Dream Is An Alternate Universe

Dream Is An Alternate Universe
SHINeeVision: What An Annoying Neighbour(s)



Korean drama (background in 90's) star! SHINee dan pembaca


Unusual couple! Taemin dan pembaca


(Terinspirasi dari mimpi yang seperti WandaVision)


Sebuah semesta alternatif rewrite reality dimulai!



🎶


Why must tragedy be a part of love?


(SHINee - Don't Call Me)


🎶


Baiklah, yang kamu tahu sekarang kamu menikahi Lee Taemin, seorang manusia super yang bahkan bisa mengendalikan benda dari jarak jauh atau ... sebenarnya dia bisa lebih dari itu? Karena selain mengendalikan benda, terkadang dia bisa membuat sesuatu ada bersama dengan datangnya cahaya berwarna biru kehijauan dari tangannya. Entahlah, kau tidak mengerti. Tetapi itu semua tidak masalah. Hal buruk apa yang bisa terjadi jika ada dia, orang yang kamu cintai?


Juga kalian baru saja pindah ke sebuah perumahan yang lumayan menarik. Tepat di sebelah rumah kalian, ada semacam kos-kosan pria. Ini pertama kalinya kamu tinggal di sebelah kos-kosan pria. Kalian kini sedang duduk di sofa depan televisi tabung yang tidak menyala.


"Mungkin tetangga kita akan datang nanti. Biasanya akan ada semacam house party untuk orang yang baru pindah rumah. Hei, apa kau tahu makanan apa yang dihidangkan untuk menyambut tamu dari keluarga yang pindahan?" tanya Taemin padamu.


"Entah aku tidak ingat," jawabmu jujur.


"Tidak ingat?" tanya Taemin balik dengan wajah bingungnya.


"Ya, kamu menguasai kepalaku sampai penuh," kamu kembali menjawab, kini diikuti dengan tawa kecil.


"Oh, bagaimana ini? Apa aku harus menghapusnya sebagian?" pasanganmu itu memainkan jari-jemarinya dan membentuk sebuah gumpalan cahaya berwarna aqua pearl.


"Apa kau setega itu? Kau pasti tidak akan mau melakukannya," katamu cepat.


"Memang tidak," Taemin mengurungkan cahaya itu dan tersenyum padamu, lebih lebar dari biasanya, "Ah, tetapi, bagaimana dengan tetangga yang nanti datang? Kita tidak mungkin mengandalkan kekuatanku untuk masak di depan mereka 'kan?"


"Sebaiknya jangan, kecuali kamu mau menjadi bahan pergunjingan. Marilah bersikap biasa dan masak sebelum mereka datang," balasmu.


"Kau sangat tahu 'kan kalau kita adalah pasangan yang tidak biasa?" Taemin menatap jari-jari di tangan kanannya.


"Y-yah, aku bahkan lupa di mana cincin kita berada bukannya se ...."


Tanpa suara, Taemin membuat cincin dengan emas putih dan berhias paraiba tourmaline berwarna biru kehijauan melingkar di jari manis kanan kalian masing-masing menggunakan kekuatannya.


"Tenanglah, aku menyimpannya," ia berkata setelah kamu terlihat puas menatap cincinnya.


"Lega melihatnya kembali. Baiklah, mungkin aku harus mencari beberapa saran di buku resep dan kau, harus membantu," kamu berdiri dari sofa dan beranjak ke dapur.


"Bagaimana kalau aku nanti menyebar undangan saja?" tawar Taemin.


"Tidak, kekuatanmu tidak bisa dipakai di luar sana kalau kita mau berbaur. Ah, aku menemukan satu. Ggul-tteok-- kue beras madu! Bahan-bahan ini sepertinya masih ada ... tunggu, kita baru saja pindah, jelas semuanya masih lengkap," kamu tertawa karena kalimat konyolmu. Begitu juga Taemin.


"Aku benar-benar bahagia memiliki istri yang lucu. Setidaknya aku tidak perlu menyewa badut untuk menghiburku dan tamu-tamu."


"Badut? Oho, permisi, aku lebih dari itu. Baiklah, untuk menghemat waktu aku perlu kekuatan pikiranmu yang menakjubkan itu. Sesuai buku ini, yang kita perlukan adalah tepung beras ketan, gula kastor, pewarna--  aku tidak berpikir kita punya yang satu itu, lemon, madu, tepung kacang kedelai kering atau kacang almond atau kenari bubuk-- mungkin harus pilih salah satu, almond saja, kita hanya punya itu," kamu membacakan bahan-bahan yang ada di buku dan Taemin mengambil bahan-bahannya. Bukan secara literal karena dia menggunakan kekuatannya. Kamu tidak kaget lagi karena, merasa terbiasa dengan semua itu. Lagi pula, itu permintaanmu agar dia membantu. Satu per satu bahan melayang dari rak atas menuju meja dapur kalian. Kamu mengabsen.


"Tepung beras ketan, ada. Gula kastor, ada. Lemon, oh! Itu datang dari kulkas ... ada. Madu, ada, kacang almond, juga ada. Pewarna! Oh, kita punya warna hijau dan biru. Itu bagus, kita bisa membuat warna ggul-tteok yang serasi dengan permata di cincin kita dan kekuatanmu itu," kamu tersenyum melihat semua bahan yang tersedia lengkap dan bahkan melebihi ekspektasimu.


"Ggul-tteok aqua pearl? Terdengar menarik," Taemin juga ikut menyunggingkan senyuman manis yang membuatmu makin jatuh cinta, "Lalu, apakah ada alat yang kita butuhkan?"


"Tentu saja kita butuh. Oh, air panas! Kita belum punya air panas. Aku akan merebusnya sebentar," kamu berbalik mencari cerek dan setelah menemukannya, mengisinya dengan air. Lalu, memanaskannya di kompor.


"Lalu apa lagi yang bisa kita kerjakan?" tanya Taemin yang tampak bersemangat.


"Mengayak tepung beras dengan saringan! Jadi aku atau kau yang akan melakukan ini?" kamu membalas dengan balik bertanya.


"Aku akan coba melakukannya," Taemin mengajukan diri dan menarik saringan kecil dari rak alat masak, "Apa yang harus aku lakukan?"


"Ayak saja tepung beras ketan itu pelan-pelan dan taruh di mangkok ini," kamu menaruh mangkok lumayan besar di hadapan Taemin.


"Apa kekuatanku tidak bisa melakukan itu?" tanyanya.


"Kecuali kamu bisa membedakan tepung yang masuk kriteria bisa dipakai atau tidak."


"Aku tidak paham. Baiklah, aku akan mengayaknya," Taemin menyerah pada tawarannya dan memilih mengayak tepung itu pelan-pelan.


"Tuangkan sedikit-sedikit saja dan hati-hati," kamu mengarahkan suamimu untuk menuangkan tepung ke saringan sedikit demi sedikit. Akan tetapi, sepertinya itu peringatan yang terlambat. Dia menuangkan tepung itu terlalu banyak sampai mengotori meja dapur kalian.


"Serius aku masih heran bagaimana kamu lebih rapi menggunakan kekuatan ajaibmu dari pada tangan langsung. Ah, aku tahu ini bakal terjadi. Ayak tepung itu dengan bantuan kekuatanmu sementara aku ...."


Wiiiing!


"Aku akan menuangkan air panas ke termos." Kamu menemukan pekerjaan lain setelah cerek berbunyi yang menunjukkan bahwa airnya sudah matang.


"Kau yakin tidak ingin bertukar pekerjaan?" tanya Taemin lagi.


"Tidak, aku bisa," jawabmu yakin sambil menuangkan air panas ke termos kaleng bergambar bunga itu dengan perlahan. Taemin kembali mengayak tepung beras.


Ding! Dong!


Bel rumah berbunyi. Kalian saling bertatapan bingung. Siapa yang datang berkunjung tanpa diundang ke rumah kalian?


"Biar aku yang membukakan pintunya," suamimu itu menyerahkan ayakan padamu dan memilih untuk menyambut tamu. Jadilah kamu pasrah mengayak sementara ia mengintip ke luar pintu. Ternyata salah satu tetangga kalian kemari lebih awal dari perkiraan, bahkan memakai setelan lengkap jas berwarna hitam dan dalamnya merah.


"Bajuku ...," dalam sekali jentikan jari, Taemin mengganti pakaian rumahannya menjadi jas berwarna aqua pearl, "Bagaimana bisa tetangga lebih siap dari kita?"


Ding! Dong!


"Tunggu, akan saya bukakan!" ia membuka pintu dengan tangannya, "Selamat datang ...."


"Saya Choi Minho, tetangga baru kalian. Selamat datang di daerah OddView ... err ...."


"Taemin, Lee Taemin," dengan mata yang membulat, Taemin menyambung perkataan tetangga baru kalian, "Silakan masuk, Minho hy- ssi."


"Terima kasih," Minho dengan sumringah masuk ke dalam rumah sederhana kalian. Taemin menutup pintu dan mengawasi tamu kalian hari ini.


"Silakan duduk di sofa ini," Taemin mempersilakan tamu kalian duduk di sofa ruang tamu.


"Apakah Anda tinggal sendirian di rumah sebesar ini?" tanya Minho.


"Oh, saya telah menikah dengan seorang perempuan, seorang manusia dan lucu. Pastinya juga bukan zombie," kata Taemin menjelaskan statusnya dengan sedikit lawakan yang tidak lucu karena Minho hanya tersenyum, bukannya tertawa.


"Di mana istrimu itu?" tanya Minho.


"Ah, dia di dapur. Tunggu sebentar," Taemin pergi ke dapur dan melihatmu sedang membuat bulatan-bulatan ggul tteok dan memasukan isiannya.


"Oh, yeobo, siapa yang datang?" tanyamu begitu melihat Taemin masuk ke ruang dapur.


"Seorang tetangga kita sudah datang ternyata. Dia menanyakan keberadaanmu. Aku akan mengurus dapur. Percayalah padaku, maksudku kekuatanku," pria itu memintamu keluar dapur dan menemui Minho.


"Tunggu," sekali lagi Taemin menjentikkan jari, kali ini targetnya adalah pakaianmu yang berubah menjadi dress formal dan tanganmu yang tadinya penuh tepung, kini bersih seluruhnya.


"Terima kasih," balasmu sebelum keluar.


"Nyonya Lee, senang bertemu dengan Anda. Selamat datang di OddView," Minho menjabat tanganmu dengan ramah.


"Terima kasih sambutan hangatnya, Tuan ...."


"Choi Minho."


"Ah, ya, Minho-ssi. Anda tinggal di rumah yang mana?" tanyamu sedikit penasaran.


"Tepat sebelah kiri rumah kalian."


"Oh, kos pria?"


"Saya yang punya kosnya," jawabnya bangga.


"Wah, itu usaha yang cukup menjanjikan," kamu memberikan pujian.


Ding! Dong! Ding! Dong!


Kali ini bel kembali berbunyi.


"Tunggu di sini sebentar," kamu pergi untuk membukakan pintu dan melihat siapa yang datang.


"Selamat siang, saya tetangga Anda di sebelah kiri, Lee Jinki. Selamat datang di OddView dan saya suka ayam, terutama yang digoreng," pria bersetelan merah yang memperkenalkan diri sebagai tetangga kalian tersenyum lebar dan mengulurkan tangan. Kamu menyambutnya dan tertawa kecil.


"Ah, ya, ayam gor ... maksud saya, Jinki-ssi. Silakan masuk dan duduk di sofa ruang tamu," kamu membiarkan tamu itu masuk sebelum menutup pintu.


"Rumah yang indah. Apa Anda tinggal sendiri, Nona?" tanya Jinki begitu masuk.


"Saya telah menikah dengan pria, seorang manusia dan tinggi. Juga bukan penyihir, sepertinya," kamu memperlihatkan cincin pernikahan kalian sebagai bukti.


"Oh, cincin yang bagus, Nyonya."


"Terima kasih, Jinki-ssi. Ah, sebentar, saya ke dapur dan mengambilkan kalian berdua sesuatu untuk di makan," kamu pergi ke dapur.


Di atas meja dapur, pemandangan tak terduga tersaji di sana. Ada kim-bugak, yubuchobap, dan maeun-dakbonggui di sana.


"Lee Taemin!"


"Aku tidak sengaja mengubah rumput laut kita jadi kim-bugak (rempeyek rumput laut), tahu kita jadi yubuchobap (tahu isi nasi berbumbu), dan sebagian ayam kita menjadi maeun-dakboggui (ayam barbekyu pedas)," ia menunduk merasa bersalah, terlihat sangat imut.


"Karena itu hasil sulapan ... apakah bisa dimakan?" kamu bertanya karena makanan-makanan itu terlalu bagus untuk jadi kenyataan.


"Aku coba maeun-dakboggui-nya," Taemin memakan hasil sulapannya sendiri. Ia beberapa kali mengedipkan mata, "Ini enak. Wah, aku tidak tahu aku bisa masak seenak ini."


"Ah, ya, benar. Mungkin kita bisa menghidangkan ini pada tamu kita, Minho-ssi."


"Dan juga Jinki-ssi," tambahmu sambil mengangkat piring berisi kim-bugak dan yubuchobap, "Bawa maeun-dakbonggui itu dengan hati-hati, Tuan Magic Hands Lee. Seorang dari dua tamu kita sangat menyukai ayam."


"Itu bagus," kata Taemin yang membuntutimu sambil membawa sepiring penuh maeun-dakbonggui.


"Kami kembali!" kamu menyapa dua tamu kalian yang terlihat sangat akrab sambil menaruh piring-piring yang ada di tanganmu ke atas meja ruang tamu.


"Dia tidak bercanda, suaminya memang tinggi," komentar Jinki saat melihat Taemin.


"Tetapi masih lebih tinggi Minho-ssi dari pada saya," balas Taemin sambil meletakkan piring yang berisi maeun-dakbonggui.


"Wah, sugguhan yang lumayan banyak," sahut Jinki terlihat senang dengan 3 piring makanan yang kalian bawa, "Ada ayam juga. Terima kasih banyak."


"Ini belum semuanya," sahut Taemin ramah, "Omong-omong kalian terlihat akrab."


"Tentu saja, kami tinggal satu atap," sahut Minho.


"Jinki-ssi salah satu penghuni di kos Anda, Minho-ssi?" tanyamu pelan.


"Ya," mereka menyahut bersamaan.


"Ah, tapi, bagaimana kalian bisa tahu kalau kami mengadakan acara syukuran kecil buat pindahan kami? Saya belum menyebar undangan," Taemin bertanya dengan hati-hati.


"Kami datang karena ...."


"Suara di kepala saya bilang, 'Kau punya tetangga baru, datanglah ke rumahnya,' " jelas Minho.


"Oh, suara kepala ... ya ... cukup aneh tetapi saya mengerti," kamu langsung melemparkan tatapan tajam ke Taemin dan suamimu itu hanya mengendikkan bahu.


Ding! Dong! Ding! Dong! Ding! Dong!


"Sebentar!" kamu berlari ke pintu untuk menyambut kemungkinan tamu selanjutnya.


"Selamat siang menuju sore, Tetangga Baru yang sepertinya punya selera fashion yang bagus. Saya Kim Kibum, tetangga kalian di sebelah kanan rumah. Kanan saya, bukan Anda," pria dengan setelan cokelat dan mengenakan baju dalam biru langit serta menenteng paper bag tersenyum melihatmu setelah melempar pujian, "Serasi dengan cincin Anda."


"Wah, terima kasih! Silakan masuk, Kibum-ssi," kamu mengantarkan tamu itu masuk dan mengarahkannya untuk duduk di ruang tamu bersama Minho dan Jinki.


"Kalian berdua kemari duluan?" Kibum kaget melihat mereka.


"Apa kalian serumah ... lagi?" tebak Taemin.


"Ya!" mereka menjawab serentak.


Ding! Dong!


"Aku punya firasat yang satu ini juga serumah," bisik Taemin pada dirimu.


"Aku akan membukakan pintu lagi. Berbaurlah dengan mereka, siapa tahu kalian cocok dan bisa membuat sebuah boy grup bersama," candamu sebelum kembali membukakan pintu.


"Cahaya bulan, seolah-olah akan tumpah, sudah pasti sekitarnya gelap. Anda seperti obor yang hampir meledak. Saya perlu belajar bagaimana bersinar seperti Anda. Jika saya melihat Anda, rasanya bagai dibutakan. Wahai tetangga baru yang sangat cantik bagai Juliette, bolehkah saya melawat?" ah, tetangga yang tak biasa untuk pasangan yang tak biasa, seperti sebuah puisi, kehidupanmu berima.


"Ya ... silakan," kamu mempersilakan pria berjas biru gelap itu masuk ke rumah.


"Anda tidak sedang menggoda istri saya 'kan?" tanya Taemin yang melihat pria itu berpuisi di depanmu.


"Santai saja, Taemin-ssi, dia hanya membacakan puisi karyanya. Dia lebih memilih menikahi musik dari pada manusia, tenang saja," Kibum membuat klarifikasi tentang kelakuan janggal tetangga keempatmu itu.


"Puisi yang bagus Tuan ...."


"Kim Jonghyun, Nyonya Rumah yang baik," pria itu tersenyum dan menjabat tanganmu.


"Senang berkenalan dengan Anda. Saya Lee Taemin," Taemin juga berjabat tangan dengan pria itu.


"Sepertinya sudah semua datang," komentar Jinki seiring Jonghyun duduk di sofa ruang tamu kalian.


"Sudah semuanya? Tetangga kami hanya 4?" kamu bertanya karena kondisi ini agak aneh.


"Itu benar Nyonya Lee," konfirmasi Jinki. Pasangan aneh, tinggal di sebelah tetangga yang aneh, di wilayah yang aneh, benar-benar berima.


"Nah, karena semuanya sudah ada di sini, saya memberikan ini pada kalian. Semoga kehidupan kalian cepat menjadi sejahtera dan berkelimpahan seperti api yang cepat menyala," Minho memperagakannya dengan menyalakan korek api yang badannya berasal logam tersebut sebelum memberikannya pada Taemin.


"Terima kasih atas doanya dan barangnya," kalian berterima kasih bersama setelah menerima barang itu. Tetapi sekilas kamu melihat Taemin memandang Minho tidak suka atau ... hanya perasaanmu saja?


"Ini lilin untuk kalian semoga rumah ini selalu diterangi oleh kemakmuran dan keberuntungan," Jinki menyerahkan satu pak lilin.


"Ini tisu toilet. Pasti kalian membutuhkannya. Semoga seperti tisu gulung ini, kemakmuran dan keberuntungan kalian tidak pernah habis," Kibum memberikan paper bag itu pada kalian.


"Dengan sabun ini, tidak hanya piring, sendok, atau peralatan dapur kalian yang bersih. Diharapkan ini mengingatkan agar hati kalian juga selalu bersih juga rejeki yang banyak bagaikan busa yang dihasilkan sabun," Jonghyun memberikan kalian satu pouch sabun cuci piring.


"Terima kasih kalian," sahut kalian bersamaan.


"Kami akan membawa ini ke belakang," kamu memasukkan lilin dan sabun ke dalam paper bag dan pergi ke belakang. Taemin mengikutimu. Sesampainya di dapur, kamu menaruh itu dan menghampiri ggul-tteok-mu yang terabaikan.


"Astaga, kita belum membuat hidangan utama dan pat shirutteok untuk mereka bawa pulang. Yeobo, bagaimana ini?" kamu mengkhawatirkan reputasi kalian di depan tetangga-tetangga baru kalian.


"Tenang, yeobo, aku akan mengusahakannya dalam waktu singkat. Mau hidangan utama apa?" tanyanya.


"Samgyetang juga boleh. Ah, yang penting kita tidak terlalu malu karena ketahuan belum siap," katamu pasrah.


"Baiklah, keluar dan hibur mereka. Aku akan menata meja untuk nama keluarga," Taemin mendorongmu keluar dapur dan kamu berjalan menuju tape player serta menekan tombol play.


"Suamiku akan menata meja. Dia melakukannya karena aku terlalu ceroboh. Tetapi sebelum makan, aku akan memberi hadiah pada kalian ...." Akan tetapi, baru saja musik penghantar 'Queen of The Night Magic Flute' mulai dan kau hendak membuka mulut, tiba-tiba kepala Taemin menyembul dari balik pintu dapur. Itu membuatmu terdistraksi.


"Yeobo, kau tidak bernyanyi soal api neraka membara dalam hati Queen of The Night yang meminta putrinya untuk membunuh Sarastro di sebuah acara syukuran kepindahan rumah 'kan?" interupsinya.


"Itu terlalu gelap ... kau benar." Saat kamu berniat untuk mengganti track-nya, musik instrumental 'Fruhlingsstimmen' sudah bermain.


Ini pasti ulah Taemin, pikirmu.


Seperti air yang mengalir, meski kamu tidak begitu mengingat kehidupan lamamu sebelum menikahi suamimu dan pindah ke OddView, untuk urusan bernyanyi ini, semuanya terasa seperti sebagian jiwamu.


"Die Lerche in blaue Höh entschwebt, der Tauwind weht so lau; sein wonniger milder Hauch belebt und küßt das Feld, die Au.


Der Frühling in holder Pracht erwacht, ah alle Pein zu End mag sein, alles Leid, entflohn ist es weit!" keempat tetangga baru kalian menonton pertunjukanmu dengan antusias sehingga benar-benar tidak peduli apa yang terjadi di belakang, terutama ketika  mangkok, sumpit, dan sendok berterbangan dari jendela dapur kalian. Kamu pun terus bernyanyi sambil memastikan semuanya berjalan dengan baik dan suamimu tidak menjatuhkan satu menu pun.


"Ah des Frühlings Stimmen klingen traut, ah ja, ah ja ah o süßer Laut,


ah ah ah ah ach ja!" kamu bernyanyi selama kurang lebih 7 menit. Mereka berempat memberikan standing applause juga tampak kagum. Kamu bisa bilang itu karena mulut Jinki terbuka lebar selama 3 menit.


"Makanan telah siap," begitu Taemin mengatakan hal tersebut, kami langsung menuju meja makan. Kamu terkagum karena ia menatanya dengan rapi dari sup, nasi, banchan (pendamping nasi), dan juga penutup mulut, ggul-tteok aqua pearl yang terlihat bagus.


Kamu duduk di sebelah Taemin dan memujinya, "Kerja bagus, Tuan Magic Hands Lee. Aku yakin hanya kimchinya yang bukan buatanmu."


"Ya, tetapi aku menatanya dengan bagus 'kan? Oh, ya, aku mendengarkan nyanyianmu dari dapur. Benar-benar seperti musim semi," Taemin balas melemparkan pujian. Tetangga kalian menonton dengan iri.


"Jadi ... apa kita akan duduk di sini untuk melihat kalian bermesraan agar kita yang masih belum berpasangan cemburu?" interupsi Kibum.


"Tidak, maaf. Ah, ya, silakan makan," suamimu membuka acara makan-makan. Kalian menjamu mereka sampai sore menuju malam. Saat mereka akan pulang, kamu memberikan mereka sekotak pat shirutteok yang tentunya hasil karya kekuatan ajaib Lee Taemin.


"Bagi ini dengan adil," pesanmu pada Jinki, dia yang tertua di antara mereka. Itulah yang kau tahu dari acara sederhana tadi.


"Baiklah, terima kasih!" kata Jinki bahagia.


"Terima kasih!" sambung Minho, Key, dan Jonghyun bersamaan. Kamu kembali ke dapur untuk mencuci piring, sementara Taemin mengantar mereka ke pintu.


Jinki, Key, Jonghyun kembali lebih dahulu. Akan tetapi Minho tinggal sedikit lebih lama untuk berbincang dengan Taemin.


"Perempuan itu, istrimu. Dia tidak seharusnya ada," kata Minho, "Api itu sudah membunuhnya saat kebakaran di gedung opera. Sadarlah."


"Apa maksudmu, Minho hyung?" tanya Taemin dengan nada sedikit tidak terima.


"Realitas palsu ini harus segera dihentikan," Minho mulai berkata lebih tegas, "Aku berkata ini sebagai kawanmu."


"Kawan? Aku tidak menyakiti siapa pun, hyung! Aku hanya ingin bahagia setelah mereka mengambil segalanya dariku. Menghentikan? Aku bahkan tidak tahu kapan ini semua terjadi," balas Taemin tak kalah sengit dengan nada rendah.


"Taemin-a, kamu tidak tahu betapa berbahayanya hal yang kau lakukan ini," tegas Minho, "meski begitu, kau tidak harus menjalani hidup seperti ini."


"Ini kehidupanku. Janganlah menjadi tetangga yang menyebalkan, hyung," kata Taemin ketus.


"Ini kehidupan kita bersama. Kau ...." kata-kata Minho langsung diputus oleh Taemin.


"Jika hyung tak suka ...," Taemin memiringkan kepalanya ke kanan, matanya bercahaya aqua pearl, kedua tangannya bekerja sama membuat paduan bola kekuatan berwarna sama dengan matanya.


"T ... Taemin-a," Minho berjalan mundur, namun Taemin tetap mendekatinya.


"Sebaiknya kau pergi dari sini!" bola kekuatan yang sebesar amarah pria tersebut saat ini dan menghantam Minho sangat kencang sampai ia keluar dari realitas milik Taemin, kembali ke realitas asli dengan baju ala 90-an yang tetap melekat di badannya.


Ia keluar dari realitas drama komedi keluarga milik orang yang selama ini sudah dianggapnya seperti adik sendiri, yang memancarkan gelombang elektromagnetik dan sungguh-sungguh bisa ditangkap oleh televisi lawas. Minho hanya bisa terkapar di rerumputan dan menatap langit malam realitas asli, ia tertawa getir. Sebegitukah kuat rasa rindu dan duka sampai Taemin melakukan semua ini?


Saat Taemin kembali masuk ke rumah dan menutup pintu, ia terkejut karena sesaat melihatmu seperti zombie.


"Yeobo?" kamu yang tidak tahu hanya memandangnya dengan heran. Hanya saja, ada hal yang tidak Taemin tahu. Kamu melihatnya mengusir Minho.


Ia tidak tahu sampai kamu beringsut mundur dan bertanya, "Siapa kau sebenarnya?"


"Tidak. Kau tidak boleh tahu soal itu." Dengan kekuatannya, Taemin memutar balik waktu dan membuat cabang alternatif akhir episode itu. Kalian duduk di sofa depan televisi bersama. Taemin melingkarkan tangannya di pinggangmu, dan kau menyandarkan kepala di pundaknya. Kamu melupakan kejadian terusirnya Minho, namun tidak dengan eksistensinya saat menyambut kalian.


"Hari yang berat menghadapi tetangga baru kita yang sedikit ... ya ... unik. Mari kita menyalakan televisi. Kau mau menonton apa, Tuan Magic Hands Lee?"


"Tayangan situasi komedi akan menghibur sepertinya." Setelah Taemin menjawab, kamu memencet remot televisi dan episode satu dari drama komedi keluarga kehidupan kalian hari ini, berakhir.