
Aku menatap naskah dua halaman yang terpampang di laptopku, lalu mendengus. Tidak seperti cerpen yang punya banyak media untuk menampung dan dilombakan, tulisanku yang satu ini agak sulit mendapat tempat. Bukannya tidak pernah mencoba, malah aku sudah mengirimkan ke beberapa redaksi dan ditolak. Aku sudah merevisinya untuk kesekian kalinya. Memasukkannya ke penerbit? Ah, itu terlalu jauh.
“Huh, sebaiknya dan menulis cerpen lain,” diriku menutup tab yang berjudul ‘Dongeng – Dua Gadis dan Seekor Serigala' dan membuka lembar kerja baru. Bukannya langsung menulis sesuatu, aku hanya membiarkan garis hitam tipis itu berkedip. Lagi-lagi aku mendengus, tidak ada ide muncul di otakku dan hari Sabtu tidak seharusnya disia-siakan. Untuk mencari ide, aku membuka YouTube dan mencari tentang dongeng. Banyak video-video tentang itu, namun sedikit yang menonton, terutama dongeng asli Indonesia. Sepertinya sekarang sudah jarang anak kecil yang menonton konten seperti ini.
“Padahal ini baik untuk mereka. Hm, haruskah aku mencoba membuat siniar dari pada video?” gumamku pada diri sendiri, lagi. Ide itu terdengar mudah dan ringan, juga bisa menjangkau lebih banyak orang karena siniar tidak seperti video yang harus diam ditonton karena hanya berupa audio. Ya, sepertinya aku harus membuat konten seperti itu, siniar dongeng Nusantara dan sesekali dongeng buatan diriku sendiri.
“Tapi ... dongeng apa yang akan aku bacakan pertama?” lagi-lagi pikiranku mengembara, membuat daftar dongeng yang aku ketahui, “Untuk menarik perhatian ... mulai dari yang orang banyak tahu?” Aku bergerak menuju rak buku dan mengambil satu buku tentang kumpulan dongeng yang agak tebal. Membacakan dongeng bukanlah sesuatu yang berat bagiku, karena sebenarnya, sebelum pandemi ini menyerang Bumi, selain menulis beberapa cerpen, kadang aku menyempatkan diri menjadi pendongeng di perpustakaan kota pada hari Sabtu atau pun Minggu. Aku berniat memulai sesuatu yang baru dengan menulis dongeng sendiri, namun tidak kunjung disahut oleh media, mungkin memang siniar ini jalanku.
“Karina! Ayo makan siang dulu,” suara Mama memanggil dari luar kamar.
“Baik, Ma!” sahutku sambil membawa buku dongeng tersebut ke meja makan. Aku makan sambil membaca beberapa dongeng di buku yang aku bawa tadi. Untuk hari ini, pilihanku jatuh pada kisah Roro Jonggrang. Setelah selesai dengan makananku, aku segera kembali ke kamar dan merekam suara diriku membaca dongeng tersebut dengan ponsel pintarku. Pertama, aku melakukan pembukaan dan menyebutkan judul dongeng serta pengarang buku dongeng tersebut. Kedua, aku menceritakan isi dongengnya dengan intonasi dan warna suara yang berbeda-beda untuk tiap karakternya, inilah hal yang aku sukai dari kegiatan mendongeng, bisa menjadi siapa saja dan bermain suara.
“Nah, dari kisah ini, pesan moral yang dapat diambil adalah jangan terlalu cepat menyanggupi hal yang di luar kemampuan kita, jangan mengingkari janji, dan jangan curang dalam mengerjakan sesuatu. Sekian siniar ‘Pada Suatu Hari’ edisi perdana ini. Sampai bertemu lain kesempatan!” Aku melakukan semuanya dengan mulus, termasuk mengunggahnya ke akun milik ‘Pada Suatu Hari’ yang baru saja kubuat di situs siniar terkenal.
“Bagus, pengunggahan berhasil, saatnya membuat konten promosi,” monologku pada diri sendiri sambil kembali menyalakan laptopku untuk membuat konten promosi untuk Instagram-ku juga logo yang lebih baik dari yang kupasang sementara. Aku mengerjakannya dengan cepat karena logo yang elemennya hanya tulisan tidak terlalu sulit. Untuk konten promosi, aku memasang ilustrasi Roro Jonggrang yang pernah dibuat oleh sahabatku untuk diriku dalam lembar kerja berukuran 1:1 tersebut. Setelah jadi, tanpa membuang waktu lagi, dua berkas itu segera kutransfer ke ponsel dan mengirimnya ke Instagram dengan takarir yang menarik. Tak lupa, aku mencantumkan tautan menuju siniarku di sana. Selain Instagram, aku mengirimkan tautan siniarku pada teman-teman sebayaku, berharap mereka bisa memberikan saran atau pun kritik.
Tring!
Segera kubuka ponsel untuk membaca pesan masuk.
Winter : Kar, mengapa kamu tidak bilang mau buat akun siniar dan pakai gambarku buat promosi? Aku bisa buat gambar lain yang lebih bagus dari itu, haha.
Oh, ya, itu siniar dongeng yang bagus. Seperti yang diharapkan dari kamu. Kapan unggah dongeng lain?
Pertanyaan itu langsung kujawab antusias.
Besok. Sepertinya setiap Sabtu dan Minggu aku akan mengunggah siniar.
Tring!
Sahabatku itu membalas dengan cepat.
Winter : Oh, bagus, aku ingin membantumu membuat akun promosi. Bolehkah?
Aku tertawa kecil membaca balasannya.
Tentu saja! Mengapa tidak?
Wintee : Ada cara agar fisikmu tidak muncul di siaran langsung. Buat avatar saja.
Yang biru-biru itu atau yang bisa 4 elemen?
Winter : Bukan! Ini nih.
Ia mengirimkan gambar diriku dalam bentuk animasi tiga dimensi.
Wah, ini bagus sekali. Kamu menggambarnya?
Winter : Ya, lebih baik lagi, ia bisa bergerak, meski masih kurang halus.
Tidak apa, ayo kita coba!
Winter : Kau buat akunnya, aku buat gambar promosinya. Apa judul dongeng besok Minggu?
Aku berpikir sejenak, mungkin ini saatnya dongengku sendiri yang bersinar.
Dua Gadis dan Seekor Serigala.
Hari yang aku tunggu datang. Untuk melakukan siaran langsung dengan avatar, aku harus berada di rumah Citra karena ia yang memiliki perangkat lunak tersebut dan tahu cara kerjanya. Sebelum mulai, sahabatku mengajariku cara menggunakannya.
“Gerakan kepala, mata, dan mulut akan mengikuti dirimu. Kamu harus mengontrol emoji yang digunakan. Ini tombolnya. Oke?”
“Aku paham.”
Siaran langsung dimulai! Aku membukanya dengan perkenalan dan menyebutkan judul dongeng hari ini. Winter memantau semuanya dari sampingku dengan menjaga jarak. Lagi-lagi di luar dugaan kami, banyak yang menonton! Memang beberapa memberi komentar kurang baik, namun banyak yang bilang anaknya terhibur dengan inovasi yang kami buat. Begitu selesai, ternyata kami berhasil membawakan dongeng pada setidaknya 3.000 perangkat!
“Itu pencapaian yang bagus! Kamu memang terbaik, Rina, sahabatku!” puji Winter.
“Ini tidak akan terjadi tanpa ide kreatifmu. Siap untuk menghibur anak-anak lagi?” aku melemparkan senyum padanya.
“Aku sangat siap.”