
Commander Squadron! Semua leader SM dari TVXQ sampai WayV (Lina CJSH tersebutkan)
Pilot! Semua leader SM
Resistance Trainee! Renjun NCT Dream dan pembaca
(Terinspirasi mimpi yang ada di Worldview Star Wars)
⚠️ Penyebutan fobia, tidak semua yang ada di sini sesuai dengan canon maupun legend Star Wars
Sebuah (trilogi) semesta alternatif dimulai sekarang!
🎶
Remember one thing, you're not alone
Someone is praying for you
Someone is watching over you
(My Hero - Leeteuk Super Junior, Suho EXO, & Kassy)
🎶
A long time ago, in a galaxy far-far away ....
Kehidupanmu di base Resistance yang ada di satu tata surya dengan planetmu sangat berbeda dengan kehidupanmu di planet asalmu. Itu sudah jelas. Semuanya bisa kamu atasi kecuali fobiamu yang masih ada. Bahkan itu sangat terlihat pada hari pertama kamu menginjakkan kaki di sana. Itu karena penyambutan. Bahkan kekurangan ini membuat senior-seniormu heran.
"Bagaimana bisa kau lolos tes simulator dengan keadaan seperti ini?" Komandan Yunho dari Red Squadron memutuskan untuk bertanya padamu.
"Saya menyumbat telinga, Komandan," jawabmu jujur.
"Sungguh? Itu bahkan lebih sulit. Kamu tahu soal ketakutan itu tetapi masih bersikeras untuk masuk ke sini, di mana starfighter terbang setiap harinya? Apa yang membuatmu melakukan ini?" yang kamu tahu ia sungguh hanya penasaran, bukan menghakimi. Tentu saja, semua orang yang mengetahui ini juga akan bereaksi sama dengan Komandan Yunho.
"Karena ayah saya. Saya ingin meneruskan perjuangannya. Meski sekarang sudah damai, saya ingin menjaganya. Saya ingin menjadi pilot seperti ayah saya dahulu," kamu menjawab sejujur-jujurnya.
"Dan ayahmu itu siapa? Maaf, aku belum sempat membaca semua data diri kalian," tanya Yunho yang sungguh-sungguh penasaran.
"Heechul."
"A-apa? Mayor Heechul? Astaga, aku tidak tahu dia punya anak. Lalu selama perang ... bagaimana kau hidup tanpa ayahmu?" Yunho malah jadi terus mewawancaraimu.
"Komandan Yunho, kau benar-benar tertarik dengan anak itu?" Komandan Leeteuk lewat dan menghampiri kalian.
"Komandan Leeteuk, dia ini ... anak Mayor Heechul," pria itu terdengar seperti mengadu pada Leeteuk. Mengapa sepertinya ayahmu punya kesalahan padanya?
"Oh, aku tahu itu. Dia akan hebat juga," Leeteuk menanggapi dengan tenang dan berlalu.
"Kalau begitu jangan-jangan fobiamu karena perang di planetmu saat itu?" Yunho bertanya lagi saat kamu bahkan belum menjawab pertanyaannya yang terlontar sebelum Leeteuk datang.
"Jadi, Komandan Yunho, saya bisa hidup karena ayahnya Renjun merawat saya. Beliau penjaga hangar di kota kami, bisa dibilang berjasa. Lalu, fobia saya mungkin terbentuk ketika saya melihat juga mendengar X-Wing jatuh di depan saya dan ternyata itu ayah saya. Mungkin ... itu yang terjadi, saya tidak yakin," kamu menunduk setelah sebelumnya berusaha tegak dan tegar di depan seorang komandan Resistance.
"Itu pasti berat. Aku tahu. Sebelumnya aku mengalami yang sepertimu, aku juga punya fobia dengan kegelapan. Padahal kamu tahu sendiri ruang angkasa itu gelap," Komandan Yunho mendekatimu dan berbisik. Itu membuatmu terkejut, tidak hanya kamu yang masuk ke Resistance dengan fobia.
"Aku juga jadi bahan olok-olok trainee lain karenanya. Tetapi seseorang membantuku mengurangi itu. Sekarang aku ingin melakukan yang sama denganmu. Aku ingin membantumu, selagi belum terlambat," lanjut Yunho.
"Ah, Komandan jadi repot karena saya," kamu merasa tidak enak dengan tawaran itu. Menyembuhkan fobia bukanlah perkara mudah dan kamu sadar itu.
"Ini bagian dari pekerjaanku. Anggap saja begitu. Tidak repot, lagi pula tugas kita jauh lebih mudah saat ini," ia tersenyum, "Anggap saja aku pamanmu."
"Saya masih merasa agak aneh ... paman? Tidak, terima kasih, saya akan tetap memanggil Anda Komandan Yunho," kamu menolak secara halus untuk memanggilnya secara informal.
"Terserah kau. Hari ini cukup, besok pagi kita bertemu lagi di sini."
"Terima kasih banyak. Saya keluar, Komandan," kamu berdiri dari posisi duduk, memberi hormat lalu keluar pintu.
"Sekarang aku percaya dia benar-benar anaknya Heechul," gumam Yunho sambil melihat kau keluar.
"Apa kau kena marah? Ceramah 3 jam?" tanya Renjun yang menantimu sedari tadi.
"Tidak," jawabmu sambil tersenyum.
"Lalu? Apa dia memahaminya ... kondisimu. Astaga, mengapa juga kamu tidak pernah bilang padaku? Jika kau bilang padaku memang fobianya tidak berkurang tetapi aku tidak akan mengejekmu. Aku bisa melindungimu dari itu," sahabatmu lanjut bertanya sambil berjalan di sampingmu.
"Aku malu. Itu jawabannya, Renjun. Ah, sial juga. Mengapa aku tidak bisa menyembunyikannya terus-menerus?" kamu yang telah gagal menyembunyikan fobiamu menggerutu.
Memang selihai apa porg melompat akhirnya jatuh juga. Masih untung jatuhnya ada yang menangkap, kalau tidak?
"Sudahlah, aku tidak masalah dengan itu. Tanggapan Komandan Yunho apa?" Renjun rupanya masih penasaran. Ah, hari ini penuh dengan wawancara.
"Di luar dugaan. Kukira beliau akan marah, raut wajahnya menyeramkan, meski lebih menyeramkan ayahku sih. Beliau akan membantuku," katamu dengan nada bahagia.
"Itu kabar baik. Tetapi bagaimana caranya?"
"Entahlah, aku akan ceritakan besok kalau aku sudah mengalaminya." Kamu dan Renjun pun berpisah jalan karena asrama kalian berbeda jalur.
Sesuai janji, pagi-pagi sekali sebelum pelatihan kalian dimulai, kamu datang ke ruangan para komandan. Seorang perempuan yang kamu kenali sebagai Komandan Taeyeon dari Magenta Squadron menyambutmu.
"Oh, kamu anak kesayangannya Komandan Yunho, ya?" kalimat itu membuatmu bingung.
"Eh, sepertinya bukan, saya hanya trainee biasa dan ingin menemui Komandan Yunho," jawabmu dengan sopan. Anak kesayangan karena penakut, mana ada? Seharusnya yang skornya saat masuklah yang jadi kesayangan. Itu baru masuk akal.
"Tenanglah, semua trainee yang pencapaiannya bagus sejauh ini kami sayang, kok. Masuklah," Taeyeon membuka pintu lebih lebar lagi agar kamu bisa masuk. Kamu melangkahkan kaki dengan sedikit ragu-ragu, masih sama seperti yang kemarin.
"Aku dengar kamu perlu banyak bantuan?" komandan perempuan itu mengikutimu setelah menutup pintu, "duduk saja, dia bakal datang sebentar lagi."
"Ya, Komandan. Saya punya satu masalah yang lumayan menganggu," jawabmu dengan tegas, namun agak malu-malu.
"Aku sudah dengar masalahmu dari Komandan Yunho, itu cukup membingungkan. Oh, tetapi dia juga meminta bantuanku juga untuk menanganimu. Kalau kau sungkan bercerita padanya, ada aku, Komandan Lina-- yang baru akan kembali dari tugasnya waktu kalian akan tes penempatan, Komandan Victoria, atau Komandan Irene. Mungkin kita bisa jadi dekat seperti saudara?" Taeyeon juga memberikan tawaran padamu. Ia terdengar seperti guru konseling di sekolahmu dahulu.
"Ah, terima kasih tawarannya, Komandan. Saya akan bercerita pada kalian lain kali," kamu menyambutnya dengan lembut juga.
"Kau sudah di sini rupanya. Ah, maaf atas keterlambatannya," Komandan Yunho datang bersama Komandan Leeteuk.
"Dia bangun melebihi alarmnya. Lihatlah, anak itu bahkan lebih tepat waktu darimu," Komandan Leeteuk menggoda kawannya dan tertawa.
"Ya ... maaf. Aku tidak berniat menunda bangun, tetapi ... ah, sudahlah. Hei, apa kamu sudah menyiapkan apa yang perlu disiapkan?" kini komandan dari Red Squadron itu memandangmu. Cepat-cepat kamu berdiri dari posisi duduk dan memberi hormat.
"Saya tidak membawa apa pun selain niat saya untuk mengurangi reaksi fobia, Komandan," jawabmu.
"Bagaimana dengan keberanian? Masih adakah itu?"
"Masih," sahutmu dengan yakin.
"Baiklah kembali duduk," Yunho dan Leeteuk pun duduk di hadapanmu, di samping Taeyeon. Kamu mengikuti instruksi tersebut.
"Karena kamu fobia hanya pada suaranya, bukan keseluruhan bentuk. Mungkin hal yang paling mudah di mulai dari mendengarkan rekaman suara itu dari durasi detik sampai jam kemudian baru ke suara sungguhan. Kita punya waktu 2 bulan sebelum penempatan dan uji kecocokan dengan starfighter. Memang tesnya memakai simulator, lagi. Hanya saja, itu akan berpengaruh terhadap masa depanmu. Hasil tes simulatormu saat masuk bagus, bukan, sangat bagus. Fisikmu juga masih kuat sejauh ini. Kami akan mencoba yang kami bisa untuk mengurangi atau bahkan menghilangkan fobiamu itu namun, hasil akhir tetap kamu yang menentukan," Komandan Leeteuk menyerahkan sebuah player padamu, "Ambil player itu." Kamu pun segera meraih dan memainkan suara yang ada di situ. Baru juga 3 detik rekaman itu bermain, kamu mematikannya secara refleks dan menjauhkan benda tersebut dari telingamu.
"Tidak apa, jangan terlalu keras pada dirimu sendiri. Lakukan itu dengan perlahan, detik demi detik. Kamu bisa melakukannya," Komandan Taeyeon menyemangatimu.
"Terima kasih, Komandan Yunho, Komandan Leeteuk, dan juga Komandan Taeyeon." Setelah itu, kamu menjalani pelatihan harian seperti ketahanan dengan berlari keliling lapangan sambil menyanyikan yel-yel. Beberapa latihan fisik. Belajar soal starfighter, hari ini giliran kalian belajar tentang A-Wing. Juga beberapa cara menggunakan blaster untuk membela diri. Saat jam istirahat, kamu menemui Renjun, seperti biasa di kantin.
"Wah, benar-benar hari lain yang padat. Hei, kamu masih bisa tersenyum?" ia menampakkan wajah kesal yang dibuat-buat karena kamu tidak tampak lelah setelah seharian belajar dan bergerak.
"Ini impianku dan aku menjalaninya dengan bahagia. Aku belum lelah atau setidaknya ... belum terasa," jawabmu sebelum mengigit sepotong roti yang kau pegang sedari tadi.
"Sahabatku benar-benar tidak biasa," Renjun terkekeh dan juga ikut memakan roti.
"Itu dia bukan? Ah, tadi pagi dia mendatangi ruangan para komandan. Apa benar dia masuk lewat jalur belakang?" suara-suara yang menggunjingmu membuat kamu berhenti mengunyah makanan. Renjun yang juga mendengar itu langsung menelan makanannya.
"Tidak bisa dipercaya kalau dia berhasil mempertahankan 4 kesempatan di tes simulator sedang dia punya fobia."
"Hei! Kalian punya mata 'kan? Dia jelas-jelas masuk lewat pintu depan base bersamaku. Jalur belakang apanya?" seru sahabatmu tanpa gentar. Kamu yang terlambat untuk menahan amarahnya hanya bisa tertawa.
"Mengapa orang-orang mengira aku masuk karena keluargaku? Bahkan Komandan Yunho saja tidak tahu aku anaknya Mayor Heechul," kamu tertawa miris pada gunjingan itu.
"Buktikanlah kamu memang punya kemampuan itu. Oh, aku bisa melihatnya, orang-orang yang menggunjingmu akan menjadi bawahanmu dan kamu komandannya! Atau lebih buruk lagi ... mereka dikeluarkan karena tidak dapat mengendalikan mulut mereka," Renjun terus menusuk mereka dengan kata-kata.
"Tentu, aku akan melakukan itu," kamu menambah serangannya.
"Oh, lalu bantuan apa yang diberikan oleh Komandan Yunho?" sahabatmu dengan cepat mengubah topik.
"Tepatnya semua komandan. Mereka berkoalisi rupanya," kamu meletakkan player rekaman yang sedaritadi ada di saku jaketmu ke atas meja.
"Mereka memintamu mendengarkan rekaman suara X-Wing?"
"Tepat. Secara perlahan. Mmm, sepertinya namanya teknik paparan. Tidak tahu, akan tetapi kurasa akan efektif," katamu sebelum kembali menggigit roti.
"Aku akan membantumu. Mungkin jarak juga akan berpengaruh. Bagaimana kalau hari ini kamu mencoba tahan mendengar selama 30 detik di jarak jauh, sedang dan dekat?" usul Renjun.
Jadilah malam itu, setelah sesi pelatihan panjang, kamu dan Renjun mencoba untuk mengurangi fobiamu. Kalian berdua ada di lapangan belakang dan Renjun mengambil jarak sejauh 7 meter darimu. Kamu menyiapkan diri untuk mendengarkan suara tesebut.
"Aku siap, Renjun!" katamu. Ia segera memainkan rekaman itu tepat 30 detik. Kamu bisa melewati yang satu ini meski ada dorongan untuk menutup telinga.
"Kau sungguh tahan? Bilang saja kalau tidak bisa. Kejujuranmu aku hargai karena itu penting," Renjun yang masih khawatir berlari mendapatimu.
"Aku memang tahan. Hm, bagaimana kalau jarak sedang?" kamu menantang diri.
"Baiklah," Renjun menurutinya dan memasang diri sejauh 4 meter darimu. Kamu juga sedikit bereaksi untuk ini.
"Oh, ternyata suaranya dari kalian," orang yang berdiri di sampingmu lebih membuatmu kaget dari rekaman itu.
"Hwa!"
"Ada apa? Oh, Komandan Taeyong?" Renjun awalnya mendatangimu dengan khawatir tetapi jadi tenang karena ada Komandan Taeyong dari Green Squadron di sebelahmu.
"Maaf telah berteriak, Komandan," kamu segera meminta maaf.
"Tidak, aku yang meminta maaf karena datang secara tiba-tiba," ia malah meminta maaf padamu, "bagaimana soal fobiamu?"
"Cukup membaik, saya sudah bisa menahannya selama 30 detik di jarak sedang," kamu menjawab pertanyaannya.
"Itu kabar baik. Ah, teruskan saja. Juga kalian beruntung, loh, saling memiliki. Sudah berapa lama kalian ehm, bersama?" tanya Komandan Taeyong.
"Sejak kecil, kami bersahabat sejak kecil, Komandan," balas Renjun dengan penekanan pada kata bersahabat. Ah, itu bagus agar orang-orang tidak sering-sering memikirkan kalau kalian lebih dari sahabat.
"Y-yah, itu benar, Komandan," kamu menyetujui.
Hey, tetapi mengapa ini terasa sakit untukmu?
"Aku mengerti, lanjutkan kegiatan kalian," Komandan Taeyong pun berlalu.
"Haruskah aku mencoba yang dekat?" tanya sahabatmu itu.
"Cobalah." Renjun memutarkan rekaman itu di dekat telingamu. Sayangnya itu masih terasa menganggu.
"Matikan, Renjun!" serumu sambil menutup telinga dan berjongkok.
"Sudahlah, sudah," ia merangkul dan menepuk pundakmu.
"Apa aku gagal?" lirihmu.
"Tidak, tidak, aku rasa itu sudah lebih baik. Setidaknya ada kemajuan. Kita mencoba lagi besok," Renjun membantumu berdiri, "Dua bulan kurang satu hari lagi."
Keesokan harinya, seperti kemarin, kamu pergi ke ruang para komandan.
"Oh,laporan khusus?" kali ini yang meyambut Komandan Onew dari Turquoise Squadron.
"Langsung masuk saja, kami sudah sepakat kalau kamu akan kami anggap seperti saudara sendiri," Komandan Victoria dari Purple Squadron menyahut sambil membuat tehnya.
"Itu benar! Langsung duduk saja," Komandan Onew menunjuk kursi yang biasanya kamu duduki.
"Siap, terima kasih, Komandan," kamu segera duduk.
"Hari ini Komandan Yunho sedang sibuk dengan beberapa pengaturan dan mengawasi Blue Squadron, Jade Squadron, dan Green Squadron yang berpatroli bersama Jendral Poe. Kami akan menggantikannya," Komandan Irene dari Peach Squadron datang menemuimu, "santai saja."
"Saya belum tahan kalau jarak dekat, Komandan. Itu saja. Saya rasa tidak ada kemajuan berarti," lapormu secara jujur.
"Jarak lainnya?" tanya Komandan Onew.
"Jauh dan sedang, 30 detik, tahan. Apakah itu kemajuan? Sahabatku bilang itu kemajuan," kamu meragu untuk melaporkan yang satu itu.
"Itu jelas kemajuan!" tiga komandan itu menyahut bersamaan dan membuatmu kaget.
"Aku senang mendengar itu. Mengurangi fobia bukanlah hal yang mudah," tambah Komandan Irene.
"Apa kau perlu bantuan lain lagi?" tanya Komandan Victoria.
"Entahlah,Komandan,sepertinya tidak ada," jawabmu, "Saya hanya harus berusaha lagi. Masih banyak hari yang tersisa 'kan, sebelum ujian penempatan starfighter?"
Kamu melakukan pembiasaan itu selama 2 bulan secara bertahap dengan bantuan Renjun juga pengawasan para komandan.
"Saya tidak tahu, Komandan. Jarak dekat terasa sulit untuk ditahan," ini sudah hari ke 45. Satu bulan di planet yang menjadi base baru Resistance ini terhitung 25 hari. Kabar baiknya, kamu sudah bisa melihat X-Wing terbang pergi dan pulang dari kejauhan. Kabar buruknya, 5 hari lagi ujian penempatan dan kamu tidak bisa menahan diri untuk menutup telinga jika suara starfighter itu berada sangat dekat denganmu.
"Komandan, apakah tidak ada cara lain?" sekarang, Renjun juga ikut menghadap, mencoba mendiskusikan cara lain untukmu.
"Cara lain dengan pembiasaan langsung dengan kata lain bukan pakai rekaman, namun langsung masuk ke X-Wing-nya," Komandan Kun dari Jade Squadron yang kali ini berbicara.
"Itu akan merepotkan kalian. Seharusnya saya tahu diri untuk tidak mencoba," kamu menunduk dan menyesali keberadaanmu di sini.
"Jangan katakan itu lagi," Renjun, Komandan Yunho, dan Komandan Kun menegur kamu bersamaan. Suara mereka yang bersatu membuatmu terlonjak.
"M-maaf ...."
"Kamu masuk ke sini karena adanya kemampuan dan keberanian. Tidak boleh jadi sia-sia karena fobia. Kalau kau perlu memakai benda yang sesungguhnya maka saya akan fasilitasi itu," Komandan Yunho berkata dan diiringi anggukan Komandan Kun.
"Terima kasih, kalian sudah banyak membantu. Saya tidak mau membuat yang lain iri karena ini. Renjun, bantuan seperti ini saja sudah cukup, saya akan berusaha lagi. Terima kasih, Komandan," kamu berdiri, memberi hormat, lalu keluar dari ruangan itu. Renjun hanya terpaku melihatnya.
"Yang lain iri? Apa dia membicarakan soal reaksi trainee lain terhadap bantuan kami? Separah apa mereka merundungnya?" tanya Kun penasaran.
"Kata-kata lebih tajam dan kuat dari tombak beskar, Komandan. Saya sudah memperingatkannya untuk tidak mendengarkan itu, tetapi bagaimana lagi? Mungkin itu mempengaruhi sahabat saya meski ia terlihat tegar di luar," Renjun menghela napas.
"Para penggosip itu ... berikan aku list namanya. Harus ada pelajaran buat itu, bukan? Tenang, kamu akan aman," Komandan Yunho mendekatkan diri pada Renjun.
"Saya akan sebutkan semua dan tenang, Komandan, saya tidak takut dengan mereka."
"Itu langkah yang bagus, Renjun. Aku pastikan mereka semua akan jera," Komandan Yunho membuat perjanjian dengan Renjun untuk membuat jera orang-orang yang membicarakan hal tidak benar tentang kalian, juga orang lain.
Setelah sesi pelatihan yang diisi oleh Komandan Leeteuk hari ini, kamu dan Renjun melakukan pembiasaan tersebut lagi.
"Hentikan, Renjun!" kamu sudah menahannya selama 10 menit hari ini. Setidaknya kamu kuat sampai bayangan itu kembali muncul.
"Selain rasa takut ... apa yang membuatmu ingin berhenti?" tanya sahabatmu itu.
"Bayangan. Aku seperti melihat kembali saat pesawat ayahku jatuh," kamu menjawab jujur.
"Apa yang ada di pikiranmu soal X-Wing selain ayahmu jatuh?" ia kembali bertanya.
"Hm, Resistance? Kemenangan? Para komandan? Kakakmu? Ada banyak sebenarnya," kamu menghela napas.
"Apa pun itu, coba pikirkan hal lain selain 'jatuh' dan 'ayahmu' untuk amannya," Renjun memberi saran padamu, "Pikirkan sesuatu yang membuatmu tenang."
"Dirimu?" kamu menyahut dengan spontan.
"Yah, asal itu membuatmu tenang, boleh. Lagi pula, seperti aku pernah lepas dari pikiranmu saja," candanya.
"Eish, apa-apaan. Ya, sudah, mari kita coba lagi!" Renjun kembali memainkan rekaman itu di dekatmu. Kali ini kamu menenangkan diri dan mencoba menepis pikiran yang buruk. Hanya pemikiran yang bagus. Starfighter itu keren, pilotnya menyelamatkan satu galaksi, milik Resistance, juga impianmu dan Renjun sejak dahulu. Ayahmu memang jatuh saat menggunakan itu tetapi ia selamat dan ia jadi salah satu pahlawan di planetmu. Ia masih hidup, ia mencintaimu. Hal yang sama tidak akan terjadi padamu. Kau tidak akan jatuh.
Jatuh ....
"Renjun! Ah, aku mulai memikirkan itu lagi. Agak sulit tidak memikirkan ayahku. Itu tidak bisa terpisahkan walau aku sudah berhasil memikirkan beberapa yang baik. Mungkin ... tidak akan hilang sepenuhnya," kamu menghela napas dan terduduk di tanah, "Juga saat bertugas aku tidak mungkin memikirkan itu semua. Pasti aku harus fokus pada sesuatu."
"Itu dia! Kamu bisa mengalihkan pikiran dengan fokus pada sesuatu. Bukankah begitu?" seakan menemukan batu langka, Renjun berseru senang.
"Aku tidak terpikiran soal itu sebelumnya. Kau ada benarnya juga! Lalu catatan waktu tadi?" kamu bertanya pada sahabatmu.
"Tiga puluh lima menit. Itu benar-benar pesat. Seharusnya kita menyadari itu dari kemarin! Kau bisa masuk Red atau Blue Squadron yang nantinya bergabung jadi Black Squadron dengan kemajuan sepesat ini," komentar Renjun, "Aku harus belajar lebih agar bisa satu tim denganmu. Hasil tesmu kemarin saja termasuk tinggi."
"Sungguh? Kukira ada yang lebih tinggi. Seperti sempurna ... begitu?" kamu terkejut saat Renjun bilang begitu.
"Aku mendengarnya dari para komandan. Tidak salah juga kalau kamu benar-benar jadi anak kesayangan, itu pantas."
"Itu tidak adil dan aku tidak ingin menjadi istimewa. Kau sudah dengar sendiri 'kan apa yang mereka katakan tentang kita berdua? Tidak, aku hanya ingin menjadi pilot normal," katamu.
"Justru akan tidak adil kalau kamu menjadi pilot normal. Aish, mereka akan dapat pelajaran yang setimpal dengan perbuatannya. Jangan pikirkan mereka, pikirkan tentang aku saja. Ayo kembali ke asrama," Renjun menarik tanganmu dan membawamu masuk ke base.
Keesokan paginya, kamu dan Renjun melapor lagi. Kali ini yang menerima Komandan Leeteuk dan Komandan Suho.
"Wah, itu kemajuan pesat. Bahkan kamu sudah menemukan cara mengatasinya. Itu akan sangat menolong. Empat hari lagi ujian penempatan," Komandan Leeteuk tampak sangat bahagia dengan kemampuanmu tahan 35 menit mendengarkan suara X-Wing dari dekat,"Di kehidupan nyata, menyumpal telinga saat menerbangkan starfighter akan berbahaya. Itu sudah baik kalau kamu punya cara menahannya."
"Terima kasih, Komandan. Anda semua, saya benar-benar berterima kasih," kamu berdiri dari posisi duduk dan membungkuk 90°.
"Itu karena keinginan dan usahamu. Tanpa itu, bantuan seperti apa dari kami tidak akan berdampak. Nah, kalian bisa bergilir, kami punya beberapa list untuk diberi pelajaran," Komandan Suho menyahut perkataanmu. Kalian keluar bersama dan melihat beberapa trainee berkumpul di depan ruang komandan. Kamu mengenali beberapa dari mereka yang suka membicarakan hal tidak benar tentang kalian.
"Aku sudah bilang 'kan? Apa yang mereka tabur, itu yang mereka tuai," Renjun menutup telingamu, "Mari kita segera ke hangar untuk belajar beberapa starfighter lagi. Empat hari waktu yang singkat. Kau tahu?"
"Tidak perlu kau bilang aku tahu itu. Ayo!" sahutmu dan tersenyum pada Renjun. Kalian belajar bersama karena punya target yang sama. Berada di Red atau Blue Squadron.