
Older brother! Yunho TVXQ!
Little sibling! Pembaca
Semesta alternatif dimulai sekarang!
...
...
...🎶...
...Don’t fuss over small things...
...You have to become stronger...
...So that you can laugh it off...
...(U-Know Yunho TVXQ! - Thank U)...
...🎶...
Hidup di keluarga Jung memanglah menyenangkan. Ayolah, siapa yang tidak senang hidup di keluarga dengan kakak yang menjadi legenda K-pop dan diingat oleh banyak orang. Kamu bahkan bisa berjalan dengan membusungkan dada di Korea karena U-Know Yunho yang termasyhur itu adalah kakakmu! Tetapi, dia lebih memilih untuk menjauhkanmu dari sorotan kamera. Bukan karena malu. Buat apa dia malu padamu? Bahkan faktanya, dia bangga karena kamu hebat di bidang yang kamu kuasai dan senangi.
Alasannya karena keamanan. Masa lalu yang gelap membuat dia melakukan itu dan kamu tidak protes. Kakakmu sangat mempedulikan keselamatanmu. Dia keren, sungguh. Ah, jangan lupakan Jung Jihye, kakak perempuanmu yang lembut, cantik, dan penyayang juga sudah menikah lebih dulu dari pada kakak tertuamu.
Yunho sepertinya lebih memilih menikahi musik karena lebih perhatian dengan kariernya juga para juniornya dari pada hubungan percintaan.
Setidaknya semua tampak menyenangkan sampai suatu hari yang mendung di sebuah gang buntu kiri sekolah, kamu sadar orang-orang iri pada kehidupanmu. Rasa iri itu membuat orang yang seharusnya kamu sebut sebagai teman, berubah jadi musuh.
"Ada banyak keluarga Jung di Korea ini. Mana mungkin anak sepertimu adik dari Jung Yunho? Dia membual! Hahaha," perempuan itu menjambak rambutmu dengan kencang setelah selesai memukulimu. Seluruh badanmu terasa remuk dan sakit, ini kali pertama kau merasakan hal seperti ini.
"Aku tidak bisa berbohong dan juga keluargaku tidak mengajarkan aku berbohong. Untuk apa?" ujarmu pelan karena sekarang bibirmu terasa perih. Pasti karena seorang perempuan dari geng itu menampar wajahmu yang indah itu. Ah, kurang ajar.
"Buktimu apa? Hanya foto? Hahaha! Aku juga bisa membuat seperti itu dan bilang kalau aku pacar Jung Jaehyun! Anak halu! Sadar dengan dirimu," perempuan yang menjambakmu kini menghempaskan dirimu ke tanah dan tertawa kencang diikuti para anggota gengnya.
"Aku juga bisa me-rename nama salah satu teman kelasku dengan nama Jung Yunho ATEEZ. Kau pikir kami tertipu dengan konfirmasimu soal rumor itu?"
"Hujan akan turun! Ayo segera pergi dan bersihkan diri dari kenajisan tukang halu ini!" mereka pergi dan meninggalkan dirimu yang masih terkapar di tanah. Untuk beberapa saat kau terdiam dan tertawa dalam hati.
"Tukang halu?" lirihmu sambil mencoba berdiri lagi.
Drt! Drt!
Ponselmu yang dilempar oleh para perundung jauh dari dirimu itu bergetar. Dengan tenaga yang tersisa, kamu merayap untuk mengambil benda tersebut. Rupanya kakakmu memanggil.
"Kau tidak ada di sekolah," suaranya sedingin udara saat ini.
"Tidak biasanya mau menjemput. Aku di gang buntu kiri sekolah," jawabmu lirih.
"Aku akan cepat," sambungan itu dimatikan dan kau mencoba berdiri lagi. Setidaknya kamu tidak terlihat sangat menyedihkan saat dijemput oleh kakak tertuamu itu. Tak lama setelah kamu berhasil berdiri, hujan turun. Tas yang kamu bawa menjadi lebih berat karena air yang meresap. Matamu menjadi lebih buram karena terhalang air hujan. Langkahmu yang sudah terseok-seok jadi makin sulit karena air mulai menggenang.
Brak!
"Adikku?" sosok pria tinggi yang menyembunyikan wajahnya dengan masker, kacamata, dan topi turun dari mobil dan berlari menembus hujan demi mendekatimu. Meski begitu, suara itu sungguh kamu kenali.
"Kakak terlambat ...," setelah mengatakan itu, tubuhmu yang tak kuasa lagi menahan semua rasa sakit yang menyerang, terutama di bagian perut, ambruk begitu saja. Pandanganmu yang tadinya buram kini hitam sepenuhnya.
Selanjutnya, kamu sudah terbangun di ruangan rumah sakit dengan pemandangan pertama adalah kakak laki-lakimu.
"Adikku sudah bangun? Syukurlah. Kamu benar-benar membuatku khawatir. Aku segera membawamu kemari setelah pingsan dan kutangkap. Jihye sedang dalam perjalanan kemari. Astaga, apa yang sebenarnya kau lakukan di sana? Seharusnya kamu tetap ada di sekolah. Jihye bilang biasanya kamu menunggu di sekolah. Lalu, semua luka-luka itu ... ah, kamu tidak melawan balik? Mengapa? Ah, itu tidak penting sekarang. Tetapi, bagaimana bisa kamu terlibat dalam hal seperti ini, adikku? Juga hujan, hujan tidak baik buat kesehatan, kamu sudah tahu. Mengapa tidak berteduh? Mereka yang membuatmu seperti ini benar-benar punya nyali yang besar. Orang-orang itu membuat badan adikku tergores. Buka hanya gores, bahkan memar dan perdarahan. Karena mereka bahkan kamu harus masuk ruang operasi. Ah, benar-benar kurang ajar. Kamu mau membalas mereka? Aku siap untuk mengajarimu membela diri," dia berbicara panjang lebar. Ah, mengapa juga dia membuat otakku yang baru tersambung kembali jadi lag seperti ini.
"Kak, maaf ... bisa tenang dahulu?" lirihmu yang sudah tidak kuat mencerna semua kata-katanya yang terlontar seperti baris lirik rap. Untung saja dia berhenti dan tidak berbicara selama 3 jam. Kalau sepanjang itu mungkin bisa-bisa membuat para penghuni Hera Palace tobat.
"Adikku, maaf, aku benar-benar marah. Bagaimana keadaanmu? Maksudku ... tentu saja itu sakit. Hanya saja, lebih baik?" ia menenangkan diri dan duduk di sampingmu.
"Huft, maaf. Kalau saja aku datang lebih cepat sedikit ...."
"Kalau saja aku punya mesin waktu dan membuat kakak datang lebih cepat. Sudahlah, ini sudah terjadi," kamu sekarang tampak lebih tenang dari Yunho sendiri.
Tok! Tok!
"Masuk!" seru Yunho tanpa tenaga. Pintu terbuka dan menampakkan Jihye masuk dengan raut khawatir.
"Oh, astaga ... bagaimana bisa?" tanyanya dengan nada sedih. Bagus, kini kamu membuat kedua kakakmu sedih. Tidak, bukan kesalahanmu, tentu saja, perundungan menjadi salah mereka yang melakukan, bukan korbannya.
"Ceritanya panjang dan konyol. Mungkin aku akan ketik di ponsel saja," kamu menjawab singkat lagi.
"Ponsel apa? Ponselmu mati terguyur hujan dan ada beberapa bagian yang pecah di sana sini. Lebih baik setelah ini beli yang baru. Kamu sudah menjaga benda itu 4 tahun," setelah Yunho berkata seperti itu, kamu hanya melempar pandangan terkejut. Rusak? Ah, mereka itu benar-benar keterlaluan karena sudah merusak mental, badan dan ponselmu.
"Ketikkan saja di ponsel kakak," sambung Yunho, "dan akan lebih baik kalau kamu mengetik tidak dalam posisi tidur seperti itu." Yunho pun mengatur posisi ranjang itu menjadi duduk dengan perlahan. Ya, dia tampak kuat, kasar dan keras saat dipanggung. Tetapi aslinya seperti Hamtaro yang lembut.
Begitu selesai dengan pengaturan ranjang, kamu mengetikkan semua yang terjadi.
^^^Awalnya hanya karena rumor yang menyebar di sekolahku bahwa aku adik dari Jung Yunho. Itu rumor yang benar, bagaimana pun juga, masa aku mau menyangkal kalau punya kakak sehebat dirimu, meski agak menyebalkan? Jadilah orang-orang di sekolah mulai menanyakan soal kekerabatanku dengan kalian. Ada yang minta bukti chat, foto, bahkan aku diminta video call. Tetapi aku tidak mau mengganggu kakak, jadi tidak aku lakukan. Karena itu, ada sekelompok anak yang iri karena aku, orang yang terlihat biasa, ternyata saudara seorang artis. Terjadilah itu semua sepulang sekolah. Aku diseret ke gang itu, dirisak habis-habisan tanpa mau mendengar penjelasanku. Memang konyol sekali. Tertawakan saja karena ini memang lucu. Aku juga tertawa kok, sebelum sadar kalau badanku jadi seperti ayam geprek, remuk.^^^
Setelah itu aku mengembalikan ponsel itu dan membiarkan kakak-kakakku membacanya sementara aku menerawang keluar kaca jendela. Pemandangan langit malam yang penuh dengan lampu, bukannya bintang.
"Orang-orang yang merisakmu ... haruskah aku balas? Atau kamu mau membalasnya sendiri?" Yunho bertanya, "mereka harus diberi pelajaran dan kalau bisa keluar dari sekolah. Mau jadi apa bangsa ini jika mereka tidak mendapat hukuman. Kita lapor ke polisi sekarang juga kalau perlu."
Kamu menggeleng pelan, "Tidak perlu polisi, beri waktu mereka untuk berubah. Biarkan sekolah menghukum. Kalaupun mereka dikeluarkan, jangan sampai mereka tidak dapat sekolah pengganti karena mereka justru butuh dididik. Sudah sekolah saja bar-bar, apalagi kalau tidak."
"Wah, pemikiran itu ... kamu benar-benar adikku yang bijaksana," Yunho kagum dengan pemikiranmu.
"Kita punya dua orang yang terlalu baik di keluarga ini," kata Jihye yang malah heran dengan keputusanmu.
"Tetapi ... ada satu skenario balas dendam yang harus aku lakukan untuk mereka," kamu tertawa kecil ketika mendapatkan suatu ide bagus.
"Kita bisa melakukan itu bersama ketika kamu sudah benar-benar pulih. Aku tidak sabar," Yunho juga mengikuti tawa kecilmu.
Kamu menghabiskan sekitar seminggu untuk pulih setidaknya sekitar 90%. Selama seminggu itu pula, kamu dan kakak tertuamu, Jung Yunho, menyusun rencana pembalasan dendam. Kalian menikmati waktu perencanaan bersama tersebut.
Sampai tiba saatnya kamu kembali masuk sekolah. Hanya saja kali ini kamu tidak langsung masuk ke kelas. Karena baru saja pulih, kamu masih harus dibantu dengan kursi roda dan kali ini yang mendorongmu adalah Jung Yunho.
"Yunho-ssi, silakan duduk dahulu," sambut guru BK di sekolahmu. Ya, hari ini kamu masuk ke ruang BK untuk membicarakan kejadian itu. Kakakmu duduk di sofa yang disediakan di sana, bersebrangan dengan gurumu.
"Kami turut prihatin dengan apa yang terjadi. Sekolah akan menghukum anak-anak yang terlibat dengan mengeluarkannya dari sekolah," kata guru tersebut.
"Itu bagus, tetapi pastikan mereka mendapat sekolah baru karena jika mereka tidak dididik dengan baik secara perilaku maka mereka hanya akan menjadi sampah negara," kakakmu itu tersenyum, "Nah, bisa panggilkan anak-anak itu kemari? Saya mau bicara dengan mereka."
Pertunjukannya dimulai! Kamu sangat bahagia bisa menonton ini.
"Baik, akan saya panggilkan mereka." Guru itupun keluar dan memanggil mereka. Tak lama kemudian, empat perempuan yang merundungmu kemarin masuk ke ruangan. Ekspresi pertama mereka jelas terkejut karena melihat seorang Jung Yunho berdiri dan berjalan ke arah mereka dengan wajah serius. Wah, jika ada popcorn di sini semuanya akan lengkap, pikirmu.
"Jadi, ini mereka yang berani merundung adikku? Tahukah kalian kalau karena kelakuan konyol kalian, adikku harus berdiam diri di rumah sakit saat harusnya dia bisa belajar di sekolah seperti kalian dan menikmati udara segar? Karena kalian pula bahkan sampai hari ini dia belum bisa berdiri dengan benar sejak hari itu. Kalian bisa bayangkan betapa sakitnya hatiku melihat adikku babak belur seperti itu, bahkan sampai dioperasi? Bagaimana kalau itu terjadi pada saudara kalian, apa kalian tega? Kalau kalian masih punya hati seharusnya tidak. Juga, sebenarnya apa masalah kalian jika adikku hanya berimajinasi punya kakak sepertiku? Bukannya itu masih wajar selagi bukan obsesi dan lagi pula itu memang faktanya, dia adikku. Masalah kalian apa sampai merisak dia karena hal ini. Kalian iri? Menyedihkan kalau itu alasannya. Bahkan dia tidak hanya adikku, dia juga bisa kenal dengan Jung Yunho ATEEZ atau berpacaran dengan Jung Jaehyun NCT, peluangnya lebih besar dari kalian. Juga jangan coba membantah, ada bukti luka adikku dan rekaman CCTV toko kelontong. Seharusnya kalian berpikir dahulu sebelum bertindak. Perisakan memang banyak terjadi tetapi bukan berarti itu biasa dan benar. Kalian benar-benar beruntung karena adikku tidak berniat untuk melaporkan kejadian ini ke polisi, padahal buktinya kuat. Aku harap kalian memikirkan dalam-dalam tentang kelakuan kalian selama masa ini. Masih ada waktu untuk berubah dan sadar. Jika diteruskan kalian akan jadi sampah negara," mereka tertunduk dalam posisi berdiri selama kakakmu berceramah. Inilah pembalasan dendam yang kamu maksudkan. Kamu tahu kakakmu suka berceramah dan lebih baik dimanfaatkan seperti ini.
"Saya sudah selesai, semoga kalian dapat berubah setelah ini," Yunho kembali duduk ke sofa. Oh, bukan hanya para perundung itu, gurumu pun terkejut melihat betapa panjangnya ceramah kakakmu. Ruangan itu senyap untuk beberapa saat sebelum satu persatu dari mereka berlutut di depanmu sambil menangkupkan tangan.
"Maafkan kami! Jangan biarkan kami dikeluarkan dari sekolah. Semua yang terjadi kemarin memang salah dan benar-benar konyol! Terima kasih juga tidak melaporkan kami ke polisi. Jangan biarkan sekolah mengeluarkan kami!" mereka memohon padamu dan kamu hanya tersenyum melihat itu semua.
"Cukup. Peraturan sekolah adalah peraturan. Karena poin kalian sudah sangat banyak ada baiknya kalian segera mencari sekolah lain. Sekarang mohon keluar dari ruangan ini," rupanya kamu tidak perlu menjawab karena gurumu sudah berbicara. Itu bagus, mereka juga perlu efek jera. Mereka pun keluar dari ruang BK.
"Saya harap yang seperti ini tidak akan terjadi lagi terhadap siapa pun di sekolah ini," kata kakakku.
"Saya harap juga begitu. Ketegasan Anda tadi ... melebihi saya," balas guruku, "Juga menimbang adik Anda belum pulih sepenuhnya, sebaiknya setelah ini kalian pulang dan beristirahat di rumah. Jadwal Anda padat juga pasti."
Singkat cerita, kamu kembali ke rumah. Di dalam mobil, kamu menatap kakakmu.
"Kakak tadi tidak bersembunyi, lalu bagaimana jika ada paparazi macam Dispenser yang menangkap kejadian itu?"
"Tanpa membuka penyamaran mereka juga akan tahu itu aku. Biarkan saja, toh kita tidak berbuat kejahatan. Mengapa harus takut? Kalau memang kejadian perundunganmu terbuka di umum biarlah itu terjadi. Anggap saja itu tuaian mereka, para pelaku." Kalian tertawa bersama dan menikmati perjalanan menuju rumah, "oh, ya, dan namanya Dispatch, bukan Dispenser. Juga satu lagi, skenario yang kamu buat bagus juga. Mengapa tidak coba jadi penulis?"