Dream Is An Alternate Universe

Dream Is An Alternate Universe
Kilas Balik Sebelum Detik-Detik Terakhir



Hitam. Itulah yang kulihat sekarang. Kedua kaki dan tanganku tidak bisa bergerak bebas. Hanya telinga dan mulutku yang bebas. Suara jam yang berdetak dan sumpah serapah mereka mulai terasa familiar di telingaku. Dinginnya ruangan ini juga mulai terasa bersahabat. Sudah berjam-jam aku menghadapi semua ini. Ya, itulah konsekuensi pekerjaanku, aku mengetahuinya. Hidup dan matiku kini berada di antara garis tipis. Sekarang aku menyadari seberapa penting waktu di detik-detik terakhir ini. Beberapa kilas balik kenangan terlintas di benak.


“Mama, aku berangkat kerja dulu, ya?”


“Sepagi ini?”


“Hm, ya... bahkan aku tidak tahu kapan akan kembali,” aku tertawa getir.


“Jangan pesimis seperti itu, aku tahu betul kau memang jarang pulang, jauhkan pikiran itu, ya?” Ibu mencium keningku dengan hangat, “Hati-hati.”


“Selalu! Aku pergi sekarang,” aku tersenyum dan melambaikan tangan pada Ibu setelah itu melesat pergi dengan motor.


Maafkan aku jika suatu saat aku tidak kembali. Kalimat itu terus-menerus berputar di otakku. Aku benar-benar bukan anak yang baik bagi orang tuaku. Bahkan sampai detik ini aku masih menyesali mengapa aku sangat jarang kembali ke orang tuaku.


“Apakah kita sedang menahan patung di sini? Dia tidak menjawab barang satu pertanyaan dari kita, berbicarapun tidak,” anggota perempuan mereka berbicara dan mencoba mengintimidasiku.


“Mungkin dia sedang berharap ada pahlawan yang menyelamatkannya.”


“Teman prianya mungkin? Oh, tapi jangan berharap terlalu banyak. Tempat ini tidak bisa terdeteksi oleh mereka.” Ah, aku terlalu memikirkan pekerjaanku sampai lupa bagaimana kehidupan sosialku. Mungkin mereka tidak akan mencariku.


“Kau mau keluar sebentar bersama kami?”


“Maaf, tugasku belum selesai.”


“Yah, aku tahu. Kau ada titipan?”


“Tidak, terima kasih,” ucapku itu sambil masih menatap monitor. Tidak berpaling sama sekali.


“Dia tertutup sekali bukan?”


”Lihat saja nanti, tidak akan ada yang membantunya jika terjadi sesuatu,” kata seorang dari mereka yang disambut oleh anggukan yang lain.


Aku bisa merasakan benda dingin ini perlahan menyayat pipiku. Namun aku harus tetap diam demi negara ini. Detik terakhir dalam hidupku harus berharga.


“Berhenti sekarang! Bos minta eksekusi dijalankan!” tiba-tiba darahku seakan-akan berhenti mengalir dan keringat dingin mengalir deras bagai air terjun.


“Baiklah, sudah siap! Kita akan segera mulai dalam tiga, dua, satu....”


Dor! Dor! Dor! Bruk!


Aku menelan ludah dan berusaha bernapas kembali. Tangan dan kakiku sekarang bebas, seseorang menyelamatkanku. Aku segera membuka kain hitam yang tadinya menutupi mataku.


”Delio!” aku segera memeluk orang yang menyelamatkanku, “Terima kasih, aku kira aku akan mati hari ini.”


“Aku senang melihatmu masih hidup, ” katanya sambil memelukku balik.


“Cut! Kerja bagus semuanya! Kalian bisa langsung pulang dan beristirahat. Syuting akan dilanjutkan besok,” kata sutradara yang sedari tadi mengawasi semua akting kami. Perkataan itu disambut riuh oleh semua pemain dan tim produksi.


“Aida, aktingmu tadi sangat menjiwai,” kata Dion sambil mengacungkan ibu jarinya.


“Ah, kau bisa saja. Oh, ya, ini tolong jaga baik-baik, kau tahu sendiri isinya ‘kan? Negara ini mempercayaimu,” aku berkelakar dalam karakterku sambil menaruh sebuah diska lepas di genggaman Dion.


“Memangnya kau mau ke mana?” tanya Dion kebingungan.


“Aku mau ke rumah orang tuaku sekarang. Yah, selagi aku masih punya waktu.”