Dream Is An Alternate Universe

Dream Is An Alternate Universe
Sudden Student Mission



High school student! NCT Dream


NCT Dream's close friend! Pembaca


(+Choi Yebin sebagai Ha Eunbyeol)


Sebuah semesta alternatif dimulai sekarang!



🎶


And somehow, you’ve become my everything


My missing puzzle piece


(NCT Dream - Puzzle Piece)


🎶


Pagi ini semuanya berjalan seperti biasa di sekolahmu. Anak-anak datang tepat waktu. Kamu duduk di sebelah sahabatmu dan suara cuitan Haechan. Ya, dia bersuara lebih banyak dan keras dari pada burung atau pun ayam di pagi hari.


"Kamu tahu 'kan ibu guru yang itu sedang bertengkar dengan suaminya? Aku melihatnya sendiri," Haechan berbicara padamu.


"Chan, kamu sudah mengatakan itu 10 kali sejak kemarin," sahutmu sedikit jengah.


"Apa tidak ada cerita lain?" tanya Jaemin, menyetujui perkataanmu.


"Belum ada ... oh, tunggu. Anak baru! Sekolah kita akan punya murid baru," pria itu sedikit berseru karena baru mengingatnya.


"Apakah dia cantik?" Jeno langsung menyahut.


Plak!


"Kau ini. Bahkan Haechan hyung tidak bilang dia perempuan atau laki-laki," tukas Jaemin sambil memukul bahu sahabatnya.


"Kalau begitu, apa dia tampan?" tanya sahabat perempuanmu yang duduk depan.


"Kau sama saja seperti Jeno!" kini giliran kamu memarahi sahabatmu.


"Yeppeoseo."


"Nal barabwa judeon geu nunbit ...," Renjun menyambung jawaban Haechan dengan nyanyian. Chenle tertawa keras, seperti lumba-lumba.


"Eish, bukan itu maksudku. Si anak baru itu lumayan cantik juga," klarifikasi Haechan.


"Berarti perempuan 'kan? Aku benar dong!" bela Jeno.


"Iya, deh, hyung jago," balas Jisung malas.


"Dia bakal masuk kelas mana, ya?" tanya Mark, ketua kelas kalian.


Kring!


Bel mulainya jam pelajaran berbunyi. Murid-murid dalam kelas duduk di bangku masing-masing dengan segera begitu mendengar langkah kaki dari luar.


"Beri salam!" Mark langsung berdiri begitu guru kelas kalian masuk.


Seisi kelas langsung mengikuti dan menyahut, "Selamat pagi, Bu!"


"Pagi, anak-anak. Ah, mungkin sebagian dari kalian sudah tahu. Kita akan melihat wajah baru di kelas ini." Seisi kelas kembali riuh, termasuk kalian tentunya. Memang semua tahu kalau ada anak baru, namun baru ini kamu tahu anak tersebut masuk ke kelas kalian.


"Eunbyeol. Masuklah," guru memanggil anak itu. Seorang perempuan pun masuk dan tersenyum pada kalian semua. "Perkenalkan diri."


"Halo semua, aku Ha Eunbyeol, tinggal di Gangnam."


"Wah, Gangnam. Orang ini benar-benar terpandang sepertinya," gumammu saat mendengar pekenalan dari anak baru.


"Baiklah, belakang Mark ada kursi kosong. Silakan duduk di sana," guru mengarahkannya duduk di belakang Mark. Beberapa anak lain membicarakan eksistensi Eunbyeol yang berasal dari sepertinya-keluarga-kaya. Tetapi, hari ini berjalan datar-datar saja. Pindahnya Eunbyeol ke kelasmu tidak membawa dampak apa pun pada dirimu.


Tidak sampai hari berikutnya datang. Sangat tidak biasa karena Mark yang biasanya rajin masuk sekolah, hari ini tidak masuk tanpa alasan yang jelas. Begitu juga Eunbyeol, bisa-bisanya anak baru tidak masuk di hari kedua. Tetapi, kamu tidak terlalu peduli dengan si anak baru. Kamu lebih peduli dengan absennya Mark di kelas dan grup chat kalian.


"Aneh, dia tidak bilang apa-apa padaku. Sekalipun sakit tiba-tiba seharusnya dia bilang padaku, setidaknya," Haechan menyampaikan kegusarannya saat kami makan bersama di kantin.


"Tunggulah sampai nanti sore. Kalau besok dia belum masuk, kita ke rumahnya," balas temanmu. Kalian pun menunggu kabar dari Mark yang tak kunjung datang sampai hari berikutnya datang.


Ternyata keadaan tetap sapa, Mark tidak masuk sementara Eunbyeol sudah masuk.


"Mark ke mana sebenarnya? Anak itu aneh-aneh saja. Aku harus menggantikan berteriak salam 'kan!" keluh Haechan.


"Kita akan ke rumahnya setelah ini," putus Renjun.


"Teman-teman! Ini gila, serius. Aku menemukan ini di YouTube live," seru Jaemin menyusul kalian duduk di meja yang sama dengan memegang ponselnya.


"Awalnya aku ragu tetapi ... sepertinya yang ada di situ benar-benar Mark," papar Jeno perlahan.


"Mark?" kalian semua terkejut bersama.


"Biarkan kami lihat!" Jisung meminta ponsel itu dari tangan Jaemin. Jisung dan Chenle yang duduk sebelahan melihat itu bersama. Mereka tampak terkejut juga.


"Itu benar dan sepertinya keadaannya tidak bagus. Maksudku, seperti sandera," jelas Chenle sambil memperlihatkan itu pada kalian.


"Astaga! Bagaimana bisa?"


"Tunggu-tunggu," kamu menggulir layar dan menemukan bahwa akun itu memiliki ID 'Eun-Star'.


"Eun-star? Star? Byeol? Eunbyeol? Akun Eunbyeol?" kamu membuat tebakan.


"Mana mungkin? Anak itu ada di sini," sanggah Renjun. Ya, itu terlihat tidak masuk akal.


"Apa akunnya diretas?" tebak Chenle.


"Aku tidak tahu. Tetapi dua hari kemarin, saat aku keluar bersama orang tuaku. Aku melihat Mark dan Eunbyeol bersama. Awalnya aku mau menyapa. Tetapi mereka menghilang saat aku berpaling. Haruskah kita curiga padanya?" kamu memberitahu mereka dengan pelan dan volume suara yang kecil.


"Kalian sedang menonton apa?"


Suara yang terdengar lembut itu berhasil mengejutkan kalian. Dia pusat pembicaraan kalian saat ini.


"Oh, kami menonton 'Mystic Pop-Up Bar'," dengan sedikit panik, Jaemin mengganti tampilan dari live jadi aplikasi streaming yang menayangkan drama tersebut.


Apa-apaan sih? Seperti menginterogasi saja, batinmu kesal.


Jeno menurut saja dan memperlihatkan tampilan ponsel tersebut pada Eunbyeol. Untungnya tepat waktu, tampilannya berubah dan dia berhasil kalian bodohi.


"Itu drama yang bagus. Aku suka Yook Seungjae, haha," perempuan itu berlalu dan kalian menghela napas lega.


"Aku kasihan pada Yook Seungjae karena punya penggemar seperti dia kalau benar dia melakukan itu pada Mark," cerocos Renjun.


"Kita harus memastikan keaslian tayangan live itu. Videonya selalu bergoyang. Aku tidak tahu apa ini live record atau live sungguhan, hanya ada satu cara yang bisa kupikirkan saat ini," katamu pelan, "Hari ini tidak ada kelas malam, bukan? Mari ke PC Bang-- warnet."


Setelah jam sekolah berakhir, kalian pun segera bergegas menuju PC Bang terdekat dari sekolah. Total tiga komputer yang kalian sewa untuk sekitar satu jam.


"Apa itu tidak terlalu singkat? Kamu bisa menemukannya selama satu jam?" Jisung memandangmu ragu.


"Kita coba saja. Aku akan melacaknya sebisaku," kamu mulai bekerja untuk mencari dari mana video ini disiarkan melalui alamat IP. Dibilik itu, kamu bersama sahabatmu. Sementara Haechan, Jaemin dan Jeno satu bilik. Renjun bersama dengan Chenle dan Jisung.


"Oh, ada salah satu komentar yang  menyerang Eunbyeol dan bilang dia orang yang kasar sejak SMP," papar Haechan padamu dari bilik sebelah, "Sering main tangan. Sedikit-dikit memukul. Kerap pindah sekolah. Wah, aku menyesal bilang kalau dia cantik!"


"Astaga, track record dia sangat jelek. Bagaimana bisa sekolah kita menerima dia?" balas sahabatmu geram.


"Gangnam. Orang-orang penting tinggal di sana. Teoriku, tentu saja karena harta dan tahta. Ini jauh lebih rumit dari sekadar penculikan," kini Chenle yang berbicara, "Hei, bagaimana alamat IP-nya? Sudah ketemu?"


"Ketemu! Tinggal mengkonversikannya ke alamat sebenarnya. Sabar, sedikit lagi," kamu menatap monitor yang menampakkan lingkaran berputar, menanti hasil, "Yap, alamatnya jatuh di Gangnam. Aku tuliskan lengkapnya di grup. Siapa yang mau ke sana? Itu mungkin tak akan mudah."


"Ahli panjat tembok, Haechan Lee akan ikut. Siapa bersamaku?"


"Aku membawa motor, sebaiknya cepat bergerak," Jaemin dan Haechan cepat-cepat keluar dari biliknya dan membiarkan Jeno sendirian mengamati live itu.


"Sepertinya ini bukan rekaman, sekarang Eunbyeol ada di layar. Waktu pulang sekolah. Tetapi, sepertinya dia tidak seceroboh itu untuk menahan orang di rumah," Jeno menyampaikan pendapatnya.


"Dengar suara di situ. Seperti studio musik," gantian Renjun yang menyatakan pendapatnya.


"Ruangan tertutup. Seperti ruangan rahasia di film-film," sahut Chenle.


"Kita harus telepon polisi," sambung Jisung.


"Kalau memang dia anak seseorang yang berpengaruh, kita harus punya bukti kuat sebelum menelepon mereka. Temukan dulu Mark, baru telepon. Kalau tidak Eunbyeol bisa menyembunyikan dia sebelum digeledah," paparmu, "Sebentar lagi bilingnya habis. Apa kita harus menyusul mereka? Tidak harus masuk rumah, hanya memantau di sekitar sana."


"Semoga mereka cukup pintar. Aku akan minta supirku datang dengan mobil. Tetap komunikasi dengan Jaemin dan Haechan," begitu Chenle mengatakan itu, kami keluar dari bilik PC Bang dan membayar biaya total sewa 3 bilik itu untuk satu jam. Karena benar-benar tidak tahu dengan apa yang dilakukan oleh Haechan dan Jaemin kamu merasa khawatir. Ini semua sebenarnya terlalu berbahaya untuk kalian tangani sendiri sebagai murid, bukannya orang dewasa. Tetapi bagaimana lagi? Salah satu teman kalian sedang dalam kesulitan.


Tin! Tin!


Sebuah Audi Q8 perak berhenti di depan mereka dan membunyikan klakson.


"Itu jemputan kita. Ayo masuk!" seru Chenle. Jisung, Renjun, Jeno beserta kalian berdua duduk di bagian belakang. Sementara Chenle di depan.


"Kalian muat 'kan di sana? Sepertinya kelebihan orang."


"Aku sangat baik-baik saja di sini! Sebaiknya kita segera berangkat," sahutmu yang duduk di tengah, diapit oleh sahabatmu dan Renjun.


"Aku sudah memberikan alamatnya tadi, Pak. Turunkan saja di sekitar sana. Juga ketika kami turun jangan langsung pulang," Chenle berkata pada supirnya.


"Baiklah, Tuan."


Mobil itu segera bergerak, mengantarkan kalian mendekat ke Haechan, Jaemin, dan kemungkinan Mark. Kamu terus menatap ponsel dan bertukar pesan dengan Haechan.


"Mereka belum menemukan ruangan itu. Katanya di sekitar sana tidak ada ruangan berwarna cokelat dan berukiran. Banyak penjaga juga," kamu menyampaikan pada mereka.


"Aku akan terus merekam video sebagai bukti nanti," kata Jeno menyambung.


"Sudah bilang pada mereka untuk mencari semacam tombol kunci rahasia?" tanya Renjun.


"Sudah. Oh, mereka melihat Eunbyeol naik dari lantai bawah tanah. Semoga mereka aman," katamu sedikit gemetar. Bahaya yang dihadapi kamu jelas tidak ada apa-apanya dibandingkan Haechan dan Jaemin sekarang.


Haechan: Salah satu dari kalian sebaiknya menghubungi polisi


Haechan: Mark ketemu di sini


Haechan: Ketua kelas kita terlihat menyedihkan


"Aku akan telepon,” sahut sahabatmu sambil menelepon langsung polisi.


"Mereka akan segera ke sana."


"Syukurlah, sebaiknya kita juga cepat ke sana," sahut Chenle yang meminta supirnya untuk mempercepat laju mobil ini. Tak lama kemudian, kami sampai di kawasan Gangnam, di sekitar rumah Eunbyeol.


"Kalian tahu apa? Aku menemukan kalau ayahnya seorang direktur rumah sakit swasta. Orang penting? Keluarganya cukup berantakan ... ayahnya bercerai. Itu soal keluarganya," Renjun menjelaskan apa yang ia dapat setelah kami semua turun.


"Menyedihkan juga. Oh, polisi datang!"


Suara sirine polisi memenuhi jalanan Gangnam. Mobil itu mengepung rumah bertingkat 3 dengan cat abu-abu itu. Mereka masuk setelah salah satu pelayan mengizinkan mereka masuk.


Polisi masuk rumah.


Semoga mereka bisa menemukan kalian.


Buat keributan di sana agar polisi datang.


Haechan: Mark aku minta berteriak sebisanya.


Haechan: Oh! Aku dengar kunci dibuka. Ah, suaranya sepertinya sedikit bocor untuk ruang kedap suara.


Haechan: Kami menunjukkan diri pada polisi karena mau menyelamatkan Mark. Mungkin kami akan dapat hukuman kenakalan remaja, masuk rumah orang tanpa izin.


Maafkan aku atas itu


Kami akan mendekat


Kalian mendekati rumah itu dan sahabatmu menjelaskan kronologinya pada polisi, alasan dia menelepon mereka dan mengapa mereka kemari, juga tentang Haechan dan Jaemin yang menyusup ke rumah Eunbyeol. Dari dalam rumah, Mark keluar bersama Haechan dan Jaemin. Tanpa aba-aba, kalian satu pikiran untuk memeluk mereka, terutama Mark.


"Mark Lee kembali!" Kalian bisa berkumpul bersama kembali setelah 2 hari yang sulit.


"Kalian sungguh cerdas! Aku tidak menyangka, hahaha. Senang bisa bermain bersama," Eunbyeol yang digiring juga oleh polisi malah tersenyum aneh pada kalian. Badanmu sedikit merinding karena itu. Tetapi sudahlah, yang penting kalian kembali menyatu dengan selamat, meski kamu selalu berdoa agar ada keadilan dan Eunbyeol, anak baru itu, dihukum sesuai hukum yang berlaku. Tidak lepas karena harta dan tahta ayahnya.