
“Jujurlah, ke mana kita akan pergi?” Ini sudah ke sekian kalinya pertanyaan tersebut keluar dari bibirku namun, ia selalu menjawabnya dengan tawa kecil tanpa menoleh dari pemandangan jalan yang terlihat dari kaca mobil.
Kali ini jawaban yang kudapat juga tawa kecil dengan satu kalimat, “Sabarlah, kalau aku kasih tahu sekarang namanya bukan kejutan.” Ia ada benarnya juga, sih, hanya saja aku adalah orang yang selalu penasaran berat. Karena beberapa tempat yang terkenal romantis sudah ia lewati begitu saja dan tebakanku meleset beberapa kali rasa penasaranku jadi membuncah. Bukan juga taman, bukan juga restoran, lalu apa yang ia rencanakan sebenarnya? Walau benar juga, sih, perkataannya, kalau ia memberi tahu namanya bukan kejutan lagi. Ia membanting setir mobil ke kanan, untuk masuk ke sebuah gedung pameran terkenal di kota kami. Tetapi, di sini sedang tidak ada pameran apa-apa yang berkaitan dengan hal romantis. Tidak ada pameran bunga, cokelat, atau lukisan.
“Kamu benar bawa aku ke tempat ini?” lagi-lagi aku bertanya sambil menatap mata cokelat pekatnya.
“Loh, ya benar. Sudah, turun,” ia malah tersenyum dan melepaskan sabuk pengamanku. Masih mencoba berpikir positif, aku keluar dari mobil.
Bluk!
Pintu mobil perak itu aku tutup bersamaan dengan ia yang mendekati diriku. “Sebaiknya kita langsung masuk saja,” ia menawarkan tangannya dan aku menyahutnya, walau masih dalam keadaan bingung.
“Nah, untunglah aku dapat tiket masuknya dari hari kemarin. Kita tidak perlu mengantre di loket,” pria itu tersenyum cerah. “Tiket masuk? Pameran apa?” aku yang benar-benar belum mengerti penuh rencananya kembali bertanya. “Pameran teknologi, keren bukan?” sekilas aku bisa mendengar ia tertawa kecil ketika aku menatap pintu masuk yang sudah di dekorasi dengan gapura selamat datang untuk masuk ke sebuah pameran teknologi. Wah, benar-benar pilihan tempat yang aneh. Kalau boleh jujur ini baru kencan pertama kami, namun aku langsung merasakan yang namanya kencan di tempat yang salah. Yah, coba kalian tanyakan pada pasangan di seluruh dunia ini, di mana kencan pertama mereka? Pasti di taman, restoran, atau mall, yah, tempat yang romantis.
Sekarang aku bertanya padanya, “Ya Tuhan, apa romantisnya pameran teknologi?”
“Bukankah aku sudah bilang, aku bukan orang yang romantis? Lagi pula ini tempat yang tidak biasa dan bisa diingat sampai tua nanti,” ia mengelak.
“T-tetapi...”
“Kamu bilang mau cari drawing tablet lagi? Ya sudah, satu dayung dua tiga pulau terlampaui,” benar juga katanya. Tetapi, ya, bukan begini juga caranya, demi kuku kaki Spongebob!
“Cepat masuk,” ia menarikku masuk ke ruang pameran. Mataku memandang sekeliling melihat stan-stan merek gawai terkenal yang mencolok.
“Semuanya laptop, komputer, dan ponsel pintar, yakin ada yang jual?” tanyaku pesimis. “Sebagai pengunjung setia pameran ini aku yakin ada yang jual,” ia tersenyum bangga, “Di stan toko itu sepertinya ada. Kamu mau tanya dulu?”
“Tentu saja, kita sudah jauh-jauh ke sini. Katamu tadi ‘kan sekali dayung, dua tiga pulau terlampaui,” balasku menjadi antusias karena membayangkan dapat membeli barang yang aku butuhkan sebagai seorang ilustrator buku cerita anak. Sebenarnya aku sudah punya drawing tablet, namun kemarin rusak akibat dibanting oleh ponakanku.
Alhasil, jelas sekali aku harus membeli yang baru atau aku tidak dapat bekerja sama sekali. Akan tetapi, tidak apa, lagi pula aku memang berniat membeli yang baru karena yang lama sudah terlalu tua. Aku melihat drawing tablet yang dipamerkan satu persatu dengan teliti.
“Hei, kamu tidak mau beli yang langsung ada layarnya itu?” kekasihku menunjuk drawing tablet termahal di sana. Aku hanya tersenyum kecut melihat harganya dan berkata, “Yang biasa seperti ini saja sudah cukup. Itu terlalu ... mahal.” “Oh, yang ini, yang ada bebeknya, mau aku belikan?” ia menunjuk tablet lain yang punya aksen kekuningan dan ada hiasan karakter bebek. Wah, kebetulan sekali, bebek itu hewan kesukaanku dan kuning warna favoritku!
“Itu mungkin bagus dan harganya cocok, aku beli ini sendiri,” kataku sambil memanggil penjaga stan. Untungnya pria itu peka juga, “Mas, yang ada bebeknya ini sudah dilengkapi OTG belum?” tanyaku karena penasaran apakah drawing tablet ini bisa tersambung dengan ponsel atau tidak. “Oh, yang ini sudah, Kak. Kompatibel dengan Windows 10 juga,” penjaga stan menjelaskan dengan semangat, “Untuk hari ini kita ada promo. Menggambar dengan drawing tablet di stan ini mendapat potongan harga sebesar seratus ribu rupiah.”
Aku yakin mataku berbinar sekarang mendengar kata ‘potongan harga', “Sungguh? Apa saya bisa mulai menggambar sekarang?”
“Tentu, di sebelah sini, Kak.” Kami mengikuti arahan sang penjaga stan menuju satu meja panjang berisi 3 komputer yang sudah tersambung dengan drawing tablet.
“Ada dua komputer yang kosong, silakan diisi,” aku memilih duduk di komputer ujung dan kekasihku duduk di komputer tepat sebelahku.
“Apa kalau dua orang yang menggambar potongan harganya jadi dua ratus ribu?” tanya kekasihku, rupanya ia juga semangat soal diskon.
“Kalau itu tidak bisa, Kak. Satu kesempatan untuk satu barang.”
“Baiklah, terima kasih,” ia tersenyum tipis dan menatap layar komputer kosong. Waktu yang tepat! Aku segera bergerak untuk membuat sketsa ilustrasi wajah kekasihku yang sedang bengong itu. “Haha, wajah bengongmu bagus,” candaku setelah selesai membuat ilustrasi.
“Apa? Bagaimana bisa kamu buat sketsa diriku secepat ini? Aku bahkan tidak bisa membuat satu garis lurus,” ia menampakkan wajah kesal yang dibuat-buat sementara aku menertawakan dirinya. “Hahaha, bisa berkutat pada bahasa pemrograman. Tetapi tidak bisa menggambar garis lurus, ck, ck, ck.” “Kurasa kita memang saling melengkapi karena kamu cuma tahu bahasa manusia, tidak dengan bahasa pemrograman,” ia sekarang tersenyum kearahku, “Kita ditakdirkan bersama selalu, sepertinya.” “Tiba-tiba berbicara soal takdir, acak sekali pemikiranmu. Nah, kamu mau menyimpan gambar ini?” tawarku.
“Simpan di sini,” kekasihku mengulurkan diska lepas berwarna biru padaku. Aku menerimanya dan menancapkan itu pada bagian belakang monitor.
“Maaf, Kak, sudah selesai?” tanya penjaga stan.
“Sudah, Mas. Langsung dapat potongan harga ‘kan?” tanyaku memastikan sekali lagi.
“Ke mana dia?” gerutuku kecil sambil berdiri dari tempat duduk.
“Sudah selesai menyimpan mahakaryamu, Nona Ilustrator?” ia ternyata sudah berdiri di belakang monitor sambil tersenyum ke arahku.
“Uh, hum, sudah,” jawabku sambil melempar senyum, “Sebentar, aku keluar dari sini.” “Kalau begitu kita lanjutkan jalan-jalan kita,” katanya setelah aku berada di depannya persis tanpa penghalang. “Tunggu, aku belum beli ....” “Ini untukmu,” ia menyodorkan tas berisi kotak sebelum aku sempat menyelesaikan kalimatku. Aku menerimanya dan langsung melihat apa isinya. Ternyata itu kotak drawing tablet yang aku inginkan.
“Apa i ... kamu membelikannya untukku selagi aku menyimpan sketsa dirimu?”
“Ya, sekarang mau lanjut jalan?” tanyanya.
“Terima kasih banyak! Oh, sebelumnya ini aku kembalikan, dari pada hilang lagi,” aku mengembalikan diska lepasnya.
“Terima kasih, ayo jalan lagi,” ia mengulurkan tangannya setelah menyimpan benda kecil itu.
“Ayo!” aku menyahut tangan kekasihku. Kami berjalan menyusuri tiap stan dan mencari sesuatu yang menarik. Ada juga stan yang mempersilakan pengunjung mencoba permainan realitas virtual. Kekasihku tidak membuang kesempatan ini begitu saja. Ia kini sedang asyik bermain dengan kacamata realitas virtual bertengger di wajahnya dan aku menonton dari kejauhan. “Sepertinya seru,” gumamku melihat di monitor, ia mengayunkan pedang laser virtual itu dengan baik.
“Mau bermain?” tanya penjaga stan padaku.
“Eh ... emm,” aku melempar pandangan ke bawah.
“Kamu yakin tidak mau?” kekasihku berdiri di depanku sambil merapikan rambut hitam legam pendeknya, sungguh tampan.
“Ssttt, hei, ini kesempatan langka,” bisikannya membuatku tersentak, “Ada hadiahnya kalau dapat skor tinggi.”
“Apa aku boleh pilih lagu?” aku bertanya balik entah lebih pada kekasihku atau pada penjaga stan.
“Boleh, boleh, silakan.” Setelah mendapat jawaban dari pria penjaga stan, aku menyerahkan tas berisi drawing tabletku pada kekasihku dan mencoba permainan ritme tersebut. Pertama melihat dengan kacamata realitas virtual terasa aneh, namun seiring waktu berjalan, semuanya terasa seperti normal. Terlebih aku menikmati lagu pilihanku sendiri, ‘Growl’ oleh EXO. Ketika lagu selesai, aku mendapat ranking C di permainan tersebut. Aku melepas kacamata tersebut dan menyerahkannya pada penjaga stan.
“Oh, itu nilai tertinggi di antara perempuan yang memainkan itu dan kekasihmu mendapat nilai tertinggi sementara ini. Kalian berhak mendapatkan mug ini,” pria penjaga stan memberikan kami dua mug, yang milikku berwarna hitam dan kekasihku berwarna putih.
“Terima kasih!” kami mengucapkan terima kasih bersamaan.
“Sama-sama, oh, bisa tinggalkan nama pengguna instagram kalian?”
“Biar aku saja,” kekasihku menyahut pulpen yang disodorkan oleh si penjaga dan menuliskan nama pengguna instagramnya, “sudah.”
“Terima kasih, Kak,” ucap pria penjaga stan pada kami.
“Sama-sama,” jawab kami bersamaan lagi.
“Eh, ke panggung utama, yuk. Aku dengar-dengar ada yang demo overclock,” katanya sambil menatapku.
“Oh, boleh,” sahutku cepat meski aku tidak tahu apa makanan apa sebenarnya overclock itu. Setelah kami sampai di depan panggung utama, aku menyesal karena sadar diriku tidak akan dapat memahami semua materi demo itu. Akan tetapi, karena penasaran, aku akhirnya bertanya-tanya padanya, namun, jawaban yang diberikan di luar ekspektasiku. “Itu dry ice buat apa?” “Mendinginkan pipiku yang panas karena melihat kecantikanmu di luar batas.”
“Itu kalau panas memang bakal meledak?” “Iya, seperti rasa cintaku padamu saat ini.”
“Lalu, kalau bluescreen kenapa?”
“Itu tandanya ia sudah lelah dipaksa untuk mencintai seseorang yang tidak mencintainya balik. Tetapi, tenang, aku selalu tulus mencintaimu, jadi tidak akan pernah kena bluescreen.”
“Bisa jawab yang benar tidak, sih? Aku penasaran sungguhan bukan mau digoda seperti ini!” Kami tertawa di tempat itu dan tidak peduli lagi pandangan aneh orang-orang. Yah, sekarang tempat bagiku tidak masalah karena selagi kami bersama, pameran teknologi ini bisa terasa seperti taman bunga yang romantis.