Dream Is An Alternate Universe

Dream Is An Alternate Universe
D-9



College student! Xiao Jun WayV dan Lucas WayV


Student! Pembaca


Older brother! Lucas WayV


⚠️ Mengandung pertukaran jiwa, manusia dan binatang


Sebuah semesta alternatif dimulai sekarang!


🎶


Wounds will heal in a few days.


Silence is more like your lonely cry.


(WayV - Face To Face)


🎶


Mungkin benar bahwasannya 'kata adalah doa'. Namun, ini jelas terlalu aneh dan menggelikan! Kamu hanya lelah belajar dan mengandaikan kehidupan sebagai binatang yang bebas, bukan literal berubah menjadi binatang. Terlebih lagi kamu menjadi anjing peliharaan pria yang sebenarnya tidak terlalu asing. Dia salah satu teman kakakmu, Lucas, karena rasanya kamu pernah melihatnya sekilas bersama kakakmu.


"Bella, sit down," pria itu memerintahmu dengan nama lain. Baiklah, jadi sekarang kamu bertukar jiwa dengan seekor anjing yang bernama Bella?


"Bella, apa kamu tidak mendengarku? Kamu tidak mau camilan?" pria itu menatapmu khawatir.


"Bella, apa kamu melihat hantu?" ia lagi-lagi meninterupsi pikiranmu. Lihat hantu apanya, kamu hanya sedang bingung dengan keadaanmu sekarang yang berada di tubuh anjing ini. Mana sembilan hari lagi adalah ujian masuk perguruan tinggi. Kalau kamu tidak bisa kembali ke badan semula, masa iya ikut ujian dalam bentuk seekor anjing?


Tidak lucu.


"Apa kamu sakit?" pertanyaan itu membuatmu menatapnya, setelah sebelum ini kamu melihat keluar jendela rumahnya dengan pikiran yang mengawang. Bagaimana harus menjawab ini? Semalam sebenarnya kamu pusing dan memutuskan untuk istirahat di kasur. Sekarang memang sudah tidak pusing lagi, malah lebih buruk, kebingungan.


"Tidak," katamu singkat yang keluar sebagai rengekan. Aish, ternyata sulit juga menjadi anjing, komunikasi kalian hanya satu arah. Kamu paham, pria itu tidak.


"Mungkin hanya mengantuk. Tidur saja, jangan buat keributan. Sleep," pria yang menjadi pemilik Bella mengacungkan jari telunjuknya ke lantai dan kata-kata 'sleep', oh, artinya tidur, kamu sudah mempelajari ini di sekolah dasar. Kamu yang terjebak di badan Bella pun memilih untuk menuruti perintahnya.


"No, Bella. Sleep in your own home," ia menunjuk sebuah kandang berbentuk rumah. Uh, padahal kamu berharap untuk tidak dikurung agar bisa kabur dan menemui badanmu. Soal jalan bisa dipikir nanti sambil jalan.


"Tidak mau," kata itu yang ingin kauucapkan secara tegas malah menjadi gonggongan kecil. Pria pemilik Bella mengernyit heran.


"Tidak biasanya kamu seperti ini. Bella, tidur di sana. There, sleep there, Bella," kamu mendengus dan tetap diam di tempatmu sekarang.


"Kamu bertingkah aneh, ya?" pria pemilik Bella itu menggendong serta mendekapmu, yang masih dalam badan Bella. Dengan badan itu pula kamu menggeliat dan memberontak. Ia segera mengangkatmu sejajar dengan wajah bingungnya yang ternyata tampan juga. Yah, setidaknya ada sisi baik dari kejadian aneh ini.


"Bella, aku tidak paham apa masalahmu hari ini. Kalau kamu merindukanku, aku hanya akan pergi kuliah sebentar. Aku akan kasih makanan yang banyak di kandangmu. Please obey me, Bella," pria itu memohon padamu. Sesuatu yang bahkan tidak kakakmu lakukan padamu. Karena merasa tergerak, akhirnya kamu tidak memberontak lagi dan memilih untuk diam. Pria itu menghela napas dan memasukkanmu ke kandang yang berbentuk seperti rumah-rumahan. Tidak lupa, ia mengunci pintu setelah memberimu semangkuk makanan anjing yang baunya unik.


Tok! Tok!


"Xiao Jun!" kamu mengenali suara itu. Kakakmu ternyata datang menjemput kawannya. Segera saja kamu berdiri dan mengibaskan ekor.


"Kak! Aku di sini! Lucas ge! Tolong adikmu ini!" tentu saja semuanya hanya menjadi gonggongan.


"Bella, remember, not right now," pria itu, yang ternyata bernama Xiao Jun, memperingatkanmu. Kamu mendengus karena itu. Pria itu kemudian mengambil tas dan membuka pintu.


"Ayo kita berangkat! Sampai nanti Bella sayang!" kakakmu melambaikan tangan dari pintu sebelum tertutup.


Sayang? Oh, kamu tidak tahu harus merasa cemburu atau senang mendengar kata itu dari kakakmu. Dia tidak pernah terang-terangan sayang padamu, tetapi dia bilang sayang pada seekor anjing. Kamu pikir, kamu boleh cemburu soal itu. Tanpa sepengetahuanmu di dalam mobil, Lucas dan XiaoJun sedang bertukar cerita.


"Aku dengar adikmu sakit," pria pemilik Bella itu memulai percakapan.


"Iya, dari semalam. Meski dia tidak bilang, tetapi aku tahu gerak-geriknya. Hanya saja pagi ini makin aneh, dia jadi seperti Bella," keluh Lucas.


"Hus, walau dia bertingkah menyebalkan dia tetap adikmu."


"Bukan begitu, maksudku, dia benar-benar seperti Bella yang suka sekali tidur dan makan. Oh, ya, dia jadi jarang berbicara hanya mengeluarkan beberapa rintihan ... setidaknya dia tidak mengonggong karena kalau begitu aku bisa-bisa curiga dia tukar jiwa sungguhan sama Bella, Ge. Namun, aku jadi khawatir kalau dia sakit parah."


Tentu saja mereka tidak tahu kalau kamu sungguh-sungguh bertukar jiwa dengan Bella. Kamu dan Bella tidak bisa mengatakannya langsung. Hanya ada satu cara, yaitu kabur dari rumah ini dan menemui dirimu yang semoga saja tidak berperilaku seperti anjing. Keluar dari kandang ini rupanya bukan perkara mudah. Jarak dari celah jendela dan kunci luar tidak bisa kamu jangkau.


"Uh, sial. Mengapa jauh sekali sih?" rutukmu kesal karena tak kunjung dapat menggapai kunci pintu luar.


Duk! Gluduk.


Suara sedikit ribut di luar membuatmu penasaran dan mengintip melalui jendela. Seekor kucing bercorak hitam dan putih ternyata masuk ke rumah Xiao Jun tanpa punya rasa malu. Melihat itu membuat insting anjingmu bekerja. Haruskah menggonggong? Atau diam saja karena kucing itu sepertinya sangat kenal rumah ini.


"Hei kucing!" akhirnya kamu memilih untuk memanggilnya melalui jendela.


"Tidak biasanya memanggilku seperti itu," kucing itu mengeong, tetapi anehnya, kamu mengerti maksudnya.


Apa yang sebenarnya terjadi dengan pikiranmu?


"Apa ... aku kenal kamu?" tanyaku sedikit bingung.


"Kau bercanda 'kan, Bel? Masa kamu lupa kucing paling tampan di dunia ini, Louis?" kamu sedikit terkejut ketika mendengar kucing itu berkata dengan penuh percaya diri. Setidaknya kamu kini tahu, tidak hanya manusia saja yang bisa over percaya diri.


"O-oh, Louis, bisa keluarkan diriku dari sini?" kamu meminta tolong pada kucing siamese itu.


"Itu tujuanku kemari!"


Klak!


Louis dengan mudah membuka kunci pintu kandang Bella dan kamu segera keluar.


"Terima kasih banyak. Wah, sekarang aku bisa pulang," dengan sekuat tenaga, kamu keluar dari rumah itu melalui celah pintu khusus untuk hewan yang sebelumnya di lalui oleh Louis. Sekarang kamu sudah berada di luar rumah Xiao Jun.


Lalu apa?


Semuanya terasa asing. Bagaimana bisa pulang ke rumahmu sendiri?


"Pertama, sebenarnya aku bukan Bella. Terlalu rumit buat dijelaskan. Kedua, 9 hari lagi aku harus menghadapi ujian. Terima kasih Louis, aku benar-benar harus bergegas," kamu melangkahkan kaki-kaki kecil itu ke jalanan, melihat jajaran rumah itu dengan lebih luas tanpa terhalang pagar apa pun. Saat itu juga kamu menyadari, sebenarnya lingkungan ini tidak terlalu asing juga.


"Huh, hanya tetangga rupanya," katamu dengan helaan napas lega. Setidaknya kamu bisa bertemu badanmu dan jiwa Bella.


"Hei, Bro. Meong ... ada apa?" Leon yang baru saja keluar rumah mendatangi Louis yang masih mencerna perkataanmu.


"Bella aneh sekali. Benar-benar aneh. Sudah seharusnya pemilik dia memeriksakannya ke dokter hewan ... meow," balas Louis sedikit keras agar kamu bisa mendengarnya.


"Bella memang selalu aneh, tahu," balas Leon. Namun, kamu tidak peduli dan terus berjalan ke bagian kanan rumah Bella karena kamu sudah ingat bagaimana caranya pulang dari tempat ini.


Sesampainya di depan pintu rumahmu, kamu hanya bisa terdiam karena tidak ada celah khusus hewan seperti di rumah yang tadi. Bagaimana pun juga, kamu harus masuk rumah dan bertemu dirimu.


"Baiklah, hanya ada satu jalan kalau mau menyusup dengan tubuh anjing ini," monologmu sambil berjalan menuju pintu yang menghubungkan bagian taman dengan depan kamarmu. Itu selalu terbuka, jarang di perhatikan bahkan oleh ibumu. Pintu kamarmu adalah masalah juga. Tertutup rapat, susah dilalui.


"Sepertinya aku harus menunggu," kamu memutuskan untuk diam dan duduk di samping pintu sambil memikirkan apa yang akan terjadi setelah ini. Jika kalian bertemu, tidak ada jaminan juga bahwa jiwa kalian akan secara instan kembali. Kalau tidak berusaha, akan lebih salah lagi. Tidak mungkin mengharap semuanya hanya mimpi karena kamu benar-benar merasakan ini semua dengan inderamu.


"Ya Tuhan, mungkin aku memang berpikir secara keterlaluan. Segalanya sudah sesuai garisnya, tidak bisa ditukar. Kalau bisa pun, segalanya akan kacau. Seperti domino, satu roboh, yang lain terkena efeknya. Bagaimana pun juga aku harus kembali. Bella pasti kesulitan dengan tubuh manusianya sekarang," itulah yang kamu katakan di dalam hati, setengah berdoa agar kamu bisa kembali ke badanmu.


Klak!


"Ayo makan dahulu. Bisa bangun 'kan?" suara ibumu membuat dirimu kembali bangkit. Pintu sudah terbuka, tinggal menunggu ibumu mengajak Bella keluar.


"Hmmm."


"Astaga, hati-hati," tepat saat ibumu fokus menuntun tubuh dirimu yang memiliki jiwa Bella, kamu menyusup masuk kamar dan bersembunyi sampai Bella kembali. Untuk sekarang lebih baik tidur. Benar-benar perjalanan yang melelahkan.


Klak! Krieet....


Suara dari pintu itu membuatmu terbangun dan mengintip dari bawah tempat tidur. Kamu menunggu ibu keluar.


"Memang seharusnya kamu beristirahat setelah belajar keras bahkan saat mulai sakit kemarin. Istirahat sehari tidak apa, Nak."


Drap! Drap! Krieet.... Klak!


Pintu pun tertutup, ini saatnya.


"Bella, Bella," aku memanggilnya dengan pelan. Ia tetap tidur. Aish, dia benar-benar berat kepala. Untuk membangunkan dia, maka aku harus setidaknya meraih tubuhnya. Untung saja badan Bella punya kaki-kaki yang panjang. Dengan kaki tersebut, kamu mencoba membangunkannya.


"Bangun Bella, aku tahu kamu tidak mau ada di badanku," kamu meraih tangannya dengan kakimu. Itu membuatnya sedikit terbangun dan melihatmu.


"Bagus Bella."


Sekarang apa? Dia sudah bangun lalu apa? Tidak ada yang terjadi, kalian hanya saling bertatapan dalam ketenangan. Keadaan ini membuatmu ingin menangis. Namun perlahan, Bella yang berada dalam tubuhmu mengangkat dirimu dan memelukmu dalam tidur. Diam-diam ia juga menangis.


"Semoga kita bisa kembali seperti semula. Semoga


...," katamu sebelum menyerah dan tertidur.


Tanpa kamu ketahui, Lucas dan Xiao Jun yang sudah kembali dari kuliah mereka begitu bingung mendapati kandang Bella kosong.


"Apa dia pergi main lagi sama Louis dan Leon?" tanya Lucas.


"Tidak, aku tadi melihat mereka berdua. Lagi pula, biasanya kalau mereka main akan berujung Bella ditinggal kabur mereka. Begitulah kucing dan anjing," balas Xiao Jun.


"Hm, benar juga. Kita cari ke sekitar, dia tidak mungkin pergi jauh. Naik mobilku."


"Sudah tidur lagi? Setidaknya minum obat dulu," ibu yang masuk ke kamar lagi membuat dirimu terbangun. Benar-benar terasa segar dan sehat karena aku kembali ke badanmu semula!


"Astaga!" aku terkejut karena Bella masih kamu peluk. Anjing itu bangun dan menatapmu dengan mata berbinar.


"Ada anjing? Anjing siapa ini!" ibumu jadi ikut kaget juga, "tunggu, kakakmu mengapa belum pulang juga? Aku akan telepon untuk mencarikan anjing ini pemiliknya." Sekarang ibumu keluar kamar. Kamu hanya berdua dengan Bella.


"Anjing malang, tidak enak bukan menjadi diriku? Tidak, aku juga tidak terlalu suka menjadi anjing apalagi di saat seperti ini. Kamu pasti juga tidak suka menjadi manusia karena tidak cocok, hm? Baiklah saatnya kamu pulang dan aku belajar lagi," kamu beranjak dari tempat tidur sambil menggendong Bella, "Lumayan berat ternyata."


Klak!


"Ibu, ada anjing di kamar adikku? Bagaimana bisa?" tanya Lucas begitu masuk ke rumah kalian.


"Ibu benar-benar tidak tahu."


"Oh, hai, Ge. Xiao Jun Ge, ini Bella 'kan? Anjingmu," kamu menyapa kakakmu dan Xiao Jun sambil menunjukkan Bella.


"Benar itu Bella! Tunggu, bagaimana kanu bisa tahu?" balas Xiao Jun agak bingung.


"Hanya tahu saja ... ini," kamu menyerahkan anjing itu dengan hati-hati pada kawan kakakmu itu.


"Huh, aku akan memarahinya nanti di rumah. Maaf merepotkan," pria itu menunduk, "Aku pulang dulu. Terima kasih bantuannya." Xiao Jun pun pulang.


"Kau ini habis sakit punya kekuatan cenayang apa gimana sih? Aku tidak pernah kasih tahu nama temanku, bahkan peliharaannya," Lucas menyanyaimu dengan penuh keheranan.


"Yah, anggap saja suatu keajaiban. Karena aku sudah sembuh, aku akan belajar lagi. Sudah cukup istirahatnya," kamu berjalan kembali ke kamar dan bersiap untuk berkutat dengan kumpulan soal.


"Kali ini kamu tidak mengeluh ingin jadi anjing 'kan? Apalagi setelah melihat Bella ...."


"Tidak, Ge. Aku kapok."


"Baiklah, aku selalu mendoakanmu berhasil," seru Lucas sebelum kamu menutup pintu.


"Terima kasih, Lucas Ge."


"Aku sayang kamu, adikku!"


"Aku tahu."