
Hacker! Key SHINee
Parliament member! Pembaca
Pairing! Key SHINee dan pembaca
Sebuah semesta alternatif dimulai sekarang!
...
...
...🎶...
...I’m gonna be your light...
...Don’t hurt anymore...
...I will live for you, for us....
...(Key SHINee - I Will Fight)...
...🎶...
"Aku rasa kamu benar Key. Oh, aku heran mengapa kamu selalu benar sejauh ini. Aku tidak bisa tahan dengan mereka. Aku jijik!" kamu memuntahkan semua kekesalanmu pada kekasihmu yang duduk dengan santainya di sofa ruang tamunya. Ia terlihat seperti menikmati kemenangan.
"Orang sepertimu memang susah bertahan. Terlalu baik. Aku sudah bilang, berdosalah sedikit agar bisa masuk lingkaran mereka dan menghancurkan dari dalam. Hatimu memang sebersih itu," ia berkata dengan ringan dan tersenyum mengejek.
"Terkadang aku heran kau kekasihku atau lawanku. Argh! Sekarang harus apa? Aku seorang independen tanpa partai sekarang dikucilkan di komisiku sendiri. Bagaimana bisa suaraku terdengar?" kali ini bukan hanya duduk, kamu merebahkan diri.
"Jadilah seperti Shim Suryeon."
"Maaf, siapa? Apa dia saudaranya Shim 'Choikang' Changmin?" kamu yang tidak terhubung dengan pembicaraan Key langsung menatapnya bingung.
"Lihat, aku sekarang kasihan pada dirimu yang kerja terlalu keras hanya untuk ditindas. Hampir semua orang tahu drama itu dan aku tebak kamu tidak punya waktu untuk itu. Bahkan menghubungiku pun jarang," ia membuat wajah sedih yang berganti menjadi kesal seiring perkataannya.
"Ya ... maaf, untuk itu. Setelah ini aku akan lebih sering menghubungimu. Hanya saja, kembali ke topik awal, bagaimana cara suaraku terdengar, Key?" kamu menekankan suara pada penyebutan nama kekasihmu itu.
"Mari kita bermain sedikit nakal. Mereka tipikal yang tidak menunjukkan ketakutan pada gertakan kecil, maka kita harus menggertak lebih keras. Aku terpikirkan sesuatu ... bukankah kalian selalu memakai gawai kalau sedang rapat?" tanya Key sambil membuat wajah yang menampakkan kalau ia sedang berpikir keras.
"Ya, mereka pakai. Kalau rapat besar gawai yang sudah tersedia. Untuk rapat kecil ... yah, gawai masing-masing. Eh, tunggu sebentar," kamu memberi jeda pada informasinya lalu memicingkan mata pada kekasihmu.
"Kamu akhirnya tersambung dengan maksudku," ia malah tertawa melihat reaksimu.
"Kau akan melalukan itu?" tanyamu yang kini memasang raut khawatir.
"Tenanglah, kau ini seperti aku baru pertama mencoba saja," Key meneruskan tawanya.
"Namun, biasanya kau melakukan itu untuk polisi atau intelijen. Itu legal dan kau golongan white hat. Kalau yang ini ... tanpa pengawasan ...," jelas tawa ringannya tidak bisa melunturkan kekhawatiran baik di hati maupun wajahmu.
"Cara ilegal, black hat. Tujuan baik, white hat. Sepertinya kali ini bakal jadi gray hat. Yah, kalau kamu tidak mau, silakan lanjutkan jadi keset di komisi pendidikan," Key mengambil cemilan di toples meja makan dan memandang dirimu yang sedang menumpu kepalamu dengan kedua tangan. Ia beberapa kali tertawa karena baginya kau seperti meme GM catur Irene Sukandar yang sedang berpikir keras.
"Huft, baiklah, sepertinya aku tidak punya pilihan lain. Meski aku tidak terlalu paham soal ini semua ... bisakah kamu terbuka dengan apa pun yang akan kau lakukan?" pintamu yang kini menatap wajahnya.
"Tentu aku akan terbuka, hanya padamu. Aku ingin menjalankan ransomware sekaligus file heist pada mereka. Tentu tebusannya harus yang menguntungkan. File-file hasil pekerjaan kotor mereka tentu adalah aset paling berharga anggota parlemen sepertimu."
"Apa kamu berpikir untuk memeras mereka? Orang-orang itu tidak takut kehilangan uang demi menyumpal kejujuran. Tebusan akan dengan mudah mereka bayar," kamu memasukkan beberapa butir pang ke dalam mulutmu setelah membuat pernyataan tersebut.
"No, no, bukan uang yang akan aku minta sebagai tebusan pada mereka. Namun, file proyek belakang. Kalau mereka tidak memberikannya, aku akan cari sendiri lewat file heist."
"Rasanya seperti kau bisa mengerjakan semuanya sendiri ...," lagi-lagi kamu merebahkan diri di sofa dan menghela napas.
"Ada satu hal yang bisa kamu lakukan," Key memperlihatkan sebuah diska lepas di depan wajahmu, "menyebarkan ransomware dengan benda ini."
"Bukannya kamu bisa melakukannya sendiri?" tanyamu heran.
"Kalau targetnya spesifik seperti ini ... aku membutuhkanmu," Key mendekatkan wajahnya padamu, menandakan bahwa dia sungguh-sungguh memerlukan dirimu.
"Baiklah, aku menerima itu. Jadi, aku harus bagaimana?" kamu pun kembali bersemangat setelah mendapat peran penting dari kekasihmu.
"Usahakan korban kita menge-klik 'biang' ransomware-nya. Juga agar kamu tidak makin dicurigai ... sebaiknya kamu juga berkorban laptopmu. Khusus untukmu, aku tidak akan merusak apa pun," pria itu melempar senyuman manis.
"Apa aku perlu sedikit berakting?" tanyamu dengan nada bercanda.
"Berusahalah terlihat kamu tidak tahu apa-apa soal ini. Itu akting terbaik yang bisa kamu lakukan. Bukankah anggota parlemen biasa melakukan itu?"
"Tidak denganku, tetapi aku akan mencoba. Lalu, jenis ransomware apa yang akan kamu lepas kali ini?" tanyamu penasaran karena selama dirimu bersamanya, sedikit-sedikit kamu belajar soal dunia ini. Termasuk jenis-jenis ransomware. Setidaknya kamu masih ingat satu, yaitu Wannacrypt0.2. Tidak, jelas bukan karena Key yang melepas itu. Worm ransomware itu menyebar cepat ke seluruh penjuru dunia.
"Namanya Mamba. Biasa digunakan untuk menyerang suatu perusahaan dan tidak menyebar luas seperti Wannacry, jadi bukan worm. Mamba biasanya mengenkripsi seluruh hard disk sampai tebusannya dibayarkan. Efeknya kalau tidak segera membuat perjanjian pembayaran, ya sudah, selamanya komputer akan seperti itu. Background hitam dan tulisan putih. Sangat membosankan, bukan? Bosan dan kehilangan data adalah hukuman terbaik buat mereka yang kotor dan mengganggu Kesayanganku," Key tersenyum dan menatapmu yang jadi salah tingkah.
"Oh? Ada apa dengan reaksimu itu? Kamu jadi demam hanya karena kupanggil 'Kesayangan'?" ia malah menatapmu jahil sebagai ganti reaksimu.
"Apa maksudmu?"
"Wajahmu semerah apel. Haha, lucu sekali. Padahal kita sudah lama bersama, tetapi kamu belum juga terbiasa kugoda," balas Key dengan tawanya yang memenuhi ruangan, "Hm, aku jadi ingat kalau kamu belum makan. Mau makan apa? Aku akan buatkan sebelum kita kembali membahas penyerangan ini."
"Benar-benar terserah padamu. Aku 'kan pemakan segala." Key pun memasak untuk kalian berdua. Selama makan, kalian hanya membicarakan hal ringan seperti kehidupan sehari-hari atau plot drama Penthouse. Namun, setelah selesai makan, kalian kembali menyusun rencana dan kamu sangat bersemangat untuk itu.
"Kamu adalah prajurit pengirim kuda troya, anggap saja begitu. Lalu, file yang disamarkan ini adalah kuda-nya dan ransomware adalah prajurit Troya. Itulah mengapa Mamba masuk dalam keluarga Trojan. Ini tergantung pada aktingmu untuk menjadi orang yang terlihat seperti tidak tahu menahu soal ini. Jangan khawatirkan laptopmu, aku akan mengurusnya nanti. Intinya, jangan sampai tertangkap. Kau paham 'kan?" Key kembali menjelaskan padamu soal mekanisme penyebaran ransomware padamu dengan beberapa perumpamaan. Kamu mengangguk antusias karena sudah sepenuhnya paham.
"Aku jadi semangat balas dendam kalau seperti ini."
"Oh, kau harus."
"Tunggu, bagaimana dengan nama alias? Kamu tidak bisa pakai nama asli, Kim Kibum, atau pun nama alias KeyMansae. Polisi dan intelijen akan langsung tahu kalau itu perbuatanmu," kamu menatapnya serius kali ini.
"Bukankah itu ... dies irae?" kamu menjawabnya dengan ragu.
"Benar, aku akan menggunakam nama itu, Dies Irae, karena besok adalah hari penghakiman buat komisi pendidikan. Ah, aku tidak sabar membuat para tikus itu membuat muka pasrah. Hahahaha!"
Maka keesokan paginya, saat rapat penentuan tentang kebijakan baru terkait bersekolah di masa pandemi, kamu terus memasang senyum cerah meski mereka terus mengataimu secara halus.
"Oh, si Orang Suci sudah datang rupanya. Bagaimana? Apa kau sudah mencetak daftar anggaran untuk barang-barang yang diperlukan sekolah-sekolah di masa pandemi? Bagaimana dengan file-nya?" seorang pria bertanya kepadamu.
"Tentu sudah. Saya sebisa mungkin mengerjakannya dengan tepat dan cepat," kamu menyerahkan setumpuk laporan dengan diska lepas yang sudah berisi file trojan di atasnya pada pria itu sambil tersenyum seperlunya di balik maskermu.
"Apa kamu membersihkan yang itu juga?" tanya perempuan yang duduk di samping dirimu.
"Itu?" kamu bertanya, pura-pura tidak paham, padahal sudah tahu pasti bahwa yang mereka maksudkan adalah kenaikan anggaran yang nantinya bisa dipangkas. Sudah biasa terjadi.
"Kau ini memang terlalu bersih, hahaha. Pura-pura tidak tahu?" anggota parlemen wanita di sebelahmu menyenggol dirimu pelan dan tertawa.
"Oh, soal itu? Saya mengerti. Silakan buka file-nya kalau tidak setuju," kamu memancing mereka untuk membuka file yang sebenarnya adalah kuda troya untuk ransomware.
"Aku tidak setuju dengan gubahanmu yang ada di kertas. Huft, buka file-nya semua! Kita revisi lagi bersama-sama. Kau ... sambungkan laptopmu ke proyektor," seorang pria yang terlihat paling tua di ruangan itu memerintahkanmu untuk menyambungkan laptop pada proyektor. Kamu melihat mereka menyalin berkas dari
diska lepasmu sembari menyambungkan laptop.
"Eh? Perasaan aku baru beli laptop kemarin," mulai terdengar keluhan dari salah satu anggota komisi pendidikan. Kamu ingin tertawa tetapi demi mulusnya penyerangan ini, perasaan itu harus ditahan. Kamu juga ikut membuka berkas yang menjadi kedok. Benar saja, tak lama setelah itu, laptopmu mengalami restart dan menyala kembali dengan background hitam dan tulisan berwarna putih.
Brak!
"Apa ini? Serangan siber?" ketua komisi yang berada satu meja denganmu tampak marah besar, "Siapa lagi yang mengalami ini?" Semua orang mengangkat tangan termasuk dirimu.
"Your PC's data is encrypted. If you pay with your precious secret plan, soon decrypt. Send to diesirae@mambamail.com. Orang gila ini ... dia pikir kita orang dalam intelijen? 'Secret Plan' apanya?" ketua komisi membacakan tebusan yang dimau.
"Iya. Aku juga tidak paham. Namun, bagaimana ini? Kita tidak bisa bekerja tanpa laptop," keluh anggota komisi pendidikan lain.
"Kalau saja ia meminta uang, tidak akan jadi susah. Benar-benar aneh," anggota lain juga merutuk. Kamu hanya menghela napas. Rupanya mereka menyangkal semua perbuatan kotor itu. Karena tidak bisa melakukan hal lain selain menatap tulisan tersebut juga terlalu berisiko untuk melakukan 'pengkhianatan' dengan mengirimkan file yang ada pada dirimu di depan mereka, pun kamu tidak punya salinan lengkap semua dokumen kotor itu,jadi kamu memutuskan untuk melakukan hard restart pada laptopmu meski tahu itu akan sia-sia karena yang dienkripsi oleh ransomware ini adalah seluruh hard disk.
"Mungkinkah dia ini tahu sesuatu? Hei, Orang Suci, apa kau pernah cerita soal apa yang kami lakukan pada orang lain?" wanita yang duduk di sebelahmu mulai menuduhmu. Saatnya mengeluarkan kemampuan akting terbaikmu.
"Tidak. Kalian tahu latar belakangku 'kan? Tidak punya siapa-siapa," kamu menghela napas dan melempar pandangan ke laptopmu yang sudah kembali menyala dan kembali menampakkan tulisan minta tebusan itu.
"Serangan ini benar-benar menyebalkan," kamu ikut merutuk.
"Ah, kamu benar-benar tidak tahu, ya? Haha, Orang Suci tidak bisa berbohong memang," ia mengangguk lalu duduk kembali di kursinya.
"Rapat hari ini dibatalkan dengan berat hati. Seseorang ingin menyerang parlemen rupanya. Memang bukan hal baru, hahaha. Besok kembalilah dengan laptop baru atau ... kalau tidak punya cukup uang, perbaiki sendiri masalah ini," ketua komisi menutup laptopnya dengan kasar dan menjadi pertama yang beranjak dari ruangan. Anggota yang lainnya langsung mengikuti dengan muka ditekuk, begitu pula dirimu. Kamu memutuskan untuk berjalan kaki menuju halte bus. Sampai di sana kamu duduk dan memeluk tas laptop sambil memandangi jalanan. Begitu bus datang, kamu langsung masuk, membayar tarifnya dan duduk di tempat paling belakang. Saat bis menjauh dari gedung parlemen, barulah kamu tersenyum sangat lebar sampai terlihat hanya dari garis matamu.
Langkah pertama kalian berhasil.
Tepat saat kamu bisa merebahkan diri di sofa rumah setelah membersihkan diri, Key meneleponmu. Karena sedang dalam kondisi hati yang senang, kamu langsung menjawabnya.
"Bagaimana Dies Irae Hacker-nim? Apa yang sudah kamu dapatkan dari hard disk yang dikunci itu?" tanyamu dengan tawa kecil mengikuti.
"Oh, beberapa dari mereka benar-benar mengirim file. Namun, tidak ada satupun yang mengirimkan file soal korupsi bantuan kuota yang kamu ceritakan. Untungnya aku bisa mendapatkannya. Kau tahu benar siapa diriku di dunia siber," Key juga menyahut dengan nada bahagia.
"Tentu saja, kau yang terbaik di negara ini," kamu tertawa menyahutnya.
"Hey, kau ini memang cepat puas, ya? Jangan seperti itu karena ini baru tahap pertama. Jika bukti ini tidak naik ke permukaan maka kerja kita tidak ada artinya."
"Kau akan mengirimnya ke Anti-Corruption and Civil Rights Commission, polisi, kejaksaan serta media dengan alias 'Dies Irae' 'kan? Bukankah nantinya para anggota parlmen bisa membalikkan tuduhan jadi serangan siber? Mereka tahu nama samaran itu dari email yang tercantum," kamu seketika jadi khawatir kalau kalian bakal ketahuan.
"Jangan khawatir! Kau kira aku tidak memikirkan itu? Aku masih punya banyak alias. Hei, kamu tahu soal legenda monster cephalopoda rasaksa dari Skotlandia?" Kamu tersenyum sebelum menanggapi yang satu itu. Dia main tebak-tebakan lagi.
"Oh, Kraken. Kamu mau pakai nama itu?"
"Ya! Karena aku akan menenggelamkan kapal komisi pendidikan bersama para awaknya. Namun, aku akan sedikit baik hati dengan melepaskan satu awak kapal yang punya hati bersih," bahkan dari suaranya pun kamu bisa tahu ia sedang berbunga-bunga.
"Hoho, terima kasih, Kraken-nim."
"Itu memang sudah harus terjadi. Istirahatlah dan untuk amannya, sementara waktu ... kita jangan bertemu. Demi keamananmu. Kau bisa jadi yang paling dicurigai oleh mereka. Bermain yang cantik lagi seperti tadi, Kesayangan! Oh, tambahan, jangan mencari jejak panggilan kita hari ini, ya? Kau tahu sendiri mengapa."
Kamu memutuskan untuk tidur sebentar setelah memutus telepon dengan kekasihmu itu. Dering telepon yang masuk berkali-kali membuatmu terbangun pukul 3 sore. Lucunya itu semua berasal dari para anggota komisi 10 lainnya. Beberapa orang mengirim pesan padamu, tetapi intinya sama.
Datanglah ke kantor Anti-Corruption and Civil Rights Commission!
Setelah membaca pesan-pesan itu, kamu cepat-cepat menyalakan TV.
"Sebuah list penyelewengan dana bantuan kuota pada para pelajar telah tersebar luar di internet. Diketahui asal mula list ini dari seseorang dengan ID 'Kraken-nim'. Kebenarannya tengah diselidiki, tetapi netizen telah terlebih dahulu meluapkan kemarahannya di dunia maya terhadap pada anggota parlemen komisi pendidikan." Seorang wanita memberikan narasi selagi salinan file tayang dengan jelas di televisi.
Tring!
KimKibum: Jangan takut. Suarakan kebenaran. Aku mempercayaimu selalu, Kesayanganku.
(pesan akan terhapus otomatis pada 3.06)
Kamu tersenyum membaca pesan itu. Karena pesan itu akan terhapus pada 3.06, untuk menghilangkan jejak hubungan kalian dalam serangan ini, maka kamu memilih untuk tidak membalas.
Tok! Tok! Tok! Ding! Dong!
"Permisi, apakah ada orang di dalam?" Seseorang mengetuk pintu dan kamu langsung membukakannya. Ada dua pria memandangmu dengan kaku.
"Selamat sore, Nona. Kami dari Anti-Cor ...."
"Saya akan ikut. Demi membuka kebenaran," sahutmu tanpa ragu yang membuat kedua pria itu merasa aneh. Selama mereka bekerja, orang-orang yang dipanggil akan membantah habis-habisan, tetapi perempuan ini berbeda.
"Jangan terlalu terkejut, Pak. Saya sudah sempat menonton berita. Tunggu apa lagi? Saya akan menjadi panci kebenaran yang mendidih untuk bangsa ini. Namun sebelumnya ... izinkan saya mengganti baju rumahan ini."
"A-ah, ya, s-silakan."