Dream Is An Alternate Universe

Dream Is An Alternate Universe
Rangga Biner



Aku menghela napas, memutar bola mata, dan menggelengkan kepala.


“Nol satu nol nol satu nol nol satu? Mengapa dia mengirimkan hal-hal aneh seperti ini padaku sih?” gerutuku sambil menggaruk kepala yang sebenarnya tidak gatal.


“Dia pikir semua orang secerdas dirinya apa?” lanjutku sambil mengetik pesan balasan di aplikasi chat.


Rangga, kau ingin bermain tebak-tebakan bersamaku? Apa sebenarnya deretan angka nol dan satu itu?


Entahlah, seberapa keras aku berusaha membaca, tetap saja aku tidak dapat mengerti maksudnya. Aku mencoba membaca lagi pesan yang dikirimkan Rangga.


0100 1001 0110 1100 0110 1001 0110 1011 0110 0101 0111 1001 0110 1111 0111 0101 0100 1001 0110 1100 0110 1111 0111 0111 0110 0110 0101 0111 1001 0111 0101


“Argh! Rangga, kau membuatku gila!” aku mengacak rambutku frustrasi karena deretan angka itu. Namun belum surut rasa penasaranku pada deretan angka nol dan satu itu, ia kembali mengirimiku sebuah kode dengan akun yang berbeda.


811448112125625225625


Aku menepuk kepalaku berharap bisa menemukan jawabannya, namun itu malah membuat kepalaku makin pusing. Segera saja kubalas pesan satu ini.


Rangga, kau mempermainkanku? Kau benar-benar.


Aku merebahkan diri di sebelah bukuku yang penuh coretan untuk memecahkan kode yang dikirim Rangga. Belum sempat aku menarik napas, ponselku kembali berdering menyampaikan pesan dari dua akun Rangga. Yah, tidak habis pikir mengapa ia mengirim di dua akun walau jawabannya sama.


Tidak, aku serius. Coba jawab dan besok temui aku di bawah pohon seribu tahun pada saat istirahat.


Rasa penasaran mendorongku untuk tetap menemui Rangga di bawah pohon seribu tahun. Aku melihat Rangga tersenyum bodoh dengan membawa laptop kesayangannya sambil melambaikan tangan ke arahku. Ya Tuhan, untung dia menyumbangkan medali emas bagi sekolah. Kalau tidak aku sudah menendangnya sampai Antartika. Namun, dari arah berlawanan seorang kakak tingkat dengan senyum yang manis menuju ke arah kami, atau hanya perasaanku saja?


“Hei! Bagaimana kodenya? Terpecahkan?” tanyanya sambil tersenyum.


“Bagaimana, Dek Tika? Kamu bisa menyelesaikan kodeku?” aku terlunjak karena seseorang berbicara di belakangku.


Segera saja aku mengedarkan pandang, “Kak Rangga?” Ya, aku baru tahu nama kakak tingkat yang senyumnya manis itu setelah membaca name tag-nya. Tunggu! Jadi salah satu dari kode itu dikirim oleh kakak kelas?


“Aish! Cerobohnya diriku!” aku merutuki diriku sendiri karena menganggap akun itu milik Rangga yang aneh itu.




“I-iya, Kak,” jawab Rangga sambil mendekap laptopnya.


Aku mengusap wajahku frustrasi lalu menghela napas, “Baiklah, mengapa kalian mengirim kode padaku?”


“Karena ... pada saat menyukai seseorang ....”


“Biasanya orang-orang akan melakukan ini “


“Memberi kode, begitu kata temanku.”


“Temanku juga berkata seperti itu.” Duo Rangga di hadapanku ini berhasil membuatku menepuk jidat dan berusaha menahan untuk tidak mengeluarkan semua kata yang ada di kamus sumpah serapahku.


“Baiklah, Para Rangga, kalian tidak bersekongkol ‘kan?” tanyaku sambil memperlihatkan pada mereka dua lembar kertas yang berisi dua kode berbeda yang telah berhasil kupecahkan. Mereka membaca kertas itu lalu saling bertatapan dengan raut bingung.


“Bagaimana bisa?”


“Kak Rangga ....”


“Rangga ....”


“Kita menyukai orang yang sama?” Hening. Mereka berdua tertegun. Namun, sedetik kemudian mereka saling menepukkan tangan dan tertawa.


“Kak Rangga!”


“Dek Rangga!”


“Kita memang cocok sepertinya.” Aku hanya menatap mereka berdua tertawa, berangkulan, dan berjalan menjauh dalam kebingunganku. Baiklah, jadi siapa yang aneh di sini sebenarnya? Aku atau duo Rangga itu?