
Jika kalian kira pendidikan sudah merata di pulau Jawa, kalian salah. Masih banyak desa terpencil yang belum terjamah, salah satunya terletak di balik Pegunungan Dieng. Pendidikan adalah satu-satunya alasan mengapa aku meninggalkan segala kenyamanan ibukota dan berada di tempat yang sangat miskin sinyal ini. Aku adalah salah satu relawan pengajar di sebuah sekolah dasar di desa ini.
Hari-hari menjadi pengajar di sini memang menyenangkan, khususnya ketika menghadapi anak-anak yang rasa ingin tahunya sangat tinggi dan tingkah laku yang bermacam-macam. Awalnya aku kira aku telah berhasil menyentuh semua anak yang berada di desa itu, namun ternyata belum. Ada satu lagi tunas muda yang belum aku sentuh, namanya Angkasa. Sesuai namanya, anak itu sangat susah untuk diraih. Ia selalu lari ketika di dekati, menghilang di antara hamparan rumput hijau.
Angkasa bisa dibilang anak yang paling jarang pegi ke sekolah. Presensi kehadirannya saja hanya 21 kali dalam satu semester. Ketika aku bertanya kepada teman-temannya di kelas 3, jawaban mereka sangat beragam. Ada yang bilang anak ini malas bangun pagi, namun saat aku bertanya ke anak yang lain ia mengatakan bahwa Angkasa selalu membantu orang tuanya mengurus domba dan memanen carica. Aku tidak tahu pasti mana yang benar, tetapi ada niatan di dalam lubuk hatiku untuk bertemu dengan anak itu.
Di suatu siang terik, aku berjalan-jalan mengelilingi desa bersama beberapa anak yang menjadi muridku. Di tengah perjalanan, kami bertemu seorang anak laki-laki kecil berambut gimbal. Aku berusaha menyapa dan mendekati anak itu. Namun, belum ada sepatah kata yang keluar dari mulutku, anak itu sudah menghilang. Itulah pertemuan pertamaku dengan Angkasa.
Minggu selanjutnya setelah pertemuan itu, aku mengadakan belajar kelompok dengan tuan rumah salah satu muridku. Belajar kelompok ini diikuti oleh anak kelas 4 sampai kelas 6 SD. Namun karena hujan deras yang tak kunjung berhenti, aku akhirnya menyerah dan menerima tawaran dari orang tua murid itu untuk menginap di rumah sederhana itu. Tiba-tiba dari jendela rumah masuklah 1 gumpal kertas, 2 gumpal, dan terus bertambah sampai 6 gumpal. Secara sekilas aku melihat siapa pelaku pelempar kertas itu, dia A ngkasa.
Kubuka perlahan gumpalan kertas itu. Betapa terkejutnya aku ketika mengetahui apa isi dari gumpalan kertas tersebut. Isinya soal matematika untuk kelas 6 yang telah ia kerjakan sampai selesai! Aku menjadi terheran-heran ketika mendapati semua jawabanya benar, padahal ia hanya masuk sekolah 21 hari dalam 6 bulan dan ia masih kelas 3 SD.
Di bawah cahaya lampu teplok – begitulah mereka menyebut lampu yang sumber cahayanya berasal dari minyak tanah—aku menulis surat balasan di balik salah satu gumpalan kertas itu.
Wah, ko kok pinter banget, Le. Sekolah nangdi? –Wah, kamu kok pandai sekali, Nak? Sekolah di mana? –
Setelah aku selesai menulis pesan, aku kembali meremas kertas itu. Aku melangkah keluar rumah lalu membuang kertas itu asal-asalan, tetapi sebisa mungkin mendekati tempat bersembunyi Angkasa, dibelakang semak depan rumah. Setelah itu aku kembali masuk, pura-pura tidak peduli dengan kertas itu.
Beberapa menit berlalu, aku hampir saja tertidur kalau saja gumpalan kertas dari luar jendela itu tidak menghantam kepalaku. Dapat kulihat wajah itu menatapku dengan perasaan bersalah sebelum kembali ke tempat persembunyian rahasianya. Aku menyunggingkan senyum sebagai tanda kalau diriku baik-baik saja. Kubuka gumpalan kertas dari anak itu dan mendapati sebuah balasan.
Kula mboten sekolah, rama lan biyung mboten marengaken. – Saya tidak sekolah, orang tua tidak mengizinkan. –
Sinar sang surya terus mengarahkan sinarnya padaku, mengusik mimpi indahku. Aku terbangun dan menyadari ada selembar kertas di genggamanku. Sepertinya aku ketiduran karena terlalu lelah. Teringat kejadian semalam, aku segera melangkah keluar rumah. Baru saja aku membuka pintu rumah hawa dingin sudah menyapaku. Segera saja aku mengedarkan pandang untuk mencari anak itu. Namun, yang bisa aku temukan hanyalah sebuah pena dan beberapa lembar kertas yang ditinggalkan bagitu saja. Anak itu sudah kembali ke rumahnya.
Saat matahari kembali menyembunyikan dirinya, aku dan seorang teman relawanku pergi ke rumah salah satu murid kami untuk mengadakan pelajaran tambahan. Namun, sialnya hujan tiba-tiba turun dengan deras dan membuat kami terpaksa berteduh di pinggiran rumah salah satu warga. Di tengah derasnya hujan, aku melihat sosok hitam, kecil, berambut gimbal, dan tampak membawa senjata semacam parang. Sempat terlintas dipikiranku sosok itu adalah malaikat maut. Tentu saja, aku segera menepisnya, itu adalah pemikiran yang sangat konyol. Sosok itu kembali mendekatiku dan temanku, kali ini terlihat rambutnya yang gimbal basah oleh hujan, keranjang berisi kentang dipundaknya, dan sebuah daun pisang di tangan kanannya. Air mukanya sedang berusaha menahan tangis, pundaknya tampak bergetar.
Tanpa aba-aba aku langsung menghampiri anak itu. Tak kupedulikan lagi hujan yang menghantamku, aku hanya ingin membawa anak itu kedalam dekapanku. Aku pikir Angkasa akan lari ketika aku dekati, dugaanku kali ini salah.
Ia memelukku dengan erat dan berkata di tengah tangisnya, “Kula pengen sekolah. –Saya ingin bersekolah. –” Aku terenyum. Sebuah tunas yang bersemangat telah aku temukan kembali.
Kubalas perkataannya itu, “Ya wis, mangkato sekolah. Inyong bakal ngekeki ngerti ko wewadine donya iki. – Ya, sudah. Berangkatlah sekolah. Aku akan memberitahumu rahasia dunia ini. –”
“Nanging ..., –Tapi ... ,–” ia tampak berpikir.
“Nanging opo? –Tapi apa?–” tanyaku penasaran.
“Kula mboten saged sekolah. Kula kedhah nyambut damel, –Saya tidak bisa bersekolah. Saya harus bekerja, –” lanjutnya.
“Lho, nyambut gawe nggo ngopo? – Lho, keja untuk apa? –” aku agak terkejut dengan alasan anak ini. Ia rela menunggalkan pendidikan demi pekerjaan.
“Kula pengen diruwat. Ruwat menika biayane kathah, Bu, –Saya ingin di-ruwat. Ruwat itu biayanya banyak, Bu, –” begitulah katanya. Memang sudah menjadi kebiasaan warga Dieng untuk mengadakan upacara ruwatan bagi anak yang berambut gimbal. Karena anak-anak itu dianggap istimewa, maka saat anak sudah diruwat, apapun keinginan mereka harus dituruti.
“Yen wes diruwat, ko pengen opo? –Kalau suah di-ruwat, kamu ingin apa?–” tanyaku penasaran.
“Kula amung pengen saged sekolah maning, —Saya hanya ingin bisa bersekolah lagi,—” jawabnya polos.
Karena mendengar penuturan tulus dari seorang bocah bernama Angkasa ini, keesokan harinya, setelah jadwal mengajarku selesai, aku berinisiatif mengunjungi kediamannya. Dengan bantuan seorang murid sekaligus teman Angkasa, aku menemukan rumahnya. Gubuk sederhana yang terbuat dari bambu dan sudah mulai reyot. Di sebelah gubuk itu aku melihat seorang anak kecil sedang bermain dengan dombanya, itu adalah Angkasa.
Aku memantapkan langkah untuk bertemu dengan orang tua dari bocah itu. Satu langkah, dua langkah, aku masuh terus menyusun kata yang tepat untuk berbicara dengan mereka. Sampai di hadapan kedua orang tua Angkasa, aku mulai menyapa mereka dan memperkenalkan diriku sebagai guru relawan.
“Bu Guru!” teriakan itu mengagetkanku. Namun aku tersenyum ketuka mengetahui siapa pelakunya.
“Ko aja mbengok! Ana tamu iki, —Kamu jangan berteriak! Ada tamu ini, —” tegur ibunya. Anak itu hanya bisa menunjukkan deretan giginya sebagai permintaan maaf. Angkasa segera bergabung dengan kedua orang tuanya.
“Ruwatan iku biayane kathah sanget, Mbak, —Ruwatan itu biayanya mahal sekali. Mbak, —” keluh ibu Angkasa.
”Ya wis, Bu. Tumut ruwatan ingkang massal kemawon, —Ya, sudah, Bu. Ikut ruwatan massal saja, —” kata Angkasa.
“Massal karo ora iku podo bae butuh biaya, —Massal atau tidak sama saja butuh biaya, —” kata bapak Angkasa.
“Nanging ruwatan ingkan massal biayane luwih sithik, —Tapi, ruwatan massal biayanya lebih murah, —” kata Angkasa pada kedua orang tuanya.
“Kula saged mbantu, Bu, —Saya bisa membantu, Bu,—” bujukku lagi.
“Ah, ora usah, ngrepotaken, —Ah, tidak perlu, merepotkan, —” tolak halus ibu Angkasa.
“Mboten kok, Bu. Kula ikhlas, —Tidak, Bu. Saya ikhlas—” aku tersenyum.
“Ngene bae, ko mbantu inyong dodol manisan carica, piye? —Begini saja, kamu membantuku berjualan manisan carica, bagaimana? —” sebuah solusi ditawarkan oleh bapak Angkasa.
“Nggih, kula saged. Kula badhe ngejak kanca kula kagem mbiyantu, —Ya, Bu, saya sanggup. Saya akan mengajak teman saya untuk membantu, —” akhirnya sebuah kesepakatan terjadi di antara kami.
“Wektune gari seminggu maning nek arep melu ruwatan massal, —Waktunya tinggal seminggu kalau mau ikut ruwatan massal, —” kata ibu Angkasa.
“Inggih, Bu. —Baik, Bu. —”
Seminggu itu, aku beserta para teman-teman relawan mulai membagi waktu untuk membantu keluarga Angkasa. Mulai dari membuat manisan, membungkusnya, lalu menjualnya pada pengunjung Pegunungan Dieng. Tidak hanya itu, kami juga mulai menyisihkan uang yang kami punya untuk mewujudkan keinginan Angkasa. Hari-hari itu telah terlewati, kini kami menghitung uang hasil kerja dan tabungan kami.
Uang yang telah terkumpul itu langsung kami serahkan pada kedua orang tua Angkasa.
“Meniki, Bu, —Ini, Bu, —” aku menyerahkan amplop berisi bantuan dari kami.
“Matur nuwun, Mbak, —Terima kasih, Mbak, —” balas beliau dengan senyuman.
“Ko pengen opo, Le? —Kamu mau apa, Nak? —” sang bapak bertanya pada anaknya.
“Kulo amung pengen saged sekolah maning, —Saya hanya ingin bisa bersekolah lagi, —” kata Angkasa polos.
“Ya wis. Bar diruwat sesuk, kowe bisa mlebu sekolah, —Ya, sudah. Setelah di-ruwat besok, kamu bisa masuk sekolah, —” begitulah keputusan bapak Angkasa.
Hari yang telah dinanti tiba. Upacara ruwatan itu diadakan pada hari Minggu, jadi tidak mengganggu kegiatan belajar mengajar kami. Karena upacara itu diadakan massal, jadi tempat yang dipilih adalah Komplek Candi Arjuna Dieng. Bukan hanya Angkasa, banyak juga anak-anak di sana menunggu untuk melalui upacara itu. Rambut mereka yang gimbal akan dipotong dan jika berhasil maka rambut yang gimbal itu tidak akan tumbuh lagi.
Prosesi tersebut dimulai dengan sambutan dari pelaksana upacara. Setelah sambutan selesai, gamelan mulai dimainkan untuk mengiringi jalannya ritual. Mula-mula anak yang akan dicukur rambutnya itu dimandikan. Setelah dimandikan, sesaji untuk keperluan upacara disiapkan. Kemudian sang dukun mendoakan semua sesaji itu dan mengasapi kepala anak-anak itu dengan kemenyan.
Momen-momen adat ini tentunya tidak dapat ku lewatkan begitu saja. Aku mengambil beberapa gambar dengan kamera dari telepon genggamku. Sekarang, tibalah saat rambut anak-anak itu dicukur. Setelah rambut-rambut gimbal itu dicukur, potongannya diletakkan di dalam kain putih dan akan dihanyutkan ke Telaga Warna. Prosesi ruwatan telah berjalan dengan baik hari ini. Senyum cerah itu terpancar dari wajah Angkasa, besok ia bisa mewujudkan keinginannya.
Matahari masih malu-malu untuk menampakkan dirinya, tetapi bocah itu sudah memasuki gerbang sekolah. Ia tampak sangat bahagia dan senyuamnnya itu menular pada siapapun yang bertemu dengannya. Dia adalah Angkasa, anak yang tadinya sangat sulit diraih dan kini ia datang sendiri kepadaku.
“Bu Guru!” ia melambaikan tangan dan tersenyum padaku, aku membalas senyumannya.
Angkasa, yang kini sudah tidak berambut gimbal lagi, mendekatiku lalu bertanya, “Bu, wonten menopo kok nang kene mboten wonten salju kaya nang Eropa kana? —Bu, mengapa di sini tidak ada salju seperti di Eropa sana? —” Aku terkekeh, anak ini memang memiliki rasa ingin tahu yang besar.
Dengan suara kecil aku berkata padanya, ”Ko bisa ngerti jawabanne nang kene. —Kamu bisa mendapatkan jawabannya di sini. —”