
“Kau tidak menjebakku di dalam game ‘kan? Kau beruntung aku belum menceritakan tentang bug ini ke siapa-siapa,” seorang laki-laki melipat tangan dan menuduh gadis di depannya dengan penuh kemarahan.
“Pertanyaan itu seharusnya aku lontarkan padamu. Huh, semua orang akan mengira dirimu gila jika kau bercerita tentang itu. Terkunci dalam realitas lain, luka yang terasa nyata, dan hampir terbunuh karena bermain sebuah prototype game battle royale AR yang dibuat untuk memenuhi tugas kerwirausahan dan dimajukan ke lomba nasional. Tentu, Kiaro. Kakak sepupuku bilang itu baik-baik saja, tidak ada bug. Kak Yudhaku tidak mungkin berbohong.”
“Kau masih berpikir aku yang menipumu? Mengapa susah sekali dirimu mempercayai aku? Apakah aku terlihat seperti Loki di matamu?” kata Kiaro dengan nada rendah.
“Jika kau Loki aku akan lebih senang realitasnya seperti itu. Aku hanya harus memastikan yang kemarin bukanlah akal-akalanmu dan NPC di luar programku itu bukan karena rombakanmu.” Balas Tia sambil mengetuk-ketuk meja.
“Baiklah, aku akan membuktikan kalau aku tidak berbohong padamu. Tetapi aku lebih berharap bug itu sudah hilang. Jadi, bermainlah selama setidaknya 1 jam jika kau ingin terjebak bersamaku.” Begitu bel pulang berbunyi, Tia dan Kiaro langsung bersiap untuk memainkan game buatan Tia.
“Login ke History Battleground.” Ucap mereka bersamaan sesaat setelah memakai smartglasses.
“Memindai retina selesai.” Tulisan muncul di layar mereka masing-masing.
Selamat datang EverLastingFighter249.
Login ke-23
Anda beraliansi dengan GreyWolf15
Selamat datang GreyWolf15
Login ke-2
Anda beraliansi dengan EverLastingFighter249
“Lalu apa? Aku sebenarnya ingin protes mengapa kau dapat busurnya dan aku hanya panahnya. Bagaimana ini bisa terjadi?” Kiaro sudah memprotes bahkan sebelum permainan yang sebenarnya di mulai karena hadiah yang ia dapatkan di permainan sebelumnya.
“Karena aliansi, ini senjata kita bersama. Kau mau memakainya? Ini lebih baik daripada katapel itu,” Tia membujuk Kiaro untuk menggunakan panah yang mereka dapatkan bersama.
“Aku akan mencobanya, semoga saja memang semudah itu,” laki-laki itu memilih satu set panah sebagai senjatanya sementara Tia memilih pedang. Tulisan merah berkedip di layar mereka, menunjukkan bahaya yang akan datang.
Musuh terlihat, berhati-hatilah.
Selusin prajurit penjajah dari era kolonialisme muncul di hadapan mereka.
“Aku mulai menyesali keputusanku untuk bermain bersamamu. Dua lawan selusin, apa itu mungkin?” rutuk Kiaro.
“Lagi-lagi musuh diluar pemrograman, tetapi mungkin saja kita bisa menang melawan yang ini. Tembakkan busurmu, cari tempat berlindung yang aman. Aku akan menyerang secara dekat,” Tia mengatur strategi.
“Kau mau bunuh diri? Mereka membawa senapan dan pistol! Tidakkah kau punya salah satu dari senapan itu?” Kiaro tampak menentang strategi itu.
“Aku belum punya karena masih level 5. Aku juga tidak bisa beli di toko karena level ini sangat rendah. Satu-satunya jalan adalah merampas dari mereka.”
Dor! Dor! Dor!
Perang virtual mulai terjadi di lingkungan sekolah. Para tentara itu menembakkan senjata mereka ke arah Tia, namun semuanya meleset.
“Mereka seperti kumpulan stromtrooper bagiku,” kata Tia sambil menusuk dan menebas beberapa prajurit.
“Dan kau jedi-nya. Senang?” balas Kiaro dengan nada agak kesal sambil menembakkan beberapa anak panah.
“Tembakan bagus!” seru Tia saat melihat 3 anak panah mendarat dengan tepat di jantung para penjajah.
“Yah, aku tidak menyangka senjata ini akan cocok denganku,” Kiaro tertawa senang.
“Bagus, sekarang semua pasukan telah dikalahkan,” kata Tia dengan pedang masih terhunus di tangan setelah menebas prajurit terakhir. Darah para NPC yang mengotori tangan gadis itu terasa nyata saat ia pegang. Sesaat ia berpikir kalau dimensi lain itu benar adanya, tetapi tidak lama kemudian ia kembali ke pikiran awalnya. Ini semua mixed reality, sudah seharusnya senyata ini. Kiaro hanya mengada-ada. Ia hanya iri karena game canggih yang ada di smartglass buatannya terpilih untuk diajukan di lomba kewirausahaan. Lagi pula, Yudha, kakak sepupu dan mentornya tidak mungkin berbohong ‘kan? Game-nya memang baik-baik saja, tidak ada yang salah.
“Tia, ayo rampas senjata mereka!” Kiaro tiba-tiba berseru di dekat Tia, “Tia....” Ia memadamkan sikap semangatnya tatkala melihat darah yang merembes di lengan kiri seragam temannya.
“Kau melihat lenganku yang terluka ‘kan? Tidak apa-apa, ini hanya luka virtual. Tidak nyata,” kata gadis itu tenang.
“Sakit?”
“Sebenarnya sedikit perih, hanya tergores peluru. Kalau lukanya nyata pun bukan masalah besar.”
“Kalau kau mati?”
“Aku punya tiga nyawa di sini. Tenanglah, lagi pula ini dunia virtual,” Tia masih menghadapi Kiaro dengan tenang. Ia masih bersikukuh kalau pernyataan Kiaro tentang dimensi lain di game-nya tidaklah nyata. Mungkin rasa perih itu adalah hasil tipuan otaknya, pikir Tia.
“Tetapi kalau kau merasa perih itu bukan virtual lagi, Tia! Aku harus log out untuk membuktikannya,” Kiaro berkedip dua kali, tidak ada perubahan pada layar smartglass-nya, “Argh! Log out! History Battleground, log out!” Hanya kesunyian yang menyambut seruan itu.
“Tidak bisa, permainan belum berakhir. Buktinya kita belum mendapatkan reward,” kata Tia pelan.
“Aku akan antar kamu ke UKS,” Kiaro menutupi luka di lengan temannya dengan dasi seragamnya dan menyeretnya ke UKS.
“Berhati-hatilah dengan musuh. Kita masih ada di game,” gadis itu memperingatkan temannya.
“Berikan aku pedangmu,” Kiaro meminta.
“Baiklah, ini,” lengan Tia yang lain mengulurkan pedang pada Kiaro, sebagai gantinya, Kiaro memberikan senjata laras pendek pada gadis itu, “May the luck be with us, Kiaro.”
“Kau sudah banyak mengutip film hari ini.”
“Aku menyukainya.” Lagi-lagi tulisan merah muncul di layar mereka.
Musuh terlihat, berhati-hatilah.
“Ini bukan saja tidak tepat secara sejarah, ini juga gila! Sekarang siapkan senjatamu dan lari. Ikuti langkahku tanpa banyak bicara,” kali ini Kiaro yang menyusun rencana, “Kita akan membunuh mereka semua dan sampai ke UKS dengan selamat.” Mereka berlari di antara hujanan peluru dan menyerang. Tia menembakkan pistol FN Model 1922 hasil jarahannya ke beberapa penjajah yang jauh dari mereka sementara Kiaro terus menebaskan pedangnya pada semua prajurit yang ada di sekitarnya sambil terus memegangi luka yang diderita Tia. Mereka memang duet yang tepat, semua NPC sudah dikalahkan ketika kaki mereka menginjak lantai UKS.
Kalian berada di ruang kesehatan. Mintalah bantuan pada Hera untuk menyembuhkan atau menambah tenaga kalian.
“Nama saya, Hera. Apa yang bisa saya bantu, Tuan dan Nona?” sesosok dokter perempuan dengan gaya lama menghampiri mereka.
“Sembuhkan kawan saya yang terluka,” kata Kiaro sambil menuntun Tia naik ke kasur di UKS.
“Saya akan melakukannya,” perempuan itu melakukan perawatan pada luka Tia. Laki-laki itu hanya bisa menyaksikan temannya yang sesekali meringis kesakitan. Setidaknya dia akhirnya sadar kalau dimensi lain memang ada di game ini, pikirnya mengusir rasa ibanya yang berlebihan pada si gadis.
“Sudah selesai, luka ini akan sembuh dalam beberapa jam lagi. Jika terjadi masalah pada lukamu, kembalilah kemari,” pesan Hera.
“Terima kasih, Hera,” Tia tersenyum pada karakter buatannya itu.
“Sama-sama,” jawab karakter virtual itu sambil tersenyum. Kiaro terpana sejenak pada Hera, namun kembali sadar perempuan itu tidak seharusnya hidup di dimensi yang sama dengan dirinya.
“Cantik ‘kan, si Hera? Aku bangga sudah merancangnya,” Tia terkekeh dan memukul lengan Kiaro pelan, “dan terima kasih sudah membawaku kemari, Kiaro.”
“Sama-sama, Tia dan kita harus menyelesaikan satu sesi ini dengan cepat. Aku ingin segera pulang dan tidur,” sekilas Kiaro tersenyum, namun segera mendatar saat membahas permainan ini.
“Aku masih heran dengan beberapa hal, darah dan luka ini, semuanya terasa nyata,” gadis itu menghela napas dan menggeleng.
“Aku juga heran. Tetapi begitu sesi ini selesai, semuanya akan kembali normal. Seharusnya.” Ketika kami keluar, sekumpulan pembunuh bayaran dari berbagai tempat di dunia siap menyerang kami.
Musuh terlihat, berhati-hatilah.
“Sejak awal log in tadi, memang tidak ada yang beres dengan susunan lawannya,” ucap Tia sambil menodongkan senjata, “Sekarang kita harus lari ke tempat parkir dekat lapangan. Habisi mereka semua seperti tadi.”
“Siap! Aku akan menjagamu, Komandan Tia,” balas Kiaro sambil melakukan hormat, seperti prajurit pada komandannya di medan perang.
“Baiklah, sekarang... serang!” seru gadis itu. Pistolnya selalu sibuk menembakkan peluru dan sesekali Tia bersembunyi untuk mengisi amunisinya. Kiaro sibuk menebaskan pedang pada para membunuh bayaran dan dengan mudah mematahkan anak panah yang mengarah padanya.
“Tia! Usahakan jangan terluka lagi!” seru laki-laki itu saat melihat sebuah anak panah nyaris menusuk tubuh rekannya. Beruntung Tia bisa menghindar, “Aku tidak berniat mati hari ini.” Duo itu terus bergerak menuju tempat parkir dekat lapangan. Mereka menyerang dan menghindar berusaha agar tidak terluka segores pun. Rupanya itu bukan hal yang mudah, beberapa pembunuh yang menggunakan senjata tajam berani menyerang Kiaro secara lamgsung. Sementata Tia masih berusaha melumpuhkan para pembunuh bayaran dari Joseon yang menggunakan panah.
“Tia bantu aku!” Kiaro berteriak, dia mulai kewalahan karena beberapa pembunuh berhasil melukainya.
“Sebent- Ah!” sebuah anak panah menancap pada perut Tia.
“Tia! Kau....”
“Baik... masih baik,” sahut Tia sambil balas menembak si pembunuh lalu menembaki NPC yang mengerubungi Kiaro. Ia tahu benar seberapa parah pengaruh anak panah yang tertancap di tubuh pemain terhadap life bar mereka, tetapi ia tidak tahu kalau tertusuk anak panah akan terasa sesakit ini.
“Sial, Tia. Jangan mati dulu, aku tidak mau mengulangi permainan ini!” seru Kiaro yang mulai terdengar sayup-sayup di telinga gadis itu. Darah dari luka itu menetes membentuk jejak di tanah. Tia masih saja menembaki NPC itu dan Kiaro melawannya dari dalam kerubungan . Lawan mereka berkurang drastis. Satu lawan lagi berhasil ditebas Kiaro sebelum Tia limbung di sampingnya tepat di tujuan akhir mereka. Tiba-tiba semua musuh hilang, begitu juga luka-luka di tubuh mereka berdua. Tia dan Kiaro menjadi sehat kembali.
‘Prajurit Belanda, Prajurit Jepang, Para Pembunuh Bayaran’ telah dikalahkan.
EverLastingFighter249 mendapat 90 kantong emas, bintang 5 + 3 bintang kerja sama dan pistol FN Model 1922.
Butuh 16 bintang untuk naik ke level 7.
GreyWolf15 mendapat 90 kantong emas, bintang 5 + 3 bintang kerja sama, dan pedang logam.
Naik ke level 2. Butuh 1 bintang untuk naik ke level 3.
“Sayang sekali, satu bintang lagi aku akan naik level,” Kiaro berkata sambil mengatur napas.
“Kalau kita main lebih lama lagi aku akan mati sungguhan sepertinya. Rasa tertusuk anak panah itu terlalu nyata untuk dikatakan virtual,” giliran Tia menyahut.
“Ya, luka yang dihasilkan dari pedang mereka juga terasa perih. Aku semakin yakin dengan teoriku soal dimensi lain,” laki-laki itu menghela napas dan menatap langit yang menjadi gelap lalu melihat arlojinya, “Aku sudah tidak bisa membedakan mana waktu dunia virtual dan yang asli.”
“Sebaiknya kita pergi dari game ini segera sebelum mereka memulai sesi baru,” Tia mengedipkan matanya dua kali begitu juga Kiaro. Namun, tidak ada yang terjadi, game itu tidak merespon permintaan mereka.
“Apa yang terjadi?” mereka saling bertukar pandang sebelum kembali mencoba log out.
“Log out dari History Battleground!” seru Tia memberi perintah suara pada game itu, ia juga mencoba beberapa kali menggunakan gestur tangan, semuanya gagal. Kiaro melepas smartglasses-nya dengan paksa, begitu juga Tia. Itu adalah pilihan terakhir mereka untuk log out.
Kiaro jatuh terduduk di atas rumput lapangan sekolah, “Semuanya masih terlihat sama. Apakah kita memang bermain sampai malam?”
Tia menggeleng lemah, “Masalah ini benar-benar lebih dari sekadar lag. Kita terkunci di game ini, kamu sebagai Kiaro, bukan lagi GreyWolf15, seorang rakyat biasa sekarang.” Pakaian Kiaro berubah, dari yang sebelumnya seragam SMA menjadi lurik lengkap dengan jarik dan blangkonnya.
“Dan kau, bukan lagi EverLastingFighter294, sekarang kamu adalah Komandan Tia, pemimpin gerakan pemberontakan rakyat terhadap penjajah, setidaknya itu yang tertulis di kotak deskripsi karakter di sebelahmu,” balas Kiaro sambil memperhatikan pakaian Tia yang berubah menjadi pakaian kepanduan berwarna hijau kecoklatan.
Keheningan terjadi di antara mereka sebelum si gadis tiba-tiba berteriak, “Kotak deskripsi! Aku benar-benar terlambat menyadarinya! Sekarang kita adalah NPC Kiaro! Kotak itu dirancang untuk menjelaskan tentang NPC. Sialan. Ini pasti perbuatan Kak Yudha.” Tia juga ikut terduduk di sebelah Kiaro dan menangis di bawah pekatnya langit virtual di dimensi History Battleground. Ia sadar, sudah tidak ada jalan keluar sekarang.
***
“Yudha, kau benar-benar tidak mendapat kabar dari Tia?”
Aku menggeleng dan menjawab, “Tidak, Te. Ponsel dan smartglasses-nya tidak aktif.” Setelah tante mengangguk, aku kembali masuk ke kamar dan menyelesaikan pekerjaanku.
“Sebenarnya game yang sempurna, tetapi, sayang sekali, kau melakukan kesalahan terbesar, adikku,” gumaman itu keluar dari mulutku bersama sebuah senyuman puas. Dia memang seorang pemula yang pandai sekaligus bodoh. Seharusnya ia tidak membuat perangkat seseorang yang di luar penjagaanya menjadi server game-nya. Ah, seandainya dia memang sepandai itu untuk menyadari bahaya dari mempercayai orang lain.
“Set as NPC and done,” gumamku sekali lagi, kali ini diiringi tawa kecil yang menunjukkan kepuasan. Sekarang akulah pemilik sah game ini. Baik Tia maupun temannya itu tidak bisa menghalangi lagi. Masa depan miliku! Terima kasih banyak atas idenya, adik sepupu NPC-ku.