Dream Is An Alternate Universe

Dream Is An Alternate Universe
How Han And Yuna Meet [Werewolf Game Bonus]



Hari itu berawan, cuaca yang cukup bagus menurut Cassie. Tidak juga panas, tidak juga hujan. Tetapi perasaannya tidak sebagus cuaca. Ia menghela napas dan melempar tas ranselnya ke atas kasur. Hari Sabtu yang singkat masih sama beratnya dengan hari biasa. Selama nama kakaknya belum sepenuhnya bersih, walau kini dia sudah lepas dari tersangka, orang-orang di sekolah belum benar-benar berhenti memanggilnya adik pembunuh. Belum lagi hubungan persahabatannya dengan Kei yang lebih dekat dari tiga sahabat perempuannya yang lain yang menuai hujatan dari beberapa anak terkenal di sekolah. Semua masalah ini sukses membuatnya menjadi bahan gunjingan angkatan. Bahkan sebelum minggu-minggu ini dia lebih memilih mengurung diri di kamarnya dan mengisi lembar demi lembar buku sketsanya dengan sketsa abstrak perasaannya. Ia masih kesal, kemungkinan ia akan memutuskan untuk mengurung diri lagi minggu depan. Ia tidak ingin pergi ke neraka itu lagi.


Ting! Tong!


Ia terlalu malas bergerak sekarang. Matanya terlalu malas untuk bertemu siapapun. Ia lelah. Cassie memutuskan untuk tetap berada di atas tempat tidurnya. Sementara itu, Han yang baru saja selesai memarkirkan motor di garasi langsung membuka pintu dari dalam untuk menyambut tamu.


“Permisi,” seorang wanita berambut pendek dengan senyuman tulus yang manis menyambut Han di sana.


“Oh, ya? Ada apa?” tanya Han berusaha untuk menyembunyikan rasa terpukaunya.


“Perkenalkan, saya Yuna, temannya Cassie atau bisa dibilang juga konselor,” perempuan itu mengulurkan tangan.


Han menyambut uluran itu, “Saya Han, kakak Cassie. Ada perlu apa?” Pria itu menaruh sedikit curiga disambutannya.


“Saya ingin bertemu Cassie. Kami sudah membuat janji,” jelas Yuna.


“Kalau begitu, biar saya tanya dahulu padanya,” Han berjalan menuju kamar Cassie. Ia berniat untuk mengetuk dan memanggil adiknya, tetapi niat itu terhenti karena suara tangisan.


“Cas ...,” pria itu hanya bisa menahan diri dan bertanya-tanya apa yang terjadi sebenarnya. Pandangan bingung ia lemparkan pada si konselor itu. Yuna yang cepat menangkap ekspresi langsung bereaksi dengan masuk ke rumah itu dan berjalan ke sisi Han.


“Biarkan saja dulu. Dia butuh melepaskan bebannya dengan tangisan.” Kakak Cassie itu menyetujuinya dan mengajak tamunya duduk di ruang tamu. Keheningan menjadi jurang besar di antara mereka. Han hanya terdiam, matanya tertuju pada tempat terakhir kali ia melihat kedua orang tuanya. Sementara itu, Yuna mengamati gerak-gerik Han.


“Kau masih terganggu masa lalu, ya?” tanya perempuan itu hati-hati.


“Hm, ya, semacam itu. Kau tahu dari mana? Mengamatiku?” balasan pertanyaan keluar dari mulut Han.


“Ya, aku hanya sedikit mengamatimu dan menebak...,” Yuna sedikit tersenyum, senang karena mereka setidaknya memiliki ketertarikan yang sama.


“Sejak Kei menghubungiku lewat saudara sepupunya,” jawab perempuan itu, “tepatnya sejak Cassie sudah siuman dan sedikit pulih dari cedera kecelakaan itu.”


“Apakah sulit untuk menghadapinya?” Han melempar pertanyaan lagi.


“Awalnya sulit untuk membuka pembicaraan karena aku benar-benar asing baginya. Ia benar-benar tertutup. Tetapi, waktu telah membuat kami dekat. Dia telah melalui banyak hari berat karena kasus itu, aku menyampaikan dengan jujur karena kau wali sahnya sekarang.”


“Yuna, apakah Anda percaya padaku? Yang seorang tertuduh pembunuh ini? Kau tidak tampak takut padaku,” Han mengerutkan dahi. Bingung dengan perempuan yang berbicara dengan leluasa di depannya. Tanpa ketakutan dan kebencian. Sorot mata Yuna berbeda dari pandangan orang-orang lain padanya.


“Kau tidak berbohong saat kau bilang kau bersih di tiap persidangan,” perempuan itu tersenyum, “wajahmu yang tertunduk, berusaha membela diri di televisi... Aku tahu. Serta, aku tahu pula kau tidak senang dengan putusan terbaru walaupun itu membuatmu bebas... kau juga mengalami banyak hal berat.”


“Kak Yuna?” sebuah suara kecil memanggil nama Yuna dan membuat Han urung menyahut jawaban lawan bicaranya.


“Oh, Cassie,” perempuan itu menampakkan senyum tulusnya.


“Kalian sepertinya cepat akrab....”


“Ketertarikan yang sama, Cas. Seperti kita yang sama-sama suka Spongebob.”


“Ah... Kak Han juga suka film yang sama dengan Kak Yuna? Kapan-kapan kita bisa nonton bertiga!” seru Cassie, seperti tidak terjadi apa-apa pada dirinya beberapa menit yang lalu.


“Yuna, adikku tidak kena bipolar ‘kan?” tanya Han perlahan, berbisik.


“Entahlah, aku tidak bisa diagnosis instan dan itu belum jadi kewenanganku. Aku konselor yang mungkin akan sering Anda lihat. Jadi, biasakanlah diri Anda.”