
Sore itu sepulang sekolah, gedung itu benar-benar sepi. Tidak lagi ada siswa maupun guru yang terlihat. Hanya Cassie lah yang berada di sana seorang diri berdiri di atap gedung perpustakaan.
“Untuk apa aku hidup? Liya benar, aku lebih baik mati,” isakan keluar dari bibirnya bersama sebuah kalimat.
“Tidak ada yang peduli padaku. Tidak ada yang boleh peduli padaku,” kini giliran air mata jatuh dari matanya.
“Aku pergi.” Cassie berdiri di ujung gedung itu, bersiap-siap menjemput maut yang ada di bawah sana.
Namun, belum sempat melangkah, sebuah suara memanggilnya, “Cassie!” Itu Kei, ia menyusul Cassie begitu tahu perempuan itu ada di atap perpustakaan.
“Jangan mendekat! Tidak kah kau dengar?” kaki perempuan itu mundur perlahan. Tetapi, Kei tetap mendekatinya. Cassie mundur selangkah lagi, langkah itu membuatnya hampir terjatuh.
“Aaaa!”
Hap!
Beruntung, Kei dapat menangkap tangan Cassie dan mengangkatnya agar bisa berpijak kembali ke atap kemudian menyelimuti tubuh perempuan yang gemetaran dengan korsa hitam yang tadi ia pakai lalu menepuk punggungnya lembut.
“Ei, aku tidak akan meninggalkanmu seperti kata Liya dan gengnya. Jangan lakukan itu lagi, Cassie, kumohon, kakakmu pasti akan sedih kalau melihatmu sekarang. Tenanglah, aku di sini.”
“Lalu bagaimana aku bisa hidup dengan semua ini? Semua masalah ini, semua ejekan ini... aku tidak pantas menjadi sahabatmu... juga Gita, Freya, juga Helena... aku bukanlah orang yang pantas untuk siapapun,” Cassie masih terisak.
“Terserah Liya mau bilang apa, aku masih sahabatmu. Mereka juga masih sahabatmu. Kamu saja belum siap mati, jangan seenaknya bicara kematian,” Kei masih menepuk punggung perempuan itu, “mereka yang salah. Mereka yang keterlaluan. Mereka yang seharusnya mendapatkan hukuman, bukan dirimu. Hei, aku sudah melaporkan mereka pada sekolah. Tenanglah, okay?”
“Mereka mengancam....”
“Persetan, kesalahan seperti ini harus dilaporkan. Aku akan melaporkan juga apa yang akan kau lakukan agar mereka bisa keluar dari sekolah sekalian kalau perlu.”
“Jangan, Kei. Rahasiakan saja, aku berjanji tidak akan mengulanginya. Hanya kau, aku, dan Tuhan yang tahu ini. Rahasiakan saja sampai waktunya tepat. Mereka masih perlu bersekolah,” Cassie berdiri perlahan dan memberikan korsa Kei pada pemiliknya.
“Ei, pakai saja, kau masih gemetaran. Baiklah, sekarang kita turun dari sini pakai tangga. Apakah aku harus menelpon Tante?” Cassie mengeratkan korsa Kei dan menggeleng.
“Tidak, aku pulang sendiri. Seperti biasa, naik angkot,” jawab perempuan itu pelan.
“Atau kau bisa menumpang dengan ayahku. Itu akan lebih baik,” Kei tersenyum pada Cassie, “jangan merasa jadi beban. Sudah seharusnya harus membantu. Kita sahabat, bukan?”
“Terima kasih,” bisik perempuan itu pelan.
“Sama-sama,” balas Kei, “Kalau ada masalah ceritakan saja padaku, jangan dipendam saja. Nah, mobil ayahku sudah di depan dan....”
“Dan, apa?”
“Kau bilang padaku untuk merahasiakan yang tadi, aku harus bilang apa?” laki-laki itu melihat sekitar sejenak, sekolah benar-benar sepi dan hanya ada mereka berdua di sana, “ah, jangan memikirkan apapun. Aku sudah dapat ide.” Setelah mereka menuruni tangga menuju dasar lagi, Kei segera menuntun Cassie ke mobil ayahnya. Ia memutuskan untuk menjelaskan situasinya pada ayahnya terlebih dahulu.
“Bagaimana , Yah?”
“Cas, masuk saja,” Keu menepuk punggung Cassie.
“Apakah tidak akan apa-apa? Ayahmu tidak menolakku ‘kan?” perempuan itu kembali menunduk, “Aku... aku adik pembunuh. Benar ‘kan?”
“Ei, sejak kapan kau mulai meragukan kakakmu? Tidak, tidak, ada kesalahan saat itu, kau tahu ‘kan. Masuk saja, ayahku juga tahu penahanan kakakmu sebuah kesalahan,” setelah membujuk lagi, akhirnya Cassie mau masuk dan duduk di bagian kedua mobil itu, sementara Kei duduk di bagian depan bersama ayahnya.
“Nak, rumahmu di mana?” suara ayah Kei kembali menyadarkan Cassie.
“Rumahku....”
“Ah, maafkan bapak. Maksud bapak rumah sementaramu-“
“Saya tak ingin kembali ke sana untuk saat ini. Antarkan saja ke rumah saya, Om. Jalan Megamendung nomor 7, Kecamatan-“
“Cas, yang benar saja, Tantemu pasti menunggu di sana.”
Cassie hanya menggeleng mendengar perkataan Kei, “Aku bisa jelaskan pada tante nanti. Aku baru ingin sendirian saja. Antarkan saja ke rumah saya. Saya akan tunjukkan jalannya dan Kei, jangan cari aku besok di sekolah.”
Setelah mengantar Cassie ke rumahnya, Kei tampak gelisah. Setidaknya, begitu di mata ayahnya. “Ada apa, Kei?”
“Huh? Tidak ada apa-apa kok, Yah,” jawab Kei asal.
“Pasti ada apa-apa. Kau sampai merelakan korsamu dibawa orang lain,” pria itu mencoba menerawang anaknya.
“Aku hanya membantunya, kita sahabat.”
“Bukan hubungan kalian, ada apa dengan anak itu?”
“Cassie?”
“Iya, ia sepertinya mengganggu pikiranmu dengan kalimat ‘jangan cari aku di sekolah’. Kalian bertengkar?” Kei kemudian tertawa.
“Yah, mana mungkin dia mau bersamaku kalau bertengkar,” ia kenudian mendengus. Ia tidak mungkin menceritakan percobaan bunuh diri sahabatnya itu, hanya saja... kalau menceritakan perundungan yang di alami Cassie, boleh ‘kan?
“Dia dirundung,” jawab Kei singkat.
“Bagitu, ya? Itu yang membuatnya ingin tidak masuk sekolah besok?”
“Dia sudah menahannya begitu lama sendirian. Mungkin dia hanya butuh ruang untuk merenungkan semua, sendirian lagi. Mungkin,” Kei berusaha menepis semua yang buruk yang ada dipikirannya. Tidak, Cassie sudah berjanji pada Kei untuk tetap hidup dan sahabatnya itu harus hidup untuk melihat pembalasan yang ia lakukan pada para perundung Cassie.