Dream Is An Alternate Universe

Dream Is An Alternate Universe
Hot Dry Weather [Werewolf Game Bonus]



Hanya sebuah kota kecil di Indonesia, negara 2 musim. Tetapi tahun ini panasnya bukan main. Warga-warga di sana mulai mempertanyakan julukan surga dunia. Atau sebenarnya sudah jadi neraka dunia? Keluhan itu terdengar juga dari warga Anagapura. Tetap saja, sepasang sahabat ini tidak dapat diam.


“Kau sungguh baik-baik saja melakukan pekerjaan lapangan ini? Suhu hari ini 37°, lho!” si perempuan yang sudah siap dengan kipas karton di tangannya memandang laki-laki di sampingnya.


“Aku masih baik-baik saja sejauh ini,” laki-laki itu membalas. Semburat warna merah mulai menghiasi wajahnya.


“Hei! Hei! Jangan memaksakan diri, Kei. Lihat itu, wajahmu sudah memerah. Aku akan bilang ka-“


“Jangan Cas, aku... bisa,” Kei menundukkan kepala setelah berbicara. Cassie dengan cepat mengipasi temannya itu.


“Kau ini mau merusak otakmu dengan heat stroke apa bagaimana sih? Ish,” perenpuan itu meraih tangan Kei dan melingkarkannya ke lehernya. Walaupun si pria lebih tinggi dan besar, ia masih bisa membawanya masuk ke minimarket yang ber ac.


“Duduk di sini, aku akan cepat,” dengan patuh, pria itu duduk di kursi sementara sahabatnya mencari minuman dingin. Ia mengipasi diri dengan tangan. Hari ini panasnya bukan main, tetapi ia heran bagaimana Cassie bisa bertahan. Tiba-tiba sensasi dingin terasa di dahinya. Rupanya itu botol minuman dingin, “Minumlah ini perlahan. Kakakku masih butuh otak cerdasmu itu.” Kei menerima minuman dengan senang dan segera meminumnya.


“Terima kasih, Cas. “


“Sama-sama. Aku akan bilang padanya sekarang.” Cassie sibuk sebentar dengan ponselnya, menit kemudian ia kembali menatap Kei yang sudah membaik.


“Kau ingat ‘kan setahun lalu menceramahiku tentang Overclock? Kau hampir saja kena overheat dan menuju BsoD,” kata perempuan itu.


“Ei, tapi overclock bagus untuk meningkatkan performa main game,” elak Kei.


“Kau tidak bilang itu dulu.”


“Memang tidak.”


“Kau membela diri, ya?”


“Aku tidak bisa melepaskan kamu sendirian. Aku tidak mau kamu kembali masuk rumah sakit.”


“Aku juga.”


“Apa?”


“Ei, sudahlah,” dengan cepat Kei menenggak isi botol itu sampai habis. Ia malu.


“Bilang saja kau menyayangiku. Memang kenapa? Kau pikir aku tidak tahu?” Cassie membalas tingkah aneh Kei.


“Lidah tajamku berpindah ke dirimu rupanya,” Kei tertawa kecil dan menunduk. Ia bisa merasakan pipinya memanas.


“Mengapa? Kau kepanasan lagi?” perempuan itu kembali bertanya dengan nada khawatir.


“Tidak,” laki-laki itu menjawab dengan cepat.


“Kalau tidak... Hei! Ayolah kita ‘kan sudah...,” semburat merah kini juga ada di wajah Cassie sehingga ia memutuskan untuk mengakhiri percakapan aneh yang satu ini.


“Aku sepertinya juga butuh beli minum.” Perempuan itu pun segera berlari kecil ke arah tempat penyimpanan minuman dingin dan tersenyum malu. Padahal mereka sudah bersama sekitar sepuluh tahun lebih, mengapa sekarang tiba-tiba terasa aneh karena statusnya sudah lebih dari sahabat?


Apakah mungkin ini karena benar-benar yang pertama untuk mereka berdua?


Jelas, untuk Cassie, Kei satu-satunya pria lain yang bisa mengisi kekosongan jabatan kekasih di hatinya. Bagaimana dengan Kei? Apakah dia pernah mencoba mengisi kekosongan itu bersama seseorang di Jakarta? Cassie tidak pernah sekalipun mempertanyakan hal itu sampai hari ini.


"Ehm, kita tidak boleh terus-terusan seperti sepasang remaja yang baru bertemu begini hanya karena naik level. Nah, aku sudah merasa dingin. Bagaimana denganmu, Cas?" Kei rupanya langsung membenahi situasi mereka.


"Aku ... baik. Sungguh. Ayo lanjutkan kegiatan kita."