Dream Is An Alternate Universe

Dream Is An Alternate Universe
First Fight



Teacher Fairy! BoA, Taeyeon SNSD, Dana CJSH.


Full-fledged Fairy! Amber f(x), Kyrstal f(x), Luna f(x), Seulgi Red Velvet, Yeri Red Velvet.


New Fairy! aespa dan pembaca.


Head master of Fairies School! Bada S.E.S


Witch! Jang Yoon Ju (ESteem Model)


(Terinspirasi berat dari mimpi yang seperti Winx Club)


Sebuah semesta alternatif dimulai sekarang!



🎶


I can’t lose against you


(aespa - Black Mamba)


🎶


"Semuanya diharap selalu hati-hati dan waspada dengan kemunculan The Great Black Mamba di hutan Data. Beberapa hewan peri dan juga pohon data dilaporkan telah ditelan olehnya. Ini akan menjadi kewenangan pada guru dan murid kelas atas untuk menangani makhluk ini. Para siswa baru dimohon untuk tidak mendekat ke hutan sementara ini. Mohon menjadi perhatian kalian, terima kasih," Kepala Sekolah Peri, Bada, memberi pengumuman kepada semua peri yang bersekolah di sana. Termasuk kamu dan keempat teman satu asramamu yang baru saja bertemu satu bulan lalu.


"Oh, aku baru mendengar soal itu. Makhluk yang sudah lama tidak terlihat ... bisa bangkit lagi?" tanyamu pada mereka.


"Itu terjadi karena ada suatu kekuatan gelap yang membangkitkannya," Winter menjawab pertanyaanmu.


"Kekuatan gelap? Asalnya dari mana? Penyihir?" karena masih penasaran, kamu bertanya lagi.


"Seorang penyihir penguasa Danau Kebencian. Hanya dia yang bisa membangkitkan makhluk seperti itu," kini Karina yang menjawab.


"Ah, sungguh, menambah pekerjaan saja," gerutu Giselle, "Apa yang dia inginkan dari hutan kita?"


"ae-Bada! ae-Bada! Halo?" bentuk virtual dari sang kepala sekolah yang baru saja dipanggil untuk memberi laporan soal keadaan dunia virtual mereka yang terhubung dengan Hutan Data, Kwangya, tiba-tiba saja menghilang dari layar dan digantikan oleh glitch yang memenuhi layar.


"Tidak biasanya terjadi seperti ini," komentar Ning-Ning, "Seharusnya koneksi selalu stabil."


"Anak-anak, kembalilah ke asrama kalian. Sekarang," wajah ketakutan bahkan tampak di salah satu guru kalian, BoA.


"Para peri dewasa, beberapa grup lindungi asrama peri baru. Laporkan jika ada ae yang menghilang lagi," guru Dana berpesan pada beberapa peri dewasa.


"Kalian berlima, ikuti kami," seorang peri dewasa, Seulgi, mengarahkan kami untuk meninggalkan aula.


"Apa yang terjadi sebenarnya?" kamu yang notabenenya memang orang baru di dunia Technomagic, benar-benar tidak mengerti dengan semua ini. Selagi berlari, Seulgi menjelaskan semua keadaan bahaya ini padamu.


"Saat ae, versi avatar kita hilang dari layar seperti itu, artinya ada gangguan yang mendekati sekolah kita. Sampai asrama pastikan ae kalian masih bisa sykned in," setelah Seulgi menjelaskan, kamu merinding, yang barusan kamu lihat adalah sebuah ancaman nyata dan yang pertama mengalami itu adalah sang Kepala Sekolah. Jadi tidak mustahil kalau nantinya ae kalian juga menghilang.


"Ah, ae-Amber sudah synk-out paksa. Lebih baik energi buruk itu tidak menyentuh sulur-kabel punya anak-anak baru yang lebih dekat ke sekolah," seorang kakak tingkat kalian terlihat kesal dan menutup gawainya dengan geram, "Hei, Krystal, bagaimana punyamu?"


"Untunglah masih ... Oh! Tunggu!"


"Keadaan benar-benar kacau," bisik Karina setelah mendengar percakapan itu secara sekilas.


"Kalian penghuni lorong Grayi, benar?" kakak kelasmu itu kembali memastikan kamar asrama kalian.


"Benar, kami yang menghuni ruangan 07," konfirmasi Karina.


"Masuklah, jangan keluar kecuali sekolah meminta bantuan. Para guru sedang memperkuat pelindung dan berjaga di luar. Kalau ada sesuatu yang kalian perlukan di luar, katakan saja," Seulgi tersenyum dan membuat kalian tenang.


"Baik, senior. Terima kasih."


Setelah berkata begitu bersamaan, kalian masuk ke asrama dan menutup pintu.


"Yang harus dilakukan pertama ... cek ae kalian," Karina mengingatkan kalian untuk mengecek keadaan kembaran virtual.


"ae-Winter, bangunlah. Kau masih di sana?" Winter mengetuk gawai cermin pintarnya kecil. Setelah kabur beberapa detik, cermin tersebut memperlihatkan Winter dengan pakaian merah muda dan rambut pirang.


"Ada apa Winter? Apa ini terkait serangan itu? Semua ae dipanggil bersamaan,” tanyanya.


"Ya, hati-hatilah."


Di saat yang bersamaan, Giselle, Ning-Ning, Karina, juga dirimu memanggil ae masing-masing melalui perangkat yang kalian kuasai. Kamu melalui ponsel pintar.


"Sungguh aku bersyukur kita masih bisa terhubung. Hati-hati dengan sesuatu yang mencurigakan di Kwangya," katamu pada versi ae-mu.


"Itu pasti. Tenang saja." Setelah kamu memastikan bahwa ae-mu masih aman, kamu hendak bertanya pada temanmu yang lain, namun suara teriakan yang tertahan dari luar kamar membuatmu urung dan bergabung dengan mereka untuk melihat keadaan di luar.


"Ada apa?" tanya kalian serempak pada Seulgi.


"ae-ku barusan synk-out secara paksa dan meninggalkan glitch. Aku hanya kaget dan ... itu artinya energi buruk yang di bawa oleh The Great Black Mamba semakin dekat. Kunci kamar kalian untuk sementara. Jika bantuan dibutuhkan aku akan mengetok pintu kalian," secara cepat, Seulgi mengubah sosoknya menjadi peri dewasa dengan sayap yang besar dan menyerupai kupu-kupu beserta pakaiannya yang berwarna jingga gemerlapan. Benar-benar cantik. Saat itu kamu juga ingin cepat menjadi peri yang seutuhnya.


Sayangnya, karena baru sebulan kamu mengenal dunia ini, berubah menjadi peri saja kamu belum mampu. Ah, sungguh malu rasanya.


"Baiklah, Kak." Karina kembali menutup pintu dan kali ini menguncinya.


"Oh! Teman-teman, lihat ini!" Ning-Ning tiba-tiba memanggil kalian dari depan komputernya yang kini dipenuhi beberapa pop-up.


"Itu seperti virus pop-up," kamu berkomentar. Tak lama berselang, gempa kecil menggoyangkan gedung sekolah asrama kalian. Kalian berlima memilih berlindung dibawah meja komputer yang besar.


"Sepertinya ular rasaksa itu mendekat," komentar Giselle. Gempa pun berhenti, tetapi suara menggelegar menantang kalian.


"Berlututlah pada kekuasaan kebencian wahai peri Technomagic! Kalian hanyalah serangga tanpa kekuatan sungai semangat. Para pengguna Kwangya lebih suka menuliskan hujatan dibandingkan semangat baik, kekuatanku melebihi sebelumnya," sosok penyihir dengan pakaian dan tiara hitam dengan aksen emas, berdiri di atas kepala ular mamba hitam rasaksa. Kalian melihat dari jendela asrama.


"Ah, benar. Semua yang terjadi di Kwangya, manusia biasa menyebutnya internet, terekam di danau, jika itu kejahatan, dan di sungai, jika itu kebaikan," kamu mencoba mengingat pelajaranmu tentang sejarah hutan Data dan sekitarnya.


"Ya, sayangnya sungai kebaikan beberapa hari belakangan hampir mengering, berbeda dengan danau  kejahatan serta kebencian yang semakin hitam dan meluap," sambung Giselle.


"Seandainya kaum manusia di Bumi, tempatku berasal, sadar soal ini," sesalmu.


"Tidak hanya Bumi, warga Technomagic sendiri pun ada yang tidak menyadari ini dan hanya menganggap semuanya mitos," Giselle membalas lalu mendengus kesal.


"Perangkat kalian yang masih saling terhubung akan mati lambat laun karena worm yang kusebar, haha. Tak lama lagi, seluruh Technomagic sektor peri akan berada di tanganku!"


"Teman-teman, matikan gawai kalian. Jangan saling terhubung melalui nirkabel. Jangan sampai terinfeksi worm," Ning-Ning yang memang jago dalam teknologi memberi instruksi pada kalian. Dengan cepat, kamu mematikan ponsel pintarmu, begitu juga dengan Karina, Giselle, dan Winter. Ning-Ning hanya pasrah karena komputernya sudah terinfeksi dan tidak bisa keluar dari situ.


Tok! Tok! Tok!


Kini kalian langsung berlari ke pintu dan membukanya. Itu tanda dari senior Seulgi yang meminta bantuan.


"Karina, Giselle, Winter dan Ning-Ning, kalian cepat ke halaman sekolah dan berubahlah menjadi peri. Ah, maaf untukmu, guru bilang kamu dalam perhatian khusus karena belum menemukan bentuk transformasi peri. Kamu lebih aman di dalam sini," kata senior Seulgi. Alhasil, kamu hanya dapat melihat ke 4 teman satu asramamu berubah menjadi peri, walau sayap mereka bukanlah yang seperti dimiliki senior Seulgi, itu berhasil membuatmu sedikit sedih.


Karina nampak cantik dengan pakaian dan sayap kecil berwarna biru. Ning-Ning dengan warna ungu, Winter merah muda, dan Giselle merah dengan beberapa aksen putih.


"Semoga kalian berhasil, maaf belum bisa bantu," bisikmu pada ke empat kawanmu.


"Keselamatan yang utama," kata Karina sebelum mereka terbang bersama Seulgi dan meninggalkanmu di asrama.


"Aku akan menjagamu," senior Yeri datang sebagai gantinya.


Kamu pun berakhir menonton pertarungan itu bersama senior Yeri. Semuanya berjuang dengan kekuatan yang mereka miliki. Para murid junior beserta beberapa guru serta kepala sekolah memperkuat perisai pelindung yang mampu dirusak oleh serangan si Penyihir dan mamba hitamnya. Para peri senior dan guru berada di luar perisai untuk melenyapkan ular-ular kecil yang mencari celah masuk ke sekolah kalian.


Karenanya kamu merasa buruk karena tidak berguna.


"Ah, aku merasa buruk karena hanya menonton saja," kamu mengatakan itu dengan jujur, "Apa senior tidak merasa begitu? Aku jadi beban saja."


"Tidak apa, ini belum saatnya untukmu. Aku sudah terbiasa begini bersama dengan guru penyembuh. Memang tugasku berada di sini," jawab senior Yeri.


Tok! Tok! Tok!


"Yeri, kamu dibutuhkan sekarang. Ular-ular kecil itu hampir sama bahayanya dengan yang besar ternyata," senior Luna membuka pintu asramanya dan memanggil Yeri.


"Baiklah. Kau tetap di sini, jangan pergi ke mana-mana," pesan senior Yeri padamu. Kamu mengangguk sebagai tanda kepatuhan.


Hujan hitam mulai turun dan sepanjang kamu tahu, itu melemahkan sihir peri. Dari balik kaca, kamu melihat pelindung sihir  mulai memudar karena kurang kuat.


"Apa kita akan menang?" gumammu. Tiba-tiba kamu melihat seorang peri senior terjatuh di depan matamu. Secara spontan, kamu menggunakan kekuatanmu untuk membuat gelembung yang akan menangkapnya sebelum mencapai lantai 2 dengan cara menempelkan tanganmu ke kaca.


Itu berhasil, peri itu sekarang tertangkap di dalam gelembung cahaya!


Karena itu, kamu pun keluar dari asramamu yang ada di lantai ke 3 dan menuju lantai dasar.


Kamu mencari senior Yeri yang berada di ruang kesehatan.


"Senior Yeri! Ada seseorang yang butuh bantuan di luar!" teriakmu.


"Astaga, kau ... baiklah, terima kasih bantuannya. Kembalilah," sahut Yeri sambil berlari keluar. Sementara kamu yang berniat kembali, melihat lewat pintu keluar, Karina dalam bahaya!


Karena hanya ada kamu yang memperhatikan, peri-peri lain yang mebentuk lingkaran sedang berfokus, kamu berlari dan membuat perisai kecil untuk melindungi kawan satu asramamu dari ular yang jatuh dari langit-langit. Sekalian juga, kamu membuat penutup mulut untuk ular itu agar bisa kamu injak kepalanya tanpa mengigitmu.


Sialnya bukan hanya satu! Banyak ular berjatuhan dari langit, hujan hitam itu buka air, itu ular!


Kamu menembakkan penutup mulut pada ular-ular itu, namun terlalu banyak. Kekuatan penyihir tersebut tidak ada apa-apanya di bandingkan seluruh peri di sini. The Great Black Mamba terus menghantam perisai kekuatan mereka. Hanya kekuatan kebaikan yang bisa membantu kalian dan itu bisa didapatkan dari orang yang menulis sesuatu yang baik, namun saat ini semua gawai di jaringan ini punya potensi terkena worm.


Bagaimana dengan gawai yang di Bumi? Hanya jaringan Technomagic 'kan?


Kamu dengan cepat membuat lingkaran dengan jarimu untuk membuat cermin yang memperlihatkan Bumi. Ah, ternyata itu juga menyerang Bumi.


"Baiklah, aku akan merelakan gawaiku kalau perlu," kamu kembali ke lobi sekolah dan mengeluarkan ponselmu. Kali ini kamu menuju ke media sosial Bumi, Twitter dan mengetikkan sesuatu.


Karena komentar-komentar jahat warganet, aku dan teman-temanku harus berjuang untuk bangkit lagi. Beri semangat buat teman-temanku, mereka akan sangat senang melihatnya. #MelawanPenyihirKebencian


Kamu mengirim tweet itu dan menunggu respon baik, bukanya jahat. Tentu saja kamu tidak bisa menyertakan foto karena ... mereka malah akan mengolok-oloknya.


Setelah itu, kamu meloncati pagar sekolah, kemudian berlari menuju Sungai Kebaikan yang berada di belakang sekolah kalian.


Memang masih ada air yang menggenang, tetapi, sungai itu tidak mengalir deras. Kalian membutuhkan aliran kebaikan yang deras.


"Kumohon katakan sesuatu dengan ikhlas demi teman-temanku," kamu memohon sambil menatap ponselmu yang lambat laun dipenuhi pop up.


Zap!


"Apa yang kau lakukan peri kecil?" sebuah gelombang cahaya hitam membuat ponselmu jatuh ke sungai dan terbawa aliran yang mulai jadi deras. Penyihir Kebencian mengusikmu dari jarak yang dekat. Tanpa kata, ia mengurungmu dalam bola hitam pekat yang menyebabkan kamu tidak bisa melihat luar juga mengeluarkan kekuatan. Hanya tawa jahatnya yang bisa kamu dengar juga aliran sungai yang perlahan menjadi deras.


Kini kamu memejamkan mata, memfokuskan diri pada semua yang terjadi hari ini. Perang, serangan Penyihir Kebencian dan The Great Black Mamba, ponselmu yang terbawa aliran arus sungai, juga usaha yang kamu serta para peri lakukan.


Aliran sungai kini selaras dengan aliran energi baik di dalam dirimu. Tanpa kamu sadari, kurungan hitam pekat kini menjadi bercahaya dan perlahan lenyap bersama transformasimu menjadi peri tingkat pertama.


Kini kamu adalah peri! Itu yang kamu sadari setelah membuka mata. Pakaian yang berkilau dan sepasang sayap kecil. Juga jangan lupakan kekuatanmu yang lebih dari semula. Dengan penuh percaya diri, kamu kembali ke sekolah dan di sambut oleh senior Yeri.


"Wah, sekarang kamu menemukan bentuk perimu. Lalu apa? Punya ide?"


"Sungai kebaikan sedang deras-derasnya, dibandingkan membuat lingkaran pertahanan, akan lebih baik kalau kita menyatukan kekuatan dan menyerang," kamu memberi saran.


"Itu bagus, aku akan memberi tahu pada Kepala Sekolah Bada lewat telepati," Yeri pun mengirim telepati pada sang kepala sekolah dan juga menerima balasanya.


"Ketika lingkaran terbuka, ada peluang besar serangan ditujukan pada kita. Sebaiknya langsung bergabung dengan lingkaran. Kepala Sekolah akan mengubahnya jadi serangan. Ayo." Kalian berdua berlari ke lapangan dan berdiri di luar lingkaran. Beberapa peri yang tadinya menyerang, kini turun dan bergabung dengan lingkaran. Kamu kini sudah berpegangan tangan di antara Winter dan Gisselle.


Begitu lingkaran kembali lengkap, Kepa Sekolah Bada berseru, "Satukan kekuatan. Serangan cahaya kebaikan para peri. Asal sungai Kebaikan. Tujuan Penyihir Kebencian beserta kaki tangannya!" Sebuah cahaya yang sekarang menjelma menjadi naga putih langsung menelan The Great Black Mamba beserta Penyihir Kebencian.


Bum!


Ledakan gabungan kekuatan peri membuat kekelaman pudar dan semuanya kembali seperti semula. Para peri serentak terduduk di tanah karena kelelahan, namun mereka tersenyum. Jelas karena mereka berhasil memenangkan pertempuran ini.


"Kita menang! Kita menang! Bahkan lebih baik lagi! Kawa satu asrama kita sudah menemukan bentuk perinya!" sorak Giselle yang duduk di sebelahmu senang.


"Wah, itu keren! Bagaimana kamu mendapatkannya?" tanya Karina.


"Aku harus sedikit berkorban," jawabmu singkat.


"Ceritakan saja semuanya! Jangan malu-malu. Pasti ada sesuatu yang keren," tambah Ning-Ning.


"Uh, ya, ponselku terjatuh di sungai Kebaikan karena ulah penyihir itu. Untungnya itu berhasil menyelamatkan kalian," kamu bercerita.


"Apakah itu artinya kamu tidak bisa terhubung dengan ae-mu lagi? Ponselmu hilang," Winter membuat raut khawatir.


"Ah, aku harap ada cara lain. Tetapi, aku melakukannya dengan ikhlas."


"Senior Yeri, terima kasih banyak atas sarannya," Kepala Sekolah Bada mendatangi Yeri yang baru saja menyimpan wujud perinya.


"Kepala Sekolah, itu bukanlah ide saya. Anak baru dari Bumi itu yang memberi ide dan saya yang menyampaikannya," jawab Yeri.


"Oh, kita harus berterima kasih padanya." Bada pun berjalan ke arahmu yang sedang mengistirahatkan diri bersama ke empat kawanmu di lapangan.


"Peri Muda dari Bumi, terima kasih atas bantuan idenya. Saya sendiri sungguh tak berpikir cara itu. Apakah ada keinginan yang ingin kau wujudkan?" tanya Bada padamu yang cepat-cepat berdiri.


"Itu sudah menjadi tugas saya sebagai peri, untuk melindungi dunia ini. Hal yang saya ingin 'kan ... sepertinya tidak ada," jawabmu sambil menunduk.


"Maaf, Kepala Sekolah Bada, dia baru saja kehilangan gawai. Itu artinya, dia tidak dapat menghubungi ae-nya," interupsi Karina.


"Gawainya dijatuhkan oleh Penyihir Kebencian ke sungai Kebaikan," tambah Winter.


"Itu terjadi saat dia mencoba membantu kita," kata Giselle.


"Jadi, dia sangat butuh gawai baru. Kepala Sekolah Bada," tutup Ning-Ning.


"Wah, persahabatan kalian erat sekali. Baiklah, di mana ruang asrama kalian?" tanya Bada. Setelah itu, kalian menuntun sang Kepala Sekolah ke asrama tempatmu tinggal. Sesampainya di sana, Bada merapal mantera dan membuat sebuah gawai spesial untukmu.


"Holo-phone, itu berbasis hologram dan terbatas, hanya untukmu," kata Kepala Sekolah Bada sembari tersenyum kepadamu.


"Wah, terima kasih banyak, Kepala Sekolah! Ini benar-benar akan berguna bagi saya," kamu menunduk dan berterima kasih.


"Sama-sama. Belajarlah dengan keras dan tahun depan kalian akan mendapat transformasi Peri Dewasa. Aku melihat potensi besar dalam diri kalian."


Pertarungan pertamamu sebagai peri berbuah manis bagai sektor peri, juga dirimu. Walau harus mengorbankan sesuatu terlebih dahulu.


"Wah, sepertinya aku juga harus membuat tweet terima kasih untuk para warganet. Karena ... mereka berhasil membuat kebaikan dari kata-kata."