Eyes Of Curses

Eyes Of Curses
Part 20



Disebuah tempat yang tenang seorang gadis tengah duduk merenung di tempat itu sendirian tidak ada apa-apa disana hanya angin yang berhembus menerbangkan tiap helai rambutnya yang panjang.


Dalam kesendiriannya tiba-tiba ada seorang pria yang berdiri dihadapannya.


Ia mendongak melihat wajah orang itu, ia tidak melihat begitu jelas wajah orang yang berdiri dihadapannya itu karena terhalau oleh sinar matahari yang berada di belakang pria itu.


"Bos, Reyhan... " ucap gadis dengan suara lembut dan pelan matanya berkaca-kaca mengenali pria itu walaupun wajahnya tidak nampak jelas.


"Dira aku merindukanmu," kata pria itu.


"Aku juga, aku juga sangat merindukanmu." ucap Dira.


"Kamu dimana? Aku ingin ikut denganmu kemana pun kamu pergi," kata Dira memeluk Reyhan kemudian pria itu melepas pelukannya. Sambil tersenyum ia pun berkata "Kau mau ikut denganku baiklah, ayo kemarilah!" Reyhan mengulurkan tangannya.


"Bolehkah aku... " Dira berucap matanya berkaca-kaca tidak sempat menghabiskan kata-katanya Reyhan tersenyum mengangguk.


"Ayo!" ajak Reyhan Dira menerima uluran tangan itu, air matanya menetes kemudian mengikuti kemana arah Reyhan pergi sambil bergandengan tangan dan tersenyum bahagia.


.


.


.


"Ukh!" rintih Dira tersadar dari tidurnya, perlahan-lahan ia membuka matanya.


"Ini dimana?" tanyanya kemudian ia terkejut karena ia berada di pangkuan seseorang tampaknya juga ia tengah tertidur.


Dira tidak bisa bergerak tubuhnya terasa lemas hanya gerakan kecil yang ia bisa lakukan sekarang, sehingga membuat orang yang memangkunya terbangun.


Dira memerhatikan wajah orang itu yang hampir seluruhnya tertutup jubah kemudian mata berwarna oranye itu terbuka.


Sekuat tenaga Dira bergerak bangun karena ia baru menyadari yang memangkunya itu seorang pria, wajahnya memerah seketika bisa-bisanya ia tidur nyenyak di pangkuan pria itu. Terlebih ia mengaku ia merasa nyaman di dalam pangkuan pria itu.


"Kau tidak usah memaksakan diri, sebaiknya tetap lah beristirahat di pangkuanku karena itu akan menghangatkanmu" kata pria itu dengan suara baritonnya Dira tidak menjawab ia sibuk menetralkan wajahnya yang sekarang memanas. Dan bisa-bisanya dia berucap gampang akan hal itu. Tidur dipangkuan pria asing ingin sekali rasanya Dira meninju wajah pria itu, tapi saat ini tenaganya tidak ada.


"Kau lagi, kenapa kau tidak pergi meninggalkanku." kata Dira dingin.


Ia sudah bangkit dari pangkuan pria berjubah yang Dira belum tahu itu siapa dengan terengah-engah Dira memaksa berdiri tetapi kakinya begitu lemas belum lagi satu kaki dan tangannya juga terkilir menambah penderitaannya.


Dengan sekuat tenaga Dira berhasil berdiri namun tetap tidak bisa menahan keseimbangan tubuhnya dan hampir terhuyung jatuh tetapi dengan sigap pria berjubah itu menangkapnya.


Mata mereka beradu pandang, wajah Dira memerah malu sebenarnya di balik jubah yang melindungi wajahnya pria itu tengah tersenyum, gadis itu merona karena dirinya.


Apa seperti ini sikapnya ketika dulu menjagaku, rasanya aku menyesal tidak dapat melihat wajahnya seperti sekarang ini. Batin Reyhan wajah yang sangat ingin dilihatnya sekarang sudah begitu tampak dihadapannya jantungnya berdegub kencang.


"Aaaa! Lepaskan aku," kata Dira berteriak sambil meronta. Tapi pria itu tetap tidak melepaskannya karena ia tahu jika ia melepaskannya gadis itu pasti akan jatuh, kemudian ia mendudukannya pelan.


Sebenarnya ada rasa kesal juga pada diri Reyhan karena gadis itu sampai saat ini belum juga menyadari siapa pria itu. Tapi Reyhan berpikir mungkin saat ini ia lebih baik menyembunyikan siapa dia sebenarnya dari Dira.


"Kau ingin kemana?" tanyanya.


"Bukan urusanmu, kau berhentilah mengukutiku. Aku sudah tidak apa-apa." ucap Dira.


"Apa yang tidak apa-apa, berdiri saja kau sudah susah payah seperti itu," kata pria itu.


"Beritahukan aku kau ingin kemana?" kata pria itu lembut.


"Aku haus." Dira membuang mukanya ke arah lain karena ia malu pria itu terus memandanginya entah mengapa jantungnya berdegub kencang, di tambah lagi pria itu bicara padanya dengan nada yang lembut. Belum pernah ia merasakan perasaan seperti itu pada pria lain selain Reyhan.


Siapa dia. Batin Dira ia teringat mimpinya bertemu Reyhan yang mengajaknya bersama tetapi setelah bangun yang ia lihat adalah pria yang tengah menggendongnya itu.


Apa dia Reyhan, tidak mungkin dia bukan Reyhan dia pasti orang lain. Batin Dira tidak percaya kalau orang itu Reyhan ia pasti mengenalkan diri.


Apa dia tidak mengenaliku, sebelumnya dia kan memang tidak pernah melihatku hanya mengenaliku melalui suara. Batin Dira lagi, mengira Reyhan sudah tidak mengingat Dira karena sekarang suara itu telah berubah menjadi suara seorang gadis yang lembut tetapi tidak lemah. Meskipun penasaran Dira tidak bertanya siapa pria itu, ia masih tidak bisa mempercayai orang lain terlebih ia tidak kenal.


Reyhan mengangkat Dira dalam gendongannya dan sampailah mereka berdua di sebuah sungai.


"Turunkan aku," pinta Dira pada pria itu dan ia pun hanya menurutinya.


Kemudian Dira menceburkan tangan kirinya ke sungai itu sedangkan tangan kanannya tidak bisa ia gunakan karena cidera, ia merasakan sakit ketika menggerakkan tangan kanannya.


Dira kesulitan menggunakan tangan kirinya untuk mengambil air di sungai itu.


"Minumlah," tawar pria berjubah pada Dira tetapi Dira tidak memperdulikannya ia tidak ingin menyulitkan orang lain dan tentu saja ia menolaknya karena orang itu adalah seorang pria.


"Kau tidak usah malu," kata pria itu terkesan datar.


"Aku tidak malu, kau tidak usah repot mengurusku sudah cukup untuk semuanya," kata Dira tidak kalah datar.


"Kau kesulitan biar aku bantu," kali ini pria itu memintanya dengan nada yang tulus entah mengapa Dira setelah itu mau menuruti permintaan pria yang tidak dikenalnya itu, ia tidak bisa menolak. Meskipun ia tidak mengenal pria itu, Dira merasa ia sangat dekat dengan orang itu.


"Terimakasih," kata Dira memandang mata pria itu sambil tersenyum, Reyhan saat ini terhanyut dengan senyuman yang Dira berikan padanya, ia tidak menyangka senyum Dira itu begitu manis. Tapi meskipun begitu ia masih tidak ingin menunjukkan siapa dirinya pada Dira.


"Kau, kenapa melamun?" tanya Dira kemudian Reyhan tersadar dari lamunannya dan berlalu pergi meninggalkan tempat itu.


"Aneh," kata Dira kemudian membasuh wajahnya.


Dira memaksakan dirinya berdiri ketika Reyhan ingin membantunya ia menolaknya dengan sekuat tenaga akhirnya Dira berhasil berdiri perlahan-lahan ia melangkahkan kakinya yang lemas masih cidera itu.


Ia berjalan terhuyung sambil terpincang-pincang dan pada akhirnya ia menyerah dan mendudukan diri di sebuah pohon yang tidak jauh dari sungai itu mungkin hanya berjarak tiga meter Dira sudah merasakan berjalan berkilo-kilo.


"Hosh! Hosh! Hosh!" Dira ngos-ngosan saat ini keringatnya mengucur kelelahan sedangkan Reyhan yang menatapnya memandang iba karena Dira yang begitu tidak inginnya menyusahkan orang lain.


"Kenapa? Kenapa kau begitu berusaha keras padahal kau sebenarnya masih tidak sanggup," kata Reyhan, Dira tersenyum menanggapinya.


Bersambung...