
“Tidak, ini benar-benar masalah besar. Aku bisa mengingat ini semua, tetapi paham... tidak. Ini akan sangat mengganggu kalau tidak bisa aku pahami. Sebenarnya berapa lama aku melewatkan pelajaran menyebalkan ini?” Cassie menatap Kei yang ada di hadapannya, meminta penjelasan.
“ Berkali-kali pertemuan, berdasarkan Freya,” jawab laki-laki itu sambil ganti menatap perempuan di hadapannya.
“Ah, sialan, mengapa juga pelajaran ini harus ada di dunia? Kei, ini tidak baik untuk kesehatanku,” Cassie kembali menggerutu.
“Padahal kau yang memintaku untuk bertanya pada Freya, tidakkah kamu-“
“Terima kasih, Kei. Puas?” perempuan itu tersenyum kemudian kembali menghela napas, “Entahlah, aku jadi berpikir untuk putus sekolah saja.”
“Cassie-“
“Kei, aku tidak bisa mengejar semua ketertinggalan ini. Aish, stalker sialan,” ia menggerutu, “Lihat ini, tangan kananku saja belum sembuh seluruhnya. Ah, aku kesal jadinya.”
“Ini semua kamu yang meminta, ingat? Aku akan membantumu, sebisaku. Nanti Freya juga akan membantu setelah selesai ekstrakulikuler dance-nya selesai,” kali ini Kei memberikan tatapan yang menenangkan sahabatnya.
“Selain itu aku sudah merasa tidak diterima lagi. Diriku sehat saja mereka sudah merundungku habis-habisan. Semangat hidupku sudah hilang dan Tuhan masih menyelamatkanku dari maut 2 kali, melalui dirimu. Ah, tidak habis pikir,” perempuan itu menghela napas.
“Itu artinya Tuhan ingin menjadikan dirimu lebih dari yang sekarang. Orang yang akan mengubah dunia ini. Bukanlah itu hebat?” Kei melemparkan senyum lebar yang membuat Cassie juga tersenyum.
“Mungkin....”
“Jadi, matematika itu-“
“Tidak, aku tidak mau mencederai otakku untuk kedua kalinya.”
“Pish! Lalu kau ingin pelajaran apa?”
“Biologi!” ujar Cassie semangat.
“Ah, bukan bidangku,” Kei mengelak.
“Kei... ajari sebisamu,” suara teguran lembut seorang wanita dari dapur menyentak Kei.
“Ibu... ah, ini penuh nama latin.”
“Kei, kumohon. Jika kau terlalu lama, mungkin aku akan mengubah pikiranku dari belajar,” Cassie bersandar di kursinya.
“Kau mau apa? Jalan-jalan?” tanya Kei berbisik menyelidik, “aku mendukung apa pun yang penting bukan belajar.”
“Sekarang kamu mengenaliku lebih dalam dari pada cewek manapun di sekolah,” Kei tersenyum sambil berbisik-bisik.
“Oh, baru aku yang tahu? Baiklah, ayo jalan-jalan!” satu anggukan mantap dari laki-laki itu membuatnya beranjak dari kursi dan menarik kursi roda Cassie dari meja.
“Tunggu, memang kamu mau membawaku ke mana?” tanya perempuan itu.
“Dekat dari rumah tetapi akan jauh dari matematika,” Kei tersenyum dan mendorong kursi roda keluar dari rumah,
“Kita pergi sebentar, Bu!”
“Iya, hati-hati!” Izin ibu Kei membuat mereka kegirangan.
“Kei, nanti kalau aku tidak bisa jalan selamanya, bagaimana, ya?” tiba-tiba Cassie bertanya dengan nada rendah di tengah kegiatan mereka berjalan-jalan.
“Berhenti berpikir macam-macam. Kalau dokter bilang bisa, pasti bisa,” jawab Kei sambil memainkan rambut panjang Cassie yang terurai, “percayalah.”
“Bagaimana dengan tangan? Tangan kiriku patah, tangan kananku sudah tidak retak memang tetapi masih tremor. Apa aku bisa melukis lagi?”
“Melukis saja pakai mulut, seperti gajah,” jawab Kei agak sebal, “Cas, serius. Jangan membebani otakmu dengan pemikiran tidak perlu. Okay? Percaya saja kau bisa pulih.” Pria itu berhenti mendorong kursi roda Cassie dan berjengkang dihadapannya.
“Sekarang ini, nikmati saja waktu jalan-jalan,” ia menatap perempuan itu dengan lembut, “jangan menambah kekacauan di pikiranmu. Kau ini ibarat...”
“Ibarat komputer yang sudah terkena virus tetapi masih menerima virus tanpa berusaha membersihkannya. Itu ‘kan?” Cassie menyelesaikan kalimat Kei.
“Memang benar, kalau sudah bakatnya mau terbentur sekeras apapun masih ada. Bagus, Cassie. Kau ingat, tetapi kau juga paham ‘kan? Sekarang, ayo hapus itu satu-persatu. Ada aku di sini,” Kei tersenyum lebar, begitu juga sahabatnya.
“Uh, Kei, apakah orang-orang sedang memperhatikan kita sekarang?” Cassie tiba-tiba merendahkan suaranya. Kalimat itu membuat Kei mencoba mencuri pandang ke sekitar.
“Ah, aku tidak bermaksud menakutimu tetapi aku tidak suka menyembunyikan kebenaran... Ya, Cas... Mungkin mereka kira kita sedang pacaran,” jawab Kei.
“Lelucon apa ini?” sahut Cassie sambil sedikit tertawa.
“Serius, sepertinya kita perlu bergerak dari sini.”
“Ayo kita jalan terus, Kei.”