Dream Is An Alternate Universe

Dream Is An Alternate Universe
Flashback #2 [Werewolf Game Bonus]



“Cassie! Kau menolakku begitu saja? Setelah semua yang telah kulakukan?”


Perempuan itu hanya terdiam dengan gemetaran. Ia sudah tahu hal ini akan terjadi cepat atau lambat sejak pria sialan itu menyatakan cinta padanya. Sangat kekanak-kanakan, padahal usia dia sama seperti kakaknya, tetapi ia jelas kebalikan kakaknya.


“Setidaknya jawab aku, Cas.” Ia mulai menggetak lagi. Cassie beringsut mundur, tetapi otaknya menyiapkan rencana untuk lari. Satu dorongan dari tangan kecilnya berhasil mengejutkan pria di depannya. Kesempatan itu dipakainya untuk membuat jarak dengan berlari menjauh dari rumah itu.


“Cassie! Jangan lari!” Dapat diduga juga, ia akan mengejarnya. Pertanyaannya adalah, apakah ia bisa menghindari kejaran pria yang sudah terlatih di akademi kepolisian? Cassie berbelok beberapa kali, berusaha memotong pandangan pria itu. Kali ini ia tidak punya tujuan kecuali menjauh dari pria yang seharusnya menjadi pelindungnya. Setelah merasa aman dan agak jauh dari pengejarnya, Cassie berhenti. Ia sedang mengatur napas setelah menghindari kejaran seseorang yang menerornya demi cinta. Eh, cinta? Cinta macam apa yang membuat dirinya ketakutan seperti ini? Tiba-tiba sebuah motor lewat dan menyambar kalungnya. Ketidaksiapan Cassie membuatnya tersungkur, tetapi langsung bangkit mengejar motor itu.


“Kembalikan! Tunggu!” ia berseru. Cassie berlari di sepanjang trotoar. Pencopet itu hanya tertawa dan melesat. Bahkan saat motor itu menyeberang, Cassie ikut mengejarnya.


“Kembalikan kalungku! Kembalikan!"


“Cassie! Berhenti!”


Sampai akhirnya sebuah cahaya putih menyilaukan diiringi teriakan yang menyuruhnya berhenti mengakhiri pengejarannya tanpa ia sadari kedatangannya ….


Tiiiiiiiiiiiin! Brak!


Sebuah mobil menabraknya dari samping kanan dan membuat tubuhnya menabrak bagian depan mobil sebelum jatuh ke aspal.


Setelah itu Cassie tidak bisa mengingat apapun lagi kecuali plat nomor mobil yang menabraknya, karena hanya itu yang bisa ia gumamkan sekarang, “AD 1513 BR.”


Sementara itu, seorang pria paruh baya yang keluar dari mobilnya yang baru saja dipinggirkan di sisi lain jalan bertanya pada warga sekitar.


“Rumah sakit terdekat berapa kilometer dari sini?”


“Tidak perlu, Pak. Saya sudah menelpon ambulans, sebentar lagi sampai,” sahut warga lain.


“Terima kasih,” jawab pria itu sambil mencoba menghentikan pendarahan di kepala anak itu setelah mengecek kesadarannya. Cahaya merah mulai berpendar dari sisi kiri jalan itu.


“Beri jalan! Ambulansnya sudah datang!”


“Kau akan selamat, Nak. Kau akan hidup.”


Selanjutnya ia mendengar suara isakan pelan setelah sekian waktu berada di ambang antara realitas dan mimpi, hanya saja kali ini ia yakin itu berasal dari realitas. Walau masih terasa berat, gadis itu mencoba membuka matanya sejenak dan ia berhasil. Untuk beberapa saat ia melihat bayang kakaknya, tak lama kemudian alam mimpi kembali merebutnya. Cassie kesal, ia masih bisa mendengar dan merasakan apa yang ada di luar tubuhnya sejak saat itu, tetapi ia masih belum bisa membuka mata. Terkadang ia berpikir di alam mimpinya, adakah sesuatu yang ia lakukan adalah dosa besar sehingga ia dan keluarganya dihukum seperti ini?


“Hei, kau sedang memikirkan sesuatu? Atau kau bisa mendengarkan suaraku? Aku membawa kabar gembira, polisi akan menyelidiki ulang kasus kita. Aku bisa bebas dan kembali bersamamu. Bangunlah untuk menyambut hari itu, aku tidak ingin bahagia sendiri,” seorang pria berdiri di samping ranjang adiknya yang masih tertidur.


Pria itu kemudian menghela napas, “Aku harap setelah bangun nanti hidup kita akan baik-baik saja dan kau tidak mengalami hal yang seperti ini lagi.” Kali ini Cassie mencoba membuka mata lagi. Ia mengabaikan rasa berat itu dan langsung menatap kakaknya dan sedikit tersenyum.


“Cas? Kau bangun? Sepenuhnya?” rasa bahagia tidak dapat disembunyikan oleh pria itu.


“Kak?” kini mulutnya mencoba berbicara meskipun agak sulit.


“Ya, aku masih di sini. Akan kupanggilkan dokter jaga.” Sejak saat itu keadaan Cassie mulai membaik dan ia bisa pindah ke ruangan biasa. Hanya saja, hari itu ia bertemu dengan seseorang yang seharusnya tidak asing lagi.


“Hei, kau baik-baik saja?” orang itu bertanya. Cassie hanya mengangguk dan menunjukkan sedikit kebingungan.


“Ah, sial, jelas kau tidak baik-baik saja kalau ada di sini ... hanya saja... kita sudah lama tidak berbicara ....”


“Kita pernah berbicara?” tanya Cassie sedikit bingung.


“Ya, pernah, sebelum kecelakaan ini,” laki-laki itu mendengus, “kau benar-benar tidak ingat rupanya.”


Pria yang lebih besar merangkul laki-laki itu, “Sudahlah, Nak. Jangan teralu memaksanya ingat untuk sekarang ini. Kata dokter....”


“Dia mungkin mengalami amnesia retrogarade, benar ‘kan?”


“Kei Galen Tarachandra, itu namamu ‘kan?” dengan lirih Cassie mengucap nama laki-laki itu, “aku tidak membaca nametag-mu. Aku masih ingat semua. Juga AD 1513 BR.”


“Kau sebenarnya masih ingat? Bagaimana kau tega....”


“Aku butuh hiburan, Kei,” perempuan itu tersenyum.


“Dan ayah? Ayah juga membohongiku?”


“Ei, aku tahu kau sangat khawatir tentang dia, Nak. Aku hanya menyampaikan apa yang dokter katakan hanya saja ia punya kelebihan yang tidak bisa diganggu gugat,” kata pria yang lebih tua itu, “dia punya memori fotografis yang sangat kuat. “


“Ah, tidak juga, Om. Saya sempat linglung dan benar-benar lupa waktu bangun.”


“Itu wajar, kau hampir sebulan tidak melihat dunia luar, pada akhirnya kau bisa mengembalikan ingatamu dengan cepat dan pemilik mobil AD 1513 BR itu sudah membayar penuh pengobatanmu setelah mendengar saksi bilang kau dijambret. Kau beruntung, Nak.”