
Citizen of Planet in a galaxy far, far away! Renjun NCT Dream, Ning-Ning aespa, Heechul Super Junior, Hangeng dan pembaca
Best friend! Renjun NCT Dream dan pembaca
Resistance pilot! Sehun dan Lay EXO
Father! Heechul Super Junior
Renjun father! Hangeng (ex.) Super Junior
(Terinspirasi mimpi yang ada di Worldview Star Wars)
⚠️ Menyebutkan fobia dengan suara pesawat, tidak semua yang ada di sini sesuai dengan canon maupun legend Star Wars
Sebuah (trilogi) semesta alternatif dimulai sekarang!
🎶
We’re the players who will make that dream come true
(Boom - NCT Dream)
🎶
A long time ago in a galaxy far, far away ....
Perang telah berakhir! Itu yang kamu tahu. First Order telah dikalahkan. Stormtrooper mereka telah ditarik dari wilayahmu. Sebagai warga biasa tentu kamu bersyukur atas itu. Setidaknya kamu bisa keluar dari rumah dengan aman. Akan tetapi, apa yang akan terjadi selanjutnya? Siapa yang akan memimpin galaksi kalian?
"Renjun, aku jadi khawatir ... tentang masa depan kita," kamu dan Renjun sedang duduk di sebuah bukit rumput dan menonton munculnya bulan merah di planet kalian sekalian merayakan kebebasan yang tak gratis itu.
"Hm? First Order dan Sith sudah tiada. Tidak ada lagi tirani yang menguasai. Kita sudah bebas," balas Renjun setelah menelan satu suap hotpot yang ia bawa.
"Freedom is not free, Renjun. Ada harga yang harus dibayar sebelum dan setelahnya. Kita belum punya penguasa tetap. Bagaimana kalau itu menimbulkan civil war lagi?" kamu menatap bulan merah yang mulai muncul di cakrawala.
"Kamu benar-benar anak ayah, ya? Bahkan kutipan itu mendarah daging. Mmm, aku berharap itu tidak terjadi," balas Renjun setelah itu menghela napas, "Memang sih, aku juga tidak tahu siapa yang bisa memimpin setelah Jendral-Putri Leia tiada. Semoga saja memang orang yang pantas dan tidak menimbulkan keributan."
"Tentu saja, ayahku adalah yang terkeren. Dia menjadi pilot X-Wing untuk New Republic dan Resistance, meski berakhir mendapatkan cedera permanen, tidak bisa berkendara keluar planet lagi. Itu bukti betapa mahalnya kebebasan kita sekarang. Juga ... wah, kita memang sahabat dekat, lagi-lagi satu pikiran," kamu tertawa karena apa yang pria itu katakan adalah memang alasanmu khawatir.
"Ayah kita bersahabat juga, ini semacam rantai kepercayaan," balasnya sebelum kembali menyendok makanan di hotpot.
"Haha, kau benar. Hubungan kita memang sudah terantai kuat," kamu menimpali perkataannya, "Oh, sudah setengahnya yang muncul." Renjun pun mengalihkan pandangannya ke bulan besar yang muncul perlahan itu.
"Omong-omong, apa kamu masih mau meneruskan cita-citamu yang dahulu? Menjadi pilot seperti ayahku dan kakakmu?" kamu bertanya padanya.
"Tentu saja, jika mereka masih membuka pendaftaran untuk itu. Kamu sendiri?" pertanyaan itu kembali kepadamu.
"Ayahku ingin aku mencari cita-cita yang lain, setelah apa yang terjadi padanya. Kalau tidak jadi pilot maka teknisi starfighter juga tidak masalah," jawabmu. Lalu, kamu memakan satu sendok hotpot lagi.
"Kamu bagus soal teknik dan, hei, kakakku akan pulang besok. Dia mengirimkan pesan pada kami, kamu pasti merindukannya," tukas Renjun.
"Hmm, aku memang rindu kakakmu dan penasaran seperti apa X-Wing dari dekat. Aku harap dia membawanya," kamu kembali menatap bulan.
"Aku juga, wah, bulannya sudah penuh. Kita harus berberes. Hotpot-mu sudah habis?" tanya Renjun sambil tersenyum padamu.
"Mm, sudah, sudah. Mari sebelum pulang ... bersulang untuk mimpi-mimpi kita," kamu mengisikan teh ke cangkir sahabatmu dan dirimu sendiri.
"Bersulang!" seru Renjun.
Kling!
Begitu selesai berberes, kamu langsung pulang ke rumah.
"Bagaimana kencannya?" tanya ayahmu yang sedang duduk sendirian di ruang tamu.
"Kencan apa? Haha, Renjun ... dia akan mengencani orang yang lebih baik dariku. Kami hanya sahabat," jawabmu dengan tawa.
"Apa kamu anakku? Di mana kepercayaan dirimu?" tegur ayahmu, Heechul, dengan candaan.
"Untuk urusan yang ini ... tidak ada. Aku ke dapur dulu, Yah," kamu pamit untuk bergerak ke dapur.
"Aku dengar besok Resistance akan merekrut anggota baru dengan melakukan tes yang digelar selama 3 hari. Mereka yang masih muda dan mengabdi di sana akan kembali ke planet masing-masing untuk menjaring anggota baru. Kamu masih mau melakukannya ... 'kan? Apa tidak apa?" wajah Heechul berubah jadi khawatir.
"Mengapa tidak, Yah? Itu informasi yang bagus, aku harus mengabarkannya pada Renjun. Mungkin itu terkait dengan kepulangan kakaknya," jawabmu dengan senyuman, "Oh, bicaranya nanti lagi, Yah. Wadah hotpot ini tidak akan mencuci dirinya sendiri."
Kamu mencuci wadah hotpot itu dalam diam sambil merenungi perkataan ayahmu. Mengapa juga ia tiba-tiba menanyakan apakah kamu akan baik-baik saja jika mengambil ujian masuk Resistance? Apakah ini terkait dengan kecelakaannya? Tetapi meski mengetahui risikonya, kamu tidak pernah berpikir untuk mundur.
Apa yang mungkin terjadi?
Maka keesokan harinya, kamu sudah mengetuk pintu rumah Renjun.
Tok! Tok!
Kriet ....
"Eh, anaknya Heechul," yang menyambut malah ayahnya Renjun, Hangeng. Ia tampak sudah rapi, pasti mau menyambut anaknya yang kembali dari peperangan.
"Ah, sudah siap-siap mau ke landasan ya?" katamu lalu menunduk.
"Iya, aku panggilkan Renjun dulu ...," baru saja Hangeng membuka mulut, kamu berubah pikiran.
"Mari kita berangkat bersama saja, Om. Tunggu, aku bakal kembali dengan ayahku," kamu berlari kembali ke rumah dan mengajak Heechul serta. Kalian pun berjalan bersama ke landasan pesawat yang tidak begitu jauh dari rumah. Sementara Heechul dan Hangeng asyik bertukar cerita, kamu berbincang dengan Renjun.
"Kamu sudah tahu kalau Resistance akan mengadakan ujian seleksi di planet kita?" kamu memulai pembicaraan.
"Oh, aku baru saja ingin mengatakan itu. Kakakku mengabari semalam. Ternyata kamu sudah tahu lebih dahulu. Dari mana?" tanya Renjun.
"Ayahku, dia masih aktif update berita dari Resistance," jawabmu cepat, "Eh? Aku bahkan tidak tahu kalau warga lain bakal membuat sambutan seperti ini." Kamu kini tercengang karena melihat hiasan bunga di hangar punya kota kalian.
"Aku juga tidak," sahut Renjun.
"Tidak heran, anakmu seorang pahlawan," Heechul menepuk pundak Hangeng.
"Aku jadi ingat kepulanganmu, rasanya tidak jauh," balas sahabat ayahmu itu.
"Itu cerita yang berbeda. Dia pulang tanpa cidera dan menang. Aku? Ah," Heechul menatap kosong ke masa lalunya.
"Kau dan anakku sama-sama pahlawan, cidera atau tidak bukannya yang penting kalian masih hidup?"
Kemudian kamu dan ayahmu bergabung dengan warga lain sementara Renjun dan ayahnya mendapatkan sambutan hangat dari para warga. Tak lama setelah itu, sebuah suara mesin dari langit turun dan membuat para warga menengadah ke atas.
Semuanya kecuali dirimu.
Kamu menutup telinga dan bersembunyi di belakang punggung ayahmu. Semakin dekat suaranya, kamu semakin meringkuk sampai terjongkok di tanah. Bayangan sebuah pesawat jatuh kembali terputar saat kamu menutup mata. Kamu merasa takut, tidak tahu mengapa. Padahal kau tadinya senang sekali dan tidak punya masalah dengan suara starfighter. Begitu X-Wing dan sebuah freighter, pesawat barang berkapasitas besar, telah mendarat juga mematikan mesinnya. Saat itu kamu baru bisa tenang.
Kalau itu memang karena kamu melihat jatuhnya X-Wing ayahmu dahulu, mengapa korban aslinya malah senang-senang saja?
"Ada apa, anakku?" tanya ayahmu yang sadar kamu sekarang berjongkok dengan gemetaran dan napas memburu, meski sudah tidak menutupi telinga.
"Aku juga bingung, Yah. Sungguh. Aku tidak pernah begini, bahkan pada suara TIE Fighter. Ini aneh juga bagaimana bisa aku masuk Resistance padahal logikanya ini adalah suara yang kudengar tiap hari? Ayah ... bagaimana ...," kamu menangis karena sadar, ketakutan yang baru kamu ketahui telah merusak bayangan masa depanmu yang tinggal beberapa langkah lagi.
"Tenangkan dirimu, apa kita harus pulang? Kita bisa bertemu saudaranya Renjun besok. Ah, Semestaku, maafkan ayah karena terjatuh di depanmu. Jika itu tidak terjadi maka kamu tidak akan mengalami ini," Heechul membawamu kepelukannya.
"Itu bukan salah ayah ...."
Para warga sibuk mendatangi saudara Renjun dan kawannya, mereka menyambutnya sebagai pahlawan. Akan tetapi, Renjun malah berlari ke arahmu dan Heechul.
"Hei kau ... tak akan menyambut kakakku? Ada apa?" suaranya yang ceria di awal melembut ketika melihatmu menangis di pelukan Heechul.
"Oh, Renjun ... tidak ada apa-apa," kamu menghapus air mata dan menyedot kembali ingus yang sempat keluar.
Ayolah, Renjun tahu kalau ada sesuatu. Kau tidak pandai berbohong.
"Belum ingin cerita? Kalian bisa bertemu lain kali, sepertinya kamu tidak terlihat baik saat ini," tandas sahabatmu.
"Tidak, aku baik-baik saja."
"Ayolah anakku, bahkan amoeba saja tahu kalau ada yang tidak baik. Mari kita pulang dahulu. Maaf Renjun, tolong sampaikan pada ayahmu kalau aku tidak bisa berlama ada di sini juga selamat untuk kakakmu," Heechul merangkulmu agar bisa berdiri tegak.
"Maaf Renjun, aku juga tidak tahu ini akan terjadi," lirihmu sambil mendunduk. Kamu terlalu malu untuk menatap Renjun karena kamu habis menangis akibat ketakutanmu yang tak masuk akal.
"Tidak apa, masih ada 2 hari sebelum kakakku kembali. Sampai jumpa saat kau baikan."
Jadilah siang itu kamu melintasi jalan untuk kembali ke rumah dengan gontai. Kamu gagal mendaftar hari itu juga bersama Renjun, gagal melihat kakaknya dan X-Wing yang selama ini hanya bisa kamu lihat dari jauh juga gagal bergabung dengan perayaan dengan para warga lain.
"Jika ayah masih mau berada di sana sebenarnya tidak apa. Aku juga hanya perlu waktu sendirian di rumah," katamu pada Heechul yang setia di sampingmu sebagai ayah.
"Tidak, aku akan tetap mengawasi di rumah. Akan mengerikan kalau hanya kamu sendirian," Heechul merangkulmu.
"Ayah takut aku bakal merusak dapur? Tenang saja, aku tidak akan makan sebelum ayah pulang. Tidak masalah," kamu mengeluarkan candaan untuk melupakan rasa frustrasinya sejenak.
"Tidak, aku lebih takut kau akan merusak dirimu sendiri seperti itu, Semestaku," Heechul menatapmu dengan lembut, "Ayah tahu semua yang kau lakukan pada saat masih bertugas." Kamu terkejut sejenak kemudian memahami itu. Selama ayahmu masih jadi pilot, kamu di bawah pengawasan Hangeng. Ayahnya Renjun pasti menceritakan semuanya.
"Kamu selalu seperti itu jika kesal pada dirimu sendiri. Tidak ada menghukum diri dengan tidak makan, ini bukan kesalahanmu. Setelah ini aku akan masak sesuatu untukmu," Heechul mengeratkan rangkulan.
"Aku saja yang masak, Yah."
"Tidak! Kamu istirahat saja. Biar aku yang masak."
"Ada opsi yang lebih baik, Yah. Mari beli sesuatu," kamu menyeret ayahmu ke restoran langganan kalian dan memesan makanan untuk di bawa pulang. Sesampainya di rumah, kalian makan berdua. Heechul ingin membicarakan ketakutanmu, tetapi ia tak sampai hati menghancurkan nafsu makanmu.
"Bagaimana bisa ayah melewati semua ini tanpa punya ketakutan?" tanyamu setelah menelan makanan. Pertanyaanmu membuat Heechul terkejut.
"Setidaknya ketakutannya masih masuk akal 'kan? Yah, aku merasa takut pada suara starfighter punya Resistance. Itu tidak masuk akal," kamu menekankan kata 'takut' dan 'Resistance' dua kata yang seharusnya tidak diucapkan berdampingan oleh non-simpatisan First Order.
"Hanya ada satu kata yang menjelaskan, trauma," Heechul meletakkan sendoknya dan menatapmu serius.
"Aku benar-benar tidak sekuat ayah. Yang jatuh siapa, yang trauma siapa," kamu juga meletakkan sendok dan tertawa miris, "entahlah, mungkin aku harus menyerahkan impianku." Kamu masuk kamar dengan gontai dan merebahkan diri.
"Ini membingungkan," Heechul menghela napas panjang sambil mengurus peralatan makan kalian, "aku tidak suka melihatnya murung. Kalau First Order tidak menahanmu, istriku ... ini semua tidak akan terjadi." Setelah selesai dengan urusan dapur, Heechul duduk di depan kamarmu.
"Hei, sudah tidur? Secepat ini?" tanyanya.
"Hmmmm," jawabmu malas.
"Ayolah, itu bukan akhir dunia, Semestaku. Kamu bisa menghilangkan ketakutanmu. Aku tidak masalah karena terbiasa, mungkin kau hanya belum terbiasa. Kau bisa bangkit perlahan, seperti yang biasa kau lakukan. Hanya saja yang satu ini bukan kegagalan." Kamu mengangkat kepala mendengar perkataan ayahmu.
"Apa ayah pikir aku bisa?"
"Tentu, kau Semestaku. Aku mengenalmu tidak pantang menyerah kalau urusan cita-cita."
"Mungkin hari esok bakal lebih baik. Aku akan mencobanya," kamu bertekad.
"Kalau begitu keluarlah, kita masih punya 18 jam sebelum hari esok. Ayah pikir kamu harus tahu beberapa hal tentang apa yang akan mereka ujikan. Salah satunya, mereka memakai simulator X-Wing untuk menguji pilot dan soal studi kasus untuk teknisi," Heechul memberi pengetahuan baru padamu.
"Oh, sepertinya aku harus menutup telingaku saat ujian."
Hari esok datang begitu cepat. Renjun datang ke rumahmu terlebih dahulu bahkan untuk memastikan kamu baik-baik saja.
"Sungguh? Sekarang kamu baik-baik saja 'kan?" tanya Renjun kesekian kalinya.
"Sungguh, Renjun. Ayo segera ke hangar. Kita tidak bisa datang lebih lambat dari anak-anak lain juga aku ingin segera bertemu kakakmu," kamu menyambutnya dengan semangat.
"Renjun, setidaknya dia sudah semangat hari ini. Kalian berdua bisa segera pergi. Aku akan menyusul. Juga ... tolong jaga Semestaku," Heechul mengizinkanmu pergi dan memberi pesan pada Renjun.
"Itu pesan yang tidak akan aku lupakan, Om. Kami pergi dahulu," pamit Renjun.
"Doakan kami, Yah!" kamu keluar dari rumah dengan membawa helm pilot yang tadinya milik ayahmu bersama Renjun.
"Untuk apa kamu membawanya? Semacam benda keberuntungan?" tanya Renjun kebingungan ketika melihatmu menenteng benda itu.
"Aku tidak percaya dengan benda pembawa keberuntungan, helm ini akan benar-benar berguna untukku," jawabmu sambil tersenyum dan menatap kacanya yang memantulkan bayangan dirimu.
"Apakah ayahmu bilang kita harus pakai helm saat tes? Itu aneh, kakakku dulu tidak begitu ... seingatku," sabahatmu itu menggosok dagunya karena bingung.
"Kalian mungkin tidak memerlukannya, tetapi aku perlu," katamu tanpa mengatakan kebenaran bahwa kamu tidak bisa mendengarkan suara X-Wing, itu agak memalukan jika sampai Renjun juga tahu.
"Begitu, ya? Ah, mengapa aku jadi penasaran."
"Nanti juga kau akan lihat."
Setelah sampai di hangar kalian melihat beberapa anak seumuran kalian juga mengantre untuk mendaftar.
"Oh, kalian baru datang? Aku sudah lama mengantre. Katakanlah, 30 menit yang lalu," sambut seorang perempuan yang sepertinya baru kalian temui. Hei, kota kalian sebenarnya luas, itu pantas saja.
"Wah itu cukup lama ... ujian apa yang akan kau ambil?" kamu membalasnya dengan antusias.
"Teknisi," jawabnya, "kalian?"
"Aku tes pilot," jawab Renjun.
"Aku ... keduanya," jawabmu malu-malu. Karena itu cukup jarang terjadi.
"Wah, sepertinya kamu sangat ingin mengabdi pada Resistance," komentar perempuan itu.
"Yah, sahabatku memang bersemangat kalau soal itu," Renjun mengonfirmasi itu dan kamu hanya bisa tersenyum malu. Antrean pendaftaran maju satu demi satu sampai giliranmu. Kalian menyebutkan nama, alamat, dan nama orang tua juga jenis ujian. Yang mengurus pendaftaran tampaknya teman kakaknya Renjun karena kamu bisa mendengar dialeknya bukan dari kota ini.
"Karena kau mengambil dua mata ujian dan tes simulator masih antre lagi, sebaiknya kamu mengerjakan soal teknik dahulu," pria jakung itu menyerahkan kertas dan satu pulpen padamu.
"Terima kasih, Kapten," ucapmu pelan sambil menerima dua benda itu.
"Ingat,jangan meminta bantuan atau bahkan mencontek," ia mengingatkanmu. Kamu mengangguk dan berlalu mencari tempat yang nyaman untuk mengerjakan itu.
"Peserta yang lucu. Semangat sekali," komentarnya.
"Kapten Sehun! Bagaimana dengan nama-nama kloter selanjutnya? Sudah siap?" seorang pria, tepatnya kakaknya Renjun, berseru dari ruang ujian.
"Siap, Mayor Lay!" Sehun menyerahkan kertas berisi data-data peserta selanjutnya. Renjun menantikan giliran dengan diam di sebelahmu yang asyik membuat esai tentang 'bagaimana cara mengetahui apakah armada terbang sudah layak jalan?'. Ia tahu kamu tidak bisa diganggu jika sedang serius.
"Berikutnya ... Renjun! Segera masuk," begitu Lay memanggil nama Renjun, bukan hanya empunya nama yang bereaksi, namun kamu juga.
"Fighting!" kamu memberi semangat padanya sebelum kembali pada soal.
"Fighting!" sahut Renjun sebelum berjalan menjauh dan memasuki simulator. Tepat saat itu juga kamu telah menyelesaikan esaimu.
"Kapten, saya sudah selesai," kamu menyerahkan lembar jawabmu kepada Sehun.
"Terima kasih, hasilnya bisa dilihat besok. Karena kau juga ikut tes simulasi, silakan menunggu lagi," Kapten Sehun menerima lembar jawab dan memintamu kembai menunggu.
"Terima kasih," kamu pun kembali ke tempat semula.
"Selanjutnya, ah, kau yang paling belakang," Lay memanggilmu.
"Selanjutnya kamu. Semoga lulus," Renjun menepuk punggungmu.
"Terima kasih," kamu memakai helm ayahmu dan berjalan penuh percaya diri. Peserta lain tampak menertawakan dan membicarakanmu tetapi kamu tidak peduli karena helm ini meredam suara mereka.
"Wah, adikku, kau sangat siap," kata Lay melihat penampilanmu. Ya, sebagai sahabatnya Renjun, kamu ia anggap sebagai adik juga.
"Kalau tidak siap, aku tidak akan mendaftar, Mayor," jawabmu yang disahut tawa oleh Lay.
"Baiklah, duduklah di simulator X-Wing. Aku akan melawanmu," Lay menuntunmu menuju kursi simulator dengan layar 3 sisi yang menunjukkan seperti berada di dalam starfighter yang sebenarnya.
"Sebuah kehormatan bisa melawanmu, Mayor."
"Ada 5 kesempatan. Jika kau bisa mempertahankan 3 dari itu sampai mengalahkanku, kau lolos," ia menyampaikan aturan ujian, "Sudah siap?" Kamu menyumpal telingamu yang disembunyikan helm dengan semacam sumbat. Kamu juga sudah menyiapkan diri kalau suaranya bocor.
Ini hanya simulator.
"Siap, Mayor!" sahutmu yang sudah selesai dengan persiapan dirimu.
Terbangkan starfighter sekarang
Sebuah tulisan terpampang di layar yang menunjukkan pemandangan gurun. Semua alat kemudi yang ada di simulator sangat mirip dengan aslinya. Untuk urusan menerbangkan sesuatu kamu sudah belajar bertahun-tahun, tidak jauh beda dengan kendaraan sehari-hari. Jadi kamu bisa menerbangkannya dengan mulus. Bahkan menambah kecepatan. Akan tetapi, matamu tetap awas. Ancaman bisa muncul kapan saja. Satu tembakan laser dari atas berhasil kamu hindari. Sebuah TIE Fighter mengejar dan menembakimu! Dengan cepat kamu melarikan diri dan terbang lebih atas lagi untuk melihat dan menembaki TIE Fighter.
Ah, masih meleset.
Sayap kananmu tertembak, namun masih bisa terbang. Kamu membalasnya lagi. Kali ini tepat sasaran! Benda itu meledak. Di luar dugaan, ternyata Lay memainkan lebih dari satu TIE Fighter untuk menyerangmu. Kamu agak kesulitan ketika tembakan datang dari belakang, starfighter tidak dilengkapi spion dan kau menyumbat telinga. Alhasil kamu jatuh untuk yang pertama.
Satu kesempatan lenyap.
Tersisa 4 dan kamu harus mempertahankannya. Sekarang ditengah keterbatasan, kamu harus pikir ulang dan memaksimalkan semua inderamu yang tidak tertutup. Kamu menggunakan tuntunan bayangan untuk melihat musuh di belakang mau pun atas. Dua TIE Fighter yang menembakmu dari atas dan belakang sudah kau hancurkan dengan tembakan. Selanjutnya, 3 lagi datang dan mengejarmu. Semuanya dari belakang. Kamu menambah kecepatan, bermanuver agar sulit terkejar. Satu menabrak sebuah batu besar dan langsung meledak, dua lainnya masih gigih. Mereka menembakimu lagi dan kamu melakukan manuver lagi sehingga mereka kehilangan jejak. Ketika kamu ada di belakang mereka, barulah kamu mengunci target dan menembak. Satu tersisa dan masih terus menembak. Tiba-tiba suara mesin X-Wing terdengar. Kamu sekarang cukup terganggu dengan kilas balik yang tak diinginkan.
Pew!
TIE Fighter menembakmu di mesin kanan. Kamu kembali ke realita sekali lagi dan menyelesaikan semuanya dengan satu tembakan balasan ke TIE Fighter itu.
Semua musuh telah dikalahkan
Anda lolos
Sebuah tulisan biru membuatmu merasa senang. Usahamu mengatasi ketakutan tidak sia-sia. Segera kamu melepas sumpal telinga dan helm.
"Selamat, kamu lusa berangkat ke base Resistance bersama aku dan Kapten Sehun," Lay langsung mengucapkan selamat padamu.
"Terima kasih, Kak. Bagaimana dengan Renjun?" tanyamu penasaran.
"Jangan khawatir, kalian akan pergi ke sana bersama. Hanya kalian berdua yang lolos di kesempatan hari ini," Lay memberikan sebuah kabar lain yang membuatmu kaget, "Pulanglah dan sampaikan surat lolosmu pada ayahmu. Beliau akan sangat bangga mengetahui kamu bisa menjaga 4 kesempatan."
Kamu dan Renjun keluar dari hangar bersama dengan bahagia dan diiringi tatapan iri anak-anak lain.
"Apa mereka pakai jasa orang dalam?"
"Ah, mereka 'kan keluarganya ada yang sudah bekerja di Resistance."
"Kalian semua lebih baik tutup mulut jika hanya menduga. Kata-kata itu akan menyakiti hari anakku dan Renjun yang sudah bekerja keras," Heechul yang berdiri di luar hangar bersama dengan Hangeng menegur beberapa orang tua yang sedang menghibur anaknya yang kecewa pada tes pilot, "Kalian tidak tahu apa yang sudah mereka lalui jadi diamlah!"
"Masih ada tes teknik kalau mau mencoba. Juga, mana mungkin Resistance memakai jalur seperti itu? Mengada-ada, mari kita pulang, Renjun," Hangeng mengajak Renjun pulang.
"Pakai helm dan sumpal telingamu, Semestaku. Kata mereka lebih menyakitkan dari suara X-Wing!" Heechul juga membawamu pulang.
Lusa, kamu dan Renjun sudah bersiap untuk pergi ke base Resistance.
"Semoga aku bisa menjalani pelatihan dengan baik, Yah," pamitmu pada Heechul.
"Jadilah yang terbaik, Semestaku," Heechul memelukmu sebelum kamu masuk ke freigter yang dikendarai Sehun bersama Renjun yang sudah berpamitan dengan ayahnya dan seorang calon teknisi yang sudah sempat berkenalan denganmu, namanya Ning-Ning. Kalian duduk berdekatan dan ada 7 orang lainnya yang ikut bersama kalian. Tiga diantaranya ikut pelatihan pilot, mereka terjaring dari hari pertama dan hari terakhir. Begitu pesawat lepas landas, Heechul dan Hangeng berangkulan.
"Apa yang akan kita lakukan selanjutnya? Semua anak kita sepertinya sudah mencapai impiannya," tanya Hangeng.
"Mendukung mereka dari kejauhan dan ... mari menikmati hidup seperti masa muda," jawab Heechul sambil terus menatap freighter yang membawa kalian sampai menghilang di cakrawala.