika aku bisa melihat aku ingin memandang wajahmu lama. Aku, sekarang sangat ingin melihat wajahmu walau hanya sekilas," kata Reyhan Dira tersenyum.
"Kamu sudah sayang sama aku aja aku sudah berterimakasih banget," kata Dira sekenanya, Reyhan hanya menatap Dira dalam diam.
"Apakah kamu sudah bisa cerita tentang semua masalahmu bagaimana awalnya ceritamu yang membuat semuanya berubah," pinta Dira, Reyhan mengangguk dan ia pun mulai bercerita.
"Dulu aku dan keluargaku sedang berlibur di sebuah tempat perkemahan di pinggir hutan dan ditinggal sendirian di dalam tenda, semua orang saat itu berada diluar tenda mereka pikir aku sedang tidur. Aku yang masih kecil dan juga kurang paham merasa seperti ada yang memanggilku aku pikir itu ayahku akhirnya aku pergi mendatangi suara itu. Kejadian itu terjadi saat senja hari, dan aku lepas dari pengawasan orangtuaku." cerita Reyhan mengingat masa lalunya.
Bersambung...