
Model! Minho SHINee dan pembaca.
Sebuah semesta alternatif dimulai!
🎶
Bright lights, loud music
Flashy clothes, expensive drinks
(Minho SHINee - I'm Home)
🎶
Kamu tidak tahu mengapa menyetujui pekerjaan yang satu ini. Sungguh, rasanya ingin merutuki diri karena tidak berpikir seribu kali tentang betapa mengerikannya itu. Tetapi, rasanya orang yang berotak lurus bisa memikirkan kalau melakukan runway di sebuah gedung adalah sesuatu yang ekstrim. Itu benar, runway di gedung, bukan di dalam gedung. Ah, ini pasti karena Choi Minho! Kapan lagi bisa bekerja sama dengannya kalau tidak di proyek yang satu ini. Dia sosok yang paling diincar oleh para model wanita untuk menjadi pasangan kerja.
Hanya saja, kamu tidak berpikir panjang. Itulah masalahnya. Bahkan kamu tidak pernah memikirkan ketakutanmu pada ketinggian yang baru kamu ketahui hari ini juga.
Celaka.
Bagaimana lagi, nasi sudah menjadi ketupat, tidak bisa kembali jadi beras. Apa pun yang terjadi, kamu harus melakukannya karena harus bertanggung jawab atas pilihanmu. Jadi, di sinilah kamu berdiri. Ujung puncak gedung yang akan diresmikan esok. Tentunya sebelum tampil, kamu dan beberapa model lainnya berlatih agar tahu bagaimana teknik 'berjalan' secara vertikal juga sistem keamanan yang disediakan oleh penyelenggara acara.
Kamu pun memaksa diri untuk berani dan mengabaikan ketakutan.
"Lakukan itu semua dengan tenang. Bayangkan saja seperti berjalan di runway biasa," pelatih itu berkata dengan ringan. Bagaimana bisa kau menanggap gedung setinggi 30 meter ini adalah panggung biasa? Menatap ke bawah saja sudah membuat keringat dingin mengalir deras, apalagi berjalan sambil terus menatap ke bawah.
Masalah lainnya, kamu adalah bintang kedua di acara ini setelah si Choi Minho itu. Masa iya bintang utama perempuannya yang disandingkan oleh Tuan Karisma Berapi tampil mengecewakan? Apa kata dunia dan netizen? Di mana kamu akan taruh wajahmu kalau menyerah pada ketakutanmu.
Maka, ketika giliranmu datang untuk mencoba bersama Minho, tak disangka ia mendekatimu.
"Semuanya akan aman. Mereka terpercaya," begitu katanya dengan senyuman yang tak pudar.
"Y-ya, saya pasti bisa," kamu mengatakan itu lebih pada diri sendiri.
"Apa Anda punya fobia ketinggian? Saya lihat sedaritadi wajah Anda tampak sedikit pucat," kali ini rekan kerjamu mengubah ekspresinya jadi khawatir. Wah, tahu dari mana orang ini tentang isi pikiranmu? Seperti cenayang saja.
"Tidak, semuanya baik," bohongmu untuk menutupi ketakutan yang sebenarnya sudah jelas hanya karena tidak mau mengecewakan Choi Minho.
"Baiklah, baiklah. Pasangan pamungkas di sini. Kalian hanya perlu berjalan vertikal di dinding gedung perlahan dan saat nanti sampai di runway normal, kalian akan perlahan kembali ke posisi horizontal dan melepas pengaman. Nanti akan ada yang mengajari kalian untuk itu di bawah sisanya ... pose bersama di ujung runway sebelum kembali. Kalian sudah terbiasa untuk yang satu itu. Baiklah, saatnya mencoba untuk pertama kalinya!" beberapa teknisi keamanan memasangkan tali pengaman ke tubuhmu. Yah, seharusnya ini semua aman. Minho yang ada di seberangmu tampak tenang seperti terbiasa melakukan fashion show ekstrim seperti ini. Tetapi, perkataan si pengarah jelas, kalian sama-sama baru melakukan ini untuk pertama kalinya.
"Berjalanlah dengan perlahan dan tenang, kalian berdua. Siap?"
"Siap!" seru mulut kalian bersama.
Tidak! Seru otakmu jujur.
Tetapi kamu tetap mencoba berdiri vertikal diujung gedung. Pandanganmu mau tidak mau menghadap ke bawah. Beberapa kali kamu menarik napas dalam dan menghembuskannya serta mengatakan mantera tenang.
"Tenang, tenang, hanya cepat, kok."
"Ayo, jalan!"
Kamu pun berjalan satu irama dengan Minho, satu tangan di pinggang dan yang lain mengayun. Sejenak kamu melupakan ketakutan ketika fokus pada irama berjalanmu. Sayang itu tidak bertahan lama, ketika kamu merasa tubuhmu makin tertarik ke bawah oleh gravitasi dan objek di tanah masih tampak jauh, badanmu kembali gemetaran, jantungmu berdegup tak karuan dan keringat dingin meluncur dari dahi.
"Tidak apa, sebentar lagi sampai di bawah,” bisikmu pada diri sendiri sambil terus berjalan dan memasang gaya fierce, sesuai tema. Sesampainya di runway tanah, beberapa petugas yang berjaga melepas tali pengaman kalian dan pergi dengan cepat. Dengan tenaga yang tersisa, kamu berjalan ke ujung depan runway untuk berpose dengan Minho. Sesampainya diujung karena terlalu lemas, kamu yang hampir terjatuh secara tak sengaja merangkul leher Minho dan pria itu yang rupanya tahu, langsung menahan punggungmu dengan tangannya. Tampak seperti pose yang terencana, padahal tidak.
Kamu pun merutuki diri ketika, Minho berkata sambil membantumu kembali berdiri tegak, "Anda sungguh tidak apa?"
Kini rasa takutmu beralih menjadi rasa malu. Ah, rasa takut sialan, seharusnya kau terlihat profesional di depan Choi Minho, bukan sosok pengecut.
"Mari cepat ke backstage," tanpa melepas rangkulan, dia membawamu ke backstage sampai kamu mendapatkan kursi dan minuman.
"Maafkan saya, ah, saya mengacau," lirihmu setelah meminum beberapa teguk air mineral yang diberikan staff.
"Sekarang yang penting Anda tenang dahulu. Ceritakan soal itu nanti, wajah Anda benar-benar pucat," kata Minho yang kini duduk di depanmu.
"Sebenarnya ... saya baru tahu kalau saya punya ketakutan pada ketinggian hari ini," kamu menjelaskan saat sudah tenang, "Terima kasih sudah membantuku dan maaf atas rasa kurang nyamannya. Kalau Anda mengkehendaki ganti model, saya benar-benar ikhlas." Bohong lagi, sebenarnya kamu tidak ikhlas menyerahkan posisi ini pada siapapun. Akan tetapi, kesadaran diri membuat kamu mengatakan itu. Choi Minho berhak mendapat pasangan kerja yang lebih baik dari pada dirimu yang penakut.
"Tidak, saya tidak akan minta ganti model. Saya salut karena Anda tidak kabur begitu tahu sebenarnya Anda punya ketakutan dengan ketinggian. Saya hanya ingin tahu, apakah setelah ini Anda akan mundur atau tetap bekerja setelah tahu apa yang terjadi?" tanya Minho yang kali ini menatapmu khawatir.
"Tentu saja saya harus bertanggung jawab dan menyelesaikan pekerjaan ini meski tidak tahu nantinya bakal kuat sampai akhir atau tidak. Tetapi, ya, saya akan berusaha tidak pingsan sebelum sampai backstage," jawabmu yakin.
"Saya akan bekerja bersama Anda. Itu benar-benar pilihan profesional, namun setelah pekerjaan ini berakhir sepertinya Anda harus konsultasi soal ini," Minho tersenyum dan kamu mengangguk.
"Saya akan melakukannya. Terima kasih."
"Istirahat yang cukup," pria itu beranjak dari hadapanmu.
Hari esok datang dengan cepat. Lampu-lampu sudah ditata sedemikian rupa di sekitar gedung baru tersebut. Riasan dan pakaian yang kau kenakan sangat cantik, benar-benar berpadu bagus dengan pakaian yang dikenakan pasangan kerjamu, Choi Minho. Sore menuju malam, acara peresmian mulai. Ada sekitar 10 pasang model sebelum giliranmu maju. Sebelum itu kamu melakukan apa pun yang membuat tenang mulai dari berdoa, minum air putih, menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya secara berulang, dan menyemangati diri.
"Anda kuat. Anda bisa bertahan, semangat," Minho mendekatiku.
"Saya bisa."
Tidak.
"Saya bisa."
Tidak.
"Saya bisa menahan rasa takut demi profesionalitas setidaknya sampai backstage."
Apa mungkin? Kemarin saat uji coba saja kamu hampir pingsan di ujung runway.
"Saya bisa."
"Kalau terlalu berat, nanti beri saya tanda agar Anda bisa cepat kembali ke backstage dan tidak melakukan pose terlalu lama," kata Minho yang memberi ketenangan pada dirimu, "jangan panik saat berjalan nanti."
"Saya harus tenang. Saya tahu." Kamu menarik napas dalam-dalam lagi dan mengembuskannya.
"Sekarang giliran kalian, Bintang Utama," tim pengatur acara mendatangi kami.
"Kita bisa."
"Kita harus bisa."
Seperti saat uji coba kemarin, hanya berbeda pakaian dan riasan saja, kalian dipasangkan tali pengaman. Sekali lagi sebelum tampil, kamu merapalkan doa.
"Ini dia bintang malam ini akan turun ke Bumi langsung dari rooftop," itu cue MC untuk kalian. Sesuai iringan musik, kamu dan Minho mulai berjalan vertikal sesuai irama musik. Awalnya baik, namun ketakutan kembali menyerang di separuh perjalananmu.
Jantungmu kembali berdegup lebih kencang dari semula, keringat dingin keluar dari telapak tanganmu dan kamu merasa gemetaran lagi. Tetapi, kamu tidak mau menyerah pada ketakutanmu. Kamu terus berjalan dalam gaya sampai dapat menyentuh tanah.
Seusai tali pengaman dilepaskan, kamu mengerahkan semua tenaga yang tersisa untuk tampil sempurna di runway normal.
Begitu kamu dan Minho bertemu di ujung runway, kalian melakukan pose yang sama seperti saat uji coba kemarin, hanya saja, kali ini terencana. Semuanya berjalan sempurna sampai kamu berpisah dengan Minho dan kembali ke bagian belakang panggung. Untungnya beberapa staff sudah siap siaga di sana, sehingga kamu bisa duduk dan minum air mineral sebelum kunang-kunang di matamu menutupi pandanganmu.
"Astaga, kamu tidak pernah bilang padaku?" manajermu langsung bertanya setelah kamu selesai minum.
"Bilang ... apa?" tanyamu bingung.
"Kalau kamu takut ketinggian," sahutnya, "aku baru tahu karena si Choi Minho itu bilang padaku."
"Aku baru tahu kemarin dan juga aku tidak ingin aku ditarik dari pekerjaan ini. Aku harus profesional dan bertanggung jawab 'kan?" jawabmu.
"Tetap saja, kalau dia tidak bilang dan kamu pingsan bagaimana?"
"Ya sudah, pingsan saja," jawabmu ringan atas kekhawatiran manajermu.
"Benar-benar keras kepala, ck. Lain kali ukur kemampuanmu."
"Iya, manajer. Aku tahu itu karena kecerobohanku."
"Ah, apa Anda sudah lebih baik?" tanya Minho yang datang kepadamu. Wah, terlalu perhatian.
"Iya. Terima kasih juga sudah bilang ini ke staff. Ah, saya jadi malu karena orang-orang tahu," kamu menundukkan pandangan.
"Yang terjadi bukanlah bukti kelemahan. Itu bukti kekuatan Anda, bisa menghadapi ketakutan. Saya terhormat dapat bekerja sama dengan Anda."
"Ah, tidak, tidak, saya yang terhormat bisa bekerja sama dengan Anda, Choi Minho," kamu tersenyum padanya kali ini.
"Pasangan kerja seperti Anda perlu dikenang. Mau berfoto bersama?" tawaran itu keluar dari mulut Minho. Kamu tercengang karena itu seharusnya ucapanmu.
"Apa saya sudah tidak terlihat pucat?" tanyamu sambil tertawa kecil, sedikit malu.
"Tidak, sebentar ...," ia membuka kamera depan ponsel dan mengambil swafoto bersamamu. Kalian berfoto beberapa kali dan bahkan ia meminta saran padamu untuk memilih foto yang bagus dan bisa ia unggah di sosial medianya.
"Terima kasih, saya akan menandaimu," Minho mengedipkan sebelah matanya.
"Tidak, seharusnya saya yang berterima kasih," kamu tertawa, "Ah, boleh kirimkan foto itu ke ponsel saya nanti? Saya sedang tidak membawanya."
Minho membisikkan sesuatu padamu sebagai jawaban, "Saya menitipkan nomor telepon saya pada manajer Anda. Hubungi saya setelah ini dan jangan seformal ini." Kamu mengedipkan mata tak percaya sementara Minho sekarang berjalan menjauhimu dengan senyuman yang tak pudar.
Wah, benar-benar sesuatu yang tak disangka-sangka. Bukan hanya foto bersama, kamu sekarang bisa menghubungi seorang Choi Minho, si Tuan Karisma Berap