Dream Is An Alternate Universe

Dream Is An Alternate Universe
Evanescence



Taman ini selalu membuatku jatuh cinta sejak pertama datang ke sini. Kelopak bunga sakura selalu bermekaran dengan indah, memberi warna merah muda yang lembut. Kadang ini tampak seperti mimpi, kadang juga terasa nyata. Ada kalanya aku berpikir, apakah ini surga? Ya, tempat ini benar-benar seindah itu bahkan aku yakin dapat melunakkan hati yang paling keras sekali pun. Aku bahkan masih ingat saat pertama sampai di sini dan bertemu dengan gadis itu, tepatnya dirimu. Kau duduk di tengah taman dengan anggunnya. Gaun putih yang melekat di tubuhmu serasi dengan sejuknya taman ini. Rambut hitammu yang digerai tertiup angin dengan lembut. Kalau boleh jujur, aku bahkan masih ingat bagaimana tatapan terkejutmu saat aku pertama kali berada di sini.                                                                                


“Kau siapa? Mengapa kau bisa ada di sini?” kedua mata hitammu yang seperti menyimpan banyak kesedihan terbelalak.                                                                           “Mana aku tahu? Aku tiba-tiba saja ada di sini,” jawabku apa adanya karena selayaknya orang baru, pengetahuanku tentang tempat ini sangatlah minim.                        


“Oh, b-begitu, ya?” suaramu terdengar gemetaran setelah mendengar jawabanku.                         


“Tempat apa ini sebenarnya?” tanyaku waktu itu.         


                                                           


“Taman bunga,” kau menjawab pertanyaan tersebut dengan singkat. Kedua mata yang tadinya terbelalak, kini melembut saat melihat sekitar.                                                                 


“Taman? Hanya itu?” selidikku karena saat itu aku masih benar-benar bingung.


“Yah, hanya itu yang bisa aku beritahu padamu,” katamu sambil tersenyum.                  


“Sejak kapan kau berada di sini?” lagi-lagi aku bertanya.                                                        


“Huh? Sejak kapan, ya? Aku juga tidak tahu. Waktu di sini sulit didefinisikan. Ini tempat yang membingungkan, tetapi indah.” Perubahan wajahmu dari bingung menjadi senyuman indah membuat jantungku berdegup lebih kencang.


Bahkan, saat aku membayangkannya seperti ini, senyummu, tingkahmu, suaramu, membuatku ingin bertahan lama di sini. Saat itu, setelah delapan belas tahun hidup, aku baru mengerti perasaan jatuh cinta yang selalu dibicarakan orang-orang.                                                 


“Ya, aku setuju ini memang indah,” balasku dengan senyuman besar padamu.          


“Aku tidak mengharapkan teman di sini ... tetapi kau tahu? Aku juga sangat takut sendirian,” kau tiba-tiba mencurahkan hal itu padaku, “Jangan salah paham! Aku mengatakan ini karena mungkin kau akan keluar dari taman ini cepat atau lambat.”                      


“Eh, mengapa pula aku harus keluar dari sini? Ini sangat bagus kalau menjadi realitasku!” seruku padamu.                                                                                                               


“Berlama-lama di sini bisa berbahaya untuk seseorang yang sepertinya disayangi di dunia sepertimu,”  kau melontarkan kalimat yang tidak dapat kumengerti saat itu.                              


Makannya aku memperkenalkan diri sebagai pengalihan, “Namaku Gavin. Kau belum menyebutkan namamu dari tadi.”                                                                                         


“Aku Kyra, senang bisa mengenalmu. Namun, akan lebih baik jika kau cepat pergi dari sini.” Saat itu aku hanya menertawakan kalimat pengusiranmu itu. Tidak, aku benar-benar tidak ingin meninggalkanmu.                                                                                            “Kau konyol. Aku baru saja datang sudah kau usir,” jawabku dengan sedikit tawa.


“Lihat saja, kau pasti akan keluar dengan cepat,” katamu saat itu dengan, hm ... sedikit nada serius. Namun kenyataannya, hubungan kita makin dekat seiring berjalannya waktu karena aku tidak kunjung mengangkat kaki juga dari taman ini.


Apa kau ingat bagaimana kita menghabiskan hari di taman ini dengan penuh kehangatan? Apakah kau ingat bagaimana tawamu saat kau aku goda dengan rayuanku? Benar-benar suasana yang berbeda dengan saat ini. Angin dingin mengitari kita.                                                 


”Kita harus mengakhiri hubungan ini sebelum terlalu jauh,” itu katamu di hadapanku hari ini.                                                                                                                                              


“Berakhir? Ini bahkan baru dimulai! Ada apa Kyra?” pertanyaanku itu dijawab keheningan. Diam, membisu, sepertinya tidak ada lagi yang bisa kau katakan. Sejak kau mengatakan keputusanmu itu aku tidak bisa mendengar tawamu, jangankan tertawa, berbicara pun tidak.


Waktu terus berjalan, tempat ini menjadi kotor karena kelopak bunga yang berguguran. Namun, wahai cinta pertamaku, si gadis bergaun putih yang mematung di hadapanku, mengapa engkau tidak kunjung memberi jawaban atas pertanyaanku? Jawaban atas berakhirnya hubungan kita. Mengapa sesuatu yang indah dalam hidupku selalu berakhir seperti ini? Aku tidak mengerti. Bahkan ketika gelap berangsur-angsur menjadi terang, kau belum menjawab. Aku benar-benar tidak bisa menahannya!                                                   


"Jawablah! Mengapa ini harus berakhir? Apakah aku memang tidak bisa mendapatkan keduanya? Cinta dan orang yang aku cintai?"                                                                        


Gadis itu mulai membuka mulut, "Gavin ... kita memang tidak bisa bersama. Ini semua hanya mimpi."                                                                                                                                     


"Jika ini memang mimpi, maka aku tidak ingin bangun!" tegasku.                                               


"Tidak bisa. Kau harus bangun," kata gadis itu.


                                                                      "Mengapa?" Sebagai jawaban atas pertannyaanku, gadis itu mendekatiku dan memelukku lalu ia menutupi mataku dengan tangannya. Secara reflek aku memejamkan mataku. Gelap. Semuanya menjadi gelap. Hitam. Aku tidak bisa merasakan apapun. Ketika aku membuka mataku kembali, seberkas cahaya putih memasuki inderaku.                                                             


"Kyra...," aku memanggil nama gadis tersebut dengan lemah.                                                                          


"Gavin?"                                                                                                                                   "Akhirnya kau membuka matamu." Aku samar-samar mendengar suara orang lain.            


"Gavin, kau sudah sadar? Matthew, Spencer, panggilkan dokter," setelah meminta dua manusia itu memanggil dokter, orang itu menatapku.                                                                  


Aku mulai mengumpulkan ingatanku tentang orang ini,  "Kak Dennis...."                              


"Ada apa?" sahut orang itu yang tidak lain adalah Kak Dennis. Aku mengingat kembali kejadian sebelum aku bangun tadi. Kyra, kenangan itu, dan taman sakura. Tidak, aku masih menolak kalau mereka tidak benar-benar ada.                                                                 


Sungai kecil mulai mengalir di wajahku, "Tidak mungkin, Kak. Dia ... dia ... benar-benar ada ‘kan?"                                                                                                                                        


Kak Dennis memelukku, “Tenanglah, Gavin...."


Sejak aku keluar dari taman itu dan terbangun di atas ranjang rumah sakit. Aku masih terus memikirkannya. Tidak peduli kata terakhirnya yang seakan-akan memintaku enyah dari hadapannya untuk selamanya, aku tetap ingin bertemu dengannya.                                                 


“Oh, Gavin. Kau menggambar lagi?” Kak Dennis masuk ke ruanganku dan memergokiku sedang menggambar sosok Kyra sesuai ingatanku.                                             


“Yah, selama aku masih mengingatnya, bagaimana mungkin aku dapat melepasnya begitu saja?” aku menjawab dengan penuh semangat karena teringat saat-saat bahagia kita.    


“Huh, sebenarnya siapa gadis itu? Sepertinya kau punya perasaan yang dalam padanya,” tanyanya dengan sedikit nada menggoda.                                                                   


“Ini ... namanya Kyra, Kak. Tunggu ... perasaan mendalam?” aku mencoba mempertanyakan maksud frasa ’perasaan mendalam’ yang dia katakan tadi.                             


“Ya, Kyra itu, apa dia kekasih gelapmu, huh? Bahkan saat pertama kamu siuman dari koma, nama yang kau sebutkan bukan salah satu dari kami, tetapi gadis itu,” apa Kak Dennis iri karena namanya tidak kusebut saat bangun?                                                                                                                                     


“Uh, koma?” Aku koma? Bagaimana bisa? Apa Kak Dennis memgada-ada?


“Ternyata kamu benar-benar lupa segalanya tentang kejadian itu, ya?”  ia mendengus, lalu terlihat sedikit murung. Aku benar-benar tidak paham dengan tingkah kakak tertuaku itu.


“Sebenarnya, kamu ini terlibat kecelakaan besar dan membuatmu mengalami banyak cedera. Lalu ... kamu koma selama sekitar satu bulan dan, yah, begitulah,” Kak Dennis menunjukkan raut sedih. Ah, masuk akal juga, aku tak mungkin tiba-tiba ada di rumah sakit dengan segala perban ini ‘kan? Namun, tunggu, apa itu artinya Kyra benar-benar hanya ada dalam mimpiku? Mengapa pula satu bulan terasa cepat dalam mimpiku?


“Hum, seperti itulah. Dia ada di dalam mimpimu saat koma. Apa kau pernah menemuinya?” dia bertanya lagi.


“Hanya di mimpi itu. Mungkin terdengar tidak masuk akal, Kak. Tapi, aku benar-benar merasakan jatuh cinta padanya di mimpi itu,” ceritaku. Ah, makin banyak kubercerita, makin terasa rinduku padanya.


“Hei, Gavin! Dennis! Eh, adik kita sudah lebih baik. Wah, lihat gambar-gambar itu Matthew!” Kak Spencer masuk dengan banyak makanan dan keributan.


“Ya, Spencer, aku punya mata. Hei, kau menggambar gadis cantik itu lagi. Siapa sebenarnya dia?” kini Kak Matthew yang mendekat padaku dan mengamati sketsa wajah Kyra yang aku buat.


“Ini Kyra, Kak. Cinta pertamaku dalam mimpi. Aku yakin, suatu saat kami bisa bertemu di realitas ini.”


***


Entahlah, kebahagiaannya sekarang malah membuat hatiku terasa makin hancur saja. Bukan, bukan maksudku membenci adikku yang bahagia. Hatiku jadi sedih karena melihatnya bahagia di atas ketidaktahuan. Ya, aku membohonginya. Dia koma bukan karena kecelakaan, itu karena kelalaianku sebagai kakak. Bagaimana bisa aku sama sekali tidak tahu kalau dia dirisak oleh teman-temannya? Bagaimana bisa aku tidak memperhatikan tangisan dibalik senyuman manisnya? Bagaimana aku, Dennis, kakak tertua dari Gavin, tidak tahu ia benar-benar kesulitan di dunia ini dan sangat ingin mengakhiri hidupnya? Maka untuk menebus kesalahanku, aku akan memperbaiki hidupnya.


“Hei, Gavin, kamu benar-benar rindu pada gadis itu?” tanyaku padanya.


“Sebenarnya iya, lucu sekali, aku tidak pernah bertemunya dalam mimpi tidurku. Huh, apakah dia malaikat yang aku temui saat koma?” ia mendengus jengkel, “Aku merindukannya, tetapi aku tidak mau koma lagi.” Aku hanya tersenyum mendengar jawaban itu.


“Bahkan setelah dia mengusirmu dari mimpi?” candaku.


“Kalau dia tidak mengusirku, aku pasti akan sangat membebani kalian,” Gavin terlihat agak murung.


“Oh, tidak, tidak, kau tidak pernah membebani kami,” hiburku dengan cepat. Aku tidak mau dia murung lagi.


“Kak, apakah ini lucu?” dia tiba-tiba bertanya.


“Apa yang lucu?” aku membalasnya dengan pertanyaan juga.


“Kisahku. Cinta pertama dalam mimpi yang sangat membekas. Bukankah ini terdengar bodoh untukku, seorang laki-laki yang menginjak umur delapan belas tahun? Aku bahkan rindu dengannya sesekali, seperti sungguh-sungguh terjadi,” ia menatapku seperti meminta jawaban.


Aku tersenyum lagi padanya dan menggeleng, “Aku dengar itu biasa terjadi pada orang yang koma lama. Mereka masih agak sulit membedakan realitas dan mimpi, terlebih kepalamu cedera. Lagi pula, kami tidak ada yang menertawakanmu, kok. Tenanglah hm? Kau hanya butuh waktu untuk sembuh.”


“Ah, mungkin juga itu pengaruh cederaku. Aku ingin cepat pulih,” balasnya semangat.


“Pelan-pelan saja, jangan paksakan diri,” aku melirik jam di dinding. Sudah pukul 7 malam rupanya. Sebentar lagi, Matthew sampai dan bergantian jaga denganku.


“Nah, di mana gambar-gambarmu itu? Aku akan bawa pulang sebagian. Matthew akan membawakan kertas baru untukmu. Aku sudah pesan padanya.”


“Map kuning itu, aku sudah mengumpulkannya jadi satu. Aku sudah bisa menggunakan kedua tanganku dengan lebih baik, jadi, aku bereskan sendiri,” dia tersenyum sambil menunjuk map kuning yang ada di nakas.


“Baguslah kalau begitu,” aku mengambil mapnya dan sedikit melihat ganbar-gambarnya, “Oh, gambar-gambarmu bagus sekali. Aku rasa kau harus mencoba menjadi komikus saat sudah pulih total besok.”


“Aku akan melakukannya, Kak! Ide itu terdengar menarik.”


“Ide apa yang menarik dan kalian bicarakan tanpa aku?” Matthew tahu-tahu saja sudah datang dan menyambung percakapan kami.


“Aku akan membuat webtoon saat pulih nanti!” seru Gavin semangat.


“Oh! Bagus itu! Nah, Kak Dennis bisa pulang. Aku akan menjaganya,” Matthew menepuk pundakku, “Beristirahatlah!”


“Ya, Matthew. Daah, Gavin!” Kini aku keluar dari ruangan rawat Gavin setelah berpamitan. Namun, aku tidak langsung pulang karena, sungguh, aku penasaran dengan gadis di mimpi Gavin yang terasa tak asing. Aku ingin mencarinya demi kebahagiaan adikku sendiri, salahkah aku juga berharap gadis itu nyata? Karena belakangan ini aku selalu berada di rumah sakit, aku mencoba mencarinya di sekitar sini. Mungkin saja dia adalah dokter, perawat, atau salah satu staff rumah sakit. Maka dari itu, aku mengunjungi bagian resepsionis.


“Selamat malam, ada yang bisa saya bantu?” salah satu staff menyambutku.


“Saya merasa melihat seorang kenalan adik saya di rumah sakit ini. Bisakah Anda mencari tahu orangnya? Kira-kira seperti ini orangnya. Adikku sangat ingin bertemu dengannya, katanya, sih teman lama, jadi dia tidak punya kontaknya,” aku melancarkan aksiku dengan memberi staff itu sketsa gadis dalam mimpinya Gavin yang berambut hitam panjang dan berwajah lembut.


“Siapa namanya? Mungkin saya bisa mencarinya di database kamar ini,” tanyanya.


“Kyra,” jawabku singkat.


“Nama lengkap?”


“Dia tidak ingat, adikku mengalami amneaia retrogade, jadi dia hanya mengingat itu.”


“Sebentar, ya,” staff resepsionis itu mencari di komputernya.


“Di bangsal ini tidak ada seorangpun yang bernama Kyra. Saya perluas lagi pencariannya.” Aku hanya bisa menanti dengan sabar dan berharap yang terbaik untuk adikku.


“Oh, ada satu yang sesuai dengan sketsa ini. Kyra Lunaria, ia ternyata satu sekolah dengan adik Anda, tadinya pasien di ICU.” Aku mengangguk-angguk, yah, aku lama berada di sana saat menjaga Gavin.


“Apa sekarang dia sudah pindah ke bangsal?” tanyaku sedikit penuh harap.


Staff rumah sakit itu menghela napas sebelum memberikan jawaban, “Tidak. Dia benar-benar anak yang malang. Meninggalkan dunia tanpa ada yang menemaninya.”


“Maaf? Maksud Anda?”


“Kyra dipukuli oleh ayahnya dan kedua orang tuanya tidak ada yang mau membayar tagihan rumah sakit. Dia meninggal tanpa ada yang mengakui kehadirannya. Kisahnya sudah menyebar ke seluruh staff.” Mendengar kisah itu membuat hatiku patah untuk kedua kalinya hari ini. Benakku mulai berandai-andai lagi. Jika saja Gavin dan Kyra bertemu sebelum ini semua terjadi, apakah mereka akan mengalami kemalangan ini juga? Andai saja aku bisa menghentikan perisakan yang dilakukan teman-teman Gavin, mereka bisa saja bertemu. Lalu, jika Gavin tahu Kyra benar-benar ada tetapi tidak pernah kembali ke dunia ini, ia pasti akan kembali bersedih. Maafkan aku Gavin, karena mengubur banyak kebenaran di belakangmu dan belum bisa mewujudkan keinginanmu itu. Aku memang belum bisa menjadi kakak yang baik. Maafkan aku.


***


Aku masih berada di sini, berlutut dan menahan tangis di tengah taman. Kakiku rasanya masih enggan beranjak sejak kepergianmu. Bunga-bunga tak henti-hentinya menggugurkan diri bahkan setelah kau lama.pergi. Apa mereka juga merindukanmu seperti diriku? Apa mereka sama bersedihnya dengan diriku? Mengapa aku harus bertemu dirimu dengan cara seperti ini? Air mata ini akhirnya tumpah karena tak kuasa kubendung lagi.                                                                                    


  "Maafkan aku, Gavin. Bukan maksudku membuat hatimu terluka. Sungguh! Kau harus bangun karena kau masih memiliki orang yang mencintaimu di dunia, sementara aku? Aku memang sudah tidak diinginkan. Ini untuk kebaikanmu. Meskipun kita sama-sama mencintai, tetapi perbedaan dunia ini tidak bisa menerima ego kita. Maafkan aku harus melepasmu ... maaf. Aku merindukanmu juga."