
Esok pagi hari Elona dan Sabrina telah bersiap untuk menuju ruang pelatihan mereka yang letaknya tak jauh dari perpustakaan kerajaan disana guru pendamping telah menunggu kedatangan mereka.
" Selamat datang putri Elona Delaona dan putri Sabrina Casia, perkenalkan nama saya Estia Kart mulai hari ini saya yang akan bertugas dalam pelatihan anda berdua" kata perempuan yang telah berusia 40 tahun itu.
" Salam nyonya Estia Kart, mohon bimbingannya" kata Sabrina dan Elona secara bersamaan dengan menurunkan badan dan kaki kanan ditekuk sedikit sambil kedua tangan memegang ujung gaun mereka masing-masing.
Di hari pertama ini mereka akan memulai mempelajari tugas dan tanggungjawab kedepan yang harus dilakukan sebagai Putri Mahkota kerajaan Bisania.
Estia mulai meminta mereka untuk membaca buku tebal mengenai peraturan kerajaan yang ada di depan mereka masing-masing sambil Estia menjelaskan juga hal-hal yang tidak tertulis dalam buku itu tapi harus diikuti dalam istana.
3 Jam setelah Estia selesai memberikan pengajaran, Elona dan Sabrina pergi menemui tutor mereka yang lainnya.
10 Menit sebelumnya
" Bagaimana menurutmu tentang pelatihan hari ini?" tanya Sabrina sambil mereka berjalan menuju ruang pelatihan mereka selanjutnya.
" Menyenangkan! tapi itu tidak penting karena kita tetap harus melakukannya walau tak suka"
" Lalu bagaimana denganmu?" tanya Elona
" Aku menyukainya dan hal seperti ini bukanlah masalah bagiku" jawab Sabrina
" Apa tepatnya yang kau sukai? kedudukan atau Putra Mahkota?" tanya Elona
" Kau orang yang sangat berterus terang, ya!"
Percakapan mereka terhenti tepat sebelum mereka berada di ruang studi untuk menemui tutor mereka yang kedua.
Lalu mereka saling memperkenalkan diri mereka masing-masing.
" Mulai hari ini saya akan mengajarkan kegiatan politik dan sosial yang akan kalian jalankan selama menjadi Putri Mahkota dari kerajaan Bisania ini" kata tutor mereka yang kedua
Kemudian tutor itu mulai memberitahukan bagian mana yang menjadi tanggungjawab Putri Mahkota. Lalu mereka diberikan beberapa pertanyaan seputar politik yang sedang berputar di kerajaan.
" Ada saatnya kalian akan di berikan suatu kesempatan yang sedang terjadi di istana dan keputusan yang nantinya kalian ambil akan menjadi penilain terakhir untuk menentukan siapa yang layak untuk menjadi Putri Mahkota kerajaan ini" kata tutor itu
Mendengar penjelasan dari tutor mereka berdua menganggukan kepala sebagai tanda bahwa mereka memahami maksudnya itu.
" Apa kalian ada pertanyaan mengenai pengajaran hari ini?" tanya tutor itu
" Tidak ada, terima kasih untuk pengajaran hari ini" kata Sabrina dan Elona serentak
Setelah pelajaran berakhir mereka berdua kembali ke kamar mereka masing-masing. Beberapa hari setelah pelatihan dimulai akhirnya mereka mendapatkan waktu luang untuk mengundang keluarga atau teman untuk dapat berkunjung ke istana.
Di dalam kamarnya Elona menuliskan surat untuk Marques Delaona dan kedua sahabatnya itu yang mengatakan bahwa dia diperbolehkan untuk menerima kunjungan selama 2 hari.
Keesokan harinya Marques Delaona datang menemui putrinya dan berbincang-bincang di halaman belakang istana
" Bagaimana kabarmu selama tinggal disana? Apa pelatihannya susah?" tanya Marques Delaona sambil meminum teh yang di depannya
" Aku baik-baik saja dan pelatihnya tidaklah sesulit yang ku bayangkan" jawab Elona
" Apa teman-temanmu juga akan datang nanti?"
" Besok siang mereka datang"
" Baik, aku mengerti papa"
" Lalu apa kau tidak ada masalah dengan putri Sabrina Casia?"
" Tenang saja, kita tidak ada masalah dan aku rasa dia bukan orang yang akan mencari masalah denganku dengan menggunakan cara kekanak-kanakan seperti halnya yang sering dilakukan oleh putri bangsawan lainnya"
Setelah selesai berbincang dengan putrinya dan menemui Raja dia kembali pulang ke rumahnya. Di sisi lain istana tempat kebun bunga Sabrina juga sedang bertemu dengan ayahnya Marques Casia.
" Apa ada yang membuat kau kesulitan selama di istana?" tanya Marques Casia yang memiliki penampilan (rambut violet dan mata hijau) sama dengan putrinya itu
" Tidak ada semuanya masih baik-baik saja"
" Apa kau juga mengundang temanmu?"
" Kami hanya akan bertukar kabar melalui surat, lebih baik aku menggunakan hari itu untuk beristirahat dan menyiapkan untuk pelatihan esoknya"
" Apa kau tidak terlalu dingin pada orang di sekitarmu bagaimanapun juga kau akan membutuhkan bantuan mereka jika nanti kau ingin duduk di istana sebagai Putri Mahkota?"
" Baik, aku akan memikirkannya lagi"
" Bagaimana dengan situasi putri Elona Delaona? apa kau dapat berteman dengannya? aku dengar sifat terus terangnya sama seperti ayahnya akan baik jika kalian dapat berteman"
" Itu hal yang mustahil karena sudah dapat di pastikan siapapun pemenangnya kita akan menjadi musuh dari awal walau dia tidak ikut kompetisi pemilihan pun aku juga tidak akan dapat berteman karena sifat kita jauh berbeda" jawab Sabrina
Mendengar jawaban Sabrina Marques Casia menghela napasnya karena memikirkan sifat anaknya yang dingin dan keras kepala jadi dia sulit untuk mempunyai banyak teman.
" Hah.. yang pasti berhati-hatilah dengan sikapmu selama kau ada di istana" kata Marques Casia sambil bangkit berdiri bersiap untuk meninggalkan istana.
Sabrina menganggukan kepalanya dan juga berdiri untuk mengantar Marques Casia dan kembali ke kamarnya. Dalam perjalannya kembali ke kamar Sabrina berpapasan dengan Elona dan mereka saling menyapa satu sama lain.
" Apa kau habis bertemu dengan Marques Delaona?" tanya Sabrina
" Ya, kau juga bertemu dengan Marques Casia?" jawab Elona
" Mhm... Apa kau besok juga akan menerima tamu lainnya?"
" Temanku akan datang"
"Aku tidak tahu kau punya banyak waktu luang atau memang percaya diri"
Mendengar perkataan Sabrina, Elona hanya dapat berdiam diri dengan mata penuh tanya
" Aku tidak mengerti yang kau maksudkan?"
" Kalau kau tidak mengerti maksudku, lupakan saja!"
Lalu Sabrina meninggalkan Elona yang kebingungan dan masuk ke kamarnya, dan Elona pun juga masuk ke kamarnya
" Apa yang dia maksudkan dengan perkataan tadi? khawatir? atau pujian? apa dia kesepian? Entahlah! aku pusing memikirkannya lebih baik besok aku tanya saja pada Maria dan Leana ketika datang ke istana" gumam Elona
Di saat yang sama di kamar Sabrina
" Apa anak itu meremehkan ku sebagai lawannya atau dia sudah menyusun rencana lain? aku juga tidak tahu apa dia tidak mengerti perkataanku yang tadi atau pura-pura bodoh?" gerutu Sabrina