
Bulan emas penuh memantul di permukaan samudera. Dua kapal yang masing-masing berisi seorang nelayan terapung dengan lembut. Mereka bersahabat, sangat baik, sampai berjalan selalu beriringan. Saat seorang nelayan yang berada di kapal berwarna merah menarik jaringnya, ia tertawa kencang.
“Hahaha, Lur, sepertinya aku dapat ikan banyak. Jaringnya terasa berat sekali, tidak seperti biasanya,” seru nelayan tersebut pada sahabatnya yang menaiki kapal biru dan berada di seberang.
“Apa butuh bantuan? Sepertinya berat sekali,” tanya nelayan yang berada di kapal biru, kotak penyimpanan esnya sudah penuh dengan ikan. Kini ia hanya menunggui sahabatnya.
“Tidak, terima kasih, aku bisa sendiri. Jangan membuat dirimu repot.”
“Semoga memang ikan-ikan besar seperti yang kudapat. Kalau benar, wah, hari ini kita benar-benar mujur!” mereka berdua tertawa kecil. Nelayan di kapal merah terus menarik jaringnya ke atas sekuat tenaga sampai semuanya berada di atas kapal. Betapa kecewa hatinya ketika mengetahui yang masuk jaringnya bukanlah ikan besar seperti harapan mereka.
“Ah ... tunggu, ini bukan ikan!” ia langsung memekik ketika melihat sebuah koper hitam mengkilap di antara beberapa ikan yang berhasil ia tangkap.
“Koper? Jadi kamu bukan menangkap ikan? Apa sebaiknya kita mendarat karena aku dengan dari cerita nelayan-nelayan kemarin ....”
“Kamu menakut-nakutiku? Bisa saja ini hanya koper berisi pakaian. Kau tahu ‘kan? Sepuluh tahun lalu, ada pesawat yang jatuh di laut ini,” si nelayan di kapal biru enggan mendengar cerita menyeramkan dari sahabatnya.
“Lalu mau diapakan? Dibuang lagi ke laut atau dibawa ke darat?” tanya sahabatnya dengan kedua bola mata yang masih menatap koper hitam itu.
“Sepertinya aku harus lihat isinya,” perlahan tangan keriputnya menyentuh kunci angka koper tersebut yang sudah sedikit berkarat, “Oh, sial, kunci angka.”
“Hei, berikan padaku, aku bisa merusaknya itu sepertinya sudah berkarat. Kau tebarkan lagi jaringmu,” nelayan di kapal biru mengulurkan kedua tangannya.
“Ini,” dengan patuh, nelayan di kapal merah menyerahkan koper berat tersebut pada sahabatnya, “semoga isinya memang pakaian.”
“Sama, Lur, aku juga mengharapkan itu dan bukannya hal mengerikan. Menarik koper dan bukannya ikan saja sudah mengerikan bagiku,” sahut sahabatnya sambil kembali menebarkan jaring. Dengan batu yang dia temukan di kapalnya, ia menghantam kunci koper tersebut sampai rusak.
Tak! Tak! Tak! Klak!
“Oh, bau amis. Apa ada ikan terperangkap di sini?” gumamnya sambil membuka koper tersebut perlahan. Begitu ia melihat seluruh isi kopernya, nelayan di atas kapal merah tersebut langsung memuntahkan semua isi perutnya ke laut.
“Kau kenapa? Mabuk laut? Aku dapat banyak i ... astaga, sepertinya kita harus cepat ke darat dan memanggil polisi.”
Dua jam setelah penemuan koper di laut lepas yang menggemparkan satu negara. Seorang penyidik polisi berdiri diam menghadap lepas pantai.
“Mas Baruna, sepertinya sedang bersemedi lagi, haha.”
“Biarlah, setidaknya kerjanya benar. Biarkan dia dan dunianya.” Rekan kerjanya membicarakan tingkah aneh penyidik itu yang sering mematung di tempat kejadian perkara dan menutup matanya. Bukannya pria itu tidak mendengar semua omongan mereka, hanya saja dia terlalu sibuk mendengarkan perkataan roh-roh manusia yang berdiri di depannya.
“Baruna, itu semua benar, tidak ada yang melihat gerak-gerik mencurigakan. Koper itu ada begitu saja,” seorang roh wanita berpakaian pilot berbicara padanya. Baruna hanya mengangguk-angguk.
“Ditambah, kami tidak mengenal dia. Sepertinya bukan warga sini,” salah satu pria menunjuk roh seorang wanita muda yang berdiri di samping Baruna.
“Itu memang benar, aku bukan berasal dari sini. Hanya saja aku tadinya sedang berlibur di sini,” balas roh wanita muda tersebut.
Baruna membuka matanya dan menggumam, “Terima kasih semua.” Ia lalu melangkah pergi diikuti oleh roh wanita muda yang tadi ada di sebelahnya.
“Mendapat apa kau dari suara laut, Mas?” tanya rekannya yang memasang wajah jahil.
“Kumpulkan data dari para pedagang sekitar tentang pengunjung seminggu ini. Apa dari kalian ada yang punya kertas dan pensil?”
Kini Baruna duduk di kursi salah satu restoran pinggir pantai dan sibuk dengan kertas dan pensilnya. Ia menyeruput kelapanya dengan tenang dan kembali menggambar.
“Wah, Mas Penyidik ini hebat sekali bisa tenang setelah melihat tubuhku yang termutilasi seperti itu. Aku saja berteriak ketika melihat diriku sendiri,” roh wanita yang duduk di depannya menatap Baruna takjub.
“Itu karena aku terbiasa. Jangan ajak aku bicara lagi di tempat umum atau aku akan dikira gila,” jawab Baruna pelan dan dingin. Setelah merasa selesai dengan sketsanya, ia segera beranjak dan berjalan menuju ibu pedagang.
“Maaf, Bu, selamat siang. Apakah Anda pernah melihat wanita ini?” penyidik itu menunjukkan hasil sketsa wajah si roh wanita muda yang mengikutinya.
“Oh, dua hari lalu dia makan di sana. Saya sekilas melihatnya, Mas,” si ibu menunjuk kios yang berada tepat di sebelahnya.
“Terima kasih, Bu,” ia menundukkan kepala, “Kelapa muda itu berapa, ya, Bu?” Setelah membayar minumannya, ia beranjak ke kios selanjutnya. Tangan roh wanita muda itu mencoba meraih tangan Baruna, namun lolos. Untunglah Baruna bisa merasakan gangguannya. Ia memilih untuk berbalik dan menatap mata roh tersebut.
“Jangan ke sana. Jangan, dia berbahaya,” ia memohon sementara Baruna hanya menarik napas dalam. Baruna mengurungkan niat untuk pergi ke kios itu dan menuju ke salah satu rekannya untuk memberikan kertas sketsanya.
“Cari keberadaan korban di sekitar sini dengan ini. Aku mau ke mobil sebentar,” katanya masih dengan nada dingin yang tidak berubah.
“Siap!”
Kini Baruna dan roh wanita muda itu sudah berada di dalam mobil polisi. Hanya di sinilah Baruna bisa berbicara dengan para roh tanpa menjadi bahan tontonan orang-orang.
“Nah, kalian adalah roh korban kejahatan yang serupa. Sebelum mulai diskusi, silakan berkenalan dahulu,” pria itu mempersilakan dua roh wanita muda yang ada di mobil itu berkenalan.
“Namaku Lyla,” roh wanita berambut pendek memulai perkenalan.
“Aku Agni ... aku baru ditemukan pagi ini,” sahut roh wanita yang mengikuti Baruna dari pantai.
“Ah, rupanya ini berantai. Sebaiknya Mas Polisi menghentikan si penjahat secepatnya,” tegas roh Lyla.
“Aku mencobanya hanya saja orang itu kurang bukti kemarin,” sahut Baruna melembut, tidak dingin seperti sebelumnya. Karena perubahan itu, Agni membuat wajah terkejut.
“Baiklah cepat saja, kalian bereaksi ketakutan saat aku akan menuju kios yang sama. Siapa tahu cerita kalian sama. Agni, ceritakanlah,” penyidik itu masih meminta dengan lembut.
“Oh, itu ... pada sore hari aku makan di tempat itu. Entah karena ada obat tidur di sana atau karena angin pantai, aku mengantuk sekali dan tertidur. Setelah tertidur ... aku bangun sebagai roh!” cerita roh Agni.
“Hal yang sama terjadi padaku! Sayang sekali jejaknya seperti tiada,” sahut roh Lyla sambil memainkan cincin gaibnya yang ada di jari manis kiri.
“Maka dari itu Mas Polisi, hentikan dia dan cari buktinya. Hanya itu caranya,” kata roh Agni.
“Tetapi aku tidak bisa menunggu korban lain jatuh ... Apakah aku harus mengajukan diri?” Baruna mengusap dagunya.
“Sejauh ini tidak ada pria yang menjadi korban. Sepertinya dia hanya mengincar wanita yang sendirian,” kata roh Agni lagi.
“Terima kasih, sepertinya jalan penggeledahan langsung akan membuatnya tertangkap basah. Hari ini aku akan mengusulkan pancingan untuk besok,” Baruna tersenyum karena menemukan solusi.
“Lalu hari ini?”
“Aku akan menginap di mobil ini. Sekarang aku harus keluar dan memberitahu rekanku kesaksian kalian berdua.” Penyidik polisi itu pun melangkah keluar mobil dan menemui rekannya dengan ide bagus.
“Seorang ibu-ibu pedagang dan saksi mengatakan korban ada di kios kopi dan es campur pria itu, yang ada tepat di sebelah kios kelapa muda. Korban datang ke sana sore hari dan tertidur, sampai mereka pulang,” Baruna menyampaikan apa yang ia dapatkan.
“Oh, benar, seorang pedagang asongan juga melihat dia tertidur. Hanya saja ini mirip dengan kasus pertama ... benar-benar berantai?” tanya rekannya yang berdiri langsung berhadapan dengannya.
“Sepertinya memang berantai dan kemungkinan perdagangan organ. Sudah dengar ‘kan keterangan dari tim forensik? Mereka tidak hanya dimutilasi, namun juga diambil organ tubuhnya. Karena sepertinya hari ini dia siaga dengan kedatangan polisi. Besok sore kita menurunkan satu agen untuk menyamar dan memancing saat kita pura-pura pulang. Kalian boleh pulang, aku akan berjaga di sini.”
“Siap, Pak!”
Sebenarnya yang Baruna maksud dengan berjaga tidaklah sepenuhnya mengawasi kios itu. Ia malah membiarkan si pria pemilik kios merasa lega dan tidak terawasi dengan mengambil tempat yang jauh dari sana. Sekarang, ia mengadakan rapat dengan 4 roh yang ada di mobil kantornya.
“Aku butuh bantuan kalian untuk sedikit mengganggunya. Intinya, buat dia menampakkan obat bius itu agar bisa tertangkap basah. Aku akan ada di sisi lain parkiran pantai dan mengamati dari laptop. Ada pertanyaan?” Baruna mengakhiri penjelasan singkatnya. Roh Lyla, Agni, seorang pria muda, dan seorang pilot wanita mengangguk bersamaan.
“Mas Baruna, untuk besok, malam ini kau harus istirahat sebentar,” kata roh pilot wanita.
“Tidak, terima kasih. Aku akan selalu terjaga,” tolak Baruna sambil tersenyum.
“Benar-benar kebiasaan,” cibir roh itu sambil keluar menembus dinding mobil. Penyidik pria itu malah terkekeh dan menatap cincin perak yang berada di jari manisnya. Jadilah malam itu, Baruna mengamati sekitar dari mobilnya ditemani para roh penghuni pantai yang sesekali menghiburnya dan menghilangkan rasa bosan.
Sayangnya, tidak ada apa-apa malam itu. Sang pemilik kios juga sama seperti pedagang lainnya, hanya saja ia selalu pulang lebih malam. Tetapi, orang-orang bilang itu sudah biasa. Baruna tetap melaporkan penemuannya berupa plat nomor dan model mobil yang digunakan oleh tersangka mereka kali ini karena ada kemungkinan orang itu menuju ke markasnya. Penggeledahan markas ia serahkan pada rekannya dan TKP pantai menjadi fokusnya sekarang.
“Ular pada Hiu, Ular pada Hiu,” walkie talkie-nya berbunyi gemerisik dan membuat badannya siaga lagi, “Aku melihatmu tertidur, Baruna.”
“Hiu di sini, ah, maaf, sepertinya ketiduran,” Baruna mengucek matanya dan melihat ke jendela pintu, rupanya langit sudah menjadi terang.
Rekannya ada di sana dan mengajaknya keluar, “Mau kopi?” Pagi itu, Baruna bisa menyerahkan tugas penjagaannya pada kawannya. Pria itu mandi sebentar dan makan sebelum sore kembali ke pantai tersebut.
Sore pun tiba, Baruna sudah bersiap di tempatnya, begitu juga seorang polisi wanita yang menjadi umpan.
“Kupu-kupu sudah masuk ke kandang Macan. Tolong amati dengan sungguh-sungguh,” pintanya kepada anak buahnya yang juga mengintai di sekitar sana.
“Nah, sekarang giliran kalian bekerja. Ganggu penjual itu. Agni dan Lyla tunggu di sini saja dengan tenang,” Baruna juga memberi perintah pada dua roh yang bersedia membantunya.
“Siap, mari kita buat angin,” roh seorang pria muda dan seorang pilot wanita itu keluar dari mobil polisi dan berjalan menuju kios tersangka. Di sana mereka mengganggu tersangka tepat pada waktunya, ketika akan memberikan obat di minuman umpan. Karena gangguan mereka yang lewat dengan cepat dan menampakkan diri sekilas, tersangka secara tidak sengaja mengangkat serbuk obat bisu. Baruna menyaksikan semuanya dari layar laptop.
“Landak pada Hiu, cepat keluar mobil. Kita menjerat Macan,” dengan cepat, Baruna menutup laptop dan berlari menuju kios yang sudah dikepung oleh rekan polisinya.
“Aku tidak sendirian, masih ada dua lagi menuju ke dermaga. Mereka yang membunuh perempuan-perempuan itu!” seru si tersangka yang sudah di tahan oleh salah seorang polisi.
Ia langsung memborgol sang tersangka, “Anda telah ditahan dengan dugaan pembunuhan. Simpan pembelaan Anda. Bawa dia!” Begitu kedua polisi lain menyeret tersangka, walkie talkie Baruna kembali bergemerisik.
“Elang pada Hiu, Hiu diharap pergi ke dermaga sekarang. Kami sedang mengejar komplotan penjual organ manusia ilegal yang menuju ke dermaga. Mereka keluar dari rumah yang sama seperti tersangka yang bekerja di kios, mereka beraliansi.”
“Siap, dimengerti. Hiu akan segera pergi ke dermaga. Terima kasih kalian!” Pria itu berlari masuk ke mobilnya setelah berterima kasih pada rekannya juga dua roh yang sudah membantunya.
“Mas Baruna, hati-hati!” seru pilot wanita itu, “Nanti aku akan menyusulmu.” Mobil itu menyalakan sirenenya dan melaju kencang.
“Hiu, mobil mereka adalah sedan hitam. Plat belakang YH. Blokir jalan mereka!” seru suara dari walkie talkie lagi. Baruna menambah kecepatan dan berhasil sampai ke dermaga yang sebenarnya tidak begitu jauh dari TKP. Ia memerintahkan penjaga dermaga untuk menghadang mobil sedan hitam berplat belakang YH yang sedang menuju kemari dengan mobil polisi mengikuti di belakangnya.
“Berhenti!” seru polisi yang mengejar dengan alat pengeras suara. Mobil itu berhenti, namun tidak menyerah. Dua orang di dalamnya keluar dengan menodongkan senjata api pada polisi.
Tidak mau kalah, Baruna dan dua polisi yang tadi mengejar menodongkan revolver mereka pada tersangka mereka, “Angkat tangan dan menyerahlah! Kawanmu sudah tertangkap!”
Dor!
Seorang tersangka malah melepas tembakan, mau tidak mau, Baruna membalasnya dengan menembak kaki orang itu. Tersangka lainnya juga membalas dengan mengincar bahu Baruna, namun sebelum melepaskan tembakan, polisi lain sudah menahan tangannya dengan borgol. Kawannya yang lain membantu Baruna menahan tersangka yang terluka.
“Semoga mereka dihukum adil,” kata roh Agni yang berdiri di belakang sang penyidik persis.
“Aku setuju, semoga keluarga kita bisa lega dengan itu. Oh rupanya kita bisa pergi sekarang. Terima kasih, Mas Polisi!” roh Lyla tersenyum pada Baruna sambil melambaikan tangan.
“Terima kasih banyak!” roh Agni juga ikut berterima kasih.
“Aku mewakili Baruna mengucapkan sama-sama,” roh pilot wanita yang tiba-tiba muncul di samping Baruna menjawab.
“Oh, terima kasih juga atas bantuannya,” tambah roh Lyla sebelum kedua roh itu menjadi butiran cahaya dan melesat ke surga.
Kini Baruna menatap roh di sampingnya sambil tersenyum, ia mengucapkan terima kasih dengan gestur wajah, lalu melirih sampai tiada yang dapat mendengarnya selain dirinya, “Maafkan aku belum bisa melepaskanmu dari laut ini.”
“Tidak apa, walau butuh 10 tahun lagi aku dan kawan-kawanku akan sabar menanti, Sayang. Setelah ini jangan terlalu keras pada dirimu, pulanglah dan makan enak,” roh pilot wanita itu tersenyum pada Baruna.
Penyidik itu mengangguk sangat kecil dan kembali ke mobilnya, “Sabarlah sedikit lagi istriku. Setelah aku mendapat promosi maka kasus kecelakaan pesawat di laut ini akan aku buka kembali untuk membebaskan jiwa kalian dari belenggu samudera misteri.”