Dream Is An Alternate Universe

Dream Is An Alternate Universe
Gara-gara Botol Ganteng



Alis Sita tertaut saat ia merasakan ada yang ganjil dengan hitungannya.


“Tujuh ... delapan? Bagaimana bisa cuma delapan? Siapa yang hilang?” ia menggumam sendirian sambil mengamati foto-foto pria yang ada di label botol teh hijau itu.


“Oh, astaga, celaka! Kak Jataaa!” Sita berteriak sangat kencang sampai-sampai membangunkan kucing jingga milik tetangganya yang sedang rebahan di sekitar situ.


“Apalagi ini? Masih pagi bikin keributan saja,” balas Jatayu, kakaknya yang kini menyembul dibalik pintu.


“Ini nih, Doyoung-ku hilang,” adunya.


“Apa? Duyung-ku? Duyung apa?” balas Jatayu asal.


“Bukan duyung, tapi Doyoung. Itu nama anggota NCT,” jelas Sita.


“Loh, kalau begitu bukan urusanku, dong, Ta?”


“Bukan urusan kakak bagaimana? Bukannya kakak tadi bersih-bersih kamarku?”


“Hubunganku sama duyu ... eh ... Doyoung apa?” Mereka mulai berdebat sengit, hal klasik yang dilakukan oleh adik dan kakaknya.


“Ini, dia bagian dari botol-botol ganteng ini, Kak, seharusnya,” Sita menjelaskan sambil menunjuk delapan botol yang ada di atas rak kecil, “Nah, seharusnya dia ada di sini, tetapi sekarang hilang.”


“Mungkin jatuh?” balas Jatayu asal karena sama sekali tidak tertarik dengan barang koleksi aneh adikknya itu.


“Tidak ada, tadi seharusnya ada di atas mejaku karena baru saja mau kutata lagi. Hm ...,” Sita menggosok dagunya karena penasaran dimana botol teh berlabel pria Korea bernama Doyoung itu pergi.


Sementara Jatayu membulatkan matanya karena teringat sesuatu, “Oh! Yang di atas meja?”


“Ya! Kakak lihat?” tanya adik perempuan Jatayu itu antusias.


“Uh ... Hm ... Liat ... sih,” jawabnya terbata.


“Terus sekarang di mana?”


“Eh ... umm .. di ...,” sekarang ini Jatayu sangat ingin merutuki kecerobohannya yang pastinya akan membuat adikknya marah besar. Ia juga sangat ingin menutupinya. Namun, nasi sudah jadi ketupat, bagaimana lagi, dia hanya bisa jujur pada Sita.


“Aku buang,” lirihnya.


“Apa? B ... buang?” seperti yang Jatayu duga, reaksi Sita dengan nada tinggi seperti itu, menunjukkan kemarahan.


“Aku pikir itu sampahmu yang lain ... kamu ‘kan jorok, Ta, seringnya habis minum sesuatu tidak dibuang,” Jatayu berterus terang.


“Astaga, ya Gusti. Kak, tolong tanya dulu sebelum buang barang-barangku. Baiklah, aku bisa menoleransi tiket nonton film-ku yang terbuang ... kalau yang ini ...,” Sita tidak menyelesaikan kalimatnya. Ia hanya menghela napas dan masih terlihat kesal. Bahkan kalau boleh dibilang, gadis itu terlihat seperti akan menangis.


“Ya, kamu juga mengapa mengkoleksi barang-barang aneh seperti ini? Botol apa? Ganteng? Apakah aku tidak cukup ganteng?” Jatayu mengeluarkan pembelaan.


“Astaga, Sita. Bukannya botol begitu masih banyak, ya? Tinggal cari lagi. Mengapa dibuat susah, sih?” gerutu Jatayu sambil menonton adiknya yang mengamat-amati tempat sampah.


“Itu dia, Kak. Itu masalahnya. Itu bukan sekadar botol teh bergambar anggota NCT! Di dalamnya ada uang, Kak. Uang! U-A-N-G. Pecahan limapuluh ribu, hasil dari lomba menulisku yang kusisihkan untuk ... Hm ... kakak tahulah,” Sita kembali menjelaskan dengan penekanan.


“Uang? Tunggu ... apa? Mengapa juga kamu menyimpan uang sebesar itu di dalam botol, Ta? Memang pecahan berapa, sih? Sini aku ganti ....”


“Tidak, itu tidak bisa diganti. Intinya kakak harus tanggung jawab dengan membawa pulang botol itu ... uh ... atau setidaknya uangnya ... dengan botol pengganti, kalau misal ketemunya di tempat pembuangan akhir,” Sita memberi kakaknya semacam hukuman.


“Tempat pembuangan akhir? Setega itu?”


“Kakak juga tega buang botol dan uangku. Oh, ya, laptop kakak aku pakai sementara waktu sampai kakak balik dan membawa botol bergambar Doyoung beserta uangku. Oke?”


“Sita, tapi jam 11 nanti kakak ada kelas daring ....”


“Kak Jatayu, aku sekarang akan kelas daring. Nah, maka dari itu cepatlah, Kak.” Sita mengambilkan kakaknya jaket, masker, helm, serta kunci motor.


“Siapa tahu harus mengejar jauh?” Ia beralasan. Dengan terpaksa, Jatayu keluar dari rumah dan memeriksa tong sampah depan rumah, tempat ia membuang sampah rumah. Hasilnya, nihil, tidak ada sampah. Pasti sudah di bersihkan dan diangkut ke tempat pembuangan akhir, pikir pria itu. Dari pada ia mencari di gunungan sampah, lebih baik kalau membeli botol yang baru dan merelakan sedikit uangnya. Uh, tidak, itu lumayan banyak. Maka, Jatayu mengendarai motornya menuju minimarket terdekat. Setelah sampai, pria tersebut langsung menyusuri rak minuman dan mencari botol teh itu.


“Ini ada gambarnya orang. Tapi siapa? Ah, astaga aku saja tidak tahu wajah orang yang dimaksud,” gumam Jatayu. Ia membaca nama yang ada di samping foto dalam label foto itu.


“Ta-e-yong? Bukan. Jungwo-o? Bukan juga. Ah, tidak ada,” kakak Sita itu kemudian berjalan keluar minimarket dan melanjutkan pencariannya. Dia selalu berhenti di tiap minimarket. Namun, tidak menyerah sampai menemukan yang persis milik adikknya dari mulai varian juga foto di labelnya. Sampai di minimarket ke 21, dia baru menemukan yang persis.


“Oh, akhirnya! Jam berapa ini?” Jatayu melihat jam digital di ponselnya yang menunjukkan pukul 10.45. Cepat-cepat, ia meminum isi teh itu, mencucinya, mengeringkannya dengan asal, dan memasukkan uang 50 ribu rupiah ke dalamnya. Dalam hati, saat perjalanan pulang, Jatayu berharap adiknya tidak akan marah kalau mengetahui itu bukanlah botol dan uang yang sama.


Tok! Tok! Tok!


“Kakak pulang!”


“Kak Jata, eh, cuci tangan dulu,” sambut Sita ceria sementara Jatayu langsung pergi ke wastafel.


“Maaf, Kak. Itu merepotkan, ya?” Sita menunduk di hadapan kakaknya.


“Hum, sedikit. Tapi, tak apa. Seharusnya aku yang minta maaf karena sudah ceroboh. Aku tahu uang dan botol yang sebelumnya lebih berharga karena ada ... ehm ... katakanlah nilai historis. Namun, aku mencoba bertanggung jawab. Nih,” Jatayu menyerahkan botol dengan label yang ada foto Doyoung dan berisi uang 50 ribu rupiah.


“Loh, ini uang kakak? Eh, tidak perlu kalau begitu. Aku bisa mengumpulkannya lagi,” tolak Sita halus.


“Tidak, itu hakmu. Eh memang kamu mau beli apa? Album ya?” tanya Jatayu.


“Ya, kelebihan uangnya mau aku donasiin. Hum, sudah jam sebelas, tuh. Katanya ada kelas?”


“Oh, ya, kelas! Makasih sudah mengingatkan, adikku!”


“Sama-sama kakakku ganteng!”