Dream Is An Alternate Universe

Dream Is An Alternate Universe
At Gwanghwamun



Seorang pria melangkah dengan gembira ditengah dinginnya udara musim gugur. Sesekali matanya mencuri pandang ke seluruh penjuru daerah Gwanghwamun Square. Seakan-akan seorang pendatang baru, ia tidak bisa menyembunyikan rasa kagumnya ketika mengobservasi gebang Gwanghwamun. Padahal ini sudah tahun ke tiga puluh dua ia hidup di Negeri Gingseng ini, tetapi dia terus menerus kagum dengan bangunan bersejarah itu. Entah ada mantera apa yang membuatnya selalu merasa terpikat. Kedua kakinya terus melangkah menyusuri jalanan di Gwanghwamun Square. Perjalanan si pria diiringi oleh daun-daun gugur, yang secokelat rambut ikalnya itu, terlihat sangat indah. Semerbak harum kopi kini memasuki indera penciumannya dan membuatnya berhenti sejenak.


“Ah, apakah aku harus mampir?” gumamnya sambil mengelus dagu serta mengetukkan sepatunya ke trotoar.


“Hum, dia bisa paham kalau aku bawakan machiato,” dengan senyum yang kembali terkembang, si pria berambut cokelat masuk ke dalam kafe yang menjadi sumber bau kopi yang harum tadi.


“Selamat datang,” seorang pria yang jauh lebih muda darinya, umurnya sekitar dua puluh enam tahun, menyambut kehadirannya. Si pria yang berambut kecokelatan memilih duduk di meja yang dekat dengan kaca.


“Oh, kau pelanggan setia kami. Pesan yang biasanya?” seorang wanita yang umurnya sudah melebihi setengah abad menyambutnya dengan gembira.


“Ya, cappucino satu,” jawab si pria tanpa keraguan.


“Baiklah, satu cappucino yang hangat. Apakah ada yang lain? Makanan misalnya?” sang wanita bertanya lagi.


“Tidak, itu saja,” balas si pria berambut cokelat dengan halus.


“Oh, baiklah. Tunggu sebentar, ya,” wanita itu pun kembali ke dapur sementara pria tersebut membalas dengan senyuman ramah. Sang wanita menyampaikan pesanan itu pada pegawai lain, si pria yang berumur duapuluh enam tahun itu, yang juga merupakan anaknya. Sementara itu, pria itu asyik menatap pemandangan di luar jendela kafe. Ingatannya melayang pada saat ia datang bersama kekasihnya ke tempat ini pada saat musim gugur lalu, sebelum dia pergi ke negara lain yang sangat jauh.


“Oppa, kau setuju ‘kan kalau machiato kafe ini yang paling enak?” Ia masih bisa mengingat suaranya yang manis dan tatapan mata kekasihnya yang berkilau seperti berlian saat itu.


“Aku setuju kalau cappucinonya enak. Aku tidak tahu kalau machiato dan tidak tertarik juga,” saat itu ia membalasnya dengan candaan kecil.


“Hei, lain kali coba minuman lain. Apa tidak bosan sama cappucino terus menerus?”


“Tidak, aku sudah jatuh cinta sama cappucino. Itu sama saja seperti kamu bilang padaku untuk selingkuh, benar-benar aneh.”


“Permisi, pelanggan, ini cappucino Anda. Selamat dinikmati,” segelas cappucino itu tersaji di hadapannya.


“Terima kasih,” balas si pria sambil kembali tersenyum.


“Sama-sama,” sang wanita paruh baya membalas sebelum kembali ke dapur. Pria berambut cokelat tersebut menyesap cappucinonya perlahan-lahan sampai akhirnya tidak menyisakan satu tetespun.


Ia mengecek ponselnya dan menepuk jidat, “Ah, aku bisa terlambat kalau terlalu lama di sini!” Kakinya ia pinta untuk berlari ke meja kasir, “Saya mau membayar dan ... ah, ya, pesan machiato dingin satu.”


“Baiklah, ditunggu sebentar saja,” kali ini yang melayani dirinya adalah si pria anak dari wanita tadi. Setelah menunggu lagi selama sepuluh menit, pria berambut cokelat langsung membayarkan harga total minuman yang ia beli dan beranjak dari sana dengan sedikit tergesa-gesa. Machiato yang ada di tangannya ia harapkan bisa menebus kekesalan kekasihnya kalau-kalau dia terlambat.


“Hyung bahkan sudah tidak mengingatku lagi sebagai sahabatnya. Bagaimana ini, Eomma? Haruskah kita beritahu kebenarannya?” si pria yang bekerja di balik kasir memandang kepergian sahabatnya itu dengan nanar.


“Justru karena kebenaran dia jadi begini, Nak. Aku kasihan padanya,” wanita itu mengelap air mata yang jatuh dengan cepat.


“Sudah lima tahun berlalu, Eomma. Tiap melihat dia berkunjung di tanggal ini membuatku makin sedih. Apa aku tidak bisa melakukan sesuatu buat sahabatku, Eomma? Dia terlihat seperti orang bodoh di mata mereka yang tidak bisa memahaminya,” sang anak juga mulai menitikkan air mata.


“Waktu akan menyadarkan dia kalau kekasihnya sudah tiada karena kecelakaan di depan halte itu. Dia sendiri yang bisa menyembuhkan dirinya dengan menerima itu semua,” jawab sang ibu lirih.


“Tapi, kapan, Eomma? Aku tidak bisa melihatnya seperti ini terus,” pria itu menyandarkan diri ke meja dapur dan menghela napas.


“Waktu bekerja secara misterius ... tidak akan ada yang tahu pasti sampai kapan ia seperti ini, Nak. Jadi, kuatkanlah dirimu untuk sahabatmu.”