
“Heh, keluar dinosaurusnya lagi,” keluh seorang gadis saat membuka laman web di laptopnya.
“Aish, tinggal di-reload saja selesai,” balas kakak prianya yang sedang merebahkan diri di sofa sambil membaca novel, tak jauh dari gadis itu. Dia menekan tombol reload virtual lagi, lagi, dan lagi, tapi hasilnya sama saja.
“Sini-sini,” kakaknya mengangkat notebook adiknya yang berujung dengan memainkan ikon dino piksel yang muncul.
”Eh, Kak Jata nih , deadline-nya satu jam lagi...,” kata gadis itu sambil mengambil notebook-nya.
“Cari Wi-Fi sana ..,” suruh Jatayu cepat.
“Kak, ini aku sudah pakai kuota HP- ku, tapi, kok, tidak bisa, ya?” dia mulai menggerutu lagi.
“Cari Wi-Fi lain, di luar, Ta” Jatayu kembali santai dan membaca novel Sherlock Holmes yang masih melekat di tangannya.
“Kakak kok, gitu, sih? Bantu aku, ya. Tolong,” gadis itu kini merayu kakaknya dengan menarik lengan kaosnya dan membuat suara imut.
“Iyuh,” sementaranya Jatayu hanya memasang wajah kesal.
“Kok, iyuh, sih, Kak. Bantu Sita dong, ya?” Sita malah merayu dengan keimutan yang sangat dibuat-buat. Jatayu menghela napas dan menutup bukunya.
“Baiklah aku bantu, sekalipun harus masuk ke dunia dino piksel ini asal berhenti betingkah sok imut, Oke?”
“Aye, aye, Kapten Jata. Terima kasih, kakaku sayang,” Sita sambil memeluk Jatayu. Kakak Sita itu meraih ponselnya yang ada di meja tamu dan menyalakan berbagi jaringan. Namun, saat ia hendak mengirimkan jawaban pada guru lewat web, Sita dan Jatayu terseret ke dalam notebook yang masih menampilkan dinosaurus piksel yang muncul lagi.
“Eh, kita di mana, nih?” tanya Sita.
“Tempat ini rasanya familier sekali, liat tuh, ada kaktus piksel,” Jatayu menunjuk kaktus yang tersusun dari kotak-kotak kecil berwarna hitam.
“Hm, apa kita ada di dunia game, ya? Seperti drama Korea Memories of Alhambra itu!” Sita berseru.
“Eh, tetapi tadi ‘kan kamu buka browser, tugas daring ... artinya ini ...,” mereka saling bertukar pandang, “Dunia dinosaurus piksel!” Mereka berseru bersamaan setelah mengobservasi tempat monokrom itu untuk beberapa menit.
“Untuk keluar dari tempat ini, kalian harus mengalahkan semua T-Rex di sini,” kata sebuah suara dari perempuan yang lebih seperti robot penerjemah.
“Bagus, kita harus ‘memusnahkan’ semua T-Rex di sini, baru bisa keluar,” keluh Sita.
Tiba-tiba, sepasang kakak-adik itu dikejutkan dengan hadirnya T-Rex besar di belakang mereka.
“T-Rex!”
Spontan, Sita dan Jatayu berlari tidak tentu arah untuk menyelamatkan diri. T-Rex itu menabrak kaktus dan lenyap.
“Hah, semudah itu?” gumam Jatayu sambil mengamati sisa piksel T-Rex tadi.
“Ya, tabrakkan saja semua dino itu ke obyek yang ada dan lenyapkan mereka,” kata suara robot itu lagi.
Roaarr!
T-Rex lain muncul dan mereka berlari. Siklusnya seperti itu selama berkali-kali. Entah apa yang di mau di mau dari ini semua, tetapi Jatayu dan Sita terus berlari sampai para T-Rex piksel itu menabrak sesuatu dan lenyap.
“Hosh, lelah juga lari di dunia piksel ini,” kata Sita sambil mengatur napasnya yang masih tersengal.
“Aku harap ada pedagang minuman dingin di sini,” Jatayu yang lebih tenang mengusap keringatnya sambil tertawa kecil. Tiba-tiba ada kotak melayang di hadapan mereka yang hampir saja membuat Jatayu terjungkal karena terkejut.
Isi kotak itu adalah sebuah tulisan besar.
‘SELAMAT, KALIAN SUDAH MENGALAHKAN 100.000.000.000.000.000.000 DINOSAURUS, TINGGAL SATU YANG TERKUAT’
“Apa? Satu lagi!” Sita dan Jatayu memprotes secara bersamaan. Namun, apa boleh di kata, dinosaurus terkuat sudah ada di hadapan mereka, seperti apa yang ada di browser yang biasa Sita pakai. T-Rex berwajah ramah yang menyebalkan.
“Ah, kita mulai lagi!” mereka kembali berlari, juga melompati kaktus, batu, bahkan burung prasejarah. Namun, dinosaurus ini terlalu lihai. Akhirnya, mereka malah tertangkap oleh T-Rex piksel itu dan dicengkeram kuat-kuat.
“Aaaaaahh! Tolong!” Mereka berteriak dan memejamkan mata, seakan siap menerima akhirnya. Aneh, saat membuka mata lagi, mereka kembali ke ruang keluarga dengan posisi ketiduran yang berbeda-beda. Sita tidur di sebelah notebook-nya sementara Jatayu tidur dengan muka yang tertutup novel Sherlock Holmes.
“Kak! Oh, astaga! Bagaimana bisa ...,” Sita bangun terlebih dahulu dan menepuk pundak kakaknya yang ternyata sudah terbangun.
“Ini karena jaringan di rumah ini, mimpiku jadi aneh,” rutuk Jatayu yang bangkit dari sofanya.
“Apa kakak mimpi T-Rex piksel?” tanya Sita penasaran.
“Lebih buruk, Ta. Aku ditangkap sama T-Rex menyebalkan itu ... oh ..., ada kelas daring! Semoga jaringannya lancar,” pria itu masuk ke kamarnya dan meninggalkan Sita di ruang keluarga bersama T-Rex piksel yang baru saja mengedipkan mata pada gadis itu.
“Oh, tidak, pasti aku sudah tidak waras karena jaringan lambat ... baiklah, dinosaurus aneh, aku harus bersabar denganmu!”